Sudah Tiada?

"Jun mau tahu dimana Papi Jun kan?"

Juni mengangguk antusias, Namira tersenyum "Jun punya Papi, tentu saja.."

"Papi Jun, dia sangat baik dan perhatian.."

"Dia sangat tampan seperti Jun, tapi dia gak bisa bersama kita.." Juni masih menatap heran pada Namira seolah berpikir, Papi Yogi ada bersamanya lalu kenapa papinya tidak bisa bersamanya.

"Karena Papi Jun sudah tidak ada.." Namira merasakan hatinya seperti di remas tak kasat mata, tapi tak ada cara lain agar Juni tak menanyakannya lagi kelak..

Posisi mereka bukan dimana bisa mengharap Mario ada bersama mereka meskipun Mario bisa saja datang dan menemui Juni, tapi tetap saja tak bisa mengharap bisa tinggal, Namira tak ingin dirinya ataupun Juni menjadi duri di dalam kehidupan rumah tangga orang lain.

Namira bisa melihat raut Juni langsung murung dan sedih mendengar Papinya yang dia harapkan ternyata telah tiada, Maafkan Mami Jun..

Namira menyalakan ponselnya saat malam hari dan melihat ada banyak pesan dari Mario, Namira jadi bertanya- tanya apa Mario tidak bekerja seharian ini dan terus mengiriminya pesan.

Namira tidak membaca pesan dari Mario yang semua isinya sama 'bagaimana keadaanmu sekarang? kau baik - baik saja'

Namira hendak meletakkan ponselnya dan berniat mengabaikan saja pesan- pasan dari Mario, namun Niat Namira harus urung karena ponselnya kembali berbunyi dan kini nada dering panggilan terdengar, awalnya Namira ingin mengabaikan panggilan tersebut, namun dia tahu Mario tidak akan menyerah begitu saja.

"Hallo.."

"Aku ada di depan rumahmu." katanya dengan nada tajam, Namira menelan ludahnya kasar.

"Apa?"

"Sejak tadi aku menghubungimu, dan kamu tidak menjawabnya, jadi tak ada pilihan lain, selain bertanya pada Nisa dimana alamat rumahmu"

Namira menghela nafasnya saat melihat dari jendela, benar di sana terparkir sebuah mobil dan dia tahu itu milik bos sekaligus mantan suaminya.

"Saya baik- baik saja, jadi anda bisa pulang.."

"Apa begitu sikap kamu pada atasan kamu yang menjenguk mu.."

"Saya tidak pernah meminta.."

"Ya, tapi aku berinisiatif.."

Namira menghela nafasnya "Apa mau anda..?"

"Buatkan aku kopi.."

...

Mario tersenyum cerah saat melihat secangkir kopi di depannya, dia duduk di kursi teras rumah Namira, rumah Namira kecil dan tak sebanding dengan rumah mereka dulu, tapi disana terasa indah dan nyaman terlebih ada Namira tentu saja.

"Cepat habiskan kopinya lalu anda bisa pulang.." Namira melipat tangannya di dada dan hanya berdiri saja, padahal kursi di sebelah Mario kosong.

"Sopan sekali.." Mario menggerutu dan menyeruput kopi buatan Namira "Rasanya masih sama, kopi buatan Nami tidak terkalahkan.."

Tak ada waktu untuk memerah untuk pujian Mario, karena saat ini Namira sedang mengkhawatirkan ibunya bangun dan melihat Mario atau bahkan Juni..

Apa yang Namira takutkan benar terjadi Juni bangun dan melihat Namira tidak disisinya pun mencari dimana Maminya itu berada.

"Kamu sudah baikkan..?"

"Seperti yang bapak lihat.."

Mario mengangguk lega, lalu tatapannya menyusuri pekarangan rumah Namira dan melihat ke arah pintu yang terbuka menampakkan ruang tamu minimalis di dalamnya "Kamu tinggal disini sendiri.."

Belum sempat Namira menjawab, sebuah suara mengalihkan tatapan mereka "Mamiii.." suara bocah kecil itu terdengar serak khas bangun tidur, Namira tersentak dan segera masuk saat mendengar suara Juni bangun.

Sedangkan Mario terpaku melihat Namira segera menghampiri seorang bocah kecil yang dia rasa mungkin seumuran Rivano.

"Jun kok bangun.." terdengar suara samar yang Mario dengar.

"Mo pipis Mami.."

Tak berselang lama Namira sudah kembali dan terlihat menghela nafasnya.

"Bapak masih disini.."

"Kamu belum jawab pertanyaanku?" Mario menatap Namira, sekelumit pikiran datang saat melihat bocah kecil itu, kenapa dia memanggil Namira Mami, apa dia anak Namira tapi dengan siapa?. lalu Mario teringat percintaan terakhir mereka setelah mereka bercerai, jika Namira sungguh hamil setelah itu bukankah bocah itu adalah putra nya, rasa bahagia menjalar di hati Mario jika benar bocah laki- laki itu putranya bukankah kesempatannya kembali dengan Namira terbuka lebar, karena sudah pasti ada ikatan antara mereka dan ada anak itu yang akan menyatukan mereka.

"Apa yang ingin bapak tahu?"

"Kamu tinggal dengan siapa lalu siapa anak itu.." Jika benar anak itu anaknya, kenapa Namira menyembunyikannya selama ini, kenapa tidak mengatakan jika dia mengandung anaknya, tega sekali Namira menjauhkannya dari putranya sendiri.

"Kenapa bapak jadi ingin tahu kehidupan pribadi saya.."

"Aku tahu kamu tahu apa yang aku maksud Namira, dan berhenti bilang bapak karena kita sedang tidak di kantor, dan jelas kamu tahu apa yang aku inginkan dari kamu.. siapa anak itu, kenapa dia memanggilmu Mami, apakah.. apakah dia anakku.." lidah Mario terasa tercekat jika benar anak kecil itu anaknya bukankah, Namira keterlaluan menyembunyikannya. "Bukankah jika dia anakku, harusnya aku tahu.."

Namira memejamkan mata "Dia anakku bukan anakmu..."

"Bagaimana bisa? kamu.."

"Seperti kamu setelah kita berpisah aku menikah lagi dan memiliki Juni.."

Mario merasakan dirinya limbung jika saja dia tidak berpegangan pada tembok, Namira sudah menikah itu tidak mungkin dan di Cv Namira jelas bahwa dia masih seorang janda.

"Bagaimana bisa.." Mario menatap Namira dengan pandangan kecewa.

"Kenapa tidak bisa Mario, jika kamu saja menikah lagi, apa aku harus diam sendiri seumur hidupku.."

Mario terkekeh "Kamu benar. lalu sekarang dimana suamimu?"

Namira memalingkan wajahnya dari Mario, dia sudah sejauh ini demi apa dia melakukan kebohongan ini..

Tentu saja, demi Juni..

Demi dirinya..

Dan demi Mario..

Tidak ada yang boleh mengusik apa yang sudah seharusnya berjalan berjauhan, tidak ada Juni yang harus masuk ke kehidupan keluarga Mario, juga tidak ada Mario yang berdalih bertanggung jawab atas Juni dan merusak rumah tangganya sendiri.

Jelas dia mencintai Mario, demi apapun dia ingin Mario ada bersama dia dan Juni, tapi tidak bisa, tidak akan bisa.

Melihat kehidupan Mario yang sudah sempurna tidak mungkin dia berani mengusiknya, senyum tulus Erina, dan Rivano yang menjadi pelengkap rumah tangga mereka, mana mungkin dia biarkan karena keegoisannya dia biarkan Juni masuk dan merusaknya.

"Jawab aku Nami, kamu berbohong bukan? jika tidak dimana suamimu sekarang!"

"Dia sudah tiada" Mario tertegun.

Namira menatap Mario dengan mata yang berlinang, dan Mario bisa lihat ada kesedihan disana, "Sudah puas..?" Mario menelan ludahnya "Juni bukan anakmu, dia anakku dengan suamiku.." Ya ini sudah benar, baginya Mario sudah tiada, tiada dari hidupnya..

Mario masih tertegun melihat Namira terlihat sakit dan sedih, apa begitu besar pengaruh suaminya yang telah tiada itu hingga Namira begitu bersedih saat membicarakannya.

Apa dia mencintainya melebihi cintanya pada Mario.

Jelas Namira sakit dan sedih.. dia harus berkata bahwa ayah Juni sudah tiada tapi ternyata orang itu masih ada di depannya, berdiri kaku dan menatap penuh kebimbangan "Jika tidak ada yang ingin bapak bicarakan lagi, anda bisa pulang.. dan ini sudah malam, saya rasa jam tamu kompleks ini sudah berakhir.."

Dengan hati berkecamuk Mario melangkah gontai ke arah mobilnya yang terparkir di sebelah mobil Namira.

Namira memejamkan mata setelah Mario pergi, Namira masuk dan menutup pintu lalu menguncinya, namun saat berbalik Namira terpaku saat melihat seseorang berdiri menghadap ke arahnya.

Like ..

Komen..

Vote..

Terpopuler

Comments

Siti Hanifah

Siti Hanifah

😭😭😭😭😭😭😭

2023-08-17

2

Milla

Milla

Hancurrrr hatiii mu namira remuk redam tapi mau bagaimana 🥺🥺🥺😭 demi kebaikan bersama dan semuanya kamu harus tetap kuat nami 💪

2023-04-04

0

Nai's Mom 💞2

Nai's Mom 💞2

Bagus Nami punya prinsip spt itu meskipun menyakiti diri sendiri, tetapi kalo untuk Juni tetap punya hak tau siapa ayah kandung nya. Sudah sewajarnya Mario bertanggung jawab terhadap kehidupan Juni. Dan tetap pada pendirian tidak mau jado pelakor

2023-04-03

1

lihat semua
Episodes
1 Dear My Ex Husband
2 Kuta, Bali
3 Juni Yang Lahir Di Bulan Maret
4 Hari Senin..
5 Tak Bisa Menahan Diri
6 Ingin Memutar Waktu
7 Ingin Memiliki Lagi
8 Hambar
9 Amarah
10 Merasa Tak Pantas
11 Kelemahan..?
12 Dimana Papi Jun?
13 Sudah Tiada?
14 Hari Itu
15 Di Tinggalkan Demi Anak Dari Istri Sah
16 Figur Impian Juni
17 Mario Atau Andre?
18 Mendekati Perlahan
19 Membuka Hati
20 Cintaku Tak Pernah Hilang
21 Mario Dan Juni
22 Menghilangkan Keraguan
23 Keputusan Namira
24 Kesakitan Mario
25 Surat Namira
26 Usaha Mario
27 Rumah Mario
28 Masih Di Rumah Mario
29 Dahulukan Anak Kamu
30 Masa Lalu
31 Masa Lalu (2)
32 Masa Lalu (3)
33 Masa Lalu (4)
34 Masa Lalu (End)
35 Papinya Juni
36 Kelegaan Namira.
37 Kekhawatiran Namira
38 Rencana Mario
39 Tentang Andre
40 Hari Minggu
41 Mama Mario
42 Skandal Keluarga Andreas
43 Demi Cinta Kita
44 Mami Putraku
45 Pasangan
46 Tak Seperti Kenyataan
47 Menemui Andre
48 Mengetahui
49 Kekhawatiran Namira
50 Lamaran Andre
51 Penyesalan Olivia
52 Ciuman Kerinduan
53 Apa Kamu Prioritasnya..?
54 Keraguan
55 Ulang Tahun Juni
56 Rivano Oh Rivano..
57 Harapan Juni
58 Tamat
59 Kisah Belum Usai
60 Silahkan Mampir
61 My Sweet Daddy
62 Broken Marriage
63 Mampir Yuk!
64 Bukan Sekedar Secretary
65 Gara-gara Mantan
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Dear My Ex Husband
2
Kuta, Bali
3
Juni Yang Lahir Di Bulan Maret
4
Hari Senin..
5
Tak Bisa Menahan Diri
6
Ingin Memutar Waktu
7
Ingin Memiliki Lagi
8
Hambar
9
Amarah
10
Merasa Tak Pantas
11
Kelemahan..?
12
Dimana Papi Jun?
13
Sudah Tiada?
14
Hari Itu
15
Di Tinggalkan Demi Anak Dari Istri Sah
16
Figur Impian Juni
17
Mario Atau Andre?
18
Mendekati Perlahan
19
Membuka Hati
20
Cintaku Tak Pernah Hilang
21
Mario Dan Juni
22
Menghilangkan Keraguan
23
Keputusan Namira
24
Kesakitan Mario
25
Surat Namira
26
Usaha Mario
27
Rumah Mario
28
Masih Di Rumah Mario
29
Dahulukan Anak Kamu
30
Masa Lalu
31
Masa Lalu (2)
32
Masa Lalu (3)
33
Masa Lalu (4)
34
Masa Lalu (End)
35
Papinya Juni
36
Kelegaan Namira.
37
Kekhawatiran Namira
38
Rencana Mario
39
Tentang Andre
40
Hari Minggu
41
Mama Mario
42
Skandal Keluarga Andreas
43
Demi Cinta Kita
44
Mami Putraku
45
Pasangan
46
Tak Seperti Kenyataan
47
Menemui Andre
48
Mengetahui
49
Kekhawatiran Namira
50
Lamaran Andre
51
Penyesalan Olivia
52
Ciuman Kerinduan
53
Apa Kamu Prioritasnya..?
54
Keraguan
55
Ulang Tahun Juni
56
Rivano Oh Rivano..
57
Harapan Juni
58
Tamat
59
Kisah Belum Usai
60
Silahkan Mampir
61
My Sweet Daddy
62
Broken Marriage
63
Mampir Yuk!
64
Bukan Sekedar Secretary
65
Gara-gara Mantan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!