Hambar

Namira baru saja pulang dan melihat Juni yang sedang bermain lego di ruang tv, dengan saluran tv yang terus menayangkan film kartun kesukaannya, namun Juni tetap fokus dengan legonya.

"Jika tidak di tonton, Mami matikan tvnya ya?"

Juni mendongak dan tersenyum lebar melihat Namira sudah ada di depannya.

"Mamii.." Namira mengecup dahi Juni.

"Baru sadar mami pulang?"

"Mami buat lobot, Mamiii" Juni langsung merajuk sejak tadi bocah itu ingin membuat robot tapi tidak bisa dia lakukan, pantas saja Juni tidak menyadari jika Namira sudah datang, rupanya bocah itu sedang sangat serius.

Namira melihat lego Juni dan menggaruk dahinya, "Oke mami coba buat.."

Namira pun duduk di karpet lantai dan mulai merangkai membuat robot dari lego seperti yang Juni minta "Begini bukan?"

Juni cemberut melihat robot buatan Namira "Butan mi.." Juni menunduk sedih saat robot yang di buat Namira tak sesuai keinginannya..

"Loh, kok sedih..?, Juni mau beli eskirm gak?" Namira mencoba mengalihkan Juni..

"Estrim cottat.."

Namira mengangguk "Boleh mau berapa eskrim coklatnya?'

"Tida.." Juni mengangkat empat jarinya.

"Itu empat Jun.."

"Emptat.." Namira tertawa.

" Oke.. kita berangkat.." Tanpa mengganti pakaiannya Namira membawa Juni pergi ke mini market yang beberapa langkah saja dari rumahnya.

Namira benar- benar membelikan Juni empat eskrim, dan sepanjang perjalanan menuju pulang mereka bergandengan tangan sambil memakan eskrim.

Untuk sejenak Namira melupakan kekalutan hatinya bertemu dengan Mario yang membuatnya sedikit takut, takut terjerumus lagi dalam cintanya yang besar untuk Mario, Namira melihat sebelah tangannya yang menggenggam tangan Juni dan mengeratkan genggamannya, sekarang ada Juni, Juni akan menjadi kekuatannya dalam melawan Mario.

"Enak gak eskrimnya?"

"Enyak Mami.." Namira mengusap bibir Juni dengan tisu di genggamannya dan kembali berjalan pulang.

Tiba di rumah Namira dan Juni disambut raut khawatir dari Ibu "Ibu kira Juni kemana.. untung ibu lihat tas kamu di kursi.."

Namira meringis dia lupa berpamitan pada ibu mengajak Juni membeli eskrim "Maaf Bu.."

Farida menghela nafasnya " Gak papa, ganti baju dulu sana.." Namira mengangguk lalu bicara pada Juni..

"Jun, Mami mandi dulu ya.." Juni hanya mengangguk masih menikmati eskrimnya.

Namira mencebik, dan Farida terkekeh "Sudah punya eskrim maminya di abaikan.."

...

Namira baru selesai mandi dan mendengar ponselnya berdering, Namira menghampiri tasnya dan mengambil ponsel di dalamnya.

Mengerutkan keningnya saat melihat nomer yang tidak di kenal, Namira belum bersuara hingga sebuah suara mengagetkannya "Nami.. dari mana saja kamu, aku hubungi sejak tadi kamu tidak menjawab.."

"Bapak ada perlu sama saya..?" Jawab Namira datar, tentu saja dia tahu suara siapa itu, suara berat yang selalu menusuk hatinya.

Mario menghela nafasnya lelah "Aku kirim file ke email kamu, kerjakan sekarang karena itu akan menjadi bahan untuk rapat besok"

"Baik pak.." Namira membuka laptopnya dan menyalakannya tak lama sebuah notifikasi muncul.

"Ada lagi Pak?"

"Tidak.. aku hanya.."

"Baiklah jika begitu saya tutup telponnya.."

"Mami.." Juni memasuki kamar.

"Sebentar Nami suara siapa itu.."

Namira memejamkan mata, apalagi mau pria itu..

"Mami.. nantuk"

"Ya sudah ya pak, kalau begitu.."

"Kamu belum jawab aku Nami.." Namira tak peduli dia menutup panggilan dari Mario dengan segera.

"Juni ngantuk? sudah minum susunya?" Juni mengangguk, lalu naik ke atas ranjang, Namira segera menepuk pelan pantat dan punggung Juni, hingga Juni terlelap.

Mario sudah mendengar suara Juni, lalu sekarang apa? Namira tak akan khawatir karena dia sudah siap sejak melihat pria itu, atau bahkan sejak lama.

