"Mami Junyi puna Pappi..?"
"Yodi puna Pappi.." Dan akhirnya lebih cepat dari yang Namira perkirakan, Namira kira Juni akan menanyakan ayahnya saat dia berusia empat atau lima tahun di saat dia masuk taman kanak- kanak namun rupanya bocah itu lebih peka dari perkiraan Namira, bahwa dengan melihat Yogi anak tetangganya, sekaligus temannya bermain, Juni bisa membedakan perbedaan hidupnya dengan orang lain.
Namira mengusap matanya yang terasa perih entah karena ingin menangis atau entah karena insomnianya semakin parah, sejak perceraiannya dengan Mario, Namira jarang bisa tidur lelap.
Namira harus memeluk Juni untuk mendapat kantuknya, tapi tadi malam meski Namira memeluk Juni, Namira tetap saja tak bisa memejam, teringat pertanyaan Juni yang begitu menusuk hatinya, juga Namira teringat apa yang di lakukan Mario padanya hingga Namira tak mampu memejam.
Sepertinya Namira perlu memeriksakan dirinya jika tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya, Ayolah hanya dia yang di miliki Juni, jika dirinya tiada bagaimana dengan Juni.
Namira sudah memutuskan selepas pulang bekerja, dia akan memeriksakan dirinya, setidak nya mungkin dokter akan meresepkan obat tidur saja untuknya.
Namira tak berhenti mendesah melihat meja kerjanya, hari ini kepalanya terasa berputar dia tak ingin membiarkan matanya menatap angka dan huruf yang begitu banyak hingga dia semakin pening.
Namira melihat Nisa yang sudah berkutat dengan pekerjaannya tapi dia belum membuka satu berkas pun, dan hanya duduk melamun, Namira menghela nafasnya berat "Nisa.. lagi sibuk ya..?"
Nisa mendongak da melihat ke arah Namira yang terlihat pucat "Mbak sakit..? ambil izin aja mbak kalau sakit.." katanya dengan khawatir,Nisa tak menjawab pertanyaan Namira dan langsung meminta Namira pulang saat melihat Namira terlihat lesu.
"Tadinya begitu, tapi melihat kamu sibuk saya tidak tega kasih kerjaan saya ke kamu.."
Nisa menggaruk poninya "Iya, sih mbak aku bakal kerja dua kali lipat jadinya, tapi gak baik juga maksain tetap kerja kalau keadaan sakit, memang perusahaan mau nanggung kalau ada apa- apa, jadi Mbak Nami pulang aja, dari pada kenapa- napa.."
Namira mengangguk setuju "Kalau gitu aku mau izin dulu sama si bos ya.."
"Sip mbak.." Nisa mengangkat jempol tangannya dan Namira terkekeh.
Sebenarnya Namira malas berhadapan dengan Mario apalagi ini masih pagi, tapi mau bagaimana lagi, pekerjaannya sebagai seorang sekertaris membuatnya selalu terlibat dengan Mario, dan sekarang dia ingin tanda tangan Mario untuk absennya, jadi Namira dengan enggan mengetuk pintu.
"Ada apa Nami..?"
Lagi- lagi tatapan itu, tatapan lembut Mario yang masih berusaha merusak benteng pertahanan Namira.
"Saya izin pulang lebih awal Pak.." Mario mengerutkan keningnya, barulah saat melihat Namira yang pucat, Mario bangun dan berjalan mendekat.
"Kamu sakit?"
Saat Mario berjalan mendekat, Namira justru memundurkan langkahnya, dan membuat Mario terpaku. "Kamu baik- baik saja.."
"Saya baik pak, hanya perlu istirahat, karena itu saya minta izin untuk pulang sekarang.."
"Aku antar kamu.." Namira mendongak saat Mario terlihat merapikan berkasnya.
"Saya membawa mobil Pak.."
"Dalam keadaan kamu sakit bagaimana kamu menyetir Nami, bagaimana jika terjadi sesuatu.."
Namira mengangkat alisnya "Tadi pagi saya masih bisa membawa mobil dengan selamat"
"Itu tidak sama Nami, aku yakin tadi pagi kamu belum merasa selemas sekarang kan..?" memang benar, Namira merasakan dirinya semakin lemas setelah memikirkan terus menerus pertanyaan Juni, awalnya Namira sudah siap dengan jawabannya untuk Juni, namun melihat raut bocah itu penuh harap, Namira mengurungkan niatnya tak tega membuat buah hatinya terluka dengan jawaban yang dia siapkan sejak awal.
"Saya tetap akan pulang sendiri, dan apa jadinya jika seorang direktur rela mengantar sekertarisnya pulang karena sakit, terlebih dia meninggalkan pekerjaannya."
"Aku tidak peduli dengan anggapan orang lain.."
