Alaska duduk di dekat dapur improvisasi di tempat tinggal Sea, mata terpaku pada Sea yang sedang sibuk memasak dengan kayu bakar. Dia tidak bisa menyembunyikan keheranan di wajahnya. Bagi Alaska, ini adalah kali pertama dia melihat seseorang memasak dengan cara yang begitu tradisional dan sederhana. Selama ini, hidupnya di keluarga kaya raya selalu diiringi dengan pelayan dan teknologi modern di sekelilingnya.
Dengan hati yang penuh rasa ingin tahu, Alaska mendekati Sea yang sedang sibuk di atas tungku. "Maaf, Sea, bisakah aku bertanya?" ucap Alaska dengan penuh kekaguman.
Sea berhenti sejenak dari kegiatannya dan tersenyum pada Alaska. "Tentu, apa yang ingin kamu tanyakan?" jawab Sea dengan lembut.
Alaska memandang kayu bakar yang sedang dipergunakan oleh Sea. "Aku belum pernah melihat seseorang memasak dengan cara seperti ini sebelumnya. Bagaimana kamu bisa mahir memasak dengan kayu bakar seperti ini?" tanya Alaska dengan rasa ingin tahu yang kental.
Sea tersenyum dan menjelaskan dengan penuh kehangatan, "Ini adalah cara tradisional memasak yang telah diajarkan oleh keluargaku sejak dulu. Kayu bakar memberikan rasa khusus pada makanan dan membuatnya lebih nikmat. Selain itu, juga merupakan cara yang ramah lingkungan dan menghemat energi. Aku senang bisa mempertahankan tradisi ini di tempat kami."
Alaska mendengarkan dengan antusias dan semakin terkagum-kagum pada Sea. Dia menyadari bahwa kehidupan di dunia yang berbeda ini membuka pandangannya pada berbagai cara hidup yang beragam. Meskipun ia berasal dari keluarga kaya raya, dia merasa terinspirasi oleh keahlian Sea dalam memasak secara sederhana namun lezat.
Alaska melihat dengan kekhawatiran bagaimana Sea
dengan cermat mengatur kayu bakar di dalam tungku. Api yang membara terlihat mempesona, tetapi juga menimbulkan ketakutan dalam pikiran Alaska. Ia khawatir bahwa Sea bisa terkena bahaya atau luka karena percikan api yang tak terduga.
Dengan suara hati-hati, Alaska berkata, "Sea, apakah kamu yakin ini aman? Aku khawatir bahwa api dari kayu bakar bisa membahayakanmu."
Sea menghentikan aktivitasnya sejenak dan meletakkan tongkat kayu bakar dengan hati-hati. Ia mengarahkan pandangannya kepada Alaska, mengerti kekhawatirannya. "Jangan khawatir, Alaska," ucap Sea dengan nada lembut. "Aku telah berpengalaman dan selalu berhati-hati saat menggunakan api. Aku tahu bagaimana menjaga diri sendiri agar tetap aman."
Meskipun Sea mencoba meyakinkannya, kekhawatiran Alaska tidak segera hilang. Ia terus memperhatikan setiap gerakan Sea dengan kehati-hatian yang membara di dalam hatinya. Bagi Alaska, kehidupan ini masih begitu asing, dan ia ingin melindungi orang-orang yang peduli dengannya seperti Sea.
Sea dengan hati riang mengatur kayu bakar di atas tungku yang terletak di luar rumahnya. Cahaya api yang berkelebatan dan aroma harum dari kayu bakar mengisi udara sekitarnya. Dengan keahlian yang terampil, ia menata potongan-potongan kayu dengan cermat, menciptakan tumpukan yang rapi untuk membakar api yang kuat.
Sea merasa bahagia saat memasak di atas kayu bakar. Baginya, cara tradisional ini memberikan sensasi yang khas dan keaslian yang tak tergantikan. Ia memanfaatkan api yang dihasilkan untuk menghangatkan wajan yang terletak di atasnya, menambahkan bumbu-bumbu segar ke dalam masakannya yang menggugah selera.
