SP 10

"Punya keahlian apa kamu, sampai punya keberanian untuk melamar pekerjaan di tempat saya?"

Laki-laki tua yang duduk di depan Gavin itu menatap dirinya remeh.

Gavin mengepalkan tangannya. Kenapa semua orang selalu saja merendahkan dia dan menghinanya?

"Saya bisa bongkar mesin, Pak," jawab Gavin.

Laki-laki itu mendengus, "Kamu kira saya bakal percaya? Kamu itu kan anak management bukan anak teknik!"

Gavin menghela napas. "Tapi saya beneran bisa bongkar mesin, pokoknya yang berhubungan sama mesin saya bisa, Pak," ucap Gavin.

Gavin sangat berharap kalau ia bisa melamar pekerjaan di bengkel ini. Karena tempatnya besar, orang-orang yang menservis motornya juga banyak di sini. Jadi Gavin tahu, kalau gaji di sini itu besar.

"Sudahlah! Saya tidak menerima kamu. Saya butuh karyawan yang berkompeten, bukan yang seperti kamu!"

"Tapi Pak, saya benar-benar bisa buat jadi montir!" Gavin masih berusaha untuk membujuk laki-laki itu. Bagaimana mungkin dia menolak Gavin, sedangkan dia sendiri belum menguji Gavin.

"Sudahlah! Sana pergi, tempat saya tidak menerima kamu. Mendingan kamu cari di tempat lain aja, saya masih punya banyak pekerjaan. Jadi silahkan kamu pergi dari sini!'

Laki-laki itu berdiri yang membuat Gavin akhirnya ikut berdiri.

"Tapi, pak?"

"Saya bilang enggak ya enggak! Kamu tuli?" bentak laki-laki itu.

Dengan mengepalkan tangannya, Gavin mengambil surat lamarannya, dan pergi dari sana.

"Dasar sombong! Awas aja ntar, kalau gue udah bisa buka bengkel sendiri, tuh tempat servis lu bakal sepi. Liat aja, ntar. Dasar sombong!" Gavin merenggut, dan segera memasukkan surat lamaran pekerjaannya itu ke dalam tas lagi.

Dengan perasaan dongkol, Gavin berlalu dari sana. Gavin tidak akan pernah melihat penghinaan ini. Naga mungkin dia menolak Gavin sedangkan dia sendiri belum melihat kemampuan Gavin seperti apa.

Gavin terus memacu motornya. Hari ini ia tidak pergi kuliah karena weekend. Dan rencananya Gavin akan pergi ke tempat cuci mobil siangan saja.

Gavin terus memacu motornya. Hingga Gavin melihat sebuah bengkel di jalan itu. Gavin lihat di sana tidak ramai. Jadi Gavin memutuskan untuk berhenti di sana.

"Kenapa motornya, Mas?" Gavin kira yang bertanya padanya itu adalah si pemilik bengkel kecil ini.

Gavin turun dari atas motornya dan berdiri di depan laki-laki itu.

"Gak kenapa-napa, Pak. Sebenarnya saya mau melamar pekerjaan disini," ucap Gavin yang membuat laki-laki itu tertawa kecil.

"Di bengkel kecil ini? Sepi di sini Mas, jadi saya gak menerima karyawan," ucap si laki-laki itu.

Gavin diam, ia mulai berpikir. Kalau dia tidak mengasah kemampuannya di tempat ini, lalu dimana lagi? Kalau di bengkel besar seperti tadi saja ia di hina lalu bagaimana dengan yang lainnya.

"Enggak apa-apa, Pak. Saya di gaji kecil banget juga enggapapa. Tapi saya boleh, ya, kerja disini?" Gavin sangat berharap kalau ia di terima di bengkel ini. Tidak masalah kalau gajinya kecil, Gavin yakin kalau pekerjaannya memuaskan, para pelanggan akan datang dengan sendirinya.

"Tapi saya gak sanggup bayar gede. Di sini sehari aja jarang banget yang periksa motor disini," ucap bapak itu lagi.

"Enggapapa, Pak. Kita coba aja dulu, mana tau, saya ini pembawa keberuntungan?" ucap Gavin yang membuat laki-laki itu tertawa.

"Ada-ada aja, Mas. Tapi oke, deh. Kalau nanti gak ada pelanggan, saya gak bisa kasih Mas uang, ya?" ucap Bapak itu.

Gavin tersenyum kemudian ia mengangguk.

"Jadi saya diterima kerja di sini, Pak?" tanya Gavin.

Bapak itu mengangguk.

"Syukurlah! Tapi saya kerjanya part time ya, Pak. Soalnya saya masih kuliah, lagi kerja juga di tempat cuci mobil," ucap Gavin.

