Selalu ada pilihan

Sama seperti Mayang, dia juga tidak mau meneruskan tegurannya pada Erwin, dia lebih memilih untuk menghubungi seseorang melalui ponselnya.

“Bicara sama siapa?” tanya Erwin.

“Sopir di pabrik,” jawab Mayang.

Panggilan telepon yang dilakukan Mayang pada pangilan pertama tidak mendapat respon, lalu pada panggilan ke dua juga terjadi hal yang sama sampai dia mulai bosan dan memutuskan kalau sampai panggilan ke tiga tidak juga mendapat jawaban dia akan menghubungi sopirnya pagi-pagi sekali.

Untunglah pada panggilan yang ke tiga sopirnya menjawab teleponnya.

“Iya Bu.”

“Amung, kamu masih di pameran atau sudah di pabrik?” tanya Mayang sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Mayang berdiri kaku di depan kamar yang pintunya sudah terbuka. Wajahnya begitu pucat melihat keadaan kamar yang jauh dari kata rapi.

“Saya masih di pameran Bu. Tapi sebentar lagi mau pulang,” jawab Amung.

“Kalau begitu kamu ke rumah saya ya. Saya perlu bantuan kamu sama kenek kamu. Kamu bertiga kan?” suara Mayang kembali terdengar setelah beberapa lama dia hanya diam mematung.

“Iya, saya bertiga Bu. Baik Bu, saya segera berangkat ke rumah Ibu,” jawab Amung tanpa ragu.

“Terima kasih ya Mung. Saya tunggu kamu di rumah. Kalian mungkin akan lembur lebih lama,” kata Mayang menjelaskan.

“Tidak apa-apa Bu,” jawab Amung.

Mayang kembali menelepon seseorang, ia melihat Erwin berdiri termangu di depan kamarnya lalu mengeluarkan ponsel dan membuat beberapa foto mengenai situasi yang terjadi termasuk surat yang ditinggalkan Meli untuk Mayang.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Mayang pelan sebelum sambungan teleponnya terhubung.

“Halo Tante, malam ini saya pinjam mobil dan sopirnya untuk pindahan ya,” kata Mayang langsung pada tantenya yang bernama Indri yang merupakan adik kandung ibunya.

“Kamu mau pindah kemana May. Sebelumnya kamu tidak bicara apa-apa sama tante kok tiba-tiba mau pindah?” tanya Indri heran.

“Nanti Mayang cerita kenapa Mayang pindah malam-malam begini dan kenapa ga bicara apa-apa sebelumnya sama Tante,” ujar Mayang berusaha menunda memberikan penjelasan pada tante yang sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.

“Apa berhubungan dengan Meli?” duga Indri.

“Mayang janji akan cerita semuanya sama tante besok. Sekarang Mayang hanya ingin minta ijin untuk pinjam mobil dan sopir karena Mayang ga bisa menghubungi Om Alen,” kata Mayang tetap menolak memberi penjelasan seperti yang diminta oleh Indri.

“Ya sudah. Nanti tante sampaikan sama Om,” ucap Indri sebelum Mayang menutup teleponnya.

“Kau yakin kalau yang melakukan semua ini saudara kembarmu?” tanya Erwin tidak sabar.

Dia yang sudah terbiasa hidup dengan limpahan kasih sayang dari orang tua dan saudara-saudaranya masih menganggap semua yang terjadi bukan dilakukan oleh saudara perempuan Mayang. Bisa saja seorang perampok yang meninggalkan jejak sebagai Meli karena tahu hubungan mereka tidak baik.

“Kalau saja Meli tidak meninggalkan pesan, aku lebih percaya yang melakukannya adalah seorang pencuri. Tapi aku tidak bisa melimpahkan kesalahan tersebut pada pencuri,” jawab Mayang mulai berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Kamar yang selalu rapi sudah tidak terlihat lagi. Semua pakaian yang berada di dalam lemarinya sudah berada di atas lantai begitu juga dengan isi laci yang sebelumnya terkunci.

“Apa yang dicari saudaramu, mau jadi maling? Kalau aku jadi kau, aku langung lapor ke polisi,” ujar Erwin dengan suara menggeram.

“Yang dia cari pasti surat-surat penting atau buku tabunganku,” jawab Mayang pelan.

“Buku tabunganmu? Untuk apa?” tanya Erwin tidak mengerti.

“Tentu saja untuk menarik saldo yang ada.”

“Dia pernah mencuri sebelumnya?” Mata Erwin menyipit mendengar informasi yang sangat mengejutkan.

“Menurutnya bukan mencuri. Dia hanya mengambil sebagian haknya karena aku tidak memberikan uang padanya.”

“Hah?”

Tanpa dapat ditahan, Mayang tertawa geli melihat ekspresi Erwin yang shock mendengar ucapannya.

“Biasa aja Win. Meli selalu mengatakan karena kami memiliki wajah yang sama maka dia juga berhak menikmati apa yang sudah aku peroleh,” katanya mulai merapikan pakaiannya.

“Kau tadi bilang mau pindah, sebenarnya mau pindah kemana?” tanya Erwin.

Erwin yakin Nuri akan terus berusaha menyalahkan dirinya walaupun pada kenyataannya Meli adalah penjahatnya. Dia akhirnya ikut membantu Mayang dengan mengambil pakaian Mayang yang berada di lantai lalu meletakannya di atas tempat tidur seperti yang dilakukan oleh Mayang.

“Ke rumahku yang lain. Tapi malam ini aku akan menginap di hotel karena rumahku belum rapi. Baru minggu depan rumah tersebut sudah cukup nyaman untuk ditempati. Sebenarnya besok adalah waktunya penyerahan kunci rumah,” jawab Mayang yang kini mulai mengikat seprey yang dijadikan pembungkus pakaiannya.

Erwin memperhatikan semua gerakan Mayang, menurutnya Mayang perlu melampiaskan segala kemarahannya dan Mayang melakukannya dengan bekerja. Mayang berusaha tegar tetapi Erwin yakin kalau dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain.

Dua jam lamanya Mayang terus bekerja merapikan semua yang perlu dia rapikan untuk dibawa sopirnya ke tempat yang baru.

“Menurutku kau bisa istirahat sekarang,” perintah Erwin ketika isi kamar Mayang sudah dia rapikan seluruhnya.

“Masih banyak barang-barang yang harus aku rapikan Win,” Mayang menolak dengan melangkah ke dapur untuk beberes.

“Hentikan Mayang! Rumah ini sudah aku beli dan kau tidak perlu melakukan pekerjaan lainnya. Kau istirahat, besok orangku akan datang merapikannya untukmu. Apa sopirmu juga akan datang besok? Kalau ya semakin mudah memindahkan semua isi rumah ini.”

“Aku tidak bisa Win. Aku harus melakukan sesuatu,” Mayang bersikeras untuk melakukan semuanya.

“Sekarang kau lihat sudah jam berapa? Kau sudah lelah, kau tidak bisa memporsir tenagamu dengan sia-sia!”

“Ga ada yang sia-sia! Kau tahu selama ini aku selalu bekerja dan bekerja walaupun keluargaku selalu menganggap tidak bisa melakukan apa pun untuk mereka,” teriak Mayang membuat Erwin menarik tubuhnya dan memaksanya tetap berada di dalam pelukannya.

“Lepaskan aku Win.”

“Tidak. Kau harus berhenti!”

Dalam pelukan Erwin yang memaksa, Mayang berada cukup lama hingga Erwin melepaskannya setelah ia yakin Mayang sudah bisa mengendalikan dirinya dengan lebih baik.

"Terima kasih karena kamu sudah memberikan tempat ku bersandar."

“Katakan saja kalau kau memerlukannya aku akan segera datang,” jawab Erwin tersenyum.

“Kalau begitu aku akan ke kamar mandi lebih dulu untuk membersihkan tubuhku,” katanya mulai menjauh dari tubuh Erwin yang tegap seperti siap melindunginya.

Semua pakaian yang berada dalam lemari dan sudah dikeluarkan Meli sudah dimasukan kedalam koper dan sebagian dibungkus menggunakan seprey karena darurat.

Tubuh yang sudah bersih dan segar Mayang membuatnya terlihat lebih tenang saat dia membuka pintu kamar dan melihat Erwin yang berdiri menghadap jendela. Dia seperti sedang berpikir, entah apa yang sedang dia pikirkan. Entah menyesal karena mengantar dirinya pulang hingga dia harus membeli rumahnya atau ada alasan lain yang tidak dia ketahui.

Suara ketukan pintu tidak lama setelah suara mobil truk berhenti mengalihkan pikiran Mayang yang masih berdiri di depan pintu kamarnya mengamati Erwin.

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

untung Erwin gercep kalau ngk stres banget liat kaya gitu

2023-09-19

0

lihat semua
Episodes
1 Sakit kepala
2 Mengikuti kemauan
3 Ketemu mantan
4 Penasaran
5 Sakit hati
6 Kemarahan
7 Kapan berakhir
8 Selalu ada yang lain
9 Pengalaman baru
10 Penilaian
11 Perbedaan yang besar
12 Ketemu lagi
13 Sulit untuk percaya
14 Lebih dari permintaan
15 Lebih dari menerima
16 Tidak bisa memilih
17 Beda kelas
18 Cukup sudah
19 Menguji kesabaran
20 Selalu ada pilihan
21 Sebuah permulaan
22 Arti kesetiaan
23 Menginap di tempat asing
24 Nama yang tersimpan
25 Selalu ada sebab akibat
26 Pemandangan langka
27 Menyusun rencana
28 Godaan besar
29 Penemuan baru
30 Berpikir lurus
31 Tidak bergantung
32 Lebih dari sekedar ingin tahu
33 Tidak ada yang kebetulan
34 Bukan yang aku inginkan
35 Tidak adil
36 Jangan asal tuduh
37 Aku di matamu
38 Perhatian lebih
39 Sempurna
40 Bikin lupa
41 Hasil Menguping
42 Pertemuan kedua
43 Tidak rela melepaskan
44 Yang berbeda
45 Penilaian
46 Keyakinan dan kepastian
47 Uji mental
48 Wawancara atau interogasi
49 Melindungi
50 Keinginan Danisa
51 Belajar mengenal
52 Kedatangan Rachel
53 Telepon tengah malam
54 Bukan yang biasa
55 Ingin tahu
56 Banyak pertanyaan
57 Apa maunya
58 Deal
59 Ikut merasakan
60 Tantangan baru
61 Nasihat dari keluarga
62 Sebuah permintaan
63 Sebuah permainan baru
64 Bertemu Indri
65 Bukan seperti ini
66 Pesan dari keluarga
67 Penyelesaian yang jitu
68 Tertipu
69 Dia lagi
70 Yang berbeda
71 Pintu yang terbuka
72 Hari yang berbeda
73 Semangat Mayang
74 Perhatian
75 Jangan membuatku lemah
76 Keputusan
77 Tidak ada kebimbangan
78 Salah sasaran
79 Yang lama tersimpan
80 Sebab akibat
81 Peraturan
82 Ember bocor
83 Setipis kulit bawang
84 Panik
85 Aku menunggu
86 Bahagialah
87 Gencatan senjata
88 Tidak tahu malu
89 Tidak sebanding
90 Jangan memaksa
91 Perhatian yang berbeda
92 Sabar lebih baik
93 Istriku yang cantik
94 Seperti berada di dunia lain
95 Jangan ragu
96 Bukan topeng biasa
97 Sesuai keinginan
98 Nilai sebuah kepercayaan
99 Bukan yang lain
100 Puas berdua
101 Semudah itu
102 Menagih janji
103 Karyawan istimewa
104 Jalan keluar
105 Di luar kemampuan
106 Masihkah ada
107 Niat jahat
108 Janji
109 Informasi atau jebakan
110 Salah atau kalah
111 Peringatan
112 Ada untukmu
113 Cari ide
114 Sebuah usul
115 Yang terhebat
116 Bukan benar dan salah
117 Bersamamu
118 Jangan membuatku gila
119 Terluka kembali
120 Mengapa
121 Bercerminlah
122 Tidak ada kompromi
123 Antara masalah dan musibah
124 Tuduhan keji
125 Diam bukan emas
126 Haruskah menerima
127 Bukan pasangan yang tepat
128 Rencana yang gagal
129 Tidak menemukanmu
130 Kabar buruk atau bahagia
131 Mayang oh Mayang
132 Sesak dan menyakitkan
133 Ketika semua orang menyalahkan
134 Cantik mana
135 Perlahan tapi pasti
136 Kejutan
137 Isyarat
138 Dekat
139 Tambah dekat
140 Main cantik
141 Cari pemenang
142 Pulang
143 Kemarahan Riezka
144 Aku ingin menebus kesalahan
145 Penyesalan Erwin
146 Seperti orang asing
147 Tetap berusaha walaupun sulit
148 Episode baru kehidupan
149 Ijinkan aku bahagia
150 Sakitnya masih terasa
151 Pelan tapi pasti
152 Wajah asing
153 Jangan membuatku kecewa lagi
154 Semua ingin bahagia
155 Salah paham
156 Semua sudah selesai
Episodes

Updated 156 Episodes

1
Sakit kepala
2
Mengikuti kemauan
3
Ketemu mantan
4
Penasaran
5
Sakit hati
6
Kemarahan
7
Kapan berakhir
8
Selalu ada yang lain
9
Pengalaman baru
10
Penilaian
11
Perbedaan yang besar
12
Ketemu lagi
13
Sulit untuk percaya
14
Lebih dari permintaan
15
Lebih dari menerima
16
Tidak bisa memilih
17
Beda kelas
18
Cukup sudah
19
Menguji kesabaran
20
Selalu ada pilihan
21
Sebuah permulaan
22
Arti kesetiaan
23
Menginap di tempat asing
24
Nama yang tersimpan
25
Selalu ada sebab akibat
26
Pemandangan langka
27
Menyusun rencana
28
Godaan besar
29
Penemuan baru
30
Berpikir lurus
31
Tidak bergantung
32
Lebih dari sekedar ingin tahu
33
Tidak ada yang kebetulan
34
Bukan yang aku inginkan
35
Tidak adil
36
Jangan asal tuduh
37
Aku di matamu
38
Perhatian lebih
39
Sempurna
40
Bikin lupa
41
Hasil Menguping
42
Pertemuan kedua
43
Tidak rela melepaskan
44
Yang berbeda
45
Penilaian
46
Keyakinan dan kepastian
47
Uji mental
48
Wawancara atau interogasi
49
Melindungi
50
Keinginan Danisa
51
Belajar mengenal
52
Kedatangan Rachel
53
Telepon tengah malam
54
Bukan yang biasa
55
Ingin tahu
56
Banyak pertanyaan
57
Apa maunya
58
Deal
59
Ikut merasakan
60
Tantangan baru
61
Nasihat dari keluarga
62
Sebuah permintaan
63
Sebuah permainan baru
64
Bertemu Indri
65
Bukan seperti ini
66
Pesan dari keluarga
67
Penyelesaian yang jitu
68
Tertipu
69
Dia lagi
70
Yang berbeda
71
Pintu yang terbuka
72
Hari yang berbeda
73
Semangat Mayang
74
Perhatian
75
Jangan membuatku lemah
76
Keputusan
77
Tidak ada kebimbangan
78
Salah sasaran
79
Yang lama tersimpan
80
Sebab akibat
81
Peraturan
82
Ember bocor
83
Setipis kulit bawang
84
Panik
85
Aku menunggu
86
Bahagialah
87
Gencatan senjata
88
Tidak tahu malu
89
Tidak sebanding
90
Jangan memaksa
91
Perhatian yang berbeda
92
Sabar lebih baik
93
Istriku yang cantik
94
Seperti berada di dunia lain
95
Jangan ragu
96
Bukan topeng biasa
97
Sesuai keinginan
98
Nilai sebuah kepercayaan
99
Bukan yang lain
100
Puas berdua
101
Semudah itu
102
Menagih janji
103
Karyawan istimewa
104
Jalan keluar
105
Di luar kemampuan
106
Masihkah ada
107
Niat jahat
108
Janji
109
Informasi atau jebakan
110
Salah atau kalah
111
Peringatan
112
Ada untukmu
113
Cari ide
114
Sebuah usul
115
Yang terhebat
116
Bukan benar dan salah
117
Bersamamu
118
Jangan membuatku gila
119
Terluka kembali
120
Mengapa
121
Bercerminlah
122
Tidak ada kompromi
123
Antara masalah dan musibah
124
Tuduhan keji
125
Diam bukan emas
126
Haruskah menerima
127
Bukan pasangan yang tepat
128
Rencana yang gagal
129
Tidak menemukanmu
130
Kabar buruk atau bahagia
131
Mayang oh Mayang
132
Sesak dan menyakitkan
133
Ketika semua orang menyalahkan
134
Cantik mana
135
Perlahan tapi pasti
136
Kejutan
137
Isyarat
138
Dekat
139
Tambah dekat
140
Main cantik
141
Cari pemenang
142
Pulang
143
Kemarahan Riezka
144
Aku ingin menebus kesalahan
145
Penyesalan Erwin
146
Seperti orang asing
147
Tetap berusaha walaupun sulit
148
Episode baru kehidupan
149
Ijinkan aku bahagia
150
Sakitnya masih terasa
151
Pelan tapi pasti
152
Wajah asing
153
Jangan membuatku kecewa lagi
154
Semua ingin bahagia
155
Salah paham
156
Semua sudah selesai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!