Pagi hari tiba, dan sinar matahari perlahan menyinari hutan di sekitar Sea. Dengan semangat dan tekad, Sea memulai petualangannya untuk mencari bahan makanan yang ingin ia masak. Langkahnya tenang dan hatinya penuh harap, seolah-olah hutan memberikan kehangatan dan kekuatan baginya.
Sea melangkah dengan hati-hati, mengamati setiap tumbuhan dan jejak di sekitarnya. Ia mempelajari karakteristik tanaman, mencari tahu mana yang dapat dimakan dan mana yang sebaiknya dihindari. Ia merasakan getaran alam di sekitarnya, seolah-olah alam memberikan petunjuk tentang apa yang bisa ditemukan di sana.
Dalam perjalanan ini, Sea menemukan berbagai jenis tumbuhan yang berguna sebagai bahan makanan. Buah-buahan yang segar dan berwarna-warni tergantung di pohon-pohon, menjanjikan kelezatan dan gizi. Daun-daun hijau dengan aroma yang menggoda juga menjadi pilihan Sea untuk menciptakan hidangan yang nikmat.
Sea membawa keranjang kecil yang ia isi dengan hati-hati, memilih dan mengumpulkan bahan makanan yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Ia merasa terhubung dengan alam saat mengambil setiap tumbuhan, merasa bersyukur atas keberadaan mereka yang memberikan sustenance bagi kehidupannya.
Selama berkeliling di hutan, Sea juga tidak lupa menghargai keindahan alam di sekitarnya. Ia terpesona oleh gemerlap cahaya matahari yang menyinari pepohonan, suara burung yang riang, dan aroma segar yang terbawa oleh angin pagi.
Sea terus berkeliling di hutan, mencari bahan makanan, ketika tiba-tiba ia terkejut melihat sesuatu di balik semak-semak. Dengan hati yang berdegup kencang, Sea mendekati tempat itu dan terkejut melihat seorang laki-laki yang terkapar di tanah. Wajahnya tampak lelah dan penuh dengan luka bakar. Sea merasa bingung karena tidak mengenali laki-laki tersebut, namun ia merasa simpati dan tidak tega meninggalkannya begitu saja.
Tanpa ragu, ia mendekat dan berkata dengan suara lembut, "Hei, apakah kamu baik-baik saja? Aku melihat kamu dalam keadaan terluka. Aku ingin menolongmu."
Alaska, yang masih lemah, menoleh ke arah Sea dengan mata penuh rasa terkejut. "Siapa kamu?" tanyanya dengan suara lemah.
Sea tersenyum hangat. "Namaku Sea. Aku tinggal di sini, di hutan ini. Aku melihatmu dan merasa bahwa kamu membutuhkan bantuan. Aku ingin membawamu ke tempat tinggalku dan merawat luka-lukamu. Kamu bisa memulihkan dirimu di sini."
Alaska terlihat ragu, tetapi dengan ekspresi sakit dan kelelahan di wajahnya, ia akhirnya setuju. "Terima kasih, Sea. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tapi aku butuh bantuan. Aku sangat menghargai tawaranmu."
Sea tersenyum lega. "Tidak perlu berterima kasih. Mari, biar aku membawamu. Kita akan menemukan jalan pulang dan aku akan merawat luka-lukamu. Jangan khawatir, kamu aman di sini."
Tanpa berpikir panjang, Sea segera mendekati Alaska dengan hati penuh belas kasihan. Ia merasa bahwa laki-laki itu membutuhkan pertolongan dan perlindungan. Dengan hati yang penuh perhatian, Sea memutuskan untuk membawa Alaska ke tempat tinggalnya di hutan.
Dengan hati-hati, Sea mengangkat Alaska yang masih lemas ke dalam pelukannya. Ia berjalan dengan hati-hati melalui hutan, menavigasi jalur yang sudah dikenalnya. Sea memilih jalur terbaik yang bisa membawa mereka dengan aman ke tempat tinggalnya.
Setelah beberapa waktu berjalan, Sea tiba di tempat tinggalnya di tengah hutan. Tempat itu merupakan sebuah pondok sederhana yang ia bangun sendiri. Sea meletakkan Alaska dengan lembut di tempat tidur yang ada, lalu mulai merawat luka-lukanya.
