Kos-kosan berwarna abu-abu ini berlantai dua dengan total ada dua puluh pintu. Kos Stefan berada paling ujung lantai dua sebelah kiri. Baru saja memarkirkan sepeda motornya, Stefan yang baru pulang narik malam ini mendapat singgungan dari dua pria penghuni kos.
“Kay, gacor apa hari ini?” tutur Frans dengan nada yang dikena-kenakan, penuh dengan ejekan.
“Kau lihat mukaku masam dan badanku bau seperti ini. Artinya, orderan sepi sudah pergi dari pagi pulang malam.”
Kay dan Frans merupakan mahasiswa di Universitas Yellow. Kalau malam, mereka selalu duduk-duduk di depan kos sambil merokok dan bercerita.
“Kos di sini lumayan elit dan cukup mahal. Kami semua mahasiswa lho. Kau tidak malu apa ojol sendirian yang ngekos di sini?” umpat Frans sambil terkekeh.
“Kenapa harus malu? Hm, aku kan tidak punya malu.” Kay tergelak sampai tersipit-sipit matanya.
Tahu kalau dirinya sedang ditertawakan, Stefan menahan napas lalu menaiki tangga dan tidak mempedulikan ocehan dua orang itu.
Tapi, Kay melolong lagi, “Ojol sialan!”
“Ha-ha-ha.”
Stefan masih cuek dan sabar. Karena sudah terbiasa dihina, ejekan kecil barusan geli-geli saja di telinganya, apalagi dua orang itu tidak pula dikenalnya. Namun, pagi harinya pas Stefan mau berangkat narik, tiba-tiba dia terkejut ada dua kantong sampah di atas jok sepeda motornya. Mana ada cairan tumpah pula.
Padahal, kotak sampah hanya berjarak dua meter saja dari sepeda motor Stefan. Diambilnya sampah itu lalu dibuangnya ke kotak sampah. Lalu dibersihkannya jok sepeda motornya dengan air lalu dilapnya.
Ada seorang wanita penghuni kos yang kamarnya pas berseberangan dengan kamar Frans dan Kay bilang pada Stefan. “Dua orang itu semalam menaruhnya di atas jok sepeda motormu.”
Stefan hanya membalas omongan wanita berkerudung itu dengan anggukan dan sedikit senyum tipis. Jam enam pagi Stefan sudah keluar karena dia akan bersiap mengantar anak-anak sekolah. Setidaknya pagi ini dia sudah dapat lima orderan.
Stefan butuh banyak duit untuk membeli laptop lagi. Jika semua sudah lengkap, dia bermaksud ingin bekerja dari rumah karena ada banyak pekerjaan freelance untuk seorang programmer.
Aplikasi Gacor di ponselnya sangat membantu dalam menarik order masuk. Jika bertemu dengan sesama driver di jalan atau pun di resto, Stefan tidak akan bilang kalau dia menggunakan aplikasi tambahan. Dia selalu mengalihkan pembicaraan jika ditanya berapa jumlah order.
Driver nakal yang biasa menggunakan aplikasi tambahan, mud, tuyul dan semacamnya pasti akan ketahuan oleh server, sistem akan mendeteksi bahwa driver melakukan kecurangan. Namun, tidak untuk SigmaX buatan Stefan, karena hingga saat ini dia dan John masih aman-aman saja, belum ada notifikasi pemberitahuan bahwa mereka melakukan pelanggaran.
Order yang mereka terima selalu di atas dua puluh, rata-rata tiga puluh kalau pergi pagi pulang malam. Sementara driver gacor dan normal biasanya mendapat order antara lima belas sampai dua puluh, dan untuk yang paling sedikit biasanya cuma lima orderan dari pagi sampai sore.
Terkadang Stefan dan John tak sampai hati melihat ada driver yang sering anyep. Sebab, dulu mereka juga merasakan bagaimana kalau orderan sedang sepi. Namun, jika dibantu dengan SigmaX, tentu akan berbahaya juga, solusinya mereka berdua hanya bisa menyabarkan dan memberikan kata-kata motivasi.
“Facebook adikku di-hack,” ungkap John yang baru saja menyedot es kacang merah. Pandangannya terpelanting ke arah air danau.
“Bagaimana, dapat pelakunya?” Stefan memutar matanya ke kanan, memberikan lirikan ke arah wajah John.
“Aku lacak lokasi pria itu. Rupanya dia teman sekelas adikku. Hebat juga dia SMP sudah bisa hacking.”
“Kalau dia sudah bisa masuk ke email, urusannya gampang.”
John mengeluhkan dua orang penghuni kos yang berada di lantai bawah paling ujung sebelah kiri. Jika berkunjung ke kos Stefan untuk belajar IT, dua orang itu selalu mengejek kehadiran John. Entah, apa yang salah dari John.
“Kay dan Frans kalau tidak salah namanya. Mentang-mentang mereka berdua mahasiswa, sombong nian di hadapan ojol," keluh John.
