Untuk segera menyelesaikan skripsinya, Gavin tentu harus mengorbankan salah satu pekerjaannya. Tapi Gavin tidak ingin melakukan itu.
Ia butuh uang untuk menjalankan bisnis yang sudah ia rencanakan. Tapi ... Bagaimana kalau nanti skripsinya terlantar?
Gavin mengurut keningnya yang terasa sakit. Kenapa masalah terus saja datang padanya?
"Kenapa lagi?"
Gavin terkejut saat ia melihat Kaylee duduk di sampingnya. Kapan komandan ini datang? Kenapa Gavin tidak tahu?
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Kaylee lagi, saat ia menatap Gavin yang malah menganga.
"Mikirin jodoh yang belum nampak pantatnya," jawab Gavin singkat membuat Kaylee mendengus.
"Sialan!" Ucap Kaylee kesal.
Gavin tertawa kecil.
"Lo sendiri ngapain disini? Ganggu orang kerja aja!" Gavin kini sedang berada di bengkel untuk menyelesaikan motor yang di servis.
Sepertinya kata-kata Kaylee yang mengatakan kalau Gavin pembawa keberuntungan memang benar. Buktinya semenjak Gavin bekerja di bengkel itu, orang-orang yang mau menyervis motornya datang ke sana. Padahal biasanya sangat lengang.
"Ngeliatin orang gila yang jadiin oli bedak di mukanya," ucap Kaylee tertawa. Ia melihat pada kening Gavin yang berwarna hitam karena terkena oli.
Gavin mengerutkan keningnya, lalu ia berdiri untuk melihat di kaca spion motor itu.
"Astaga ...." Gavin tertawa kecil saat melihat keningnya yang terkena oli. Mungkin saat tadi ia memijit keningnya.
"Ngapain ngelamun? Ada masalah lagi?" tanya Kaylee. Ia duduk di atas kursi yang ada di sana.
"Biasalah, masalah skripsi. Gue gak bisa jalanin kerjaan langsung dua, gak ada waktu nanti buat nyusun," ucap Gavin.
Kaylee diam, kemudian ia hanya mendesah saja.
"Mending kamu beresin dulu skripsinya, baru urusin kerja. Nanti kalau gak beres, makin lama urusannya," ucap Kaylee memberikan nasihat.
Gavin diam. Ia membenarkan ucapan Kaylee. Tapi ... Bagaimana dengan uang untuk modalnya?
"Apa yang kamu pikirin?" tanya Kaylee.
Gavin menoleh, "Enggak. Cuma bingung aja, biasanya Lo manggil pake Lo Gue, tapi sekarang kok enggak?" ucap Gavin, ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Gakpapa, suka aja!" ucap Kaylee. "Eh, jangan ngalihin pembicaraan. Aku nanya, apa yang lagi kamu pikirin?" ucap Kaylee.
Gavin diam, apa dia harus menceritakan semuanya pada Kaylee?
"Gue punya rencana untuk bikin bisnis sendiri. Tapi ya itu, minim modal. Makanya sekarang lagi pusing. Kalau berhenti kerja otomatis gak dapat uang, gak ada buat modal. Tapi kalau gak fokus skripsi, makin lama nanti." ucap Gavin. Ia memilih untuk menceritakan semuanya pada Kaylee.
"Jadi yang menjadi masalahnya itu saat ini kamu butuh uang?" ucap Kaylee menangkap apa yang menjadi masalah Gavin.
"Yep!" ucap Gavin singkat.
Ia membersihkan tangannya saat sudah menyelesaikan motor yang tadi di tanganinya itu.
"Aku bakal kasih kamu uang buat modal," Gavin menoleh ke arah Kaylee. Menatap komandan polisi itu dengan aneh.
"Tapi ...." ucap Gavin saat ia tahu kalau Kaylee belum menyelesaikan ucapannya.
"Kamu harus jadi pacar pura-pura saya," ucap Kaylee yang membuat Gavin mendengus.
"Ya kali!" ucap Gavin.
"Serius! Orang tuaku berencana untuk menjodohkan aku. Dan aku sendiri tidak tahu laki-laki itu seperti apa, dan belum pernah ketemu. Jadi aku bilang ke Papi kalau aku sudah punya pacar," Kaylee menjelaskan maksudnya pada Gavin.
"Jaman sekarang masih laku jodoh-jodohin kayak gitu?" ucap Gavin yang berpura-pura syok.
"Itu buktinya ada," jawab Kaylee. "Gimana? Hanya sampai Papi aku membatalkan perjodohan itu. Aku bakal kasih modal kamu sampai bisa kamu bisa berdiri tegak!" Kaylee memberikan Gavin pilih perempuan yang sulit.
Gavin yang masih sakit hati dan trauma karena Emily, sekarang harus dihadapkan pada pilihan ini.
"Tapi gue gak bisa komitmen," ucap Gavin. Ia menatap lurus ke depan.
"Ya emang enggak. Kan kita cuma pura-pura, sampai Papiku membatalkan perjodohan itu!" ucap Kaylee menimpali ucapan Gavin.