Namira menghela nafasnya, lalu tatapannya jatuh pada Juni yang sudah terlelap, tiba- tiba perasaan sakit menusuk hatinya.. "Maafkan Mami Jun.. karena kamu tidak akan bisa tahu siapa ayah kamu.."

Di sebrang sana Mario mengerutkan kening mendengar suara anak kecil yang memanggil kata 'Mami' dan terdengar jelas olehnya.

Pada siapa dia memanggil Mami, dan anak siapa itu..?

Apa mungkin anak Namira, tapi dengan siapa? sudah jelas kalau di CV nya Namira masih berstatus janda, mungkinkah itu anaknya..?

Saat Mario tengah asik dengan pemikirannya tentang Namira, ponsel Mario berdering, melihat nama Erina disana Mario segera mengangkatnya "Ada apa..?"

"Vano sakit Mas.." Mario segera bangun..

"Aku datang.." tanpa menunggu lama Mario segera pergi dan memacu mobilnya.

Tiba di rumah, Mario segera mencari dimana bocah itu dan benar saja dia sedang terbaring di ranjangnya dengan kompres di dahinya "Sejak kapan Vano sakit?"

"Pagi tadi masih gak papa, terus dia cari kamu tidak ada langsung menangis dan tak bisa di tenangkan hingga kelelahan sendiri dan tidur, setelah bangun badannya panas.."

"Kenapa tidak segera menghubungiku" Mario mendudukan dirinya di tepi ranjang dan mengelus rambut Rivano yang berkeringat.

"Aku tahu Mas sibuk di kantor.. apalagi kantor baru, kamu pasti sengaja lembur karena banyak kerjaan kan..?"

"Sudah di periksa dokter?" Mario memilih mengalihkan pembicaraan, mengingat kantor dia jadi mengingat Namira si sekertaris sekaligus mantan istrinya.

"Sudah, tapi tadi Vano panggil kamu terus jadi aku terpaksa ganggu kerjaan kamu.."

"Tidak apa, untuk Vano aku akan datang, meskipun sedang sibuk.." Erina mengangguk.

"Kalau begitu aku buatkan mas kopi dulu.." Mario menghela nafasnya saat melihat punggung Erina pergi.

"Papa.." panggilan lirih itu terdengar dan Mario segera menoleh cepat.

"Hey boy, apa masih sakit?" Vano menggeleng dan merentangkan tangannya dia ingin di gendong Mario, dan Mario pun segera menarik bocah itu hingga duduk di pangkuannya.

"Papa sibuk bekerja, jadi Vano harus baik diam dirumah dengan Mama.." Mario tahu anak sekecil Rivano belum mengerti tentang kesibukannya tapi Mario mencoba untuk menjelaskan pelan-pelan "Jadi papa gak bisa terus bersama Vano seharian.."

Rivano terisak kecil "Tapi Papa janji setiap papa pulang papa akan belikan oleh- oleh untuk Vano, okay?" Rivano mengangguk senang.

"Sekarang Vano istirahat lagi.." Mario mengelus punggung Vano hingga bocah itu kembali tertidur.

Erina datang dan membawa secangkir kopi untuk Mario, Mario menyimpan telunjuknya di mulut saat Erina akan bicara, Erina yang melihat Rivano tertidur di pelukan Mario pun mengangguk, lalu memberi isyarat jika kopinya dia letakkan di atas meja.

Mario mengangguk lalu membaringkan Rivano kembali saat bocah itu sudah lelap.

"Kamu terlihat kelelahan?" Mario menghampiri Erina yang duduk di kursi di kamar Rivano, kamarnya luas dan di lengkapi kursi dan meja untuk sekedar bersantai saat pengasuh menjaga Rivano.

"Vano mengamuk sejak tadi, aku berusaha menenangkannya.." Mario mengangguk.

"Kalau begitu istirahatlah, biar aku yang jaga Vano sekarang.."

"Kamu juga pasti lelah Mas, seharian bekerja.."

"Tidak apa, aku akan jaga Vano disini.. ada pekerjaan juga yang harus segera ku selesaikan.." Erina melihat tas kerja Mario, lalu mengangguk.

"Jangan terlalu memforsir dirimu Mas, istirahatlah jika sudah lelah.." Mario bergumam dan mulai menyalakan laptopnya.

Erina hanya bisa menghela nafasnya saat Mario bahkan tak melihat ke arahnya.

Erina memberikan kecupan di dahi Rivano lalu keluar dari kamar itu dan pergi ke kamar sebelah untuk istirahat.

Mario bekerja hingga malam sambil menjaga Rivano, sesekali dia akan mengecek suhu tubuh Rivano dan menghela nafas lega saat suhu tubuh Rivano sudah turun.

