Kuta, Bali

Namira menatap sekelilingnya dan memfokuskan pandangannya pada sorang bocah laki- laki yang berlari kecil mengikuti lalu kembali lari saat ombak kembali ke pantai.

Namira tersenyum saat anak laki- laki itu memeluk neneknya dan memekik karena di kejar ombak. terdengar celotehan yang masih tidak jelas di usianya yang baru tiga tahun.

"Nenek tatut..!" jeritnya.

Sang nenek pun tertawa melihat tingkah lucu cucunya yang bermain- main dengan ombak.

"Sudah puas mainnya?" Namira berjongkok dan melihat putranya yang masih memeluk sang nenek.

"Mamii" katanya senang, lalu menghambur memeluk Namira, Namira baru pulang bekerja, dan menjemput putranya yang merengek pada sang nenek jika dirinya ingin pergi ke pantai.

Beruntung hari ini Namira hanya masuk setengah hari karena hari sabtu.

"Ayo kita pulang" ajaknya saat Namira mengurai pelukannya.

"Ndak mahu, main- main.." katanya dengan aksen cadel, bocah itu berlari kembali mengejar ombak.

"Dia suka sekali pantai" Namira menoleh dan melihat ibunya lalu mengangguk setuju.

'Seperti Ayahnya' katanya dalam hati.

"Iya, tapi Ibu pasti capek ngikutin Juni.." Ibu Namira sudah tidak muda lagi, dan sering mengeluh sakit pinggang dan kaki.

Farida tersenyum "Tapi berkat Juni, ibu jadi punya semangat muda lagi.."

Namira terkekeh "Okay, jadi bagaimana cara kita bawa Juni sekarang.."

Farida tertawa jika sudah pergi ke pantai Juni akan sulit di bawa pulang, saking sukanya Juni dengan pantai, mereka harus menunggu hingga Juni kelelahan sendiri lalu tidur, barulah mereka boleh pulang.

.

.

.

Namira merebahkan Juni perlahan di atas ranjang agar Juni tidak terusik dan bangun, lalu mengunci pinggiran ranjang agar anak semata wayangnya itu tidak terjatuh.

Di kecupinya tangan sang putra yang bergeming dalam tidurnya, tidak terasa sudah tiga tahun sejak Juni lahir dan ternyata sejauh ini dia bisa membesarkan Juni tanpa pendamping, tanpa seorang pria yang biasa di sebut suami bersamanya.

Dan Namira selalu berusaha membuat Juni bahagia, meski dia tak punya seseorang yang bisa dia panggil Ayah, bagaimana tidak bahkan ayahnya tak tahu akan keberadaannya.

Namira selalu berusaha mendahulukan Juni dan mengesampingkan yang lainnya demi putra semata wayangnya.

Demi Juni, Namira rela melakukan apapun..

"Kamu sudah makan Nak?" Farida datang dari arah dapur dengan secangkir teh untuk Namira.

"Sudah bu, tadi di traktir sama bos aku.." Namira menyesap teh buatan ibunya.

"Bosmu yang pelit itu?" Farida bertanya bingung pasalnya Namira sering bercerita jika bosnya sangat pelit di kantor, bahkan untuk membeli minuman jika sedang rapat di luar kantor.

Namira terkekeh "Mungkin hari ini pengecualian, karena dia traktir kami di restoran mewah.."

"Dalam rangka apa?"

"Perpisahan, dia sudah tidak menjabat sebagai direktur perusahaan lagi, pemilik perusahaan berganti."

"Terus kamu ganti atasan?"

"Ya, katanya dia akan datang senin besok dan mulai memimpin, dan dia juga sekaligus pemilik perusahaan yang baru sekarang. Ibu ingat aku pernah bilang kalau perusahaan hampir bangkrut itu lah mungkin pemiliknya memilih menjualnya."

"Tapi bukannya perusahaan hampir bangkrut, kok di beli.."

Namira mengedikkan bahu "Aku gak peduli sih bu, yang penting aku dan yang lainnya gak di pecat. Ya meskipun kita gak tahu bisa bertahan atau tidak dengan bos baru, karena tentu saja kita harus kembali beradaptasi dengan peraturan dan cara kerja yang baru."

Sejak melahirkan Juni, Namira bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang sekertaris, jika di ingat lagi sejak kehadiran Juni, Tuhan selalu memberinya kemudahan hingga tak pernah merasa kesulitan dalam hal ekonomi, dan Namira tak pernah berhenti bersyukur.

Pekerjaan yang di dapat dengan mudah, juga dia bisa memiliki sebuah rumah sederhana, ya meskipun di beli dengan jalur kredit dan sudah berjalan satu tahun, sebelumnya Namira tinggal di rumah Farida sang ibu hingga satu tahun yang lalu Namira memboyong Juni beserta Farida sang ibu ke rumah barunya.

Dan Farida memutuskan menyewakan rumahnya untuk tabungannya itupun berkat usulan Namira.

Farida akan mengurus Juni saat Namira bekerja dan dia tak merasa lelah meski usianya sudah tak muda lagi.

Namira bahkan sempat menyewa seseorang untuk menjadi baby sitter untuk Juni, namun Farida menolak dan meminta Namira untuk memberhentikannya selain dengan alasan menghemat juga karena Farida masih mampu untuk membantu Namira menjaga Juni.

Dan seperti katanya saat bermain dengan Juni, Farida merasa muda lagi.

"Ya, udah istirahat gih, Ibu pasti capek, jagain Juni seharian" Farida mengangguk.

"Kamu juga, jangan kerja terus besok kan minggu, kamu masih bisa nyucinya besok aja.."

Namira terkekeh, Ibunya tahu kebiasaan Namira bekerja di malam hari "Ya Bu."

Namun kenyataannya Namira memilih berkutat dengan pekerjaannya , mencuci pakaian yang tak sempat dia cuci karena sibuk bekerja agar besok dia bisa menghabiskan waktu bermain bersama Juni seharian.

..

...

Like..

Komen..

Vote...

Terpopuler

Comments

Anisatul Azizah

Anisatul Azizah

jangan² Namira jg hamil anak Mario😥

2024-05-20

2

Winarsih Winarsih

Winarsih Winarsih

apa alasan bercerainya karna namira tak kunjung hamil,

2024-01-09

0

Enung Samsiah

Enung Samsiah

bos baru, ayah anakku

2023-10-24

2

lihat semua
Episodes
1 Dear My Ex Husband
2 Kuta, Bali
3 Juni Yang Lahir Di Bulan Maret
4 Hari Senin..
5 Tak Bisa Menahan Diri
6 Ingin Memutar Waktu
7 Ingin Memiliki Lagi
8 Hambar
9 Amarah
10 Merasa Tak Pantas
11 Kelemahan..?
12 Dimana Papi Jun?
13 Sudah Tiada?
14 Hari Itu
15 Di Tinggalkan Demi Anak Dari Istri Sah
16 Figur Impian Juni
17 Mario Atau Andre?
18 Mendekati Perlahan
19 Membuka Hati
20 Cintaku Tak Pernah Hilang
21 Mario Dan Juni
22 Menghilangkan Keraguan
23 Keputusan Namira
24 Kesakitan Mario
25 Surat Namira
26 Usaha Mario
27 Rumah Mario
28 Masih Di Rumah Mario
29 Dahulukan Anak Kamu
30 Masa Lalu
31 Masa Lalu (2)
32 Masa Lalu (3)
33 Masa Lalu (4)
34 Masa Lalu (End)
35 Papinya Juni
36 Kelegaan Namira.
37 Kekhawatiran Namira
38 Rencana Mario
39 Tentang Andre
40 Hari Minggu
41 Mama Mario
42 Skandal Keluarga Andreas
43 Demi Cinta Kita
44 Mami Putraku
45 Pasangan
46 Tak Seperti Kenyataan
47 Menemui Andre
48 Mengetahui
49 Kekhawatiran Namira
50 Lamaran Andre
51 Penyesalan Olivia
52 Ciuman Kerinduan
53 Apa Kamu Prioritasnya..?
54 Keraguan
55 Ulang Tahun Juni
56 Rivano Oh Rivano..
57 Harapan Juni
58 Tamat
59 Kisah Belum Usai
60 Silahkan Mampir
61 My Sweet Daddy
62 Broken Marriage
63 Mampir Yuk!
64 Bukan Sekedar Secretary
65 Gara-gara Mantan
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Dear My Ex Husband
2
Kuta, Bali
3
Juni Yang Lahir Di Bulan Maret
4
Hari Senin..
5
Tak Bisa Menahan Diri
6
Ingin Memutar Waktu
7
Ingin Memiliki Lagi
8
Hambar
9
Amarah
10
Merasa Tak Pantas
11
Kelemahan..?
12
Dimana Papi Jun?
13
Sudah Tiada?
14
Hari Itu
15
Di Tinggalkan Demi Anak Dari Istri Sah
16
Figur Impian Juni
17
Mario Atau Andre?
18
Mendekati Perlahan
19
Membuka Hati
20
Cintaku Tak Pernah Hilang
21
Mario Dan Juni
22
Menghilangkan Keraguan
23
Keputusan Namira
24
Kesakitan Mario
25
Surat Namira
26
Usaha Mario
27
Rumah Mario
28
Masih Di Rumah Mario
29
Dahulukan Anak Kamu
30
Masa Lalu
31
Masa Lalu (2)
32
Masa Lalu (3)
33
Masa Lalu (4)
34
Masa Lalu (End)
35
Papinya Juni
36
Kelegaan Namira.
37
Kekhawatiran Namira
38
Rencana Mario
39
Tentang Andre
40
Hari Minggu
41
Mama Mario
42
Skandal Keluarga Andreas
43
Demi Cinta Kita
44
Mami Putraku
45
Pasangan
46
Tak Seperti Kenyataan
47
Menemui Andre
48
Mengetahui
49
Kekhawatiran Namira
50
Lamaran Andre
51
Penyesalan Olivia
52
Ciuman Kerinduan
53
Apa Kamu Prioritasnya..?
54
Keraguan
55
Ulang Tahun Juni
56
Rivano Oh Rivano..
57
Harapan Juni
58
Tamat
59
Kisah Belum Usai
60
Silahkan Mampir
61
My Sweet Daddy
62
Broken Marriage
63
Mampir Yuk!
64
Bukan Sekedar Secretary
65
Gara-gara Mantan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!