"Tapi saya peduli pak.."
"Oh.. ayolah Nami.." Mario menggeram kesal.
"Saya sedang tidak ingin berdebat, saya datang untuk meminta izin karena kepala saya rasanya ingin meledak, dan jika berkenan tolong, mulai sekarang anggap kita tidak pernah saling mengenal.."
"Nami.."Mario tak percaya dengan apa yang di ucapkan Namira.
Namira menunduk dan segera keluar dari ruangan Mario "Nami.."
Shiit..
Mario hanya bisa mengumpat saat merasa begitu sulit bicara dengan Namira, wanita itu sungguh keras kepala, apa dia tak mengerti Mario sungguh khawatir.
..
Namira baru saja keluar dari klinik di dekat kantor, karena merasa amat pening akhirnya Namira memutuskan segera mampir ke klinik dan dia akan minum obat lalu tidur sebentar di dalam mobi barulah setelah itu, dia akan melanjutkan perjalananya pulang, namen belum juga terealisasikan keinginannya ponselnya berdering, Namira melirik sebal nama yang tertera di sana dan memilih mengabaikannya lalu memejamkan matanya, Namira sudah meminta izin pada satpam penjaga klinik untuk tidur di dalam mobil sembari menunggu peningnya hilang, perjalanan menuju pulang masih jarak 30 menit dan Namira tak ingin terjadi sesuatu pada dirinya saat sedang menyetir dia merasa mengantuk lalu kecelakaan.
Oh tidak.. bagaimana dengan Juni nanti, hanya Juni yang dia fikirkan saat mengingat kehidupannya. tentu saja jika terjadi sesuatu padanya Juni tak punya siapapun nanti.
Mematikan ponselnya Namira benar- benar tidur di dalam mobil yang jendelanya sedikit dia buka.
Namira tak peduli dengan pesan yang datang bertubi- tubi dari Mario yang merasa khawatir padanya, entah apa mau pria itu sejak datang membuat hidup Namira serasa jungkir balik, mulai dari tiba- tiba menciumnya lalu memintanya kembali tentu saja dengan menjadi selingkuhan, apalagi memang?, jika salah satu diantara mereka sudah memiliki pasangan bukankah di sebut selingkuhan, atau lebih parah lagi pelakor.
Terlintas pemikiran di benak Namira apa Mario tidak puas hanya dengan satu istri, apalagi jika bukan tentang nafsu yang tak terpenuhi hingga mario memintanya kembali, dan Namira rasa jika alasannya karena cinta itu hanya bualan semata, jika Mario sungguh mencintainya empat tahun lalu pria itu tidak akan pernah menceraikannya.
...
Di kantornya Mario di buat tak tenang karena Namira tak juga mengangkat panggilannya, bahkan membalas pesan- pesannya, hingga kini Namira mematikan ponselnya dan semakin membuat Mario menggeram marah.
Apa dia datangi saja rumah Namira dan melihatnya secara langsung.
...
"Yeyyy Mami pulang.." Juni memekik senang saat Namira siang hari sudah ada di rumah, Juni turun dari pangkuan sang nenek dan berlari ke arah Namira.
Namira tersenyum "Mami lagi sakit, makanya izin pulang.."
"Mami satit.." Juni terlihat sedih.
"Huumm tapi Mami udah minum obat, jadi akan segera sembuh."
"Kamu pucat Nam.. Istirahat dulu sana!" Namira mengangguk pada ibunya yang juga menampakan raut khawatir.
Juni menariknya pergi ke arah kamar, dan naik ke atas tempat tidur "Tidul Mami.." ajaknya.
Namira mendudukan dirinya tapi dia sudah tidur tadi saat di mobil jadi ngantuknya sudah hilang apalagi peningnya juga sudah berkurang.
Namira akhirnya hanya membaringkan tubuhnya di atas ranjang bersama Juni dan memeluk bocah kecil itu.
"Jun mau tahu dimana Papi Jun kan?"
...
Like..
Komen..
Vote..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
sharvik
klau mnurut q tidk ap2 mreka rujuk cm jgn mudh mmberi mf jgn mdah luluh. .jd lah wanita tegas
2024-03-19
1
zulida
Namira bole tegas lah, biar perlu keluar sj dr perusahaan Mario.
2023-05-25
1
Nna Rina 💖
apa sih mau nya mario... ???
kamu ga peduli omongan orang krn kamu boss, mana berani pd ngomongin.
gmn dg namira... ya jelas semua org pst salahin n jelek2in namira....
bnr deh mario itu ga ngehargain wanita terutama namira, masak ngajak balikan disaat dia pny pasangan yg artinya selingkuh.
ga ada yg namanya cinta kalo mendua. bullshit!!!!
2023-04-03
1