Dan hari ini pun tiba. Kakek Sanjaya sudah tiba Di Palembang pada siang hari ini. Beliau dijemput oleh Bobby beserta empat orang karyawan PT Sanjaya Sawit dan langsung menuju kediaman Bobby. Selama dalam perjalanan, Kakek Sanjaya terus menginterogasi anaknya soal kejadian beberapa hari yang lalu.
“Kasusnya sama seperti dulu. Bedanya ruang lingkupnya hanya begitu kecil.”
“Untungnya semua sudah beres, Ayah.”
“Apa kau sudah mempekerjakan orang tersebut?”
“Aku sudah beri dia uang dua puluh juta. Jika dipaksakan diterima bekerja di kantor, sepertinya tidak bisa, beda dengan kasus Stefan waktu dia menyelamatkan Sanjaya Group. Orang ini bahkan tidak bisa memberikan bukti bahwa dia telah menyelesaikan pendidikannya.”
“Kau sudah bertemu orangnya, Bobby?”
“Belum, Ayah,” balasnya sambil melihat ke arah jendela mobil.
“Seharusnya kau ambil tindakan. Temui dulu orang tersebut. Ajak bicara baik-baik. Apa kau yakin tidak akan butuh lagi sama dia?”
Bobby agak lama diam. “Kami akan menghubunginya kembali jika perlu bantuan, lagipula dia merupakan teman sekretarisku, Ayah.”
“Kau masih belum bisa menghargai jasa orang lain dan belum paham bagaimana cara berterimakasih.”
Perjalanan dari bandara menuju rumah butuh waktu sekitar tiga puluh menit. Bobby sudah menyiapkan oleh-oleh dari Surabaya buat cucu kesayangan dan suaminya, seperti Lapis Surabaya, Spikoe Surabaya, abon sapi, kopi bandrek, dan kerupuk kenjeran. Meski beliau menyiapkan banyak karena dibagikan juga kepada yang lain, tapi prioritas untuk Lionny dan Stefan.
Sesampainya di rumah, Kakek Sanjaya turun dari mobil, lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Melihat Stefan sudah bisa berjalan dan bicara normal, Kakek Sanjaya sangat bahagia. Beliau sampai menangis tersedu sedan. Karena ketika Stefan divonis gegar otak dan hilang ingatan total, Kakek Sanjaya sangat bersedih sekali.
Makanya begitu mendengar kabar Stefan sudah sehat beliau bahagia bukan main, dipeluknya Stefan sangat erat sampai Stefan susah bernapas. Pria tua beruban lebat ini sumringah dan mengeluarkan semua energi kebahagiaannya hari ini. Semua ditumpahkannya untuk Stefan, seorang pria sebatang kara yang amat dicintainya.
“Siapa nama Kakek?” tanya beliau berkaca-kaca.
“Sanjaya Putra bin Raden Sanjaya Atmaja.”
“Masya Allah.” Dipeluknya lagi Stefan sangat erat.
Chyntia mendekat. “Jika bukan karena kami sekeluarga, Stefan belum tentu sembuh seperti sekarang, Ayah. Sempat pihak rumah sakit bilang kalau lebih baik Stefan dirawat di rumah sakit jiwa, tapi kami bersikeras agar Stefan dirawat di rumah. Syukurlah dia sudah jauh lebih baik.”
“Mana Lionny cucuku?”
Bukannya menanggapi omongan menantunya, Kakek Sanjaya malah mencari-cari cucu kesayangannya. Chyntia memanggil Lionny yang sedang berada di dapur.
“Kakek!” Lionny setengah berlari karena saking senangnya. Dipeluknya kakeknya penuh dengan kehangatan. “Kakek apa kabar?”
“Alhamdulillah, sehat. Bagaimana, kau sudah mengisi?”
Lionny menunduk, lalu menggeleng. “Belum waktunya, Kakek.”
“Sabar. Mudah-mudahan dipercepat nantinya. Di mobil ada banyak oleh-oleh buat kalian berdua. Kakek juga beli jam tangan dan perhiasan. Pasti kalian suka.”
Chyntia mendekati suaminya yang tengah duduk di ruang tamu, lalu mulai mengeluhkan tingkah Stefan bahkan Lionny putrinya. Namun, suaminya menenangkannya, dan jangan sampai membuat Kakek Sanjaya kecewa. Mereka harus banyak bersabar selama tiga hari ini.
...
Sore nan permai di Plaza Benteng Kuto Besak. Salah satu lokasi hiburan di Palembang ini akan sangat ramai pada akhir pekan. Di tempat yang luasnya seperti lapangan sepak bola ini banyak para pedagang yang menjajakan barang dagangannya, seperti pempek, sosis bakar, cilok, jus, kopi, kemudian pakaian, perhiasan, dan banyak lagi.
“Kakek, kita dulu pernah sekali makan di riverside,” ucap Stefan sembari menunjuk sebuah restoran di pinggiran Sungai Musi.
“Kalian berdua hobi makan seafood. Kau ingat kita juga pernah makan di atas perahu kecil di sana itu.” Kakek Sanjaya melempar telunjuknya ke arah sebuah perahu di samping Plaza BKB.
“Kapalnya bergoyang-goyang.” Lionny tertawa kecil. “Cuko pempeknya tumpah-tumpah.”
Kakek Sanjaya beserta dua orang kesayangannya berjalan-jalan di sekitaran plaza. Menikmati sore hari yang cukup cerah. Kemudian, Kakek Sanjaya mengajak mereka makan-makan di KFC. Sebelum makan, mereka berfoto bersama dengan background Jembatan Ampera. Seru nian.
Saat makan, Kakek Sanjaya terus bercerita tanpa henti. Beliau kembali menawarkan kepada Stefan untuk bekerja di perusahaannya. Mendengar itu, tentu Stefan mau. Ingin Stefan menceritakan bahwa dialah orang yang telah membantu menyelesaikan masalah PT Sanjaya Sawit tempo hari.
Namun, jika dia ceritakan, tentu Kakek Sanjaya akan marah besar kepada Bobby. Kenapa bisa menantunya yang punya jasa dan andil pada perusahaan tapi tidak dipekerjakan? Maka dari itu Stefan berusaha menutup-nutupinya supaya tidak ada kemarahan yang ditimbulkan dari Kakek Sanjaya.
“Bagaimana kalau kalian berdua tinggal di Surabaya saja?” tawar Kakek Sanjaya.
Lionny menggenggam tangan Stefan. “Suamiku? Kau menerima tawaran Kakek?”
Cukup lama Stefan membisu. Dia mengatur napas sembari berpikir keras. Apa memang harusnya dia tidak lagi tinggal di rumah mertua?
“Stefan, kau akan diberi tempat tinggal. Setidaknya kau langsung menjadi manager di sana.”
Stefan menatap mata Kakek Sanjaya lekat-lekat. Tawaran yang sangat menggiurkan. Tapi, bagaimana dengan respons kedua mertuanya? Apa mereka memberi izin?
“Suamiku, kita akan hidup lebih tenang di sana. Yakinlah.” Lionny memberikan senyuman.
Stefan belum bisa menerima tawaran dari Kakek Sanjaya sebab dia punya firasat baik bahwa akan suskes di jalan yang lain. Oleh sebab itu untuk saat ini Stefan tidak bisa menjawabnya. Meski demikian, Kakek Sanjaya tidak pernah memaksakan diri, jika Stefan dan Lionny tidak berkenan, beliau akan berlapang dada.
Malam harinya mereka bertiga berkeliling di Palembang Icon. Karena melihat penampilan Stefan yang tidak tampak seperti orang kaya, Kakek Sanjaya memborong apa saja yang diinginkan oleh Stefan. Beliau membelikan baju, celana, jaket, sepatu, parfum, dan apa saja untuk penampilan Stefan.
“Ambillah sesukamu, Stefan.”
Begitu juga terhadap Lionny. Sudah lama tidak belanja, wanita cantik tersebut belanja dengan kesetanan. Begitu selesai, ada lima kantong belanjaan yang dibawanya. Untuk dia sendiri total duitnya sampai empat puluh juta. Jika sudah bersama Kakek Sanjaya, Lionny bebas mau melakukan apa saja.
Jam sembilan malam mereka pun pulang. Belum sempat penghuni rumah protes, Kakek Sanjaya buru-buru merepet, “Bobby, apa kau tidak peduli dengan penampilan anak dan menantumu? Kalau aku tidak berkunjung ke sini, mungkin mereka tidak akan pernah punya baju baru.”
Robert dan Luchy yang memang iri terhadap Lionny dan Stefan tidak bisa berkata apa-apa. Mereka ingin protes, kenapa mereka berdua tidak diajak makan dan belanja? Bahkan parahnya tidak ada satu pun barang belanjaan untuk mereka berdua.
Chyntia yang biasanya galak minta ampun dan mulutnya seperti mesin parut kelapa, sekarang malah diam membatu. Tak ada sepatah kata pun untuk memprotes semua apa yang dilakukan oleh Kakek Sanjaya. Meskipun hatinya panas, sebisa mungkin menyabarkan diri.
Bahkan untuk seorang Bobby sendiri. Meski perih hatinya begitu melihat menantu sampah itu dimanja-manjakan oleh ayahnya, namun Bobby tidak mampu berbuat apa-apa. Lontaran kata-kata sarkas yang biasa diucapkan kini telah tiada karena kehadiran ayahnya.
Melainkan, pujian dan untaian kalimat thoyyibah terhadap Stefan.
“Stefan merupakan menantu cerdas. Dia orang yang membantu PT Sanjaya Sawit sehingga pelaku peretasan berhasil ditemukan,” beber Bobby bangga.
“Stefan merupakan menantu yang pandai mencari uang dan baik sama istri. “Dia pernah ngasih uang sepuluh juta buat istrinya,” ujar Chyntia berseri-seri.
“Stefan itu ipar yang pintar dan bisa diandalkan, Kakek. Dia bisa memperbaiki laptopku yang rusak,” puji Robert tersenyum lebar.
“Stefan kakak ipar yang baik hati dan suka memberi. Kemarin-kemarin dia membelikan kami makanan kesukaan kami semua, terus membelikan pizza juga,” kata Luchy sumringah.
Mereka berempat serempak dan kompak bilang kalau selama ini mereka telah mengawasi, menjaga, merawat, dan memberikan perhatian lebih terhadap Stefan. Semuanya baik. Semua aman. Kata mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Firman Firman
dasar penjilat 😡
2024-01-18
0
Putra_Andalas
mintak rai galo singgo nyo..
2023-11-27
0
Putra_Andalas
cuko dk becuko tengah duo...😁
2023-11-27
0