Dalam kesejukan hutan yang menaungi mereka, Sea merasa terhubung dengan alam. Ia menikmati ritual memasak seperti ini, di mana setiap langkahnya diberkahi oleh sentuhan alam. Ia memasak dengan penuh keceriaan dan cinta, merasakan kegembiraan ketika melihat makanan yang ia sajikan terus berkembang dalam cita rasa yang autentik.
Sementara api kayu bakar terus membara dengan riang, Sea terus mengaduk-aduk masakannya dengan penuh perhatian. Ia tahu bahwa hasil masakan ini akan dinikmati ia dan Alaska. Dalam kehangatan api dan gemuruh suara kayu yang terbakar, Sea merasa hidupnya penuh dengan keajaiban dan kesederhanaan yang begitu berharga.
Sea, sambil mengaduk masakannya dengan lembut, melirik ke arah Alaska yang duduk di dekatnya. "Alaska, kamu tinggal di rumah besar sebelumnya?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Alaska mengangguk pelan sambil tersenyum. "Ya, benar. Aku tinggal di sebuah rumah besar bersama keluargaku sebelum kecelakaan itu terjadi," jawabnya dengan nada yang sedikit bergetar.
Sea mengangguk mengerti, menyadari bahwa masa lalu Alaska mengandung banyak kenangan dan cerita yang mungkin belum ia bagikan sepenuhnya. Namun, ia tidak ingin mendorong Alaska untuk membuka diri jika Alaska tidak siap.
"Mungkin rumah besar itu memiliki banyak kenangan yang indah," ucap Sea dengan hangat. "Tapi, kamu tahu, di sini kita juga punya kehidupan yang indah di tengah hutan ini. Kehangatan kayu bakar dan kebersamaan yang kita rasakan di sini tidak bisa dibandingkan dengan apa pun."
Alaska menatap Sea dengan tatapan penuh terima kasih. "Ya, aku menyadari itu sekarang. Hidup di sini, bersamamu dan alam ini, memberikan kedamaian dan kebahagiaan yang tak ternilai."
Sea tersenyum dan melanjutkan memasaknya. Mereka berdua, dalam keheningan yang nyaman, saling memahami bahwa rumah besar bukanlah satu-satunya tempat untuk menemukan kebahagiaan. Kadang-kadang, kehidupan yang sederhana dan alami di tengah hutan justru bisa memberikan arti yang lebih dalam dan kehidupan yang lebih berarti.
Alaska, sambil menyantap hidangan yang telah dimasak oleh Sea, tiba-tiba merasa ingin tahu tentang kehidupan Sea yang lebih dalam. "Sea, apakah kamu tinggal sendirian di sini?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Sea menghela nafas pelan sebelum menjawab, "Tidak, Alaska. Aku tidak tinggal sendirian di sini." Ia menatap jauh ke kejauhan, mengenang masa lalu yang telah berlalu. "Nenekku, yang merupakan satu-satunya keluargaku yang tersisa, meninggal dunia sekitar 5 tahun yang lalu. Dan dua tahun setelahnya, ibuku juga menyusulnya. Jadi, sekarang aku tinggal di sini sendirian."
Alaska merasa sedih mendengar cerita itu. Ia bisa merasakan betapa beratnya kehilangan yang Sea alami. Namun, ia juga merasa bersyukur bahwa Sea membuka hatinya untuk menerima dirinya di tempat ini. "Aku sangat berterima kasih, Sea, bahwa kamu membiarkan aku hidup di sini," kata Alaska dengan tulus.
Sea tersenyum lembut. "Kamu adalah tamu istimewa di sini, Alaska. Kamu memberikan warna baru dalam kehidupanku di tengah hutan ini. Kita saling menyokong dan menjaga satu sama lain."
Dalam kedamaian hutan yang memayungi mereka, Alaska merasa terhubung dengan Sea dalam cara yang lebih dalam. Mereka berdua, dengan latar belakang dan kehilangan yang berbeda, menemukan dukungan dan kehangatan di antara keheningan alam yang melingkungi mereka.
Sea memang sudah menerima keberadaan Alaska, dahulu ia sangat kesepian setelah ibunya meninggal. Tetapi karena kedatangan Alaska membuat ia merasa ditemani dan ia begitu senang dengan Alaska di sini. Berharap Alaska terus menemaninya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments