Ting …
Sebuah pesan gambar masuk pada WhatsApp milik Axel. Segera saja Axel membukanya, dan di saat itu juga ia tampak mengeratkan gigi putihnya yang berjajar rapi serta mengepal erat kedua tangan menahan emosi melihat foto yang baru saja diterimanya.
"Kurang ajar! Ternyata benar dugaanku. Berani sekali mereka bermain di belakangku, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada kalian," gumam Axel menatap tajam, seperti harimau lapar yang ingin menerkam, mencabik-cabik lalu menelan mangsanya.
Lalu segera saja ia menghubungi nomor yang baru saja mengirim pesan tersebut untuknya.
"Katakan padaku, dimana alamatnya," ucap Axel dengan nada tinggi.
Setelah orang di balik telepon mengatakan apa yang ia inginkan, segera saja Axel menutup panggilan telepon tersebut lalu bergegas pergi menuju ke lokasi yang baru saja ia ketahui informasinya.
Sepanjang perjalanan, terlihat raut wajah Axel yang menatap penuh kemarahan, ia tak sabar lagi ingin cepat sampai ke tempat tujuan dan ingin memaki-maki serta memberi pelajaran kepada orang-orang yang telah memancing emosinya tersebut. Axel juga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak memperdulikan kendaraan yang di saat itu sedang mengemudi dengan pelan dan hampir saja ia menabrak salah satu di antara mereka. Untungnya semua masih dapat terkendali dan baik-baik saja karena Axel sudah sangat ahli dalam mengemudi mobil.
****
Axel memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah penginapan yang ukurannya tidak terlalu besar, tetapi terdapat fasilitas lengkap di dalamnya. Seperti tempat tidur, AC, lemari, sofa dan juga kamar mandi, sehingga sangat nyaman dan mempermudah untuk orang yang menginap di sana. Apalagi untuk orang yang sedang melakukan perjalanan bisnis di kota tersebut, selain itu harganya juga terjangkau.
Segera saja Axel melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam penginapan tersebut dan mencari informasi tentang seseorang yang ia inginkan, karena memang tadi ia tidak mendapatkan informasi yang lengkap dari si pengirim pesan.
"Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang resepsionis di loby.
"Saya mau mencari seseorang yang bernama Kayla. Di kamar nomor berapa dia menginap?" Tanya Axel.
"Baik Tuan, akan segera saya cari," ucap resepsionis dan langsung saja mencari nama yang dimaksud oleh Axel tadi. Lalu …
"Maaf Tuan, nama Kayla tidak ada di sini," ucap resepsionis.
Axel merasa kebingungan, ia merasa tidak salah informasi, tetapi kenapa istrinya itu tidak ada di sini.
"Pastikan sekali lagi. Kau jangan mengada-ngada ya, sudah jelas-jelas wanita itu menginap di sini," ucap Axel dengan emosi sehingga membuat resepsionis itu pun terkejut dan merasa takut.
"Saya minta maaf Tuan, tapi benar-benar tidak ada yang bernama Kayla menginap di sini," ucap resepsionis.
Terlihat Axel sedang berpikir sesuatu, "Oh ya, Kayla kan tidak membawa ponsel, Tas maupun dompetnya. Sudah pasti pria itu yang memesan kamarnya," batin Axel.
"Baiklah, kalau begitu coba cari atas nama Devano. Apakah ada?" Tanya Axel.
Lalu resepsionis pun mencarinya lagi.
"Atas nama Tuan Devano ada Tuan, tetapi yang menginap di kamar tersebut adalah seorang wanita, bukan Tuan Devano-nya sendiri dan 30 menit yang lalu Nona tersebut baru saja keluar dari penginapan ini," jawab resepsionis.
Tanpa mengucap kata apapun lagi, Axel pun segera saja pergi meninggalkan loby dan keluar dari penginapan tersebut.
"Sialan! Ternyata aku kalah cepat, pasti pria baji*ngan itu yang sudah membawa Istriku pergi dari sini," umpat Axel di dalam hatinya.
****
Sementara itu, terlihat seorang wanita yang saat ini sedang berdiri di tepi jalan hendak mencari taksi karena ia akan pergi ke suatu tempat. Akan tetapi sudah hampir 20 menit ia menunggu, belum juga ada taksi yang kosong dan berhenti untuknya. Hendak memesan taksi online pun tak bisa karena ia tidak membawa ponselnya.
Hingga di saat itu, ia melihat seorang tukang ojek dan segera saja wanita tersebut pun memberhentikannya.
"Mau kemana Nona?" Tanya si tukang ojek.
"Pak, tolong antarkan saya ke jalan X ya," pinta wanita tersebut.
"Baik nona. Ini silahkan dipakai dulu helmnya dan Silahkan naik," ucap tukang ojek.
Segera saja wanita itu menggunakan helm untuk keselamatan, lalu ia pun naik ke atas motor dan tukang ojek juga langsung saja melajukan motornya itu.
Tepat di lampu merah, tukang ojek memberhentikan motornya itu di samping sebuah mobil mewah, penumpang wanita terlihat menundukkan wajahnya karena sinar mentari yang terasa menyengat mengenai wajahnya itu. Ia yang sudah terbiasa berpergian dengan menggunakan mobil, tetapi kali ini harus menggunakan ojek karena tidak ada pilihan lain. Lagipula menurutnya lebih praktis dan akan lebih cepat sampai.
Hingga di saat itu lampu merah pun telah berubah menjadi hijau, semua para pengendara hendak melajukan kendaraan mereka kembali. Di saat itu pula mobil yang berada di samping tukang ojek dan wanita tersebut tidak sengaja melihat seseorang yang dikenalinya.
"Kayla," ucap Devano.
Karena di saat itu kendaraan begitu ramai dan sangat sulit untuk mobil melaju dengan cepat, pengendara roda dua lah yang bisa melaju dengan mudah, membuat Devano pun kewalahan untuk mengejar tukang ojek tersebut. Untungnya ia masih bisa melihat dari jarak jauh dimana tukang ojek yang membawa Kayla itu. Lalu di saat jalanan sudah memungkinkan untuk menyalip, Devano pun segera saja melajukan mobilnya hingga ia berhasil mengejar tukang ojek bersama Kayla.
Din … din …
Suara klakson mobil mengejutkan tukang ojek dan juga Kayla.
"Nona sepertinya ada mobil yang mengejar kita, apakah Nona mengenalinya?" Tanya tukang ojek.
Kayla pun menoleh untuk melihat siapa orang yang ada di dalam mobil tersebut.
"Kayla … berhenti Kayla," panggil Devano yang membuka kaca mobilnya.
"Pak, berhenti Pak. Itu teman saya," pinta Kayla sehingga tukang ojek itu pun memberhentikan motornya di tepi jalan.
Devano juga memberhentikan mobilnya tersebut, lalu ia pun turun dalam mobil menghampiri Kayla yang sudah terlebih dahulu turun dari sepeda motor tukang ojek.
"Kayla, kamu kenapa naik ojek. Aku baru saja mau pergi ke penginapan, untung saja aku bertemu kamu di sini," ucap Devano.
"Dev, kok kamu bisa ada di jalanan sih. Memangnya kamu tidak bekerja?" Tanya Kayla balik.
"Aku baru saja selesai meeting di luar dan aku mau ke penginapan mau mengantarkan makan siang untukmu. Tapi aku malah melihat kamu di jalanan," ucap Devano.
"Maaf Dev, aku mau ke rumah orang tuaku. Tadi aku cari taksi tapi nggak ada yang kosong, maka itu aku naik ojek saja," ucap Kayla.
"Ya sudah biar aku yang antar kamu ya," ucap Devano lalu berjalan menghampiri tukang ojek. "Pak terima kasih ya sudah membawa teman saya. Ini bayarannya," ucap Devano sembari memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.
"Tapi Tuan, Nona ini belum sampai ke tempat tujuan dan ini banyak sekali uangnya," ucap tukang ojek hendak mengembalikan uangnya.
"Biar saya yang mengantarkan teman saya ini Pak dan untuk bayarannya tidak apa-apa Bapak ambil saja semua, anggap saja itu bonus karena Bapak sudah membawa teman saya dalam keadaan selamat," ucap Devano.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak Tuan, Nona. Semoga kalian berdua berjodoh," ucap tukang ojek paruh baya yang kira-kira umurnya itu seumuran dengan orang tua Kayla.
"Aamin … ," ucap Devano.
Sedangkan Kayla hanya menatap kagum pada Devano, ia memang selalu dibuat terkesima oleh sifat Devano yang terkenal murah hati sedari dulu saat mereka bersama, meskipun Devano dulunya bukanlah orang yang berada.
"Ayo Kay, masuk mobil," ucap Devano sembari membukakan pintu untuk Kayla.
"Terimakasih Dev," ucap Kayla dan hendak masuk ke dalam mobil.
Chit …
Akan tetapi di saat itu ada sebuah mobil yang berhenti mendadak tepat di depan mobil Devano. Lalu terlihat seseorang yang keluar dari mobil dengan tatapan tajam dan berjalan hendak menghampiri keduanya. Sehingga membuat Devano dan Kayla pun menatap ke arahnya.
Bersambung …
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments