Dua minggu berlalu. Kini tinggal lima orang saja yang bertahan di biro Detektif Carl termasuk dirinya setelah 10 orang lagi resign satu hari yang lalu.
Ya bisa di bilang saat ini detektif Carl sedang dalam puncak kondisi terburuknya. Bahkan untuk membayar gaji bulanan stafnya saja dia kesulitan sampai-sampai ia harus menjual hampir semua asetnya yang ada.
“Kantor sepi, lebih baik aku keluar sebentar untuk cari angin.” detektif Carl menutup kantornya setelah ia menyuruh empat stafnya untuk pulang lebih dulu karena tak ada klien yang datang meminta bantuannya.
Ia kemudian naik ke mobilnya yang sekarang tak mewah lagi seperti biasanya yang kini menjadi mobil butut setelah ia menggadaikannya.
“haah.” detektif Carl menarik nafas panjang dan berat selama mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang sepi untuk menghibur hatinya.
Ia pun menghentikan mobilnya di kawasan Park B, sebuah taman yang ada di ujung wilayahnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku ?” pria itu turun dari mobil dan duduk di sebuah batu besar yang ditata sedemikian rupa menghadap ke jalanan.
Untuk mengurangi penatnya dengan tekanan sekaligus cobaan yang datang tiba-tiba dan langsung menghimpitnya, ia pun menyesap beberapa batang rokok.
“Apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki dan mengembalikan semuanya seperti sedia kala ?” gumamnya menatap ke langit bukan untuk merutuk Tuhan memprotes karena masalah yang dijalaninya saat ini tapi karena memandang birunya langit membuatnya sedikit tenang.
Tanpa disangka sebuah mobil lain berhenti di dekat mobilnya terparkir. Seorang pria turun dari mobil mewahnya dengan setelan pakaian brand nomor satu menghampiri detektif Carl yang sedang melamun.
“Darcy ?” pekiknya setelah mendengar suara langkah kaki menuju ke arahnya dan ternyata orang yang paling tak ingin ditemuinya saat ini.
Darcy menetap pria itu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.
“ck... apa kau benar Carl ?” ledeknya mendapati tampilan rivalnya yang kini tak semewah dulu malahan terlihat seperti gembel sekarang dengan pakaian yang kusut juga wajah yang tertekuk.
“Kau Darcy pergi kau dari sini. Aku tak ingin melihatmu !” hardik detektif Carl muak melihat wajah angkuh rivalnya itu yang kini tengah menertawai dirinya, menertawai kemalangannya.
“Ini tempat umum bukan milikmu jadi siapa saja boleh berada di sini.” Darcy tak mau kalah dan bersikeras tak mau pergi dari kawasan yang tampak hijau dengan bunga yang bermekaran beraneka warna.
“Baiklah Jika kau tak mau angkat kaki dari sini maka aku saja yang akan pergi.” Detektif Carl benar-benar turun dari batu tempatnya duduk kemudian masuk ke mobil butut nya.
“haah... kau sudah mengaku kalah dariku.” detektif Darcy merasa puas bisa mempermalukan rival terberatnya itu sembari tersenyum lebar.
Detektif Carl tak langsung pulang ke rumahnya tapi dia memutar jalan untuk mencari tempat lain yang sepi dan juga nyaman untuk dirinya menenangkan diri dari semua masalah yang menimpanya.
“Kurasa menghabiskan waktu di sana enak.” pria itu menghentikan mobilnya di sebuah tanah kosong, tepatnya sebuah lapangan sepak bola yang luas.
Karena hanya ada rumput di sana maka ia pun duduk di atas rerumputan hijau.
“Jika saja mesin penjelajah waktu itu ada maka aku ingin pergi ke masa lalu untuk memperbaiki hidupku yang sekarang.” sesalnya tidak bisa melindungi semua asetnya yang berharga yang tentu saja ia peroleh tidak dengan cara yang mudah namun melalui perjuangan selama 7 tahun lamanya.
“Mungkin beberapa hari lagi aku akan menutup saja biro kantorku dan mencoba menggeluti pekerjaan di bidang lain.” gumamnya setelah berpikir panjang dan tak bisa menemukan solusi untuk permasalahannya.
Tak lama kemudian pria itu tertidur karena hembusan angin yang semilir di lapangan hijau tersebut.
Pria itu pun tertidur dan mengalami mimpi yang aneh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Abisena
mimpi apa yaa 🤔
2023-06-22
0
Jimmy Avolution
Ayo...
2023-05-23
1
Ra dhiraemon
lanjut
2023-03-24
1