"Mas Andre sudah datang?" Namira membuka pintu rumahnya, tadi pagi- pagi sekali Andre mengatakan jika dia akan menjemputnya, dan benar saja pria itu kini sudah berada di depan rumahnya.
"Hay.. Sudah siap?" Namira mengangguk. "Juni mana?" Andre yang melihat Juni berjalan ke arahnya pun langsung tersenyum. "Hey jun! om bawakan mainan baru.." Juni segera berlari dan menghampiri Andre.
"Wuahhh.. " Juni memekik senang, Namira terkekeh "Bilang apa sama om nya?"
"Maatih om.." Juni tersenyum malu.
"Sama- sama Jun.." Andre mengusak rambut Juni. "Sekarang beri om ciuman!"
Juni pun mendekat dan mengecup pipi Andre, lalu pergi melesat ke dalam rumah, Andre terkekeh saat melihat Juni lari karena malu.
"Kamu jangan terlalu memanjakan Juni, sudah berapa kali kamu datang bawakan mainan untuk Juni.." Ya sudah beberapa hari ini Andre datang untuk mengantar dan menjemput Namira dan saat datang Andre selalu membawa buah tangan, Namira tidak menolak, dia sudah bertekad untuk membuka hati dan melihat kesungguhan Andre padanya, dan Namira juga melihat Andre menyayangi Juni.
"Gak papa, kebetulan kemarin di jalan pulang aku lihat pesawat yang di inginkan Juni di toko mainan.." Andre membuka pintu penumpang untuk Namira lalu dirinya masuk ke kursi kemudi.
"Kamu terlihat sekali mendekati Juni karena maksud tertentu.."
Andre terkekeh "Ya, tentu saja maksudku adalah membuat ibu Juni terkesan.."
Namira tersipu "Tapi percayalah selain itu aku juga suka Juni.. jadi apa pun yang aku berikan untuk Juni itu tulus.."
"Terimakasih.."
"Terimakasih juga untuk membuka hati kamu untukku.."
"Aku nggak.."
"Aku mengerti Nami, selama ini kamu selalu menghindar dariku, tapi akhir- akhir ini kamu tidak menolak ajakan ku, bolehkah aku simpulkan kalau kamu memberiku kesempatan..?"
Namira menelan ludahnya, dia memang berniat membuka hatinya, namun melakukannya secara diam- diam dan melihat ke sungguhan Andre padanya dan Juni, tapi tanpa di sangka Andre sangat peka.
"Aku hanya masih harus berfikir tentang kedepannya mas.. pengalaman terluka membuatku takut menjalin hubungan, dan lagi sekarang ada Juni yang harus aku prioritaskan"
"Aku ngerti.. dan aku akan buktikan kalau aku layak untuk jadi suami kamu dan ayah untuk Juni.." entah mengapa Namira merasakan ada sesuatu yang menggelitik hatinya, sebuah rasa terharu saat melihat kesungguhan dalam ucapan Andre, dia tak menyangka Andre akan mengucapkan itu.
"Aku tak mau memberikan harapan palsu mas, tapi aku ingin melihat seiring berjalannya waktu apa kamu bisa mengisi kosongnya aku dan Juni, maaf aku tak bisa menjawab sekarang aku tak ingin menipu hati karena aku belum bisa jatuh cinta.."
Andre tersenyum "Kamu membuka hati saja sudah bagus.."
"Jadi mulai sekarang kita calon pacar?" Andre mengedipkan matanya, dan sontak saja membuat Namira mengulum senyum.
"Calon pacar?"
"Hmm, pertama calon pacar, lalu jadi pacar, terus naik jabatan jadi calon suami lalu kita akan menikah.." Andre sungguh- sungguh ingin menjadikan Namira istrinya.
..
Mario menggenggam erat bundaran setir saat dia melihat Namira keluar dari mobil Andre, lagi- lagi pria itu..
Sudah Mario perhatikan dan hampir satu minggu ini Namira dan Andre datang dan pulang bersama.
Rasa marah semakin membakar hatinya saat melihat Andre menggenggam tangan Namira saat keluar dari mobil, sudah sejauh mana hubungan mereka?.
Tak bisa di biarkan Namira harusnya kembali padanya bukan, seperti katanya Namira berjanji mencintainya selamanya tapi bukan hanya telah menikah dan memiliki anak, kini Namira terlihat dekat dengan pria lain yang Mario perhatikan sejak dia datang, Andre selalu mendekati Namira.
..
"Nami bersiaplah kita akan rapat di luar.." Namira baru saja mendudukan dirinya tapi Mario sudah bicara namun tanpa menoleh, dan melewatinya begitu saja.
"Baik pak.." Hari ini memang ada jadwal rapat di sebuah perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan mereka, dan Namira sudah mempersiapkan semuanya.