“Selagi orang itu baik, aku akan baik, tapi jika orang itu berlaku buruk dan menyakitkan hatiku, tunggulah tanggal mainnya. John, aku tidak pernah ada niat untuk menyakiti perasaan orang lain meskipun hanya secuil. Tapi jika orang duluan yang berbuat, aku tidak akan tinggal diam.”
“Mau kau apakan mereka?”
“Lihat saja malam nanti. Memang beberapa hari ini sepertinya mereka sengaja mau mancing-mancing.”
Malam sekitar jam sembilan Stefan tiba di halaman kos. Seperti biasanya, Kay dan Frans pasti duduk-duduk merokok sambil mencemooh.
“Sabtu biasanya rame, Kay. Seharusnya pulang jam dua belas malam saja, tanggung jam sembilan.”
“Kau lihat mataku sudah merah,” ledek Kay sambil mempertontonkan biji matanya yang membesar di hadapan Frans. “Sakit mataku melihat aspal terus. Aspal terus.”
Frans ngakak sambil menunjuk-nunjuk Kay. “Apa paru-parumu kuat dari pagi sampai malam menyedot debu dan karbon monoksida ha?”
Kay mengucek-ngucek hidungnya yang tidak gatal. “Tenang, bulu hidungku kan lebat seperti bulu ketek untuk menjadi benteng pertahanan menghalau serangan debu jalanan dan gas beracun. Ha-ha-ha.”
Frans tertawa terbahak-bahak sampai keluar air matanya. “Parah kau ni, Jol, Jol! Yang penting gacor. Syukuri apa yang ada. Ha-ha.”
Stefan memasukkan tangannya ke kantong celana chinos cokelatnya, lalu menaiki anak-anak tangga. Sebuah gestur bahwa dia tidak ingin tangannya kotor malam ini. Pikir Stefan, mereka berdua sudah keterlaluan memberikan ejekan terhadapnya. Mereka berdua hanya menilai orang berdasarkan cover, tapi mereka tidak tahu siapa Stefan sebenarnya.
Setelah masuk pintu kosnya, Stefan melepaskan sweaternya, lalu mengistirahatkan tubuh dan jiwanya sebentar. Tubuhnya jelas capek karena seharian berada di atas sepeda motor, dan jiwanya remuk sebab barusan menerima ejekan. Lima menit istirahat, lalu Stefan mandi.
Tidak ada shower berkelas. Tidak ada batch up mewah. Namun yang ada cuma satu ember besar dan satu ember kecil, plus gayung. Setelah itu Stefan pun berpakaian dengan menggunakan celana bola dan kaos oblong putih tak bermotif, kemudian beraksi di depan ponsel.
Karena di kos-kosan ini tersedia layanan WiFi gratis, Stefan tidak akan kesulitan melakukan penyadapan terhadap dua orang yang pas berada di bawah pantatnya ini jikalau mereka berdua menyambungkan ponsel mereka ke WiFi tersebut.
Bang!
Dengan menggunakan sebuah software rancangannya sendiri, Stefan dengan mudahnya mengambil alih sistem yang ada pada ponsel mereka. Stefan dengan mudahnya bisa mengetahui email dan password yang biasa digunakan oleh Kay dan Frans untuk login di media sosial mereka.
Ketika dua orang itu sudah tidur, Stefan masuk ke akun instagram milik Kay lalu bikin insta-story yang bertuliskan : Aku disuruh oleh Frans menjelek-jelekkan seseorang yang tinggal di kos-kosan ini, lalu berbuat jahat terhadap orang itu, aku menyesal sekali sudah menuruti kemauan Frans.
Kemudian Stefan masuk ke akun instagram milik Frans lalu bikin insta-story yang bertuliskan : Aku disuruh oleh Kay menjelek-jelekkan seseorang yang tinggal di kos-kosan ini, lalu berbuat jahat terhadap orang itu, aku menyesal sekali sudah menuruti kemauan Kay.
Pagi harinya, begitu terbangun dan mengecek hp, tiba-tiba banyak sekali dm masuk. Teman-teman mereka di media sosial memberikan kritikan dan hujatan. Lantas, mereka berdua saling menyalahkan satu sama lain.
“Kau pasti diam-diam memainkan ponselku semalam,” sentak Kay emosi.
“Eh! Malah ngeles. Kau pasti sengaja buat status di instagram-ku untuk mempermalukan aku kan. Parah kau ini!” cerca Frans memberengut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Firman Firman
haha mntab 👍 ank ingusan Bru bisa saja udah sombong nya selangit 😡
2024-01-19
0
Eric ardy Yahya
semoga saja kalian tau rasanya saling mengejek satu sama lain . ini balasan buat meremehkan orang lain
2023-06-09
1
Aamanda
rasakan akibat mulut sampah kalian, kay & frans 😡
2023-04-27
1