SP 3

"Makanya kamu itu kalau kerja jangan lelet!!"

"Maaf, Pak!"

"Maaf, maaf! Kamu kira dengan kamu minta maaf, pelanggan saya bakal diam dan gak protes lagi? Hah?!"

Pria yang berperut buncit itu membentak Gavin membuat Gavin memejamkan matanya.

"Sana kerja lagi, kalau kamu masih gak becus kerjanya saya bakal pecat kamu!!" tekan pria itu, menunjuk Gavin dengan wajah kesal dan berlalu dari sana.

Sepeninggalan pria tersebut, Gavin mengepalkan tangannya.

"Andai aja lo bukan Boss gue, udah gue pukul perut buncit lu itu, sialan!!"

Dengan kasar Gavin kembali menyalakan air untuk mencuci mobil pada pelanggan di tempat cucian tersebut.

Dengan gerakan cepat Gavin membersihkan bagian-bagian mobil itu.

"Hadehhh, kaku tangan gue, gini amat hidup gue sekarang!"

Gavin memijit pergelangan tangannya dan membersihkan tangannya yang sedari tadi bermain dengan busa sabun.

Setelah selesai mencuci mobil yang satunya, Gavin berpindahnya ke mobil yang lain.

***

"Kamu itu sebenarnya bisa kerja, gak, sih? Kamu lihat dong, itu mobil saya masih kotor! Gimana, sih, kamu ini?!"

Gavin menunduk saat ia mendengar Omelan yang kesekian kalinya hari ini.

"Tapi itu sudah bersih, Pak," ucap Gavin mencoba untuk membela diri. Berpuluh menit ia mencuci mobil itu sampai sangat bersih supaya kerjanya tidak di komplain lagi tapi ternyata masih ada yang tidak puas dengan pelayanannya.

"Bersih kamu bilang? Itu kamu bilang bersih? Mata kamu gak ada? Kamu buta?" bentak laki-laki itu dengan sangat kasar dan kalimat yang sangat menyakitkan.

"Maaf, Pak. Saya akan bersihkan lagi, mohon tunggu sebentar," Gavin dengan cepat menghidupkan slang air untuk kembali membersihkan mobil yang katanya masih kotor itu.

"Harus! Kalau kamu gak bisa bersihin dalam lima menit lagi, saya gak mau bayar uangnya!" kesal bapak itu dan kemudian pergi dari sana meninggalkan Gavin yang mengumpat.

"Gak punya mata? Buta? Iya, tapi bukan gue yang gak punya mata. Lu yang gak punya mata. Sialan, pengen gue gorok tadi lehernya itu, ngeselin banget, sih."

Gavin terus saja menggerutu, membersihkan bagian yang menurut bapak tadi masih kotor. Padahal tidak ada kotoran sedikitpun di sana menurut Gavin.

***

"Ini upah kamu hari ini!"

Gavin memandang uang senilai seratus lima puluh ribu yang ada di tangannya itu dengan mata yang menajam.

"Kok cuma segini, Pak? Harusnya, kan, dua ratus ribu?" komplain Gavin. Enak saja, dia sudah susah-susah kerja sampai tangannya kram dan malah dikurangi jumlahnya.

"Itu karena kamu selalu bikin pelanggan marah! Makanya upah kamu saya potong!" ujar pria berperut buncit itu.

"Tapi, Pak?"

"Tapi apa? Mau kamu saya pecat? Kerja masih gak becus kayak gitu mau minta tambahan upah lagi!!" pria yang menjadi Boss Gavin itu melotot padanya. Setelah itu ia segera pergi dari sana.

"Ya Tuhan, kerja susah-susah malah di potong. Gimana mau kekumpul duit buat bayar kuliah kalau kayak gini ceritanya,"

Gavin mengusap rambutnya dengan kasar. Dengan langkah lunglai ia segera pergi dari sana dan memasukkan uang yang ia dapat hari ini ke dalam kantong celananya.

Gavin yang telah memilih kendaraan pun harus berjalan kaki kemana-mana agar ia bisa menghemat uangnya dan membayar uang kuliahnya.

Tiba di depan sebuah warung harian, Gavin masuk ke dalam sana.

"Udah datang kamu, cepat kerja! Banyak udah nungguin air galon mereka!"

Pemilik warung harian itu melotot ke arah Gavin.

"Iya, Bu. Saya baru selesai di sana," jawab Gavin. Maksudnya di tempat pencucian mobil tadi.

"Saya gak peduli! Cepat antar galon itu, jangan malas!"

Gavin meletakkan tas ransel yang selalu ia sandang itu di sudut warung itu. Dan ia segera mengangkat galon air minum itu ke atas mobil pick up untuk di antar ke rumah para pelanggan.

lebih dari dua puluh galon yang ga ini angkat membuat napas Gavin serasa ingin putus.

"Kalau kayak gini terus, bisa-bisa otot gue kayak binaragawan lagi, ih gak deh!" Gavin tidak suka dengan otot yang terlalu besar hingga menampakkan seperti urat-urat itu.

Gavin suka yang sedang-sedang saja. Agak geli gimana gitu.

"Saya pergi dulu, Buk!" ucap Gavin pada Ibu pemilik warung itu.

"Iya cepat sana! Jangan malas!" teriak ibu pemilik warung itu membuat Gavin mendecih dengan suara terkecil.

Gavin segera mengemudikan mobil pickup tersebut, berkeliling untuk mengantarkan air galon itu ke rumah langganan.

***

"Ini!"

Gavin menatap pasrah pada uang dua puluh lima ribu yang disodorkan oleh ibu pemilik warung tadi.

"Apa? Mau komplain?" bentak ibu itu membuat Gavin segera menggeleng.

"Enggak, Buk. Makasih, saya pergi dulu!"

Dengan langkah cepat Gavin segera pergi dari sana, menyandang tas ranselnya dan pergi dari sana.

Gavin melihat pada langit yang sudah mulai gelap. Sadar kalau di kos nya tidak ada makanan, akhirnya Gavin kembali lagi ke warung tadi.

"Apa lagi?" tanya ibu pemilik warung itu sarkas. Ia sedang menghitung pemasukan hari ini. Dan Gavin kira itu mungkin lebih dari sepuluh juta. Dan ibu itu hanya memberikannya dua puluh lima ribu saja.

'Dasar pelit!' rutuk Gavin dalam hatinya.

"Mau beli mie instan, Bu," jawab Gavin.

Ibu itu menoleh sebentar.

"Mie instan lagi? Ntar lagi kayak cacing kamu!" ketusnya, tapi tetap berjalan untuk mengambilkan Gavin mie instan.

"Mau berapa?" tanya ibu itu.

"Tiga aja," jawab Gavin singkat.

"Sembilan ribu,"

Gavin menyerahkan uang sepuluh ribu pada ibu pemilik warung tersebut.

"Kembaliannya!"

Gavin menerima uang koin seribuan itu, dan memasukkan ke dalam saku celananya. Bagi Gavin saat ini uang seribu itu sangat berharga untuknya.

Gavin segera pergi dari sana dengan tiga bungkus mie instan yang dijinjingnya.

Dengan berjalan kaki agak jauh dari tempat tadi, Gavin akan pulang ke kosnya. Ia sangat lelah, apalagi dia juga punya tugas kuliah yang harus dikerjakan.

"Udah pulang kamu, Vin?" tanya ibu kos yang sedang menyapu halaman.

"Iya, Bu," jawab Gavin sopan. "Mari, Bu. Saya permisi dulu," sambung Gavin.

Ibu itu mengangguk dan Gavin segera naik ke atas tempat kamar kostnya berada.

Di dalam kamarnya yang kecil itu, Gavin duduk di atas ranjang yang kecil tersebut.

Membuka tas ranselnya dan meletakkan tas itu di sampingnya.

Gavin mengeluarkan sebungkus mie instan dari dalam kantong yang tadi dijinjingnya.

"Ya Tuhan, semoga aku tidak usus buntu karena terus makan mie instan ini," ratap Gavin.

Ia segera berjalan di meja kecil yang ada di sana. Ada piring, sendok, gelas dan juga yang paling penting adalah termos di sana.

Karena bagi Gavin, termos itu adalah barang berharga untuknya supaya ia tidak kesusahan untuk memakan makanan rutinnya.

"Sabar ... sabar. Ini ujian .... Biasaalaah."

***

Terpopuler

Comments

Ini authornya cewe apa laki.. Ko di awal udh kaya cewe aja tingkah lakunya

2024-06-29

0

Anonymous

Anonymous

Harus melalui tempa'an baru akan tersa indah ending nya.

2024-06-16

0

Imam Sutoto

Imam Sutoto

semangat thor lanjut

2024-06-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!