Tak berapa lama Mario sudah kembali dengan berkas di tangannya "Bawa semua barangmu setelah rapat kita tak perlu kembali ke kantor..!"
"Eh, tapi.. apa ada pertemuan lain yang saya tak tahu pak?" seingat Namira rapatnya hanya di sebuah perusahaan dan itu pun tidak mungkin memakan banyak waktu hingga jam kerja habis.
"Tidak, tapi pemiliknya ingin kita makan siang bersama.."
Namira mengangguk dan membawa tas kerjanya, hari ini memang hari memang menjelang akhir pekan dan jam kerja biasanya hanya sampai jam makan siang saja.
Satu jam kemudian Mario memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah perusahaan dan segera keluar dari mobil.
Namira mengerutkan keningnya saat Mario pergi begitu saja, sebelum Namira keluar dari mobilnya, kenapa dengan pria itu?, sejak tadi mereka memasuki mobil pun dan melaju Mario terus diam, bukan ingin mengobrol dengan Mario namun Namira merasa aneh, biasanya Mario akan berusaha bicara padanya dan memaksa.
Namira mengikuti Mario dari belakang dengan langkah yang harus dia lebarkan untuk mengejar Mario yang berjalan cepat.
Mario menemui resepsionis dan langung di sambut dan diantar pergi ke ruangan atasan mereka.
"Kau sudah datang, duduklah!" Mario duduk di ikuti Namira.
Dimas mengangguk "Ini..?" Dimas menunjuk Namira.
"Dia.."
"Perkenalkan saya sekertaris pak Mario, Pak" sebelum Mario bicara Namira memilih memperkenalkan dirinya sendiri.
Dimas pun tersenyum lalu mengangguk..
Dari yang Namira simpulkan ternyata Mario dan Dimas sudah saling mengenal, terbukti dari percakapan mereka yang tidak canggung lagi.
Selama dua jam lebih mereka membicarakan pekerjaan, sesekali di selangi dengan obrolan ringan antara Mario dan Dimas dan sepertinya mereka sedang bernostalgia.
Namira sempat berpikir sejak kapan Mario dan pak Dimas ini berteman, sedangkan Namira sendiri tak pernah tahu Mario punya teman di Bali ini, sejak dulu Namira sangat mengenal semua teman Mario. Ya.. setidaknya empat tahun lalu, karena Mario kerap mengajaknya untuk menghadiri jamuan makan, bahkan pergi memperkenalkan Namira pada teman- temannya, tak jarang pula Mario membanggakan Namira di depan mereka.
"Seperti kataku, sebelum pulang kau harus ikut aku untuk makan siang bersama.. kau tidak keberatan bukan Nona Namira"
Namira tersenyum canggung "Tidak pak, saya sangat berterimakasih.."
"Tidak usah sungkan, hari ini adalah launching restoran baru istriku, jadi aku ingin mengajak kalian untuk sekedar mencicipi masakan disana.."
Namira mengangguk "Jika begitu kita berjumpa disana.." Mario menutup berkas yang baru saja di tanda tangani, keduanya.
"Ya, aku akan pergi dengan mobilku.."
Mereka pun berpisah dan akan bertemu kembali di sebuah restoran yang di maksud Dimas.
"Istri Dimas asli Bali" Namira mendongak dan menemukan Mario bicara padanya.
Namira mengangguk "Dia pasti akan cocok denganmu" Namira mengeryit.
"Aku dan Dimas berteman saat aku kuliah di luar negeri, jadi dia tidak tahu kamu pernah jadi istriku.." Namira diam.
"Saat kita menikah Dimas juga tidak bisa datang karena saat itu ibunya meninggal.. jadi dia tidak mengenalmu"
Namira menghela nafasnya "Tidak masalah lagi pula sekarang semuanya sudah selesai, dan aku bukan istri kamu lagi.."
Mario tersenyum kecut "Aku hanya ingin kamu tahu, betapa berartinya kamu untukku Nami, hingga aku ingin mengumumkan pada seluruh dunia kamu milikku, dan aku sudah memperkenalkan mu pada semua temanku kecuali Dimas."
"Sungguh, aku sangat berharga?" Mario tersenyum lalu mengangguk.
"Jika aku sungguh berharga, kenapa kamu menceraikan aku Mas?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
tris tanto
sikon bang yg mmbuat namira beralih,situ jg ktnya mencintai tp bisa nikh apapun alasanny ,,
2023-10-24
0
Siti Hanifah
seruuuuu..ayo lebih semangat lagi Thor❤️❤️❤️
2023-08-18
0
Sumarni Al Fa
nah ayo beri alasan yg bener dan masuk akalmu
2023-04-06
0