Elyana terbangun dengan air mata di matanya dan melihat sekitar ruangan yang berbeda dengan ruangan yang biasa ditempatinya. Ia merasa tangannya dipegang oleh sesuatu dan saat melihat ke samping, Elyana melihat Willard tertidur di sampingnya sambil memegang tangannya.
Saat melihat Willard yang tertidur di sampingnya, Elyana segera menghapus air matanya dan mencoba bangun dari tempat tidurnya, tetapi sebelum Elyana bisa bangun, Willard menarik tangan Elyana hingga membuat Elyana terjatuh pada pelukannya.
"Kamu mau kemana?" Ucap Willard sambil mengecup kening Elyana.
Muka Elyana langsung memerah, ia segera mendorong Willard dan bangkit dari tempat tidurnya.
"Pulang." Jawab Elyana sambil berjalan ke pintu dengan wajah memerah.
"Ke rumah itu?" Willard mengerutkan alisnya.
Elyana tiba-tiba berhenti berjalan, ia sebenarnya sudah tahu bahwa tidak ada hal yang membuatnya harus pulang ke tempat yang disebut rumah itu, apalagi saat ayahnya itu sedang berada disana. Tetapi, Elyana membalikkan badannya ke arah Willard, sambil tersenyum sedih ia berkata.
"Mau bagaimana lagi? Walaupun dia ayah yang menyebalkan, jika tanpa dia, aku tidak bisa hidup di tempat mewah seperti itu, memakan makanan yang enak, ataupun memakai gaun dan perhiasan yang bagus seperti sekarang."
Elyana membalikkan badannya dan kembali berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Willard dengan ekspresi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
***
Elyana pulang ke rumahnya dengan menggunakan kereta kuda Duke Harbert. Setelah sampai di rumahnya, Elyana segera pergi ke kamarnya dan menyuruh Lia untuk segera menyiapkan tempatnya mandi dan makanan di kamarnya.
Setelah mandi dan makan, Elyana merasa tersegarkan kembali. Berbeda dengan Elyana yang terlihat baik-baik saja seakan ayahnya tidak pernah menamparnya, Lia terlihat sangat khawatir dengan Elyana. Ia sepertinya ingin bertanya apakah Elyana baik-baik saja tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat Elyana yang mungkin sudah melupakan kejadian kemarin.
Lia berpikir nona nya sudah benar-benar berubah sejak ia amnesia. Menurut Lia, Elyana dulu sering marah-marah jika gaunnya atau perhiasannya yang di siap kan tidak cocok dengannya atau makanan yang tidak sesuai dengan selera Elyana. Apalagi jika ayahnya pulang dan memarahinya untuk hal kecil sekalipun, Elyana akan langsung mengurung dirinya di kamarnya dan menolak untuk makan ataupun minum untuk beberapa hari.
"Lia, apakah ada surat undangan yang ditujukan padaku?" Pertanyaan dari Elyana membuyarkan lamunan Lia.
"Tentu saja Nona, ada begitu banyak undangan yang ditujukan kepada Anda, apakah perlu saya ambilkan?" Tanya Lia dengan sopan dan senyuman di wajahnya.
"Ya, tolong ambilkan." Elyana membalas senyuman Lia.
"Baiklah, mohon tunggu sebentar." Lia menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Elyana dan kemudian berjalan keluar dari kamar Elyana untuk mengambil surat undangan yang ditujukan pada Elyana.
Sambil menunggu Lia kembali membawa surat undangan yang ditujukan pada dirinya, Elyana tampak berjalan-jalan di kamarnya sambil memikirkan sesuatu.
"Sekarang aku sudah menjadi tunangan Duke Willard Harbert, seharusnya banyak bangsawan lain yang pasti ingin meningkatkan hubungan mereka dengan aku untuk mendapatkan keuntungan. Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati." Elyana tampak berpikir keras untuk menentukan apa yang harus dilakukannya di masa depan.
"Elyana." Tiba-tiba bayangan Willard yang memanggil nama Elyana dengan senyuman di wajahnya muncul di pikiran Elyana, wajahnya tiba-tiba memerah, ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan itu.
"Nona? Apakah Anda baik-baik saja?" Tiba-tiba panggilan Lia terdengar di belakang Elyana, Lia yang melihat Elyana menggeleng-gelengkan kepalanya tampak kebingungan dengan perilaku nona nya itu.
"Y-ya, aku baik-baik saja, l-letakkan saja surat itu di meja samping tempat tidurku, dan keluarlah, nanti aku akan memanggilmu lagi jika memerlukan s-sesuatu." Elyana tidak membalikkan badannya menghadap Lia, ia hanya mengayunkan tangannya untuk mengusir Lia.
"Baiklah kalau begitu, kalau ada apa-apa silahkan panggil saya." Walaupun Lia tampak sedikit khawatir dengan Elyana, ia tetap mendengarkan perintah nona nya itu. Lia segera memberi hormat kepada Elyana dan berjalan keluar dari kamarnya.
Wajah Elyana masih memerah, ia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Dalam hatinya ia berkata.
"Sial, apa yang terjadi padaku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments