"Jika aku sungguh berharga, kenapa kamu menceraikan aku Mas?"
Mario menunduk "Kamu tahu alasannya Nami.."
"Dan sampai sekarang aku tak habis pikir, dulu aku begitu bodoh hingga percaya padamu meski melakukannya di luar pernikahan, dan berpegangan pada cinta, tapi sekarang aku mengerti, aku tidak seberharga itu, dan kamu tak sungguh- sungguh mencintaiku.. karena jika kamu sungguh mencintaiku, kamu tidak akan menceraikan ku, sekuat tenaga kamu akan mempertahankan aku.."
Mario diam, bukan hanya merasa benar akan ucapan Namira, namun tidak ada gunanya dia bicara sedang Namira pun tak ingin mendengarkannya.
"Jika aku jelaskan, kamu tetap tak ingin mendengarkannya Namira.."
Namira memalingkan wajahnya.
Saat tiba di restoran yang di katakan Dimas, Dimas sudah tiba lebih dulu, terlihat Dimas berdiri di depan pintu dengan seorang wanita yang tak lain adalah istrinya.
Mario dan Namira turun dan segera menghampiri Dimas, tepatnya Namira mengikuti langkah Mario.
"Apa kabar Mario.." Mario tersenyum lalu memeluk Anggi istri Dimas.
"Aku baik.."
"Aku dengar soal, kau kembali menduda.." Anggi berbisik sedang Mario terkekeh.
"Kenapa bicara bisik- bisik seperti itu" Dimas menatap tajam Mario lalu merengkuh pinggang istrinya.
Anggi tertawa kecil sedangkan Mario mendengus.
"Oh, apakah ini..?" Mario tersenyum.
"Oh, sudah lama tidak bertemu" Anggi mendekat dan memeluk Namira yang terpaku..
Dimas mengeryit "Kamu mengenalnya sayang?" kenapa istrinya memeluk Namira sekertaris Mario.
Anggi mengangguk "Dia istri pertama Mario.."
Dimas menganga lalu menoleh ke arah Mario "Kau tidak memperkenalkan ku?"
Mario mengedikkan bahu.
Namira masih terlihat bingung bagaimana bisa Anggi mengenalnya.
"Anggi datang ke pernikahan kita.." jelas Mario, barulah Namira mengangguk, mengerti.
"Aku hampir lupa, jika kemarin aku tidak lihat di akun media sosial mu.." Anggi mengedipkan matanya, dan Mario hanya bisa tersenyum, dia hanya merindukan Namira lalu dia memposting foto Namira.
Namira menatap bingung Mario, dia memposting fotonya di media sosial, apa Mario sudah gila, memposting foto wanita lain saat dia sudah punya istri.
Sejak Namira memutuskan kembali ke Bali, namira memang menghapus media sosialnya dan mengganti dengan yang baru tak ingin berhubungan dengan Mario bahkan semua keluarga Mario.
Namira hanya tau Mario menikah lagi dari salah satu teman yang masih terhubung dengannya, setelah itu Namira tak ingin tahu lebih lagi, karena hanya rasa sesaklah yang dia rasakan, saat melihat Mario bersanding dengan wanita lain.
Jadi Namira tak tahu jika Mario memposting fotonya.
"Jadi.. 'Mantan istriku adalah sekertarisku' Atau 'Sekertarisku adalah mantan istriku'.." Dimas tertawa hingga Anggi mencubit perutnya dan Dimas pun berhenti tertawa.
"Maafkan aku Nona Namira.." Wajah Namira sudah panas dan merah karena malu.
"Jangan dengarkan dia ayo masuk.." Anggi menggandeng Namira memasuki Restoran yang ramai karena baru buka, dan banyak promo yang di tawarkan.
Anggi mengajak Namira ke ruangan khusus agar mereka tak terganggu dengan keramaian para pengunjung, di belakang mereka Mario dan Dimas mengikuti sedikit jauh.
"Ini alasan mu menceraikan istrimu yang sekarang siapa namanya..?"
"Erina.."
"Ya, aku lupa.. kau tak pernah mengenalkan nya pada kami.." memang hanya Namira yang Mario kenalkan ke para teman dan sahabatnya, hanya Dimas yang baru tahu, karena baru tiga tahun terakhir Dimas menginjakkan kaki di Indonesia, dan saat itu dia dan Namira sudah bercerai bahkan Mario sudah menikah lagi, namun Mario tak berniat memperkenalkan Erina pada siapapun, karena baginya hanya Namira yang ada di hatinya dan hanya Namira yang ingin dia tunjukkan.
"Sebelum bertemu Namira kami sudah memutuskan untuk bercerai.." Awalnya Mario bertahan dengan Erina demi anak mereka Rivano, meski dia harus menahan hatinya dan bahkan hidup dalam rasa sepi dan perasaan hambar setiap hari, Mario akan menjalani dan menganggapnya sebagai penebusan dosa atas rasa sakit yang dia berikan pada Namira, namun saat mengetahui Rivano bukan anaknya Mario tak ingin lagi bertahan apalagi mengingat bagaimana Erina menjebaknya, hingga dia hidup dalam rasa penyesalan karena mengkhianati Namira, tapi rupanya dia tak pernah mengkhianati Namira.
Mario memutuskan bercerai dengan Erina dengan beberapa syarat dan Mario yang memang ingin terlepas pun menyetujuinya, hingga kini mereka tiba di Bali, mereka memutuskan tinggal terpisah, dan Mario hanya akan datang saat Rivano membutuhkannya.
Barulah satu minggu lalu putusan perceraian di kirim pengacaranya ke apartemen yang dia tinggali di Bali.
Dan dia resmi menduda untuk kedua kalinya
"Tapi tetap saja kau akan kembali pada Namira.." Mario menyeringai.. "Aku kira ini tidak mudah.."
Mario menghela nafasnya "Ya, tidak mudah, Namira memang punya karakter keras kepala, tapi hatinya sangat lembut.. jadi aku berharap dengan hati lembutnya Namira bisa luluh dan kembali padaku.." Langkah Mario terhenti di depan pintu ruangan yang di masuki Anggi dan Namira.
Dimas menghela nafasnya "Semoga saja kau beruntung.. karena hati yang lembut memang mudah merasa sakit.." Ya, Mario tahu sebab itu Namira belum menerimanya kembali, karena hatinya terlalu dalam tersakiti.
Mereka berempat makan dengan menu yang di sajikan oleh restoran Anggi, sambil mengobrol ringan antara Mario, Anggi dan Dimas tentu saja Namira hanya menanggapi ketika Anggi atau Dimas bertanya, selebihnya dia hanya diam dan tersenyum.
Dari yang Namira dengar mereka bertiga sudah bersahabat saat ketiganya kuliah di luar negeri dan Anggi yang memang menjalin hubungan dengan Dimas memutuskan menikah tiga tahun lalu dengan Dimas.
"Bagaimana makanan di restoran ku?" tanya Anggi penasaran, dan mereka sudah selesai makan.
"Ini enak.." Namira berusaha sesopan mungkin, meski Anggi juga memintanya menganggap mereka sebagai teman.
"Masih enak masakan Nami.." kata Mario tanpa rasa bersalah.
Anggi mencebik dan Dimas tertawa "Ya.. begitulah kalau sudah cinta, meski kentut akan terasa wangi.." Anggi ikut tertawa, sedangkan Namira menunduk malu.
"Kalian akan percaya jika sudah merasakan masakannya.. dan bukan hanya aku, akhir- akhir ini aku juga melihat seorang pria ketagihan masakan Nami.." Mario menatap Namira yang menatapnya dengan tajam.
Dimas berdehem sedangkan Anggi menegakkan punggungnya. "Jadi sepertinya ada yang cemburu padamu Namira."
"Ya, aku memang cemburu" Kata Mario acuh, dia tak perlu malu mengakuinya karena itu bentuk cintanya untuk Namira, bahkan hampir saja Mario tak bisa menahan dirinya apalagi mengingat Andre menggenggam tangan Namira "Aku ingin keluar sebentar.." Mario bangkit dan keluar dari ruangan.
"Jika begitu aku ikut, tidak mungkin aku duduk diantara dua wanita."
Kini hanya ada Anggi dan Namira yang duduk dengan canggung. "Aku sedih saat mendengar Mario menceraikan mu.." Namira mendongak "Kau berhak marah, karena Mario memang kejam.." Anggi tertawa.
"Aku mengenal Mario sejak di bangku kuliah dan sangat tahu dia adalah pria yang baik, hanya saja dia sering kali tak berdaya jika berhadapan dengan wanita, itulah kenapa Mario memilih melepaskan mu, dia pikir dengan menceraikanmu, kamu bisa bahagia..
Mungkin benar, kamu bisa bahagia, tapi sepertinya dia yang menderita.."
"Aku tidak bicara dengan omong kosong, karena jika sedang dalam keadaan hancur Mario akan mencari kami, ya.. tentunya sejak bertemu denganmu dia tidak lagi mencari kami, barulah setelah bercerai dia mencari kami kembali, dari sanalah aku pikir bahagia Mario adalah denganmu"
Namira tertegun "Ya, meskipun aku sedikit kesal karena Mario hanya datang saat dia butuh.." Anggi terkekeh.
"Ah, kenapa aku berpikir untuk bicara padamu, mungkin karena aku harap kalian bisa kembali bersama.."
"Itu tidak mungkin.. kami tidak mungkin kembali.." Namira berkata lirih, tentu saja terlebih Mario sudah memiliki keluarga baru.
"Aku mengerti kau marah, tapi Namira.."
Namira bangkit berdiri "Apa Mario memintamu mengatakan ini..? aku datang untuk pekerjaan dan aku tidak ingin mendengar sesuatu yang tidak masuk akal."
"Bagaimana bisa anda mengatakan ini sedangkan anda adalah seorang perempuan.." Namira tak habis pikir dengan apa yang di katakan Anggi, dia ingin Namira kembali pada Mario sedangkan Mario sendiri sudah memiliki anak dan istri.
"Bukan itu.. maksudku, Nami.. tentu saja aku tahu dan mengerti perasaanmu, hanya kau bisa.."
"Maafkan aku, tapi sepertinya aku akan pulang sekarang.." Namira meraih tas kerjanya "Terimakasih atas jamuannya nyonya.."
Anggi terperangah "Sebentar Nami.." tanpa mendengarkan Anggi Namira segera keluar dari restoran Anggi.
...
"Kau merokok?" Dimas memasukan tangannya kedalam saku.. mereka ada di taman yang berada di belakang restoran, area yang memang di sediakan untuk area merokok, dan tak biasanya Mario merokok.
"Hanya sedikit saat aku merasa tertekan.."
"Lalu tekanan kali ini?"
Mario mengedikkan bahu "Kau masih mencintainya?"
"Bukan masih, tapi rasa cintaku memang tak pernah hilang.."
"Aku ingat kau datang pada kami saat terpaksa bercerai.."
"Aku pikir saat mendengar kau punya anak kau sudah lupa mantan istrimu.."
Mario diam..
"Sepertinya setelah aku melepaskannya dia memang bahagia, dia juga menikah dan memiliki anak.."
Dimas mengeryit "Sungguh, lalu?"
"Tidak masalah, lagi pula aku juga sudah menikah lagi bukan.." Dimas mengangguk.
"Maksudku, bagaimana dengan suaminya, kau tidak gila dan merebutnya dari suaminya bukan.."
"Jika itu perlu aku akan melakukannya, tapi Namira bilang suaminya sudah tiada.."
Dimas mengeryit "Sepertinya ada yang aneh.."
"Hmm..?"
"Tidak.. ayo kembali ke dalam.." Mario mematikan rokoknya dan mengikuti Dimas kembali kedalam.
Saat masuk ke dalam ruangan Namira sudah pergi "Kemana Nami.."
"Maafkan aku dia sudah pulang." Anggi berkata dengan menyesal..
Mario mengeryit "Pulang..?"
Anggi meringis dan membicarakan apa yang mereka bicarakan sebelum Namira pergi.
Mario menghela nafasnya "Aku belum punya kesempatan untuk mengatakan kalau aku sudah bercerai."
Anggi dan Dimas saling melirik "Maafkan aku, aku kira aku bisa membantu, tapi..."
"Tidak masalah, aku sudah menduga perjalananku tidak akan mudah."
...
Nunggu kontrak dulu ya, yang sabar jangan maki- maki Mario terus, inget lagi puasa🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
🌺°•▪︎MaMia Elf °▪︎•°🌈💦🌟
Mario egois apapun alasan d belakangnya
2023-07-19
0
amalia gati subagio
opini ajib!! cinta sanggub menjadikan cintanya jalang!! Tp utk para dajjal itu menantang, zinah itu asik, apa lg diiming iming kata cinta absurd yg sebenarnya penaklukan kaum hedon
2023-05-19
0
Mom Dee🥰🥰
makasih upnya thor 🤗🤗
2023-04-06
0