Pagi yang cerah. Mentari terbit, semburatnya menembus sampai ke kamar tidur Stefan. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu siap melakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Karena tidak ingin diperintah terlebih dahulu, Stefan selalu punya inisiasi untuk melakukan apa saja agar tidak dibilang benalu, dan malam nanti, dia akan membuktikan bahwa dia tidak layak dianggap sampah di rumah ini.
Dilihatnya piring-piring kotor di dapur, tapi kenapa Lionny ada di sana?
Stefan kaget dan berkata heran, “Sayang, biar aku saja yang mengerjakannya.” Stefan menarik lengan istrinya.
Lionny makin cepat mengerjakannya sembari berkata, “Mumpung yang lain belum pada bangun. Biar aku saja yang mencuci piring dan pakaian.”
Tak lama kemudian Chyntia dengan rambut masih berantakan tiba di dapur, melihat anaknya yang mencuci piring, wanita tua tapi cantik karena perawatan ini menyeringai. “Astaga Lionny! Kan sudah ada babu!” sergahnya.
“Biar aku saja yang mengerjakannya, Bu. Kasihan Stefan. Sekarang dia sedang bersih-bersih halaman.”
Chyntia marah kepada Stefan. “Kau ini kan sudah dibilang. Kenapa kau malah menyuruh istrimu?” bentak Chyntia. Matanya melotot.
Stefan membalik badannya. “Aku tidak menyuruhnya, Bu. Sudah aku bilang padanya biar aku saja, tapi Lionny masih memaksakan diri.”
“Alasan sekali. Makin hari kau melunjak. Sepertinya cap benalu akan terus ada pada dirimu ini. Cepat selesaikan pekerjaanmu itu. Buang sampah jangan lupa!”
Halaman belakang, samping dan depan semua beres. Stefan mengelap peluh di keningnya. Begitu melihat ayah mertuanya keluar rumah, buru-buru Stefan mendekat, lalu berkata, “Ayah, aku akan buktikan kalau aku menantu yang bisa diandalkan. Aku akan buktikan kalau aku layak bekerja di perusahaan Ayah.”
Bobby melengos. “Bicara apa kau ini, Stefan? Kerjakanlah tugasmu itu cepat!”
“Aku sudah kasih uang satu juta ke istriku. Nanti akan aku kasih dia lebih banyak dari itu. Hari ini aku akan dapat rezeki.”
“Jangan pernah ceritakan khayalan-khayalanmu itu padaku. Cuih!” Bobby meludah sebelum masuk ke mobil. “Besok pagi kau cucikan mobilku ini, Sampah!”
Sedan itu pun melaju. Beberapa menit setelah itu Robert dan Luchy keluar rumah berbarengan. Melihat mereka berdua, Stefan berjalan cepat dari halaman depan ke halaman samping. Malas dia mengurusi dua spesies jahil itu.
“Hei mau ke mana?” pekik Robert sambil cekikikan. “Laptopku rusak karena kena virus. Tolong perbaiki!”
Stefan menyetop langkahnya, kemudian membalik badannya. “Taruh saja di atas meja, nanti akan aku perbaiki.”
“Awas kalau kau tidak bisa memperbaikinya!” ancam Robert.
“Paling bakal tambah rusak,” remeh Luchy.
Sekarang merupakan kesempatan emas untuk membuktikan bahwa dia merupakan ipar yang bisa diandalkan. Setelah pekerjaan rumah selesai, dia mendekati ibu mertuanya untuk memberikan laporan.
Chyntia mengawasi menantu pria menyusahkan ini, lalu mencibir, “Mentang-mentang kau ngasih duit satu juta ke istrimu, lantas kau seenaknya menyuruhnya mencuci piring dan pakaian.”
Namun, Lionny berusaha membela suaminya. “Ibu, Stefan tidak sal .....”
“Diam kau, Lionny! Besok-besok nanti kau disuruhnya bersih-bersih rumah dan halaman. Apa kau mau disuruhnya manjat pohon jambu?”
Hening....
Stefan mengangkat wajahnya, sambil senyum dia berkata, “Hari ini aku akan dapat rezeki lebih. Sebagiannya akan aku kasih ke istriku.”
Chyntia melengos. “Sekali sampah tetap sampah! Mana ada tukang ojek dapat duit jutaan, apalagi puluhan juta. Jangan sampai terdengar di kuping kami kalau kau mendapatkan uang dari hasil curian. Pergi sana!” Chyntia buru-buru ke dapur untuk memasak, beliau juga menyeret Lionny agar segera ke dapur juga.
Stefan terus menguatkan dirinya meskipun terus dihujani hinaan dan cacian. Diambilnya laptop milik Robert, lalu dia masuk ke dalam kamar tidurnya. Dinyalakannya laptop tersebut, mengutak-atik sebentar, Bang! Cukup tiga puluh menit, kelar!
Drrrtttt....
Drrrttttt....
Panggilan dari Grace.
“Stefan, uangmu sudah ditransfer. Sesuai dengan perjanjian yah, dua puluh juta rupiah.”
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
Siang yang cerah. Mentari pas berada di atas langit bagian tengah, menandakan waktu berada pada tengah hari. Cerah, secerah perasaan Bobby Sanjaya. Betapa tidak. Semalam dia tidak bisa tidur memikirkan nasib perusahaan yang sedang dipegangnya. Jika salah sedikit saja, selesai perusahaan.
Namun, semua problem dapat teratasi oleh seorang hacker kenalan dari Grace. Untunglah. Sebab, jika masalah belum kelar hingga Kakek Sanjaya tiba di Palembang, kemungkinan besar Bobby selaku pewaris tunggal akan kena peringatan besar oleh bapaknya sendiri, bahkan bisa-bisa posisinya sebagai pimpinan perusahaan bisa terancam.
“Bagaimana, Pak, apa teman saya bisa diterima bekerja di perusahaan kita?” tanya Grace berseri-seri.
“Sembilan puluh persen diterima. Jika dia mampu memenuhi syarat administrasi dan isi CV-nya sesuai dengan kriteria perusahaan, tentu dia akan diterima.”
Grace malah heran. “Kenapa masih butuh pertimbangan, Pak? Padahal dia sangat berjasa bagi perusahaan kita. Kita kan butuh skill-nya, bukan administrasi.”
Grace bilang demikian karena dia khawatir Stefan yang hanya seorang ojol bisa memenuhi persyaratan yang diberlakukan oleh perusahaan. Grace ragu kalau Stefan bergelar sarjana, apalagi punya pengalaman yang banyak. Maka dari itu dia berusaha memberikan keringanan.
“Memang dia punya skill dan jasa besar bagi perusahaan ini, tapi mana mungkin saya mempekerjakan seorang yang tidak jelas tamatan sekolahnya, atau tidak jelas asal usul keluarganya.”
“Baiklah, Pak. Saya akan menghubunginya kembali dan akan meminta persyaratan administrasi. Jika lengkap dan sesuai, saya akan menemui HR, secepat mungkin.”
Grace pamit undur diri dari ruangan kerja Bobby, lalu masuk ke ruangan kerjanya sendiri. Lantas dia langsung menghubungi Stefan dan membahas perihal barusan.
Mendengar itu, Stefan lemas. “Ijazah, sertifikat, dan apa saja yang terkait dengan administrasi, semua tidak ada, Grace.”
Grace sedih, matanya berkaca-kaca. “Padahal, aku sudah bilang pada bos supaya diberikan keringanan. Nanti akan aku coba bicara lagi bersama bos.”
“Terima kasih atas usahamu, Grace. Tapi, jika memang tidak bisa, ya sudah mau diapakan, yang penting kita sudah berusaha.”
“Tidak bisa begitu, Stefan. Kau adalah orang yang dibutuhkan. Daripada bagian IT di sini diisi oleh yang berpendidikan tapi tidak bisa diandalkan, mending diisi oleh yang kompeten dan andal walaupun tidak bisa melengkapi persyaratan administrasi. Kau bergelar sarjana kan?”
“Ya, aku lulusan dari Eropa. Tapi, tidak berguna.”
“Kau akan berguna. Tunggu saja waktunya.” Grace tetap memberikan motivasi dan semangat positif.
Meskipun Grace berulang kali bilang pada Bobby soal teman ojolnya layak bekerja di perusahaan ini, sang dirut tidak akan dengan gampangnya begitu saja menerima orang yang tidak jelas asal usulnya. Terlebih, Grace sudah bilang kalau temannya itu seorang ojol, walau tidak menyebutkan namanya siapa.
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
Sore yang masih juga cerah. Begitu melihat Robert pulang dari kampus, Stefan langsung menghampiri sambil menyerahkan laptop milik Robert yang sudah diperbaiki.
“Silakan kau cek lagi, Dik! Aku juga sudah meng-update beberapa program. Terus, aku install anti-virus rancanganku sendiri. Laptopmu pasti akan aman!”
Robert tercengang. Inikah ipar sampah dan benalu yang selama ini terus dicerca? Inikah programmer yang tidak bisa diandalkan? Dinyalakannya laptopnya tersebut.
Tring!
Lancar jaya!
“Kau bawa ke service komputer mana ha?” Robert masih tak percaya.
“Aku memperbaikinya sendiri di kamar.”
“Bohong!” Robert berlarian lalu masuk ke kamar tidur Stefan. Kosong. Tak ada siapa-siapa. Dia balik lagi. “Kau pakai bantuan jin?”
“Termasuk syirik jika meminta pertolongan jin.”
Meski demikian, Robert masih juga tidak percaya. Dia meninggalkan Stefan tanpa mengucapkan terima kasih. Pencapaian Stefan hari ini cuma dihargai dengan tidak diberikannya ejekan dan hinaan, itu saja.
Stefan menghela napas, terus menguatkan dirinya. Dia masih menunggu kehadiran ayah mertuanya. Tumben agak lama pulang. Hampir maghrib, barulah ayah mertuanya muncul.
Tidak seperti kemarin yang selalu cemberut karena pening memikirkan perusahaannya, kali ini beliau cerah. Bahkan terhadap menantu sampahnya saja beliau berseri-seri.
“Hari ini kau tidak akan aku kata-katai dan aku perintah-perintah. Kau akan merasakan kebahagiaanku.”
Mendengar itu, Stefan turut bahagia. “Soal perusahaan Ayah yang sudah aman dari hacker?”
“Sok tahu sekali kau ini!” Bobby melepas sepatunya, lalu melenggang masuk.
“Aku tahu, karena aku yang telah menemukan keberadaan hacker tersebut, lalu memperbaiki firewall dan sistem yang telah dirusak, sekaligus memberikan keamanan tambahan sehingga ke depannya perusahaan akan tetap aman.”
Bobby buru-buru masuk dan meninggalkan Stefan. Wajah beliau berubah masam lagi. Dilepaskannya jas hitamnya dan dilemparkannya ke sofa. “Baru saja aku merasa bahagia, eh dia malah kambuh gila lagi!”
Chyntia menyambut kedatangan suaminya dengan membawa uang sepuluh juta rupiah. “Suamiku, menantu sampah kita berhasil mencuri uang sebanyak ini. Dia juga barusan beli laptop baru harga sepuluh juta. Entah dia dapat uang dari mana.”
Bobby tersentak hebat. “Apa? Mana laptopnya sekarang?” Bobby melangkah panjang lalu masuk ke kamar Stefan. Diambilnya laptop yang masih sangat anyar dan mengkilap itu dari atas meja, lalu dibantingnya sekuat tenaga.
Bruk!
Baru retak-retak sedikit. Diambilnya lagi, lalu dilemparkannya ke dinding.
Ctar!
Belah dua.
Tak puas, lantas diinjak-injaknya sampai hancur.
\=\=\=>>>♠<<<\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Didin Wahidin
Stefan, kalo udah gak di hargai Mendinh pergi, kenapa kaya orang bloon,sabar juga da batasnya,
2025-01-24
0
Firman Firman
dasar bodoh orang tidak tau bls budi
2024-01-18
0
Rianti Dumai
lawan lha Stef,jgn lemah X,,,tensi varrah yg baca nie,,😂
2024-01-08
1