Amarah

Namira sudah bersiap untuk bekerja, Juni juga sudah bangun seperti biasa dan dia dandani lalu sarapan bersama.

Namira menyampirkan tas kerjanya di pundak lalu keluar dari kamar dan mengerutkan keningnya saat tak melihat Juni dimana pun.

"Juni mana Bu?" Namira bertanya pada Farida dan Farida menggerakan dagunya ke arah Juni yang berdiri di depan jendela yang mengarah ke laur.

Namira mendekat dan hatinya terasa tertusuk melihat Juni sedang memperhatikan anak tetangga mereka sedang bermain sepeda dengan ayahnya.

Namira memundurkan langkahnya saat melihat mata Juni berbinar dan tersenyum melihat interaksi antara anak dan ayah itu "Kemarin Juni di tunjukan robot dari lego sama Yogi, dan dia langsung ingin bermain legonya.."

Yogi adalah anak tetangga mereka yang sedang Juni perhatikan "Yogi juga bilang kalau itu dibuat oleh ayahnya, Yogi juga berkata jika ada ayah pasti Juni juga di buatkan .." Namira tak bisa menahan lagi, dia ingin menangis.. jadi itu alasan Juni sedih saat dia tak bisa membuat robot dari lego tak sesuai keinginannya. Yang Juni inginkan bukan hanya membuat robot dari lego tapi juga orang yang membuatkan lego untuknya.

"Aku pergi ke kantor dulu bu.." Namira tak ingin menangis di depan ibu atau Juni jadi dia memilih segera pergi.

Farida menghela nafasnya saat melihat Namira pergi bahkan tidak berpamitan pada Juni, Namira akan memilih menghindar jika Farida bicara tentang Ayah Juni, seperti sekarang.

Namira memasuki mobilnya dan memacunya hingga dia tiba di persimpangan, Namira menghentikan mobilnya saat dirasa matanya sudah mulai mengabur karena air mata.

Namira terus menghela nafasnya untuk menghentikan tangisnya dan dadanya yang terasa sesak hingga beberapa menit Namira diam disana lalu kembali melanjutkan perjalanannya saat dirasa hatinya sudah tenang.

Namira tahu saat ini akan tiba, tapi tak tahu rasanya sesakit ini, Juni belum bertanya kemarin, mungkin karena teralihkan oleh eskrimnya lalu tadi Juni melihat lagi Yogi dengan Ayahnya, jadi Namira harus mempersiapkan diri jika Juni bertanya dimana ayahnya.

...

Namira menghela nafasnya saat tiba di kantor dia terlambat, tidak lama hanya lima menit, tapi tetap saja dia terlambat, padahal Namira sudah mengebut tadi, tapi karena tadi dia berhenti cukup lama untuk menenangkan hatinya, apalagi hari ini dia masih harus bertemu dengan alasan hatinya remuk redam, dan itu akan terus berjalan hingga Namira menyerah atau mengundurkan diri, dan pertanyaannya apa dia kuat jika terus bertahan.

"Mbak Nami di panggil pak bos" Nami menghela nafasnya saat baru saja dia letakkan tasnya Nisa sudah bicara dan membuat mood nya semakin turun, mau apa lagi sih, perasaan Nami cuma telat lima menit, dan rapat baru di mulai satu jam lagi, dia juga sudah menyiapkan bahan rapat, tinggal print saja semuanya dan selesai.

"Aku harus print bahan rapat Nis, bisa bantu gak.."

"Okey.." Nisa memang bisa di andalkan, Namira memberikan sebuah flashdisk pada Nisa.

"Tolong ya.."

"Tenang aja mbak, kayak sama siapa aja.." Namira segera melangkah ke ruangan direktur yang memang berada di sebelah ruangan mereka.

Namira membuka pintu setelah mengetuk dan terdengar suara Mario mempersilahkannya masuk, Namira tertegun saat melihat tak hanya Mario yang ada di dalam ruangannya.

Namira berusaha menenangkan hatinya yang berkecamuk saat melihat seorang anak kecil duduk di pangkuan Mario, dia anak Mario?.

"Kamu terbiasa terlambat ya.."

"Baru lima menit pak, dan itupun karena macet.." Namira berkata dengan raut datar.

Mario mendengus,melihat penampilan Namira, jika tidak ada Vano disana sudah dia cium bibir merah Namira, beraninya dia berdandan sangat cantik.

Rivano memang merengek ingin ikut, dan karena Rivano baru saja sembuh, jadi Mario tidak tega melihat bocah itu menangis, dan sekarang Mario jadi tidak bebas mencium mantan istrinya, tapi memangnya Mario mau di tampar lagi, tentu saja tidak, Mario tidak keberatan terus di tampar, apalagi jika dia berhasil mel umat habis warna bibir mantan istrinya itu.

Sebelum keluar mobil Namira memang memoles wajahnya sedikit tebal untuk menyamarkan mata dan hidungnya yang merah karena menangis.

"Apa bahan rapatnya sudah kamu siapkan.."

"Sudah siap pak.. rapat di mulai satu jam lagi."

Mario mengangguk "Saya bisa minta bantuan kamu.."

Namira diam "Untuk rapat kamu tidak perlu ikut, saya akan ajak Nisa, dan kamu bisa tolong jaga anak saya."

Namira menjatuhkan rahangnya dengan mata berkedip, apa Maksud Mario memintanya menjaga anaknya? apa dia ingin menunjukan jika dia bisa punya anak dari wanita selain dirinya.. brengsek, namun sebesar apapun amarah Namira, dia tak ingin berdebat dan hanya berkata "Baik pak..." Namira rasa itu lebih baik, tinggal dengan anak kecil dari pada pergi dengan Mario dan menjadi pusat perhatian saat Mario bersikap seenaknya.

"Vano nanti tunggu sama tante Nami ya.. Papa mau rapat dulu.." Hati Namira terasa tercabik saat mendengar suara lembut Mario yang berbicara pada anaknya, Namira menelan ludahnya apa jika Mario tahu keberadaan Juni, pria itu juga akan memberi perhatian yang sama pada Juni.

Namira membuang wajahnya saat Mario menatapnya, tak ingin terus sakit melihat interaksi ayah dan anak itu Namira berusaha acuh.

Namun seberapa kuat Namira menahan, hatinya tetap terasa tertusuk ribuan jarum, mendengar Mario membujuk dan bicara dengan lembut pada anaknya rasa cemburu merayap di hatinya, cemburu untuk Juni yang tak bisa mendapatkan perilaku yang sama seperti yang Mario lakukan pada anak itu.

Dada Namira semakin sesak, dia memutar tubuhnya untuk keluar dari ruangan Mario, namun Mario kembali bicara.

"Mau kemana?"

"Saya akan menyiapkan bahan rapat pak.." Namira berkata tanpa menoleh dan segera keluar tanpa menunggu jawaban Mario.

Hingga Namira keluar ruangannya Mario masih bisa melihatnya dari dinding kaca yang menghalanginya, Mario melihat Namira mengambil beberapa berkas dari tangan Nisa, dan merapikan sebelum memasukannya ke dalam map berwarna biru, sepanjang Namira melakukannya Mario tak lepas memperhatikan raut Namira yang datar, ada apa dengannya..?

"Nanti kamu yang temani pak Mario rapat.."

"Eh kok aku?"

"Iya soalnya aku di suruh jaga anaknya.."

"Eh iya ya, Mbak tadi aku juga lihat Pak Mario emang gendong anak kecil yang tampan banget, jadi itu anaknya..?"

"Hmm.." Namira bergumam enggan menanggapi dan menyerahkan berkas yang sudah di susun "Jangan lupa setiap point penting harus di catat dengan benar"

"Oke mbak.." Nisa mengangguk patuh.

"Aku ke toilet sebentar ya.. gak lama kok sebelum rapat udah balik lagi.." Nisa mengangguk dan Namira segera pergi ke arah toilet.

Dimana lagi dia bisa menenangkan amarah di hatinya selain di toilet, tempat yang aman selain tidak ada cctv tidak ada dinding kaca yang akan mengawasinya

...

Like..

Komen..

Vote..

Terpopuler

Comments

Nani Haryati

Nani Haryati

bener2 badjingan yahhh

2023-05-25

5

aisya_

aisya_

semakin sini semakin benci sama karakter Mario....ciih jijik...

2023-04-03

1

Phia Chygny Mustofa

Phia Chygny Mustofa

sakit nya tu disini

2023-04-01

0

lihat semua
Episodes
1 Dear My Ex Husband
2 Kuta, Bali
3 Juni Yang Lahir Di Bulan Maret
4 Hari Senin..
5 Tak Bisa Menahan Diri
6 Ingin Memutar Waktu
7 Ingin Memiliki Lagi
8 Hambar
9 Amarah
10 Merasa Tak Pantas
11 Kelemahan..?
12 Dimana Papi Jun?
13 Sudah Tiada?
14 Hari Itu
15 Di Tinggalkan Demi Anak Dari Istri Sah
16 Figur Impian Juni
17 Mario Atau Andre?
18 Mendekati Perlahan
19 Membuka Hati
20 Cintaku Tak Pernah Hilang
21 Mario Dan Juni
22 Menghilangkan Keraguan
23 Keputusan Namira
24 Kesakitan Mario
25 Surat Namira
26 Usaha Mario
27 Rumah Mario
28 Masih Di Rumah Mario
29 Dahulukan Anak Kamu
30 Masa Lalu
31 Masa Lalu (2)
32 Masa Lalu (3)
33 Masa Lalu (4)
34 Masa Lalu (End)
35 Papinya Juni
36 Kelegaan Namira.
37 Kekhawatiran Namira
38 Rencana Mario
39 Tentang Andre
40 Hari Minggu
41 Mama Mario
42 Skandal Keluarga Andreas
43 Demi Cinta Kita
44 Mami Putraku
45 Pasangan
46 Tak Seperti Kenyataan
47 Menemui Andre
48 Mengetahui
49 Kekhawatiran Namira
50 Lamaran Andre
51 Penyesalan Olivia
52 Ciuman Kerinduan
53 Apa Kamu Prioritasnya..?
54 Keraguan
55 Ulang Tahun Juni
56 Rivano Oh Rivano..
57 Harapan Juni
58 Tamat
59 Kisah Belum Usai
60 Silahkan Mampir
61 My Sweet Daddy
62 Broken Marriage
63 Mampir Yuk!
64 Bukan Sekedar Secretary
65 Gara-gara Mantan
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Dear My Ex Husband
2
Kuta, Bali
3
Juni Yang Lahir Di Bulan Maret
4
Hari Senin..
5
Tak Bisa Menahan Diri
6
Ingin Memutar Waktu
7
Ingin Memiliki Lagi
8
Hambar
9
Amarah
10
Merasa Tak Pantas
11
Kelemahan..?
12
Dimana Papi Jun?
13
Sudah Tiada?
14
Hari Itu
15
Di Tinggalkan Demi Anak Dari Istri Sah
16
Figur Impian Juni
17
Mario Atau Andre?
18
Mendekati Perlahan
19
Membuka Hati
20
Cintaku Tak Pernah Hilang
21
Mario Dan Juni
22
Menghilangkan Keraguan
23
Keputusan Namira
24
Kesakitan Mario
25
Surat Namira
26
Usaha Mario
27
Rumah Mario
28
Masih Di Rumah Mario
29
Dahulukan Anak Kamu
30
Masa Lalu
31
Masa Lalu (2)
32
Masa Lalu (3)
33
Masa Lalu (4)
34
Masa Lalu (End)
35
Papinya Juni
36
Kelegaan Namira.
37
Kekhawatiran Namira
38
Rencana Mario
39
Tentang Andre
40
Hari Minggu
41
Mama Mario
42
Skandal Keluarga Andreas
43
Demi Cinta Kita
44
Mami Putraku
45
Pasangan
46
Tak Seperti Kenyataan
47
Menemui Andre
48
Mengetahui
49
Kekhawatiran Namira
50
Lamaran Andre
51
Penyesalan Olivia
52
Ciuman Kerinduan
53
Apa Kamu Prioritasnya..?
54
Keraguan
55
Ulang Tahun Juni
56
Rivano Oh Rivano..
57
Harapan Juni
58
Tamat
59
Kisah Belum Usai
60
Silahkan Mampir
61
My Sweet Daddy
62
Broken Marriage
63
Mampir Yuk!
64
Bukan Sekedar Secretary
65
Gara-gara Mantan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!