"Oke," ucap Bapak itu.

***

Sudah selama satu jam Gavin duduk menunggu di bengkel itu, tapi benar-benar tidak ada orang yang datang untuk membawa motor mereka ke sana.

"Apa, kan, saya bilang? Disini itu sepi," ucap bapak itu. Ia bicara sembari membersihkan tempat yang terkena oli di sana.

"Gakpapa, Pak. Asal kita terus usaha, rezeki datang sendiri, Pak," ucap Gavin.

Bapak itu hanya tertawa kecil saja. Tadi ia sudah mulai melihat cara kerja Gavin, dan ya, memang memuaskan.

***

Gavin selesai dari pekerjaannya mencuci mobil. Hari ini tidak banyak mobil yang di cuci. Mungkin karena weekend jadi semua orang sedang pergi jalan-jalan.

"Makasih, Boss. Walaupun gajinya makin ambyar," sindir Gavin pada Boss nya itu.

"Bersyukur aja kamu, masih saya kasih gaji. Kalau gak, enggak makan kamu hari ini!" Ketus Boss Gavin itu, membuat Gavin mendengus.

"Pergi dulu, Boss!" Gavin menaiki motornya. Semenjak memiliki motor ini, Gavin jadi sangat mudah pergi ke mana-mana. Penampilannya juga jadi lebih tampan. Walaupun pengeluarannya juga jadi besar untuk membeli bensin.

Di dalam perjalanan, Gavin melirik dua orang perempuan sedang mendorong motor. Yang Gavin kira pasti sedang mogok.

"Kenapa, Cantik?" tanya Gavin sembari menggoda. Dengan senyumannya yang memikat, ia membuat kedua gadis itu terpesona.

"Gak tau, Mas. Mati sendiri," jawab salah satu dari gadis itu, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya. Gugup karena di tatap seperti itu oleh Gavin.

"Wah ... Kebetulan banget, ini. Saya juga kerja di bengkel." ucap Gavin. Ia semakin memainkan senyumannya agar kedua perempuan itu mau membawa motor mereka ke bengkel Gavin.

"Serius, Mas?" tanya salah satu perempuan itu tidak percaya.

"Iya, ya udah. Kalian naik aja, biar saya bantu dorong dari belakang!" ucap Gavin.

"Yakin, Mas? Saya takut jatuh," ucap salah satu gadis itu dengan ragu.

"Enggapapa, asal bisa jaga keseimbangan aja, lagian pelan-pelan juga, kok," ucap Gavin.

Mereka mengangguk, Gavin mendorong motor matic itu dari belakang dengan menggunakan kakinya.

Walaupun lambat, tapi akhirnya mereka tiba di bengkel tempat Gavin bekerja tadi.

"Loh, Vin?" ucap Bapak tadi, sepertinya mau menutup bengkel karena sudah tidak ada orang.

"Iya, Pak. Mereka motornya mogok, jadi di bawa kesini, deh," ucap Gavin yang membuat bapak itu berbinar.

Bapak itu mengucap syukur karena ada orang yang datang ke bengkelnya.

"Bawa masuk, Vin!" Suruh bapak itu. Gavin mengangguk, ia mengedipkan matanya ke arah kedua wanita itu.

Membuat mereka merona dan juga malu-malu kucing.

"Olinya udah kotor banget, di ganti aja, ya?" ucap Gavin saat ia mengerjakan motor kedua wanita tadi.

"Iya, Mas. Ganti aja," ucap si salah satu wanita itu, yang kemungkinan pemilik motor tersebut.

***

"Oh iya, nanti kalau ada motor pacarnya, mantan, gebetan, orang tua, tetangga, adek, sama siapa aja yang kalian kenal mogok atau perlu di servis. Bawa kesini aja, ya. Abang Gavin siap melayani," ucap Gavin.

Ia tersenyum manis ke arah kedua wanita itu membuat mereka sama-sama salah tingkah. Dasar play boy cap kapal terbang.

"Iya, Mas. Pasti!" ucap mereka berbarengan. Gavin tersenyum lebar.

"Beneran, ya?" ucap Gavin memastikan lagi, menambah kadar senyumannya menjadi mematikan.

"Bener!" jawab keduanya. Semakin salah tingkah saat di tatap oleh Gavin seperti itu.

"Dadahh ... Hati-hati. Kalau jatuh nanti ingat aja wajah ganteng Abang Gavin, biar kalian gak sakit," goda Gavin lagi yang membuat mereka semakin salah tingkah.

***

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto

Imam Sutoto

mantuul Thor lanjut

2024-06-03

2

Adin Da

Adin Da

kutu kupret

2024-05-23

0

Inyoman Raka

Inyoman Raka

mulai dah

2024-04-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!