Parahnya, seorang OB pun berani memberikan perintah kepada Stefan.
Tok! Tok!
“Stefan, rekanku tidak masuk karena sakit. Jadi seluruh ruangan di lantai satu dan dua kau yang handle. Sementara aku akan bersih-bersih di lantai tiga saja,” perintah Purwanto.
Stefan yang baru saja tiba di kantor pagi ini terkinjat mendengar perintah tersebut. Dia mendekati si OB lalu berujar, “Kau tahu kalau aku seorang programmer di sini.”
“Aku sudah dapat perintah dari bos. Kalau butuh sesuatu, silakan meminta bantuan pada Stefan.”
Stefan teringat omongan Bobby bahwa dia tidak boleh ada masalah apapun dengan karyawan kantor. Makanya dia tidak bisa mengelak meskipun hatinya menolak untuk melaksanakan tugas dari si OB. Sangat tidak make sense seorang programmer diperintah oleh OB.
Purwanto melempar sapu dan alat mengepel ke ruang kerja Stefan, lalu langsung naik ke atas melalui anak-anak tangga. Stefan tak berkutik, jika dia protes keras, pasti Purwanto akan memberikan laporan kepada Bobby.
Stefan pun menyapu lantai mulai dari pintu masuk. Security terkikik melihat Stefan jadi OB hari ini. Satu per satu karyawan yang baru saja tiba kaget melihat ada OB baru di kantor. Bukannya kasihan, mereka malah menertawai.
“Kemarin-kemarin sudah memperbaiki WiFi dan CPU, terus mengganti lampu yang rusak dan kabel yang terbakar, hari ini apa lagi yah?”
“Hebat karyawan baru kita ini. Multi-talenta rupanya.”
“Nanti siang bolehlah kita suruh-suruh beli nasi padang.”
“Eh, kalian jangan sinis begitu. Dia ini programmer yang sudah menyelamatkan perusahaan kita lho.”
“Ha-ha-ha.”
Semua sudut ruangan di lantai satu dan dua sudah disapu. Stefan lanjut mengepel. Setelah lebih dari satu jam bekerja, yang peluhnya sudah lumayan bercucuran, Stefan mengambil napas di ruangannya. Barulah dia benar-benar bekerja di depan layar komputernya.
Siang harinya ketika dia baru saja keluar ruangan untuk mencari makan siang, tiba-tiba lima orang staf mendekatinya. Satu di antara mereka bilang. “Kau mau cari makan kan? Bungkus saja terus makan di sini. Kami nitip. Nasi ayam goreng dada tiga. Nasi rendang dua. Nih duit. Kembaliannya ambil.”
Seseorang di antara mereka menimpali, “Jangan sampai kau berurusan dengan bos.” Alis mata wanita itu bertaut dan bibirnya merah meronanya menggerenyet.
“Tidak usah pakai lama.”
Stefan bergeming dan hanya bisa menahan napas. Lantas dia pun pergi berjalan kaki ke warung nasi padang yang berjarak sekitar dua ratus meter dari kantor. Tiga puluh menit kemudian dia pun kembali dengan membawa semua pesanan.
Lima orang itu sudah bertengger di pintu masuk tak jauh dari resepsionis.
Seorang pria menyeringai. “Pakai motor, Bodoh! Biar cepat!” Sang manajer keuangan murka.
“Cepat sana masuklah ke ruanganmu yang pengap itu!”
Stefan menelan ludah pahit. Sungguh awal yang buruk baginya di awal-awal bekerja di perusahaan milik mertuanya sendiri. Stefan melangkah dengan tegar dan tetap menegakkan kepalanya meskipun hatinya mulai tercabik-cabik.
Sore harinya Stefan melakukan pekerjaan yang sama seperti tadi pagi, yakni menyapu dan mengepel seluruh lantai satu dan dua. Tidak ada satu pun orang yang peduli terhadapnya, kecuali satu, wanita berkerudung ini.
“Kau yang ngekos di kamar atas sebelah kiri?” Wanita itu menyipitkan separuh matanya. Tangannya menunjuk.
“Iya. Kau juga tinggal di situ kan? Kau yang ngasih tahu kalau Kay dan Frans yang sudah menjahiliku?”
“Ya benar. Bukannya kau kemarin-kemarin ojol? Syukurlah kalau kau sudah bekerja. Namaku Alifha. Kau Stefan menantunya bos kita?”
“Ya benar. Pulang naik apa?”
“Biasanya naik ojek online.”
Stefan membuang muka, lalu mengawasi pintu keluar di depan sana. “Hm. Bukannya aku tidak mau mengantar kau balik. Aku khawatir nantinya kau akan sama seperti Grace.’
Semenjak saat ini, hanya Alifha satu-satunya orang yang percaya sama Stefan. Wanita lembut itu bisa menilai dari cara bicara Stefan sekarang. Dia yakin bahwa Stefan tidak mungkin berselingkuh dengan Grace.
\=\=\=>>>∆<<<\=\=\=
Bobby menyelonjorkan kakinya sambil menyandarkan punggungnya di sofa empuk. Sambil menonton tv dia berceloteh di hadapan istri dan ketiga anaknya.
“Kita sudah kehilangan babu di rumah ini. Karena babunya sudah pindah ke kantor Ayah. Ha-ha.” Wajahnya menampakkan air muka bahagia. Senyumnya lebar dan jahat.
“Sudah separah apa dia di sana?” tanya Chyntia sambil memainkan smartphonenya.
“Membersihkan WC!”
Robert berkomentar. “Bagaimana kalau dia atau karyawan lain melapor kepada Kakek?”
Bobby menegaskan tatapannya. “Tenang saja. Stefan sudah kuperingatkan untuk tidak banyak bunyi ke Kakek. Begitu juga pada semua karyawan. Sudah aku peringatkan bahwa jangan sampai ada satu pun mereka yang melapor kepada Kakek jika ingin masih bertahan di perusahaan.”
Robert dan Luchy kegirangan begitu mendengar Stefan tersiksa di kantor. Besok-besok mereka berencana main ke kantor ayahnya hanya untuk melihat ipar menyedihkan itu. Tak sabar mereka menantinya.
Namun, Lionny hanya membisu dan tidak berani berkomentar apapun. Hingga saat ini perasaannya masih bercampur aduk. Di satu sisi dia ingin hidup bahagia bersama suaminya, namun di sisi yang lain dia tidak kuat untuk keluar dari lumpur yang dibuat oleh keluarganya sendiri.
Tidak ada tanggapan dan pertanyaan apapun darinya, melainkan hanya bisa menyimak dan menyaksikan gelak tawa dari orangtua dan adik-adiknya. Apa Lionny masih yakin kalau Stefan akan tampil baik, kemudian bisa diterima oleh keluarganya? Apa mungkin keluarganya tiba-tiba berubah pikiran begitu saja?
Bobby tersenyum miring, lalu berkata sambil mendengkus, “Dia akan aku buat susah dan frustasi. Dia akan aku buat tidak tahan bekerja di sana. Ujung-ujungnya dia sendiri yang akan menyerah.”
Chyntia meletakkan smartphony, lalu menoleh ke suaminya. “Tinggal menunggu waktunya saja. Erick sudah siap. Walaupun duda, kita yakin Lionny pasti suka padanya.”
“Dalam beberapa hari ke depan Erick akan berkunjung ke kantor kita. Biar semua karyawan yang menilai. Siapa di antara Stefan dan Erick yang benar-benar pantas menjadi menantuku.”
Bobby sengaja men-setting demikian agar Stefan tampak menyedihkan di mata orang banyak, lalu membangga-banggakan Erick. Kemudian beliau beserta semua karyawannya akan bilang kepada Kakek Sanjaya bahwa Stefan tidak layak menantu dari Bobby.
Sebaliknya, justru Erick lah yang layak menjadi menantu. Jelas sekali diversitas antara Stefan dan Erick. Ibarat bambu dan tower. Seperti pasir dan gula. Jika semua orang sudah memberikan pandangan berdasarkan analisa dan fakta, apa mungkin Kakek Sanjaya tidak berubah pikiran dan tidak membalikkan pandangannya selama ini terhadap Stefan?
Bukankah Erick juga termasuk orang yang dipercaya dan dibanggakan oleh Kakek Sanjaya? Bukankah Erick saat ini jauh lebih baik daripada Stefan? Maka bagi Bobby, sudah sepantasnya Stefan harus segera menyerah, karena sekali sampah, seterusnya akan tetap sampah di mana pun dia berada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Dicky Poul
ini penulisnya idiot ini 😨
2025-01-29
0
Reni Ajja Dech
Gimana sebenarny ini Thor,Stefan orangny jenius apa bodoh.gk suka krakterny
2024-10-07
0
Rizky Rizkun Karim Rizky
kata2 jenius dibuat hancur oleh othor....
2024-03-12
0