“Menantu Sampah!” jerit Bobby di depan pintu kamar Stefan. “Silakan kau menjadi ojol. Tidak usah kau berada di sekitar kantorku, apalagi menjadikan karyawanku sebagai penumpang. Kalau ada orderan yang harus diantarkan di sana, kau cancel saja!”
Dan hari-hari yang pahit pun kembali lagi. Makian dan perintah tidak pantas pun kembali buat Stefan. Sekarang, tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Semua serba salah. Melapor dengan Kakek Sanjaya? Jelas tidak mungkin. Stefan membuang napas lelah.
Parahnya lagi, Lionny tak memberi sahutan apa pun pagi ini. Setelah mengerjakan tugas rumah, Stefan pergi dengan setelan ojolnya. Dihidupkannya aplikasi. Lalu dia segera menemui John.
“Wei! Apa duit ojol sudah habis? Terus mau narik lagi?” John ceria nian karena semua utangnya telah lunas, kontrakan telah dibayar, dan biaya sekolah adik-adiknya aman terkendali.
Akhirnya Stefan bisa senyum, “Kemarin-kemarin ada urusan keluarga, John. Sori baru hari ini bisa kembali menemanimu.”
“Ada banyak driver yang tertarik untuk pakai aplikasi buatanmu itu. Mereka mau bayar cukup mahal. Lima ratus ribu. Lumayan.”
“Astaga, John! Jangan kau kasih tahu siapa-siapa soa aplikasi itu. Takutnya karena sudah menyebar, terus diselidiki oleh pihak penyedia layanan, bisa gawat akun kita.”
John menghela napas. “Huuu.. iya juga ya. Sori, Stef. Betul harusnya cukup kita berdua saja yang pakai aplikasi itu. Lagipula, biar tidak ada saingan juga kan.”
Ponsel Stefan berdering.
Orderan pertama buat Stefan. “Tarikan jauh ini. Ongkos bersih tiga puluh lima ribu.”
“Mantap! Hati-hati, Stef!”
Stefan beranjak dan menaiki sepeda motornya. Sesampainya di titik jemput, Stefan terkejut melihat seorang ibu-ibu berbadan tambun, lebih kurang beratnya 110 kg, membawa satu anak kecil, plus satu tas dan dua kantong belanjaan. Mana ban sudah gundul pula.
Inilah malasnya Stefan kalau bawa penumpang. Dia lebih suka dapat order food karena lebih santai. Kalau dapat penumpang begini, bisa kacau urusannya. Tarifnya tidak sesuai. Seharusnya pihak penyedia layanan memberikan aturan baru yang lebih bijak. Satu penumpang saja dan dua penumpang plus barang bawaan, bagaimana mungkin ongkosnya sama?
Begitu pantat raksasa itu mendarat di atas jok motor, tiba-tiba Stefan merasakan tubuhnya ikut turun beberapa senti. Ujian berat hari ini. Meski ongkosnya besar, beban motor dan penumpang juga besar. Tangan pegal, pantat panas.
Berkilo-kilo meter pun dilalui, ingin mengeluh, tapi Stefan sedikit pun tak mengeluh. Penumpang diantarnya sampai ke tujuan. Eh, bayar pakai uang receh, pas pula tidak ada lebih sama sekali. Namun, Stefan tidak pernah berharap apa pun, apalagi meminta-minta, Stefan dak serendah itu.
Karena berada di ujung kota, jarang sekali Stefan mendapat orderan balasan, apalagi orderan yang kembali mengarah ke kota. Jika tak ada order balasan, sangat disayangkan sekali karena bisa dianggap rugi bensin. Stefan baru mendapat order lagi pas berada di dekat kota.
Stefan membeli pempek dan model cukup banyak karena dia ingin makan bareng John. Tapi, sudah satu jam Stefan bercokol di Kambang Iwak, terus sekarang sudah hampir jam tiga, perutnya sudah lapar pula. Karena John tak muncul-muncul, akhirnya Stefan makan duluan. Hari ini istrinya tidak menyiapkan makan siang, jangankan itu, menegur saja tidak.
Pasti Lionny sakit hati begitu tahu kalau Stefan berselingkuh. Belum lagi intimidasi yang dilakukan keluarganya jika dia terus memberi perhatian terhadap Stefan. Hati Lionny kian terombang-ambing.
\=\=\=>>>∆<<<\=\=\=
Malam harinya barulah John nongol.
“Woi! Ngelamun bae!” ledek John.
Stefan tersentak dan pembicaraan dengan dirinya sendiri terputus. Dulu John yang tampak murung, sekarang malah sebaliknya.
“Dari mana kau, John? Istirahat dulu. Seharusnya pempek dan model ini jatah makan siang kau. Sudah dingin. Makanlah dulu!”
“Aku sudah beli nasi goreng buat kita berdua.”
“Alhamdulillah. Banyak orderan hari ini?”
“Dua puluh tiga.”
“Mantap! Oh ya, penumpang pertama pagi tadi. Parah.” Stefan menceritakan semua dengan detail.
“Hahaha. Jadi pecah ban motor kau. Harusnya ongkosnya dua kali lipat karena orangnya dua kali lipat. Hahaha.”
“Parah kau!” Stefan tergelak. Stefan makan nasi goreng pemberiannya dengan lahap sekali.
Suasana temaram sungguh menyejukkan, tapi deruman kendaraan menabrak-nabrak kesunyian malam. Malam ini kelabu, kelabu bagi hati yang sedang tercabik-cabik.
Pada saat sudah sampai di rumah, Stefan mengetuk berkali-kali pintu depan, tapi tak ada yang menyahut. Stefan mengucapkan salam dan memanggil istrinya, tapi juga tak ada jawaban. Padahal sekarang masih jam delapan.
“Lionny.... Buka pintunya...”
Masih tidak ada jawaban.
Stefan duduk di kursi yang ada di teras menghadap halaman yang cukup luas. Lantas dia menghubungi Lionny melalui telepon, tapi tidak diangkat. Stefan memasukkan tangannya ke saku, lalu menghitung duit bersih hari ini, dua ratus lima puluh ribu.
Dia akan memberikan semuanya untuk istrinya. Sekiranya bensin sudah penuh dan ada pegangan lima puluh ribu sudah cukuplah bagi Stefan. Karena yang terpenting dia sudah memberikan nafkah cukup buat istrinya. Stefan menyandarkan punggungnya. Dan Stefan tertidur.
Pagi harinya barulah pintu dibuka. Karena Stefan telah banyak kemajuan, untuk sementara ini cap ‘Sampah’ dan ‘Benalu’ tidak tersemat pada dirinya. Chyntia tidak menegur Stefan sama sekali.
“Terima kasih, Bu,” ucap Stefan sambil mengucek-ngucek matanya.
Tak ada jawaban dari ibu mertuanya.
Stefan masuk ke dalam rumah, lalu mendekati istrinya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Diberikannya duit lima ratus ribu buat istrinya. Bukannya merespons, Lionny malah bergeming dan tidak mengindahkan omongan Stefan.
“Aku taruh uangnya di atas meja makan. Maaf kalau duitnya kurang.”
Stefan masuk ke dalam kamar tidurnya. Setelah mandi dan berwudhu, dia berpakaian lalu shalat subuh yang telat. Aneh, tak ada jeritan sarkas pagi hari ini. Sunyi. Tenang. Tidak ada makian dan kata-kata kotor yang terdengar. Tahu-tahu ayah mertua dan kedua adik iparnya sudah berangkat semua.
Dalam keadaan seperti ini, Stefan malah bingung. Jika dihormati atau dibenci, maka sangat jelas, namun kalau tidak dianggap ada, nah ini jadi problem baru bagi Stefan. Ada apa gerangan? Kenapa semua orang, termasuk istrinya sendiri, cuek terhadapnya? Pasti ada sesuatu.
Stefan beraktivitas seperti biasanya, mengerjakan pekerjaan rumah, lalu keluar mencari orderan. Tidak ada ide. Tidak ada inisiasi. Semua berjalan mengambang. Sekali lagi, meskipun terasa berat menjalankannya dan hatinya kita tak terobati, Stefan masih saja optimis kalau dia akan sukses dan kelak bakal hidup bahagia bersama Lionny.
Namun, semua rencana manis Stefan mesti terbentur dengan karang yang cukup besar. Hari-harinya akan semakin gelap, getir, dan gersang.
Tiba-tiba Lionny meneleponnya sore hari ini. Tumben sekali. Lantas Stefan menyelesaikan orderan terakhirnya, kemudian pulang. Dan sesampainya di rumah, Stefan terkejut karena di ruang keluarga ada sebuah pertemuan serius.
Bobby senyum getir. “Hei Ojol! Perkenalkan, Erick Kurniawan, direktur utama PT Sanjaya Karet.”
Chyntia senyum juga. “Erick sebagai bakal calon suami Lionny, yang jauh lebih pantas daripada orang menyedihkan seperti kau ini!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Firman Firman
Setefan pergilah kau dari rumah 🐍 itu😡
2024-01-18
0
Putra_Andalas
dak serendah itu (baso plg)
2023-11-27
0
Eric ardy Yahya
biasa lah , orang bodoh seperti mereka hanya bisa menjilat saja . apa pula main cari calon menantu baru . bentar lagi lihat saja gimana Stefan akan menghancurkan kalian semua
2023-06-09
1