Bobby Sanjaya menjanjikan sebuah posisi strategis buat Stefan di PT Sanjaya Sawit. Stefan akan ditempatkan sebagai cyber-security dan merupakan orang pertama dan satu-satunya bertugas di pos tersebut. Tugas utamanya adalah bertanggung jawab dalam melindungi perangkat lunak, jaringan, serta pengujian berikut analisis risiko yang timbul.
Namun, janji dari Bobby awal bulan depan saja, dengan alasan Stefan butuh istirahat selama satu pekan, yang sebenarnya hanya alibi saja dari Bobby Sanjaya. Sebab, dia punya maksud buruk terhadap. Lagipula, mana sudi dia mempekerjakan menantu sampah itu.
Saat ini Bobby tengah menemani ayahnya dalam proses sidak dan pengecekan situasi kantor. Kakek Sanjaya menyapa seluruh karyawan tanpa terkecuali, beliau yang menyapa, bukan sebaliknya. Itulah alasan kenapa Kakek Sanjaya sangat dihormati sekaligus dicintai oleh para karyawannya.
“Pelaku peretasan mantan karyawan di sini?” tanya Kakek Sanya sembari mengerling dan mengawasi suasana kantor.
“Betul, Ayah. Syukurlah dia sekarang sudah diamankan pihak kepolisian.”
Kakek Sanjaya menatap anaknya sedikit gusar. “Kesalahan dia sepele, hanya telat menyelesaikan project yang kau berikan, tapi kenapa malah dipecat secara sepihak. Jika sikap burukmu itu dipertahankan, maka akan banyak karyawan yang kau pecat, kemudian mereka menjadi musuh perusahaan.”
Bobby tertunduk. “Sepertinya dia tidak mempunyai etika baik dalam bekerja.”
“Bisa kau beri teguran dan surat peringatan terlebih dahulu. Wajar dia ngamuk dan balas dendam. Setiap orang bisa saja menjadi buruk jika diperlakukan tidak pantas. Jadi mulai sekarang ubah cara kepemimpinanmu itu.”
Kakek Sanjaya dan yang lainnya kemudian menuju Musi Banyuasin untuk melihat langsung kebun dan pabrik kelapa sawit. Kakek Sanjaya disambut dengan meriah oleh sejumlah karyawan. Meskipun merupakan pemilik utama, Kakek Sanjaya tetap bersahaja dan rendah hati, serta tidak menganggap dirinya tinggi dari siapa pun.
Setelah itu, Kakek Sanjaya juga berkunjung ke PT Sanjaya Karet. Erick Kurniawan sang direktur utama perusahaan menemani Kakek Sanjaya. Meski usianya baru dua puluh delapan tahun, Erick punya kapasitas untuk memimpin perusahaan karet terbesar di Sumatera Selatan ini.
“Sudah lama saya tidak berjumpa dengan Kakek Sanjaya. Semoga Kakek sehat terus.”
“Aamiin. Terimakasih, Erick. Masih stabil harga karet?”
“Untuk saat ini masih dalam keadaan stabil, Kakek Sanjaya. Jika nanti harga karet mengalami penurunan, kita akan membatasi jumlah produksi dan penjualan namun tidak signifikan.”
Kakek Sanjaya mengawasi areal pabrik, lalu menepuk-nepuk pundak Erick. Jika sudah kagum dengan seseorang, Kakek Sanjaya akan menjadikannya sebagai orang kepercayaan. Selain Stefan dan Erick, masih ada beberapa lagi orang kepercayaan beliau, tentunya beliau tidak mungkin salah pilih orang.
Setelah semua dirasa dalam keadaan baik dan aman, Kakek Sanjaya memutuskan untuk pulang, namun beliau mampir sebentar ke kediaman Bobby di Bukit Kecil. Dari enam orang di dalam rumah hanya Lionny dan Stefan saja yang menjadi perhatian utama Kakek Sanjaya.
“Stefan, kau carilah dulu pengalaman yang banyak yah, minimal lima tahun, Kakek dan mertuamu menjamin setelah itu kau akan menjadi manager.”
Mendengar itu, Stefan sumringah, senyumnya lebar nian. “Terima kasih, Kakek. Aku akan bekerja dengan sebaik mungkin.”
Lionny juga ikut senang mendengarnya. “Jika nanti Stefan berniat pindah bekerja di Surabaya, bagaimana Kakek?”
“Di mana saja akan Kakek penuhi. Jika Stefan maunya di Surabaya ya silakan.”
Stefan melirik wajah ibu mertuanya. Sebuah tatapan yang mengandung maksud tertentu. Stefan paham. Dia tidak ingin berseberangan dengan mertuanya. Dia menjawab. “Sebaiknya aku bekerja di Palembang dulu saja, Kakek.”
Kehadiran Kakek Sanjaya merupakan angin segar bagi Stefan. Tiga hari ini dia seperti terlepas dari kurungan, seolah keluar dari kubangan lumpur penderitaan, bak berada di tanah subur nan lapang. Stefan benar-benar plong sekali.
Namun, ketika Kakek Sanjaya telah pergi, sebagaimana badai pasti berlalu, maka angin segar itu pun juga akan berlalu. Aura gelap dan panas kembali hadir dalam rumah. Tiba-tiba suhu dan tekanan kembali naik seperti sedia kala.
“Ayah, kenapa harus menunggu awal bulan. Besok aku siap bekerja!” Stefan bersemangat.
Bobby yang tengah asyik selonjoran di sofa ruang keluarga pun bangkit. Beliau berdiri pas menghadap Stefan lurus-lurus. Dengan sangarnya beliau mencerca, “Wahai bocah kesayangan Kakek Sanjaya. Kau jangan terlalu senang dan berharap. Bersenang-senanglah dulu kau malam ini. Besok akan ada kabar bahagia buatmu.”
Kabar bahagia apa? Stefan jadi penasaran.
Robert mendengus-dengus. “Lincah sekali kau pas ada Kakek ya. Jangan pikir kau akan merasa tinggi selamanya di sini.”
Luchy yang sedari kemarin menahan hati menyentak Stefan dengan murka. “Ipar sialan! Gara-gara kau, kami jadi seperti tidak ada apa-apanya di hadapan Kakek. Mulai hari ini, cap sampah akan kembali pada dirimu!”
Mendengar itu, Stefan cuek saja, meskipun hati yang baru saja sembuh itu perlahan tercabik-cabik lagi. Stefan diperingatkan oleh mereka, jika melapor kepada Kakek Sanjaya, semua urusan akan berantakan. Stefan tak bisa berkutik.
Lionny tak banyak bunyi setelah mendapat perintah tegas dari ayahnya, bahwa mulai dari sekarang mesti menjaga jarak dari Stefan. Meski terkadang memberi pembelaan terhadap suaminya, Lionny malah diintimidasi oleh keluarganya sendiri. Makanya Lionny juga tak bisa berkutik.
“Masuk kamar sana, Menantu Sampah!” hardik Chyntia melampiaskan amarahnya.
Stefan tertatih-tatih melangkah menuju kamarnya. Stefan masih menguatkan dirinya. Meski segala upaya telah dilakukan, namun sepertinya watak mertua dan iparnya memang tidak bisa berubah. Tapi, Stefan tidak menyerah. Dia masih punya kesempatan untuk bekerja di PT Sanjaya Sawit. Masih ada waktu untuk memberikan pembuktian bahwa dia bukan benalu, bahwa dia bukanlah sampah!
...
Pagi ini di kantor PT Sanjaya Sawit. Tepatnya di ruang kerja direktur utama perusahaan.
“Serius kau kenal Stefan pas dia mengantarmu pulang kerja?”
“Betul, Pak,” balas Grace. “Sebenarnya dia menjadi ojek langganan saya. Tapi katanya untuk beberapa hari belakangan dia libur, katanya ada urusan keluarga.”
Hingga saat ini Grace tidak tahu kalau dia sedang berbicara dengan mertuanya Stefan. Bobby sengaja menutupinya sebab beliau malu punya menantu seorang ojol. Asli, alangkah malunya seorang dirut punya menantu pria yang kerjanya berpanas-panasan dan hujan-hujanan di jalan.
“Sepertinya Stefan ada ketertarikan denganmu, Grace. Apa kau naksir juga sama dia?”
“Sepertinya tidak, Pak. Hubungan kami hanya sebatas itu. Jujur, saya agak kasihan sama dia, kerjaannya payah, padahal dia punya kemampuan lebih, padahal dia seharusnya bekerja di perusahaan bagus, seperti perusahaan kita.”
Bobby menggerak-gerakkan kursinya ke kiri dan ke kanan sambil tersenyum-senyum melihat Grace. “Tukang antar pulang kerja, membantu masalah pribadi, mengharapkan rekomendasi, terus sudah saling kenal dekat satu sama lain. Apa jangan-jangan kalian berdua ada hubungan khusus?”
Grace menggeleng, lalu menampik omongan bosnya, “Serius kami tidak punya hubungan spesial apapun, Pak."
Malam harinya ketika sedang santai di rumah, Bobby memekik memanggil Stefan, menyuruhnya duduk di salah satu sofa mahal di ruang keluarga.
“Stefan! Apa kau ingin mendengar kabar bahagianya?”
Saat ini semua anggota keluarga lengkap dan berkumpul.
“Ada apa, Ayah?” Stefan pun duduk di sebelah istrinya.
“Lionny, anakku. Mending dia sakit saja. Soalnya kalau sehat, suamimu suka bertingkah aneh-aneh. Coba kalian semua dengar baik-baik! Stefan Raden Kusuma menantu dan ipar sampah ini berselinguh dengan Grace Santika sekretarisku di kantor. Setiap Grace pulang kerja, Stefan selalu mengantarnya.”
“Apa?!” Chyntia terperangah. Matanya membulat. “Kau gila, Stefan! Kau ini suami dari anakku, cuma ojol, sampah, lucu sekali seleramu sangat tinggi. Kau berselingkuh dengan sekretaris.”
Robert menggeleng tak percaya. “Sekretaris kantor perusahaan ayahku?! Kau ini tidak waras Stefan!”
“Ipar tidak tahu diri!” cerca Luchy memberengut.
Stefan membela diri. “Sumpah aku tidak berselingkuh! Aku memang kenal dengan Grace, tapi dia hanya penumpang langgananku saja.”
Bobby menunjuk-nunjuk Stefan. “Kau tidak jadi diterima bekerja!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Travel Diaryska
emosi banget sama karakter mc nya. katanya jenius tapi dibikin bodoh 🤨
2024-12-01
0
Reni Ajja Dech
kok tambah bodoh aja ya si Stefan.jika pintar jangan mau di injak injak.walaupun itu mertua sendiri
2024-10-07
0
Firman Firman
jijik amat ya punya keluarga kyak 🐍
2024-01-18
0