Mario melihat kopi buatan Erina yang belum dia sentuh sama sekali, kopi buatan Erina enak, tapi belum bisa mengalahkan kopi buatan Namira, segala tentang Namira tidak bisa di bandingkan dengan Erina, mungkin juga karena tidak ada cinta darinya untuk Erina, karena itu semuanya terasa hambar.

...

Like..

Komen..

Vote..

Terpopuler

Comments

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

kalo g cinta ya g usah dinikahin apalagi punya anak pak

2024-05-20

0

Widi Widurai

Widi Widurai

kenapa pas dia hamil g ngasih tau mario? bukanny ada selang waktu sblm mario nikah??

2023-04-05

3

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

tidak ada cinta tapi sampe punya anak🙄

2023-04-04

2

lihat semua
Episodes
1 Dear My Ex Husband
2 Kuta, Bali
3 Juni Yang Lahir Di Bulan Maret
4 Hari Senin..
5 Tak Bisa Menahan Diri
6 Ingin Memutar Waktu
7 Ingin Memiliki Lagi
8 Hambar
9 Amarah
10 Merasa Tak Pantas
11 Kelemahan..?
12 Dimana Papi Jun?
13 Sudah Tiada?
14 Hari Itu
15 Di Tinggalkan Demi Anak Dari Istri Sah
16 Figur Impian Juni
17 Mario Atau Andre?
18 Mendekati Perlahan
19 Membuka Hati
20 Cintaku Tak Pernah Hilang
21 Mario Dan Juni
22 Menghilangkan Keraguan
23 Keputusan Namira
24 Kesakitan Mario
25 Surat Namira
26 Usaha Mario
27 Rumah Mario
28 Masih Di Rumah Mario
29 Dahulukan Anak Kamu
30 Masa Lalu
31 Masa Lalu (2)
32 Masa Lalu (3)
33 Masa Lalu (4)
34 Masa Lalu (End)
35 Papinya Juni
36 Kelegaan Namira.
37 Kekhawatiran Namira
38 Rencana Mario
39 Tentang Andre
40 Hari Minggu
41 Mama Mario
42 Skandal Keluarga Andreas
43 Demi Cinta Kita
44 Mami Putraku
45 Pasangan
46 Tak Seperti Kenyataan
47 Menemui Andre
48 Mengetahui
49 Kekhawatiran Namira
50 Lamaran Andre
51 Penyesalan Olivia
52 Ciuman Kerinduan
53 Apa Kamu Prioritasnya..?
54 Keraguan
55 Ulang Tahun Juni
56 Rivano Oh Rivano..
57 Harapan Juni
58 Tamat
59 Kisah Belum Usai
60 Silahkan Mampir
61 My Sweet Daddy
62 Broken Marriage
63 Mampir Yuk!
64 Bukan Sekedar Secretary
65 Gara-gara Mantan
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Dear My Ex Husband
2
Kuta, Bali
3
Juni Yang Lahir Di Bulan Maret
4
Hari Senin..
5
Tak Bisa Menahan Diri
6
Ingin Memutar Waktu
7
Ingin Memiliki Lagi
8
Hambar
9
Amarah
10
Merasa Tak Pantas
11
Kelemahan..?
12
Dimana Papi Jun?
13
Sudah Tiada?
14
Hari Itu
15
Di Tinggalkan Demi Anak Dari Istri Sah
16
Figur Impian Juni
17
Mario Atau Andre?
18
Mendekati Perlahan
19
Membuka Hati
20
Cintaku Tak Pernah Hilang
21
Mario Dan Juni
22
Menghilangkan Keraguan
23
Keputusan Namira
24
Kesakitan Mario
25
Surat Namira
26
Usaha Mario
27
Rumah Mario
28
Masih Di Rumah Mario
29
Dahulukan Anak Kamu
30
Masa Lalu
31
Masa Lalu (2)
32
Masa Lalu (3)
33
Masa Lalu (4)
34
Masa Lalu (End)
35
Papinya Juni
36
Kelegaan Namira.
37
Kekhawatiran Namira
38
Rencana Mario
39
Tentang Andre
40
Hari Minggu
41
Mama Mario
42
Skandal Keluarga Andreas
43
Demi Cinta Kita
44
Mami Putraku
45
Pasangan
46
Tak Seperti Kenyataan
47
Menemui Andre
48
Mengetahui
49
Kekhawatiran Namira
50
Lamaran Andre
51
Penyesalan Olivia
52
Ciuman Kerinduan
53
Apa Kamu Prioritasnya..?
54
Keraguan
55
Ulang Tahun Juni
56
Rivano Oh Rivano..
57
Harapan Juni
58
Tamat
59
Kisah Belum Usai
60
Silahkan Mampir
61
My Sweet Daddy
62
Broken Marriage
63
Mampir Yuk!
64
Bukan Sekedar Secretary
65
Gara-gara Mantan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!