"Akh …."
Kayla merintih saat mencoba untuk berjalan menuju ke kamar mandi, ia merasakan perih di bawah sana karena perbuatan kasar yang dilakukan oleh suaminya tadi. Di saat itu pula Kayla juga melihat ada noda merah di sprei dan segera saja ia pun membuka sprei tersebut, karena Kayla merasa jijik jika mengingat apa yang baru saja terjadi.
Perlahan Kayla pun mencoba untuk berjalan, menahan perih itu menuju ke kamar mandi, hingga ia tiba di sana. Kayla menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air shower, hatinya begitu sakit dengan apa yang baru saja Axel lakukan kepadanya. Ia merasa seperti baru saja di perko** oleh seseorang, padahal orang tersebut adalah suaminya. Kayla sangat terpuruk dan prihatin terhadap kondisi hidupnya sendiri.
"Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa aku harus menderita setelah menjadi mempelai pengganti? Padahal aku sangat ikhlas menjalaninya, tapi kenapa tidak ada sedikitpun kebahagiaan untukku? Kenapa harus penderitaan yang selalu saja aku terima dari seorang Axel?" Ucap Kayla penuh tanda tanya diiringi tangisannya yang tiada henti.
Sementara itu Axel saat ini sedang berada di kamarnya dan baru saja selesai membersihkan diri. Ia merasa ada kepuasan tersendiri dalam dirinya, entah karena ia merasa puas telah memberi hukuman kepada sang istri atau karena ia telah berhasil mendapatkan haknya sebagai seorang suami, meskipun dengan cara kasar seperti itu. Terbesit sedikit rasa bersalah dalam hati kecilnya saat mengingat bagaimana tadi Kayla menjerit kesakitan dan menangis karena ulahnya.
"Apa tadi aku sangat keterlaluan? Aku dapat melihat jika Kayla sangat sedih dengan apa yang aku lakukan. Lalu bagaimana keadaan wanita itu saat ini? Ah sudahlah, untuk apa juga aku memikirkannya. Bukankah itu yang aku inginkan, untuk membalas dendam dan membuat hidupnya menderita," gumam Axel yang sama sekali tak mempunyai perasaan.
Lalu ia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk king size miliknya dan memejamkan mata hingga terlelap.
****
Keesokan hari, Axel merasakan sesuatu yang berbeda di dalam apartemen. Kayla yang biasanya bangun lebih awal lalu membersihkan apartemen dan juga menyiapkan sarapan untuknya meskipun ia sama sekali tidak pernah menyentuhnya, kali ini ia sama sekali tidak melihat keberadaan istrinya ada di sana. Bahkan kondisi apartemen masih tampak sama sejak tadi malam mereka pulang, yang itu artinya Kayla belum membersihkan apartemen ini. Saat Axel melihat ke meja makan, ia juga tidak melihat menu sarapan apapun di sana. Hingga Axel memutuskan pergi ke kamar Kayla untuk mengetahui kondisi istrinya saat ini.
Beberapa kali Axel mengetuk pintu kamar Kayla tetapi tidak ada yang membukanya, Lalu Axel pun mencoba membuka pintu tersebut yang ternyata tidak dikunci. Segera saja Axel masuk ke dalam kamar tersebut, tetapi ia juga sama sekali tidak menemukan keberadaan istrinya itu.
"Kemana dia pergi pagi-pagi seperti ini? Kenapa dia tidak izin kepadaku?" Gumam Axel yang tidak terlihat bingung.
Di saat Axel hendak keluar dari apartemen, matanya itu pun tertuju pada secarik kertas berisi coretan tinta biru yang terdapat di meja ruang depan. Segera saja ia mengambil kertas tersebut dan membaca apa itu isinya.
"Jangan mencariku, aku pasti akan pulang dengan sendirinya jika aku sudah siap."
Membaca surat tersebut pun membuat Axel benar-benar murka, segera saja ia mencoba untuk menghubungi Kayla tetapi ponselnya itu tidak aktif.
"Syit! Ada apa dengan Kayla? Kenapa dia bersikap aneh seperti ini. Apa karena perlakuanku tadi malam yang membuatnya pergi," gumam Axel.
Karena pagi ini ada rapat penting yang harus ia hadiri, Axel pun melupakan masalahnya bersama Kayla sejenak, lalu segera saja ia pergi menuju ke perusahaan.
Akan tetapi, tak bisa dipungkiri jika ia terus saja memikirkan Kayla. Saat sedang dalam perjalanan hingga ia tiba di perusahaan. Bahkan saat sedang rapat pun ia terlihat tidak fokus dan terkadang terkejut di saat asistennya atau para staf ada yang menanyakan sesuatu hal berkaitan dengan rapat mereka pada pagi hari ini.
****
Di sebuah kamar penginapan, Kayla baru saja terbangun setelah pukul 04.00 pagi ia baru dapat memejamkan matanya. Kayla yang merasakan begitu sakit hati terhadap sikap Axel, diam-diam pergi meninggalkannya apartemen dengan meninggalkan secarik kertas di atas meja. Ia ingin menenangkan dirinya sendiri dengan berjalan-jalan di luar untuk mencari udara segar. Tetapi karena waktu semakin malam dan ditambah lagi cuaca yang tadi malam kurang bersahabat terlihat seperti akan turun hujan deras, sehingga Kayla pun menginap di sebuah penginapan daripada ia harus pulang ke apartemen dan mengingat tentang kejadian yang baru saja menimpanya karena ulah suaminya sendiri.
"Aneh, kenapa rasanya masih begitu pedih? Padahal sudah lewat beberapa jam yang lalu," gumam Kayla saat merasakan miliknya berdenyut karena sakit.
Karena masih butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya dengan enggan bertemu dengan Axel, Kayla pun memutuskan untuk tetap berada di penginapan tesebut.
"Apakah Axel mencariku? Ah itu tidak mungkin, dia sama tidak pernah peduli padaku. Meskipun dia mencariku, itu bukan karena dia merasa khawatir terhadapku, tetapi merasa khawatir jika orang tuaku ataupun orang tuanya akan bertanya dimana keberadaanku, pasti Axel sangat marah dan jika aku pulang nanti, dia akan memarahiku habis-habisan," batin Kayla.
Kayla meraih ponselnya yang ia simpan di dalam tas. Ia baru menyadari jika ponselnya itu sudah tidak aktif karena kehabisan daya dan juga ia lupa membawa charger. Sehingga Kayla pun berjalan keluar dari kamarnya untuk meminjam charger kepada resepsionis. Setelah mendapatkannya, langsung saja ia kembali ke kamar untuk mengisi daya ponselnya tersebut.
Lalu beberapa menit kemudian, Allea mengaktifkan ponselnya. Di saat itu ia melihat ada beberapa panggilan masuk dari Axel dan juga dari Devano. Ia tak tahu kenapa dua pria itu menghubunginya, akan tetapi Kayla tak peduli dengan Axel saat ini. Ia malah menghubungi Devano saat itu juga.
"Halo Kayla, ini bener kamu kan Kay," ucap Devano dari seberang telepon, ia seakan tak percaya saat mantan kekasih yang masih sangat dicintainya itu menghubunginya terlebih dulu.
"Iya Dev ini aku," ucap Kayla lirih.
"Ternyata kamu benar-benar Kayla, aku benar-benar nggak menyangka Kay. Kamu benar-benar menghubungi aku Kayla, aku senang. Tapi kamu kenapa Kay? Apa kamu sedang mempunyai masalah? Aku mendengar dari suara kamu seperti ada yang berbeda," ucap Devano, karena ia sudah cukup lama berhubungan dengan Kayla sehingga ia tahu jika Kayla saat ini sedang mempunyai masalah.
"Dev, apa bisa kita bertemu sekarang?" Tanya Kayla.
"Tentu saja bisa Kay. Kamu mau bertemu aku dimana? Mau aku jemput?" Tanya Devano.
"Nggak usah Dev, kita langsung bertemu saja di di sana. Aku akan mengirim lokasinya kepada kamu," ucap Kayla.
"Iya Kay, aku tunggu ya," ucap Devano.
"Ya Dev. Ya sudah aku tutup ya teleponnya, bye …," ucap Kayla mengakhiri telepon tersebut.
Di saat ini ia benar-benar membutuhkan teman cerita untuk menuangkan rasa kegundahan hatinya itu, sehingga ia pun menghubungi mantan pacarnya itu. Karena menurut Kayla, hanya Devano lah yang akan mengerti dengan kondisinya saat ini. jika bercerita kepada kedua orang tuanya atau kedua orang tua Devano itu sangatlah tidak mungkin untuknya.
Bersambung …
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments