Stefan permisi dan masuk ke kamarnya. Selama mandi dan membersihkan tubuhnya, Stefan terus berpikir apa yang sedang terjadi saat ini? Apa semua yang baru dilihatnya adalah fakta dan kenyataan? Atau semua hanya ilusi semata? Entahlah.
Dibasahinya sekujur tubuhnya dengan air. Dirasakannya dingin menusuk-nusuk wajahnya. Dipijatnya kepalanya dengan lembut. Sebisa mungkin sebuah sensasi yang nikmat dan menyegarkan diresapinya. Bagi sebagian orang, mandi merupakan salah satu terapi untuk menenangkan diri.
Begitu selesai mandi dan hendak berpakaian, Stefan agak bergidik badannya, sebab teringat dengan sosok Erick yang tengah berada di ruang keluarga. Stefan menghembuskan napas panjang. Meskipun tidak akrab, Stefan mengenal siapa itu Erick?
Tidak ingin dinilai lemah di hadapan istri, setelah berpakain rapi, Stefan menguatkan diri lalu melangkah ke ruang keluarga tanpa ada rasa merendah sedikit pun. Sebab status menantu dan ipar masih ada pada dirinya, jadi mana mungkin dia akan diam saja.
“Hei, Stefan! Apa kabarmu?” tanya Erick. Pria ini berwajah hitam manis dan berkumis tipis. Tubuhnya mirip anggota TNI, cukup tinggi dan berisi. “Silakan kau duduk.”
Stefan dipersilakan duduk? Siapa yang menjadi tamu sekarang?
“Alhamdulillah. Baik. Apa kabarmu?” Stefan duduk di arah utara, sendiri. Sementara istrinya di arah barat bersama ibunya, arah selatan mertuanya bersama Erick, sedangkan arah barat ada Robert dan Luchy.
“Tentu aku baik-baik saja. Otakku masih sempurna dan waras. Ya, aku dengar kau sudah sembuh dari hilang ingatan. Bagaimana bisa?”
“Semua sudah ada jalannya masing-masing.”
“Beruntung sekali kau bisa tinggal di rumah ini dan menjadi bagian dari Keluarga Sanjaya. Tapi, sayangnya, hubungan kau dan Lionny tidak begitu direstui. Dan hebatnya, kau selalu percaya diri dan yakin kalau semua akan baik-baik saja.”
Mendengar ucapan Erick yang tegas dan menohok, Stefan tertegun, dan terus berusaha menguatkan dirinya. Mertua dan iparnya belum pada bicara akan tetapi tensi sudah mulai meningkat dan suhu sedikit memanas.
Erick terus menatap mata Stefan, lalu melanjutkan, “Coba kalau kau menerima tawaran Kakek Sanjaya untuk bekerja di perusahaan beliau, mungkin kau tidak akan menjadi korban tabrak lari, terus memaksa kau menjadi orang gila satu bulan lebih. Sadarkah kalau kau itu sudah mengecewakan Kakek dua kali?”
“Kakek tidak pernah memaksakan apa aku harus bekerja untuknya atau pun tidak.”
“Ingat Stefan, Kakek Sanjaya punya banyak cucu angkat kesayangan dan orang-orang kepercayaan. Apa kau tahu kalau aku jabatan dirut merupakan hadiah dari Kakek? Apa kau tahu kalau aku sudah dihadiahi rumah dan mobil oleh Kakek?”
Stefan terus menguatkan dirinya. Sedikit pun kepala dan pundaknya tidak bergerak. Sebuah gestur bahwa dia belum goyah sama sekali. Stefan menjawab, “Kau pantas mendapatkannya, Erick. Aku turut bangga padamu.”
“Jadi, kau paham kan maksudku? Jika dibandingkan antara aku dan kau, kira-kira siapa cucuk Kakek angkat Sanjaya yang paling disayang dan diutamakan?”
Bobby merangkul Erick dan berkata, “Jika saja waktu itu Erick sedang tidak sibuk, seharusnya Ericklah yang menjadi menantuku, bukan malah kau, Stefan. Kakek menikahkan kalian berdua karena beliau bingung mau ngasih hadiah apa buat kau. Sangat disayangkan kalau beliau pada akhirnya menghadiahkan Lionny padamu. Kami sangat menyesalinya.”
Chyntia melirik Stefan sinis. “Sangat, sangat disesali. Padahal, kami sudah menyiapkan Erick untuk dijadikan suaminya Lionny. Kalau kami menawarkan Erick kepada Kakek Sanjaya sebelum beliau memutuskan untuk menjodohkan kau dengan Lionny, sudah dipastikan Ericklah yang menjadi suami dengan Lionny, dan keluarga kami tidak akan sesusah sekarang.
Bobby melanjutkan, “Itulah alasannya kau sangat beruntung. Tapi ingat, kau jangan pernah merasa bahwa kau seperti pangeran di sini, Stefan, seolah-olah mentang-mentang karena Kakek Sanjaya, terus kau akan selamat dan hidup bahagia.”
Chyntia menimpali, “Kami akan bilang pada Kakek Sanjaya kalau kau berselingkuh dengan sekretaris kantor bernama Grace. Lihat apa yang akan terjadi nanti.”
Erick tersenyum miring. “Astaga! Apa kau tidak punya wanita lain untuk diselingkuhi, Stefan? Kau ini rupanya masih gila ya. Sebagai tukang ojek online yang pendapatan pas-pasan itu kau berani bermain-main di perusahaan milik Kakek Sanjaya. Tidak waras kau ini!”
Stefan mengatur napasnya. Masih diawasinya wajah-wajah orang di sekelilingnya. Semuanya memberikan tatapan tajam terhadap Stefan. Sedikit pun Stefan tidak akan menundukkan kepalanya, tidak akan.
Pertemuan singkat malam ini rupanya dilangsungkan dalam rangka perkenalan bakal calon suami baru Lionny. Dengan kata lain penghapusan nama Stefan dari daftar anggota keluarga.
Tak bisa tidur Stefan memikirkannya. Diawasinya langit-langit kamarnya yang temaram, lalu dipejamkannya matanya. Namun tak ada apa pun yang terbayang, semuanya kosong.
\=\=\=>>>∆<<<\=\=\=
Selepas pulang dari Pasar Gubah, ketika berada di jalan, Chyntia dihadang oleh tiga ibu-ibu tetangganya.
“Eh, Bu Tia, kabarnya kau punya menantu pria yang pekerjaannya ojol yah?”
“Soalnya si Stefan pernah mengantar anakku pergi sekolah. Antara cocok dan tidak cocok sih.”
“Padahal, mertunya bos sawit. Kok menantunya tukang ojek sih?!”
Chyntia membisu. Karena menahan malu, Chyntia meneruskan langkahnya dan bergegas pulang ke rumah. Dasar menantu sampah itu, pikirnya. Semakin lama Stefan semakin buat masalah saja.
\=\=\=>>>∆<<<\=\=\=
Ketika istirahat makan siang di sebuah restoran yang cukup ternama bersama lima orang bawahannya, Bobby dilempar berbagai macam pernyataan yang begitu tidak mengenakkan.
“Pak, apa betul menantu Bapak seorang ojol? Astaga!”
“Setahu kami dia itu kan pernah hilang ingatan, terus sudah lama tidak kelihatan, kok dia bisa keluar rumah, Pak?”
“Tidak disangka orang yang habis kecelakaan dan gegar otak bisa mengendarai sepeda motor.”
“Grace, sekretaris kita, tidak menyangka kalau ternyata ojek langganan dia itu menantu Pak Bobby sendiri.”
“Kenapa masih Bapak pertahankan menantu seperti itu? Aku yang hanya manager saja, tidak bakal sudi punya menantu rendahan seperti dia.”
Bobby kian bergeming. Timbul tidak nafsu dia makan siang. Sedikit pun Bobby tidak mau memberikan tanggapan soal Stefan.
\=\=\=>>>∆<<<\=\=\=
Ketika baru saja sampai di halaman rumah dan memarkirkan sepeda motor murahannya, Stefan terkejut melihat kehadiran kedua mertuanya yang tengah berdiri gagah di dekat pintu masuk. Stefan turun dari motor, lalu melangkah sambil mengucapkan salam.
“Dasar menantu sampah!”
“Kau ini hanya buat malu saja!”
Karena lelah dan lapar, Stefan tak begitu bisa mencerna maksud omongan kedua mertuanya. “Apa salahku?” tanya Stefan tak menyangka.
“Gara-gara kau, kami sekeluarga jadi malu!” sentak Bobby.
“Karena aku ojol?” ucap Stefan memberanikan diri. “Aku sudah berusaha keras untuk bisa bekerja di perusaahaan Ayah. Seharusnya aku sudah bekerja, tapi kenapa malah Ayah mengurungkannya?”
“Kau sudah beranti membantah, Stefan?” Chyntia emosi.
Stefan menatap wajah kedua mertuanya dengan tegas. “Aku tidak membantah. Aku hanya membela diri. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi lebih baik dan bisa diterima di keluarga ini. Aku selalu sabar atas segala hinaan dari kalian. Aku menuruti perintah kalian. Tapi kenapa kalian selalu membenciku?”
“Sekarang sudah mulai berani,” Bobby menggeleng meremehkan.
“Jika kalian menginginkan aku keluar dari rumah ini, baik besok pagi aku akan keluar.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Firman Firman
mntab 👍👍👍
2024-01-18
0
Alya Yuni
Yg membodohkn Stefen kan thor
2023-11-25
0
Sulastrie Herlina
keluar dri rumah itu stef,, berjuang lah untuk hidup mu sendiri
2023-11-11
1