SP 14

Madam Melly semakin berkeringat dingin. Menatap pada lubang yang akan mengeluarkan timah panas itu, dan membuat kepalanya bolong membuat Madam Melly merinding.

"Itu ... Itu dia,—"

Madam Melly meremas tangannya yang berkeringat dingin. Kaylee mengangkat alisnya.

"Bicaralah!" Suruh Kaylee yang membuat Madam Melly segera mengangguk.

Gavin bersidekap dada, ia menatap berminat pada drama yang dilihatnya itu.

"Dia ... Dia itu pacarku!!" ucap Madam Melly cepat.

Gavin dan Kaylee saling melirik satu sama lain.

"Katakan siapa pacarmu itu, dan tunjukkan pada kami foto aslinya!" ucap Kaylee.

Madam Melly mengangguk. Kenapa ia jadi tidak bisa bergerak di tempatnya sendiri? Madam Melly mengambil ponselnya yang disodorkan oleh salah seorang anak buahnya yang juga ketakutan pada Kaylee.

Lalu dengan cepat ia mencari foto itu dan menyerahkan ponsel itu pada Gavin.

Gavin ternganga saat ia melihat siapa orang yang ada di balik foto itu sebenarnya.

"Kau ... Madam, maksudmu, pacarmu itu namanya Rio?" tanya Gavin dengan sangat tidak percaya.

"Iya! Dia pacarku!" jawab Madam Kaylee cepat.

Gavin menghembus napas berat. Ia tidak menyangka kalau selera Rio menjadi serendah ini. Ya Tuhan. Gavin bersyukur karena sekarang ia sudah tidak berteman dengan laki-laki itu lagi.

"Turunkan senjatamu! Aku sudah menjawab semuanya!" ucap Madam Melly, sangat ketat dengan senjata yang bisa saja membuat nyawanya melayang kapan saja.

Kaylee tertawa kecil, ia menatap Madam Melly dengan tajam.

"Kau memang sudah menjawab semuanya, tapi kau tidak akan bisa lepas dari jerat hukum!" tegas Kaylee yang membuat Madam Melly melebarkan matanya.

"Apa maksudmu?" tanya Madam Melly.

Kaylee tertawa kecil. Dan di saat itu juga mereka yang ada di sana terkejut saat mendengar suara keributan dari arah luar.

"Kau ... Apa yang kau lakukan? Siapa kau?" tanya Madam Melly takut. Ia berdiri dan tegak dengan was-was. Berusaha untuk melihat apa yang terjadi di luar tapi tidak bisa.

Kaylee tidak menjawab, ia hanya mendengarkan keributan dari arah luar. Seseorang masuk kedalam ruangan yang menjadi tempat terjadinya ketegangan itu.

"Selamat malam, Komandan. Lapor! Kami sudah menangkap mereka semua, dan kami akan membawa mereka ke pos!"

Seorang laki-laki yang memakai jaket hitam kulit memberikan hormat kepada Kaylee.

"Laporan diterima! Bawa semuanya!" tegas Kaylee menjawab ucapan dari laki-laki tadi.

"Kau ...." Madam Melly yang sedang dipegangi oleh salah satu orang yang memakai jaket kulit hitam itu memandang Kaylee dengan marah.

Ia tidak pernah menyangka kalau kedatangan Kaylee akan menjadi sebuah masalah dan juga kehancuran untuk bisnisnya.

Kaylee mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, dan memperlihatkan benda itu pada Madam Melly dan juga Gavin yang masih syok.

Sebuah lencana kepolisian yang membuat Madam Melly dan juga Gavin semakin tidak percaya.

"Bawa mereka semua!" perintah Kaylee dengan tegas. Para bawahannya itu menjawab dengan sigap dan menggiring mereka semua ke kantor polisi.

Gavin mengusap matanya dan melihat Kaylee lagi.

"Ya Tuhan, aku bermain-main dengan seorang komandan," tatap Gavin. Masih tidak menyangka kalau Kaylee adalah seorang anggota kepolisian. Atau mungkin komandan?

"Keli, jangan bilang kalau mobil Lo yang mogok waktu itu kamuflase Lo aja?" tunjuk Gavin ke arah Kaylee.

Gadis bule itu hanya mengangkat bahunya acuh, seakan mengatakan kalau itu benar.

"Ya Tuhan! Wajah aja cakep, tapi suka nipu," sindir Gavin. Mengusap wajahnya dengan kasar, Gavin masih mencoba untuk tidak percaya, tapi kejadian tadi memaksanya untuk percaya.

"Maaf," ucap Kaylee singkat. Tapi wajahnya tampak tidak menunjukkan rasa penyesalan sama sekali.

"Apa tujuan Lo deketin gue?" tanya Gavin, ia menatap Kaylee dengan mata yang tajam.

"Untuk membongkar kasus ini," jawab Kaylee singkat.

"Maksudnya?" tanya Gavin yang tidak paham.

"Di bar waktu itu, aku melihat kau bersiteru dengan laki-laki yang bernama Rio itu. Aku dari awal sudah mencurigai dia. Tapi aku masih kesulitan untuk mencari bukti kalau dia dan Melly melakukan tindakan prostitus*, untungnya saat aku bertanya pada bartender itu, dia menjawab tanpa ragu! Kau memang membawa keberuntungan!" jelas Kaylee panjang lebar.

Gavin ternganga.

"Pembawa keberuntungan kau bilang? Kau menipuku, Keli!!" tekan Gavin kesal.

"Disini kita sama-sama diuntungkan! Kau bisa tetap lanjut kuliah, dan aku dapat menyelesaikan pekerjaanku!" ucap Kaylee.

Gavin diam. Benar juga, ya.

"Ikut aku! Kau akan menjadi salah satu saksi dari kasus ini!" ucap Kaylee.

Gavin mendengus, tapi ia tetap mengikuti langkah Kaylee yang berjalan keluar dari ruangan itu.

Di depan sana sudah lengang, semua pekerja di sana sudah digiring oleh polisi. Tiba di luar, Gavin melihat salah satu polisi memberikan tempat itu garis kepolisian.

Polisi itu mengangguk hormat pada Kaylee, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh gadis bule itu.

Gavin dan Kaylee pergi ke kantor polisi untuk memastikan semuanya. Sebenarnya Gavin tidak perlu, karena kesaksiannya itu hanya di perlukan nanti.

"Jadi ... Kapan kalian akan menangkap Rio?" tanya Gavin saat ia menyetir untuk Kaylee. Gavin menanyakan itu karena ia ingin hadir di saat penangkapan mantan temannya itu.

Gadis bule itu menoleh sekilas. "Besok! Di kampusnya!" jawab Kaylee singkat membuat Gavin tersenyum. Di balik senyumannya itu ada racun mematikan.

"Aku benar-benar tidak menyangka, kalau bule seperti kau ini adalah seorang polisi," ucap Gavin.

"Orangtuaku memang bule, tapi aku lahir di Indonesia. Jadi aku warga Indonesia yang sah!" jawab Kaylee.

Gavin dan Kaylee tiba di kantor polisi. Di tengah malam yang sudah larut ini, di kantor polisi tersebut sedang banyak orang yang terduduk dan juga menutup wajah mereka karena malu.

Para pekerja yang bekerja di tempat Madam Melly, semuanya tertangkap. Bahkan para pengunjung tempat itu juga di giring ke kantor polisi.

Gavin benar-benar tidak menyangka kalau ia memiliki kesangkutan dengan kasus ini.

"Keli, kau tidak akan menangkap aku juga, kan?" tanya Gavin saat ia berjalan di samping Kaylee.

"Kenapa kau terus memanggilku dengan sebutan Keli? Bukankah aku sudah mengatakan kalau namaku Kaylee, dan kau bisa memang Lee?" tanya Kaylee kesal.

"Karena aku suka memanggilmu seperti itu!"

***

Gavin duduk di atas ranjangnya. Hari yang sudah menjelang subuh membuatnya sangat mengantuk. Tapi ada satu hal yang harus Gavin lakukan.

Gavin mengambil laptop kecil miliknya yang ada di dalam lemari kecil di sudut kamar.

Menyalakan laptop tersebut, Gavin melihat pada ponsel Madam Melly yang tadi masih di tangannya.

Gavin mengirimkan foto itu ke laptopnya. Dengan tersenyum kejam, Gavin memposting foto memalukan itu ke forum kampus. Gavin yakin, kalau ini akan viral. Terlebih ada foto Rio yang lainnya juga Gavin sebar.

Foto Rio bersama dengan madam Melly yang tidak memakai pakaian sehelai benangpun. Dan masih banyaknya lagi.

"Dasar menjijikkan," ucap Gavin saat ia melihat banyak lagi foto yang ada di dalam ponsel itu.

Gavin tidak memberikan ponsel itu pada Kaylee karena ia membutuhkannya. Mungkin besok Gavin akan menyerahkannya sebagai barang bukti.

Setelah berhasil menyebar foto itu, Gavin tersenyum miring.

"Aku pasti akan membalas kalian satu persatu. Siapa saja yang sudah menghina dan juga merendahkan aku."

Gavin tersenyum dengan menakutkan.

"Anggap saja candaan dan juga senyuman ramahku itu sebagai kamuflase untuk menipu kalian!" sambung Gavin lagi, yang membuat udara pagi ini terasa lebih dingin lagi.

***

Happy reading, semoga suka.

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

DUH KAYLEE KAMU KOMANDAN POLISI KEREN👍

2024-07-19

2

@Atikha_Syam96

@Atikha_Syam96

kereeeen... dalam ngungkap kasus, gak bertele tele

2024-06-22

0

Olive Ova Ambitan

Olive Ova Ambitan

wow kerennn

2024-06-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!