Minggu pagi ini Stefan bermaksud berkunjung ke rumah Bobby. Dia sudah membeli buah-buahan seperi jeruk, apel, dan anggur untuk diberikan kepada orang di rumah. Bukannya disambut dengan suka cita, Stefan malah tidak begitu dipedulikan.
“Lionny, aku punya sesuatu.” Stefan meletakkan dua kantong berisi buah itu di atas meja makan.
Bobby yang baru saja habis dari berolahraga berbicara tepat menghadap wajah Stefan. Kumisnya tebal bergetar-getar mengiringi goyangan mulut dan lidahnya. Ada seringai di wajah kerasnya.
“Aku dipaksa oleh ayahku untuk tetap mempekerjakanmu, Menantu Sampah! Ingat! Keputusan ini bukan dari kemauanku pribadi, tapi perintah langsung dari Kakek Sanjaya. Jika sekali lagi kau melakukan kesalahan fatal, habis riwayatmu di perusahaan maupun di rumah ini.”
Chyntia Dewi yang juga habis dari berolahraga ikut mencibir, ujung alisnya beradu. “Kau tidak perlu tinggal di sini. Kau bikin malu saja. Sakit kuping kami mendengar cemoohan tetangga tentang dirimu yang menyedihkan itu.”
Lionny kian bergeming dan tidak menampakkan ekspresi apa pun. Jika ikut memaki suaminya, berarti dia memaksakan sesuatu yang bukan dari hati kecilnya. Namun, jika diam saja, seolah-olah dia tidak menghargai kedua orangtuanya. Masih serba salah.
Mendengar kabar tersebut, Stefan senang bukan buatan, akhirnya dia bisa bekerja di salah satu perusahaan Sanjaya Group.
“Ayah, bagaimana dengan syarat administrasinya?” tanya Stefan berkaca-kaca.
Bobby Sanjaya melengos, lalu melenggang meninggalkan dapur. “Pengecualian dari sistem. Yang penting kau jangan bikin malu saja!”
Stefan lantas mendekati istrinya, lalu memegang kedua pundaknya. Tapi wanita itu melepaskan kedua tangan Stefan dan membalik badannya.
“Lionny, apa gara-gara fitnah aku berselingkuh dengan Grace kau masih marah terhadapku,” Stefan memelas, nada bicaranya pelan.
Lionny masih membisu, lalu dia masuk ke dalam kamar ibunya, membenamkan diri di sana, tidak mau mengajak bicara suaminya. Stefan tertegun memperhatikan rambut panjang yang legam itu menghilang dari balik pintu kamar.
Meskipun sudah berusaha berbuat baik dengan sekuat tenaga, cap buruk terhadap Stefan masih tidak hilang juga. Mertua dan iparnya masih menganggapnya sebagai sampah yang menyedihkan. Dan walaupun jalan itu terbuka lagi, namun dendamnya tidak akan pernah hilang.
\=\=\=>>>∆<<<\=\=\=
Senin pagi yang cerah.
Jam tujuh kurang Stefan sudah memanaskan mesin sepeda motornya di halaman kos. Kay tersentak melihat penampilan Stefan yang begitu rapi dan tidak seperti biasanya. Stefan pakai kemeja biru dan celana dasar hitam serta sepatu pantofel persis orang kantoran. Mana parfum silver kelas midle to low itu semerbak pula sampai menusuk-nusuk hidung Kay.
“Frans! Lihatlah ojol kita! Ada kemajuan!” jerit Kay sambil terbeliak tak percaya.
Frans si gimbal keriting pontang-panting ke luar kos. “Wow! Salesman dari mana ini?”
“Entahlah, Frans. Paling baru mau melamar kerja. Paling melamar jadi OB atau pelayan,” remeh Kay sambil mendenguskan napas.
“Ya iyalah! Kalau bukan sarjana, mau kerja apa?!” remeh Frans sambil mengucek hidung.
Stefan apatis, lalu siap menarik gas motornya, tapi sebelum berangkat dia menoleh ke kanan, pas ke arah dua pria yang belum mandi itu.
“Aku buka beranda instagram. Terus melihat foto orang yang sedang bertelanjang dada. Coba cek!” Stefan senyum lalu menarik kencang gas motornya.
Sekonyong-konyong Kay dan Frans melompat masuk ke dalam kos, sigap mengambil ponsel mereka seperti monyet mencuri pisang. Dan sangat mengejutkan, tiba-tiba tanpa disadari mereka telah memposting foto pribadi tanpa busana kecuali ******.
Foto editan! Wajahnya sengaja dibuat wajah mereka padahal sebenarnya dua orang tersebut bukanlah mereka. Astaga! Parahnya foto itu sudah mendapatkan like, komentar dan sudah beberapa kali direpost. Asli malu sekali dua orang itu.
\=\=\=>>>∆<<<\=\=\=
Sesampainya di kantor PT Sanjaya Sawit, Stefan langsung menemui seorang wanita yang bertugas di bagian resepsionis, bilang bahwa dia ingin bertemu dengan Bobby, kemudian dia pun diantar oleh wanita tersebut.
Sesampainya di ruangan bosnya, yang tak lain merupakan mertuanya sendiri, Stefan dipersilakan duduk layaknya karyawan pada umumnya. Namun, tatapan tajam yang agak menyipit itu seperti sebuah kesan kasar terhadap Stefan.
“Karyawan di kantor ini punya pandangan buruk terhadapmu, Stefan. Mereka tahu kau pernah hilang ingatan, menjadi ojol, dan terakhir kasus perselingkuhanmu dengan Grace. Jangan sampai kau buat malu aku lagi.”
Stefan mengangkat wajahnya, lalu menatap wajah Bobby Sanjaya lurus-lurus. “Baiklah, Ayah. Aku akan bekerja sebaik mungkin di sini.”
“Jangan kau panggil aku Ayah. Statusmu di sini hanya pekerja. Dan satu lagi, kalau kau buat masalah sekecil apapun di kantor, kau akan langsung aku pecat.”
“Baik, Pak Dirut.”
Stefan ditempatkan di ruangan khusus bekas gudang, seluas dua kali tiga meter, sebab karyawan di sini tidak ada yang mau satu ruangan dengan dia, terlebih pekerja IT. Meski begitu, Stefan tidak protes dan tidak pula mengeluhkannya.
Dia diberikan fasilitas kantor seperti karyawan lain pada umumnya. Satu komputer dengan perlengkapan yang cukup memadai meskipun spesifikasinya jauh dari yang dia inginkan. Namun nantinya Stefan berencana memodifikasi ruangan ini sebaik mungkin untuk membantu pekerjaannya agar lebih mudah.
Belum satu jam duduk di ruangannya, tiba-tiba seorang staf dengan jabatan IT support masuk ke ruangan Stefan, lalu dengan congkaknya menyuruh Stefan untuk memperbaiki WiFi yang tidak berfungsi.
“Jangan pakai statusmu sebagai menantu dari Pak Bobby untuk menolak perintah senior. Dan jangan pula kau merasa tinggi dengan posisi IT programmer itu,” perintah Feliks sambil melipat tangan di dada.
“Oke, baiklah.” Stefan memeriksa beberapa router yang terpasang di kantor. Bukan hanya memperbaiki, tapi Stefan juga mengecek DSL router yang berfungsi sebagai firewall untuk melindungi data dan mencegah ancaman siber yang ditimbulkan dari jaringan internet.
Setelah pekerjaannya selesai, belum sempat mendaratkan pantatnya di kursi ruang kerjanya, tiba-tiba seorang teknisi datang menghampiri Stefan dan bermaksud meminta tolong.
“Kata Pak Bobby kau bisa memperbaiki CPU yang rusak. Tolong kau kerjakan!” titah Antonie. “Aku pergi ke toko komputer, mau beli mouse untuk karyawan. Cepatlah ke ruangan akuntan sana!”
Belum sempat Stefan menjawab, Antonie buru-buru kabur. Oke, Stefan kerjakan apa saja. Setibanya di ruangan akuntan, ada dua orang wanita yang mengawasi Stefan sambil berkomentar sinis.
“Kami khawatir kalau alat ini semakin rusak. Apa kau bisa memperbaikinya?”
“Kau kan pekerja baru di sini. Kalau terjadi apa-apa, akan kami laporkan kepada bos.”
“Eh, bukannya bos kita itu mertuanya?”
“Memangnya Pak Bobby mengakui kalau dia menantunya?
Stefan malah sibuk membongkar CPU yang rusak dan tak mengindahkan percakapan dua orang itu. Stefan tahu kalau ini bukanlah bagian dari jobdesk pekerjaannya. Tapi harus bagaimana lagi?
Bukannya berterima kasih, dua wanita itu malah mencibir dengan nada meremehkan. Salah satu diantara mereka bilang, “Iya sih tampan, tapi percuma kalau pernah menjadi orang yang hilang ingatan.”
“Hampir gila lho.”
Stefan meninggalkan ruang kerja akuntan lalu melenggang menuju ruang kerjanya yang berada di bawah tangga, berada di sebelah ruang OB.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Rizky Rizkun Karim Rizky
othornya lebay
2024-03-12
0
Firman Firman
bagaimana sih thuor kok stefannnya malah kmbali tiba tiba dan jadi babu lagi🤦
2024-01-19
0
Rianti Dumai
ngapain juga pakai datang lagi k'rumah mertua,,,hadeeh
2024-01-08
1