"Bukan itu maksudnya, Oneng! Gue gak bisa komitmen buat gak suka sama lu. Abisnya lu montok banget, sih, depan montok, belakang apalagi, gak kuat iman gue!" ucap Gavin yang membuat Kaylee melebarkan matanya.
"Gaviinn sialan! Dasar mesum! Kurang ajar!!" Kaylee mengejar Gavin yang berlari.
"Hahaha ... Ampun-ampun! Tapi suer Keli, Lo itu montok banget! Bikin mata gue seger!"
"Gaviiiinnn sialaannn!!"
****
Gavin merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Ia baru saja selesai mandi.
Melihat pada ponsel butut pemberian Arsene, Gavin mendesah karena ia tidak memiliki nomor ponsel Kaylee Yang kini sudah berstatus sebagai pacar pura-puranya itu.
Gavin bangkit, kemudian ia mengambil laptopnya. Bagaimana mungkin dia tidak memiliki nomor Kaylee sementara dia sudah sering sekali bertemu dengan wanita itu.
Dari pada pusing, akhirnya Gavin memilih untuk mengerjakan skripsinya saja.
Memang benar, Gavin menerima tawaran Kaylee. Ia butuh uang sedangkan Kaylee butuh pacar pura-pura. Gavin tidak punya uang sedangkan Kaylee memiliki banyak uang.
Jadi istilah yang keduanya pakai saat ini adalah simbiosis mutualisme.
"Gue penasaran, umurnya dia ini berapa, sih? Kok kayaknya masih mudaan dia dari Gianna, ya?" Gavin yang duduk di depan laptop kecilnya itu kembali memikirkan Kaylee.
"Berarti dia emang hebat banget, makanya bisa jadi komandan polisi!" sambung Gavin lagi.
"Sialan! Kenapa gue jadi mikirnya dia terus?"
***
"Iya! Ini bangunan yang paling strategis. Di keramaian, juga orang banyak yang lewat disini!"
Pemilik dari tempat yang di jual itu menjelaskan pada Gavin dan Kaylee yang mengekor dibelakang.
Gavin mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh pemilik tempat itu.
"Jadi ... Gimana?" tanya Gavin pada Kaylee, si kekasih pura-puranya itu.
"Bagus, aku suka yang ini!" jawab Kaylee mengangguk, menyetujui apa yang bapak tadi sampaikan.
"Oke, yang ini aja, Pak," ucap Gavin.
"Oke, sekarang kita urus surat-suratnya!"
Gavin dan Kaylee mengikuti langkah Laki-laki itu. Usaha yang ingin Gavin dirikan adalah perusahaan perangkat lunak yang akan menjadi perusahaan terbesar di dunia.
Gavin sudah memikirkan sebuah aplikasi yang ia rancang dari dulu. Walaupun Gavin suka mesin, dan kuliah di management, tapi ia mengerti dengan semua itu.
Mungkin Arsene seorang laki-laki yang pintar, tapi Gavin lebih pintar lagi. Gavin selama ini hanya sedang menyembuhkan semua bakat yang dimilikinya dengan sifatnya yang urakan dan pecicilan.
Setelah menyelesaikan administrasi dan menandatangani surat-surat penting itu, Gavin dan Kaylee pergi dari sana. Kunci tempat itu sudah ada di tangan Gavin.
"Kamu yakin, mau bikin perusahaan software disini?" tanya Kaylee lagi.
Gavin tersenyum tipis, "Yakin!" jawabnya.
"Sudah punya timnya?" tanya Kaylee lagi.
Gavin juga mengangguk. Ia memang sudah merencanakan ini dari dulu, dan nanti ia akan menghubungi teman-temannya sewaktu di SMP. Karena mereka dulu punya rencana bersama untuk mendirikan perusahaan software terbesar di dunia. Semoga saja kesampaian.
Kaylee hanya ber oh ria saja.
"Helmnya!" ucap Gavin sembari memberikan helm itu pada sang kekasih pura-pura.
Kaylee menerima helm tersebut dan memasangnya. Ia naik ke atas motor itu dengan berpegang pada pundak Gavin.
"Btw, Lo gak dinas?" tanya Gavin heran, karena seharian ini Kaylee terus bersama dengannya.
"Enggak! Dikasih libur, karena keberhasilan misi waktu itu. Di suruh istirahat," jawab Kaylee singkat. Ia sudah duduk dengan baik di atas motor Gavin.
"Lah, kalau istirahat kenapa kelayapan?" ucap Gavin. Ia memasukkan gigi motornya lagi. Dan untuk yang kesekian kalinya, punggung Gavin mendapatkan asupan nutrisi dari pegunungan alami yang benar-benar asli.
"Sialan, kamu sengaja, kan?" tanya Kaylee kesal menepuk pundak Gavin.
Gavin tertawa, "Rezeki gak boleh di hindari!"
***
Happy reading, semoga suka!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
LENY
DASAR GAVIN😂
2024-07-19
2
@Atikha_Syam96
Gavin modus mulu/Facepalm/
2024-06-22
0
Imam Sutoto
woow keren banget nih lanjut
2024-06-04
1