Tanpa terasa Mayang sudah begitu lama berada di dalam mall dan kakinya mulai terasa pegal ketika mereka berjalan keluar menuju area lobby dan menunggy valet parker mengambil mobil Erwin.
“Besok adalah akhir pecan dan aku berencana untuk menjemputmu besok. Bagaimana kalau jam 10?”
“Menjemputku? Untuk apa?” tanya Mayang menoleh ke arah Erwin dan mata mereka bertemu hingga Mayang buru-buru berpaling kembali.
“Seperti yang kau inginkan sebagai syarat mendapatkan jawaban darimu, aku akan mengenalkan dirimu pada keluargaku.”
“Tapi tidak secepat itu Win. Aku harus mempersiapkan diri lebih dulu,” tegur Mayang.
“Tidak ada yang perlu dipersiapkan. Kau hanya perlu menjawab bahwa kau siap menikah denganku,” jawab Erwin kembali membuat wajah Mayang cemberut.
“Aku tidak percaya kau bisa melakukan tindakan seperti ini. Memaksaku dengan cara yang sangat halus,” grutu Mayang sementara Erwin hanya tertawa menanggapinya.
Erwin tidak perlu menjelaskan pada Mayang bahwa dia sudah memberi kabar pada orang tuanya saat Mayang ke toilet yang berada di gallery sebelum pulang dan dia juga tidak perlu mengatakan pada Mayang bahwa kakeknya akan datang untuk menilai langsung wanita yang akan menjadi istrinya.
Melihat Erwin tidak memberikan tanggapan, Mayang sudah berniat membuka mulutnya bahwa dia besok ada acara yang tidak bisa dia tinggalkan yaitu menerima kunci dari rumah yang sudah dia cicil selama bertahun-tahun. Sayang mobil Erwin sudah tiba hingga dia mengurungkan niatnya. Untuk sementara waktu.
Selama perjalanan menuju rumah Mayang, Erwin seringkali memergoki Mayang yang terkantuk-kantuk hingga dia menyuruhnya untuk tidur.
“Apa semalam kau begadang? Sebaiknya kau tidur dulu, tetapi berikan aku titik koordinat rumahmu agar lebih mudah dan tidak mengganggu tidurmu,” kata Erwin perhatian.
Dengan wajah yang benar-benar mengantuk, Mayang memberikan titik koordinat rumahnya di layar gps mobil Erwin.
“Oke, sekarang tidurlah!”
“Hem.”
Tanpa membantah, Mayang segera mengeluarkan masker dan memasangnya sebelum dia tertidur dengan pulasnya sampai Erwin tidak menyadari kalau Mayang sudah menikmati mimpinya.
Erwin baru saja melirik Mayang untuk memastikan apakah Mayang sudah tidur atau belum dan dia hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Bagaimana dia bisa cepat sekali pulas. Kau memang wanita yang pintar, Yang. Kau menjaga penampilan dirimu dengan cara yang sangat sederhana. Banyak orang menjadi ilfeel saat melihat seorang wanita tidur dengan mulut terbuka, tapi kau melakukan hal yang menurutku tidak terpikirkan bagi mereka yang sudah sangat mengantuk.”
Mengikuti arahan gps yang diberikan Mayang, Erwin terus mengemudi dan sesekali ia melirik Mayang sementara lalu lintas sangat padat merayap hingga membutuhkan waktu hampir 2 jam untuk tiba di tempat yang sesuai dengan titik koordinat yang sudah ditentukan.
“Yang…Mayang, kita sudah sampe di depan rumahmu,” bisik Erwin.
Dengan gerakan pelan Erwin membangunkan Mayang yang sebelumnya sudah beberapa kali terbangun untuk memastikan apakah mereka sudah sampai atau belum, tetapi Erwin selalu menyuruhnya tidur kembali karena dia melihat Mayang sangat mengantuk. Entah apa yang sudah dikerjakan olehnya sehingga terlihat sangat lelah.
Mayang mengerjapkan matanya mencoba menormalkan pandangannya dan ia berbisik dengan suara serak karena baru bangun, “Kenapa kau tidak bangunkan aku sebelum sampe,” katanya dengan nada protes.
“Kau sangat pulas dan aku bukan lelaki yang begitu tega mengganggu tidur seorang wanita yang sangat menarik,” senyum Erwin.
“Alasan,” grutu Mayang membuat Erwin tertawa.
Dengan perlahan Mayang melepaskan masker yang dia pakai lalu mengeluarkan botol minuman hingga menarik perhatian Erwin.
“Apa yang kamu minum dan apa yang ada di dalam botol minummu?” katanya heran.
“Ini? Ini adalah air putih biasa. Sengaja aku memberinya irisan jeruk lemon. Kau tahu manfaatnya banyak dan salah satunya adalah menyegarkan mataku agar lebih melek,” jawab Mayang membuat Erwin tertawa.
"Berikan padaku, sepertinya aku membutuhkan setelah kemacetan tadi!"
“Tapi aku tidak membawa sedotan atau gelas,” kata Mayang ragu-ragu.
“Aku yakin kau tidak menderita penyakit menular, jadi berikan saja padaku,” kata Erwin tidak peduli kalau dia akan meminum dari botol yang sama dengan Mayang.
Dengan ragu-ragu Mayang memberikan botol minumannya yang langsung di terima oleh Erwin dan ia menenggak isinya hingga hampir habis walaupun mulutnya meringis karena rasanya.
“Kau itu suka atau haus sih. Ga kira-kira minumnya,” tegur Mayang setelah menerima kembali botol minumnya.
“Suka dan juga kehausan. Aku tidak mengira kalau lalu lintas sangat macet. Apa itu rumahmu, kenapa sepi sekali.”
“Kami hanya tinggal berdua di Jakarta, mungkin Meli belum pulang,” jawab Mayang sembari melepaskan seatbelt pengaman yang diikuti oleh Erwin.
“Sejak kapan kalian tinggal hanya berdua, lalu dimana orang tuamu?” tanya Erwin tertarik.
“Orang tuaku tinggal di luar kota. Pada awalnya aku tinggal sendiri lalu Meli ikut tinggal bersama denganku,” jawab Mayang menjelaskan.
“Aku tahu kau sangat cape setelah mengemudi, apa kau mau mampir?” tanya Mayang.
“Terima kasih untuk tawarannya, rasanya pegal sekali kalau sudah macet di jalan," kata Erwin yang mengikuti Mayang keluar dari mobil lalu berjalan menuju rumah yang memiliki ukuran cukup besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments