Pagi ini di kantor PT Sanjaya Sawit.
Seorang hacker memberikan ancaman kepada Bobby bahwa si hacker berencana akan meretas sistem keamanan perusahaan, mencuri data-data berharga, mengacaukan atau memanipulasi apa saja yang terkait dengan IT perusahaan, seperti database, website, media sosial dan semacamnya.
Layar-layar komputer di dalam kantor yang berjumlah lebih dari lima puluh menampilkan sebuah tulisan : “Itulah akibatnya kalau arogan di hadapan karyawan”. Si hacker mengaku sebagai mantan pekerja PT Sanjaya Sawit yang diberhentikan secara sepihak oleh Bobby, maka dari itu si hacker ingin balas dendam.
Programmer perusahaan tidak mampu mengatasi masalah. Begitu juga orang yang waktu itu memberikan bantuan kepada karyawan perusahaan yang sedang disadap ponsel dan media sosialnya. Bobby selaku direktur utama perusahaan dibuat pusing oleh si hacker.
Grace Santika mengetuk pintu ruang kerja Bobby, lalu dipersilakan masuk dan duduk.
“Pak Bobby, bagaimana kalau saya menyuruh teman saya untuk mengatasi masalah ini?”
“Saya sudah menyewa satu hacker andal, tapi dia tidak bisa melacak keberadaan bajingan itu. Kau yakin temanmu bisa menemukan pelakunya?”
“Akan dicoba dulu, Pak. Sore pas pulang bekerja saya akan bertemu dengannya. Barusan dia mengirimkan chat kalau dia butuh beberapa data dan juga jalan masuk ke server perusahaan, itu saja. Selebihnya dia akan bekerja dari rumah.”
“Silakan kau kerjakan!” Bobby memijat keningnya sambil menyandarkan punggung. Hari ini sistem down total. Semua komputer tidak bisa dioperasikan.
“Dia minta bayaran tiga ratus ribu dulu, Pak. Jika berhasil, dia minta bayaran sepuluh juta, bagaimana?”
“Temui bendahara. Siapkan uang dua puluh satu juta. Kasih dia satu juta sekarang. Jika dia berhasil menemukan si hacker dan mampu mengamankan sistem keamanan perusahaan, kasih dia dua puluh juta.”
Pagi ini juga Grace menghubungi Stefan melalui sambungan telepon. Beberapa kali teleponnya tidak tersambung karena memang Stefan sedang sibuk mengantar pesanan. Tiga puluh menit kemudian, Stefan mematikan aplikasinya karena sepuluh kali dia pontang-panting menyelesaikan orderan tanpa henti.
“Ada apa, Grace?”
“Semua data yang kau butuhkan sudah aku siapkan. Aku sudah kirim kau uang satu juta. Jika hari ini berhasil, besok kau akan diberi uang dua puluh juta.”
“Kau bercanda!” Stefan tak percaya.
“Aku serius. Kau punya kesempatan bekerja di sini nantinya," balas Grace.
“Sore nanti aku pinjam laptopmu. Aku kerjakan dari rumahmu, Grace.”
“Maaf, sepertinya tidak bisa, Stefan. Silakan kau kerjakan sendiri.”
KLIK!
Sesampainya di rumah, ibu mertuanya kaget mendapati Stefan sudah pulang.
“Baru jam sebelas. Keluar sana cari duit!”
“Aku sudah dapat duit, Bu. Kali ini Ibu tidak akan lagi marah padaku. Aku ada duit satu juta buat Lionny. Sekarang aku ada kerjaan penting. Permisi.”
Stefan meninggalkan ibu mertuanya karena tidak ingin kupingnya panas mendengar repetan. Di kamar, dia langsung stay focus mengutak-atik smartphone. Karena hanya bermodalkan smartphone, Stefan butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Di mana lagi ada seorang hacker yang bekerja hanya dengan sebuah smartphone?
Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Ayo Stefan, dua puluh juta, katanya dalam hati. Bisa beli laptop.
Jika berhasil, dia kemungkinan besar akan diterima bekerja di perusahaan mertuanya, makanya dia sangat bersemangat hari ini. Meskipun sulit, dia akan terus berusaha bagaimana pun caranya. Hingga sore hari pekerjaannya belum juga selesai.
Robert menggedor-gedor pintu kamar Stefan sambil melolong, “Mulai kambuh lagi penyakit gilamu kan, Ipar Sampah!”
Bobby yang baru saja pulang dari bekerja, apalagi bawaan kesal karena perusahaannya sedang berada dalam problem besar, melampiaskan amarahnya ke menantu tidak berguna ini. Beliau menggedor-gedor pintu kamar Stefan, lalu mencerca, “Betul perkiraan kami kalau kau belum sembuh sama sekali. Obat yang sudah aku belikan itu segera habiskan semua, Menantu Benalu!”
Mendengar itu, Stefan apatis. Dia masih fokus menyelesaikan tugasnya. Tinggal sedikit lagi. Sudah ditemukannya MAC Adress si cracker. Jika si pelaku dibiarkan beraksi, perusahaan benar-benar dalam bahaya sebab si pelaku akan merusak habis semua sistem.
Sengaja Stefan tidak bilang pada mertuanya kalau dia yang membantu mengatasi masalah perusahaan saat ini karena ingin memberikan kejutan. Diharapkan nantinya sang mertua tersadar atas semua dugaan selama ini dan mengakui bahwa Stefan yang dianggap sampah rupanya bisa diandalkan.
Jam sembilan malam. Lionny masuk ke kamar Stefan. Meski dilarang keras oleh keluarganya untuk memberi perhatian terhadap Stefan, Lionny memaksakan diri untuk tetap perhatian. Lionny mengantarkan makan malam buat suaminya.
“Dari siang tadi kau belum makan.”
“Sedikit lagi, Sayang. Aku yakin, kalau berhasil, ayahmu akan percaya padaku. Aku akan bekerja di perusahaan ayahmu.” Stefan menatap mata istrinya dengan tegas. Stefan optimis dan percaya diri bahwa dia akan bisa.
“Aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu. Aku yakin kau akan seperti dulu. Seorang pria pintar, berprestasi, dan dicari oleh banyak perusahaan.”
“Lionny! Keluar dari kamar menantu sampah ini! Suamimu belum sembuh. Cepat keluar!” titah Chyntia ketus dari balik pintu. Ada seringai di wajahnya.
Lionny mengelus rambut Stefan dengan lembut, lalu pamit. Jika Lionny ingin tidur di kamar Stefan, kedua orang tuanya selalu melarang. Jadi Lionny selalu tidur di samping ibunya. Dan setiap malam Lionny, wanita berwajah melankolis ini, akan mendengarkan ceramah dari ibunya.
“Apa yang dia kerjakan di dalam kamar dari siang tadi?” tanya Chyntia yang sedang mengibas-ngibaskan tempat tidur dengan sebuah kain.
“Mengerjakan sebuah project, katanya. Dia dijanjikan uang yang cukup besar.”
“Tidak akan bertahan lama kewarasan dia. Kau tidak usah lagi sok jadi istri yang baik di depan dia, Lionny. Ngomong-ngomong, untung kau belum hamil dari anak dia. Ibu tidak mau punya cucu dari darah daging dia.”
Rencananya dalam waktu beberapa hari ke depan, Kakek Sanjaya akan terbang ke Palembang dan berkunjung ke rumah mereka, melihat situasi yang ada di rumah. Selain itu, beliau juga bermaksud ingin mengecek dua perusahaannya yang berada di Sumatera Selatan yang bergerak di sektor perkebunan sawit dan karet atau para.
Kakek Sanjaya memang jarang berkunjung ke Palembang karena terlalu sibuk berada di Surabaya. Jika berkunjung, itu memang karena ada urusan penting dan genting, dan yang menjadi masalah genting sekarang adalah PT Sanjaya Sawit sedang berada dalam masalah yang cukup besar.
Chyntia berkata,“Nanti pas kakekmu ke rumah, bilang kalau Stefan sudah sehat karena kita semua yang merawat dan menjaganya. Rutin cek di rumah sakit. Rajin minum obat. Diperlakukan dengan baik di sini. Intinya, Stefan benar-benar baik dan nyaman tinggal di sini.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Aamanda
Semoga si mertua segera tobat 😁
2023-04-14
2
nacl
mati kutu lah nanti kau pak tahu menantumu sangat hebat
2023-04-05
1