Sea menggunakan ramuan alami yang telah ia pelajari untuk membantu menyembuhkan luka bakar Alaska. Dengan cermat, ia membersihkan luka dan mengoleskan obat herbal yang dapat membantu proses penyembuhan. Meskipun Sea tidak kenal dengan Alaska, ia berusaha sebaik mungkin untuk merawatnya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
"Mari, biarkan aku melihat luka-lukamu," kata Sea dengan penuh kepedulian. Ia mengambil perban dan obat-obatan alami yang telah ia persiapkan sebelumnya.
Alaska menatap Sea dengan rasa terima kasih dan kepercayaan. "Terima kasih, Sea. Aku sangat beruntung bertemu denganmu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak menolongku."
Sea tersenyum sambil memulai perawatan luka-luka Alaska. "Kita akan melewati ini bersama, Alaska. Aku di sini untukmu. Ayo, biarkan aku membantumu sembuh."
Dalam keheningan tempat tinggal di tengah hutan, Sea dengan penuh kesabaran merawat luka-luka Alaska. Mereka saling bertukar cerita dan berbagi momen kecil yang membuat suasana menjadi lebih hangat dan nyaman. Dalam ketulusan dan kepedulian Sea, Alaska mulai merasa bahwa ia telah menemukan tempat yang aman dan seseorang yang akan selalu berada di sisinya dalam masa-masa sulit.
Setelah selesai merawat luka-luka Alaska, Sea melihat kelelahan yang tampak jelas di wajahnya. Dengan lembut, Sea berkata, "Alaska, kamu telah melewati situasi yang sulit. Sekarang, kamu harus istirahat dan memulihkan dirimu."
Alaska merasakan kehangatan dan ketenangan saat berada di dekat Sea. Meskipun mereka baru saja bertemu, Sea telah menunjukkan kebaikan dan kepedulian yang luar biasa terhadapnya. Setiap tatapan dan sentuhan dari Sea memberikan rasa nyaman dan kepercayaan pada Alaska.
Alaska mengangguk lemah, "Aku merasa sangat lelah, Sea. Terima kasih telah merawatku dan membawa aku ke tempat ini."
"Tidak ada yang perlu kamu ucapan terima kasih, Alaska. Ini adalah apa yang harus kita lakukan sebagai manusia, saling membantu dan peduli satu sama lain," kata Sea dengan tulus.
Sea menunjukkan tempat tidur yang nyaman di sisi ruangan. "Silakan berbaring dan istirahatlah sejenak. Aku akan membuatkanmu makanan hangat setelah itu."
Alaska tersenyum lemah, "Terima kasih, Sea. Aku sangat menghargainya."
Sea meninggalkan Alaska dalam keheningan dan mempersiapkan makanan untuknya. Dalam waktu singkat, aroma makanan segar pun tercium di udara.
Ketika Sea kembali ke sisi Alaska, ia melihatnya tertidur lelap. Dengan lembut, Sea menutupinya dengan selimut dan membiarkannya beristirahat dengan tenang.
"Sembuhlah dengan baik, Alaska," gumam Sea dengan penuh harapan. Ia berjanji dalam hati bahwa akan tetap menjaga dan merawat Alaska selama ia membutuhkan. Ia tidak akan meninggalkan Alaska.
Dalam keheningan tempat tinggal di hutan, Sea duduk di samping Alaska yang sedang tertidur, berdoa agar ia pulih dengan cepat dan mendapatkan kembali kekuatannya. Sea mengetahui bahwa perjalanan mereka bersama belum berakhir, dan mereka akan menghadapi banyak tantangan di masa depan. Namun, ia siap untuk membantu Alaska melewati semuanya dan memberikan dukungan yang tak tergoyahkan.
Dengan hati penuh harapan, Sea membiarkan suasana tenang mengisi ruangan, menunggu waktu yang tepat untuk membangunkan Alaska dan melanjutkan perjalanan mereka dalam menjelajahi jalan yang masih panjang di hadapan mereka.
Sea merasa bangga dan terhormat karena dapat membantu Alaska dalam situasi sulitnya. Ia merasa bahwa tindakannya memberikan dampak positif bagi kehidupan orang lain, mengingat Alaska telah mengalami kecelakaan yang mengerikan dan merasa terjebak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments