Selalu ada yang lain

Bus yang mereka tumpangi akhirnya mulai memasuki kawasan Bandara, Mayang mulai membuka matanya lalu memandang sekelilingnya. Tidak terlihat sebagai penumpang yang terkejut atau bingung. Setelah kantuknya hilang, dia mengambil botol air yang selalu dibawa dan meminum isinya.

Mayang tengah merapikan diri agar terlihat tidak kusut saat turun dari bus ketika ia mendengar suara dari sebelahnya,’ Anda akan menjemput tamu dengan penampilan seperti itu?"

“Maksud Anda dengan ‘penampilan seperti itu’ apa ya?”

“Maksudku Anda terlihat begitu polos dan sangat terlihat kalau Anda baru bangun tidur. Apakah bos Anda tidak marah atau menegur?"

“Hanya pimpinan yang tidak tahu bagaimana menarik pembeli yang akan membiarkan pegawainya terlihat kusut dan tidak professional,” jawab Mayang. “Dan aku adalah pegawai yang memperhatikan penampilan yang baik,” lanjutnya.

“Lagipula tidak mungkin aku menarik perhatian penumpang bus dengan membuat tutorial saat memakai make-up," katanya lagi melihat lelaki yang di sebelahnya tetap memperhatikan dirinya.

“Anda benar-benar tidak terduga, oh ya namaku Daniel, dan kau?”

“Nona."

“Nona, apakah ada nama panjangnya lagi?"

“Buatku cukup Nona, kecuali Anda mau menambahkan menjadi Nona Manis siapa yang punya,” jawab Mayang tertawa.

Mendengar jawaban Mayang membuat Danile tertawa dan mengerti bahwa gadis di sebelahnya tidak mengijinkan orang yang baru dikenalnya mengetahui namanya.

Daniel menilai sikap Mayang sangat menarik karena dia tidak sembarangan memberikan dan menyebutkan namanya pada orang yang baru dia temui apalagi di perjalanan yang selalu tidak pasti apakah mereka akan bertemu lagi atau tidak.

Menurut Daniel sikap Mayang adalah salah satu sikap yang harusnya dimiliki seorang wanita. Tidak mudah percaya dengan seorang lelaki. Bagi Daniel sikap seperti itu adalah salah satu sikap dasar menjaga diri dan dia sangat menyukai sikap seperti itu.

"Kalau begitu boleh aku memanggilmu nona Beauty?” goda Daniel setelah beberapa saat dia terdiam.

“Apakah itu artinya Anda memuji ku?" balas Mayang tertawa.

“Mungkin, karena aku begitu tertarik dengan sikapmu," jawab Daniel.

Mayang tidak langsung menanggapi ucapan Daniel karena bus mulai memasuki terminal 3 dan suara speaker di bus juga mulai mengingatkan penumpang yang akan turun.

Bus sudah berhenti membuat Mayang segera melangkah keluar. Dia tidak tahu kalau Daniel, lelaki yang duduk di sebelahnya juga ikut turun. Baginya saat kendaraan berhenti menurunkan penumpang maka segala obrolan maupun pembicaraan yang terjadi sebelumnya sudah selesai.

Mayang melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya saat dia berjalan cepat menuju toilet. Tujuannya hanya satu yaitu untuk merapikan diri dan membuat wajahnya tidak lagi terlihat baru bangun tidur dengan sedikit riasan hingga wajahnya sudah terlihat lebih berseri dari sebelumnya.

“Ternyata kau sangat menarik setelah berdandan seperti wanita yang lainnya," terdengar suara berisi pujian dari arah samping Mayang membuatnya terkejut.

“Aku minta maaf kalau suaraku sudah membuatmu terkejut,” kata Daniel buru-buru dengan rasa bersalah.

Mayang menatap Daniel dengan mata menyipit, "Apa yang kau lakukan di depan toilet wanita? Apakah kau mempunyai maksud lain?”

Mendengar tuduhan Mayang, mata Daniel bersinar tajam. "Maksud lain apa? Aku hanya ingin memberikan ini padamu. Aku menemukan ini di jok kursi tempat kau duduk tadi,” beritahu Daniel sambil menyerahkan buku agenda yang terkunci pada Mayang.

"Oh, bagaimana aku bisa lupa dengan buku aku sendiri. Terima kasih. Maaf ya aku tadi sudah menuduhmu”

Mayang merasa bersalah karena sudah menuduh Daniel sementara pria itu bermaksud baik padanya. Tapi…ada yang salah. Bukankah tadi Daniel sedang terburu-buru tapi mengapa sekarang pria itu malah berdiri di depannya. Sama sekali tidak terlihat kalau dia dikejar waktu karena pesawatnya akan berangkat. Atau…dia sudah terlambat?

“Hey kenapa melamun. Aku tahu kok kalau kau tidak bermaksud menuduhku,” kata Daniel tertawa.

“Siapa bilang aku melamun. Aku hanya berpikir apa yang kau lakukan di sini sementara kau harus bergegas.”

“Tidak jadi. Temanku kasih kabar kalau pesawatku delay 1 jam jadi aku masih ada waktu untuk memberikan ini padamu,” jawab Daniel.

“Oh. Sekali lagi terima kasih sudah mau repot memberikan ini padaku,” sahut Mayang dengan menunjukkan agendanya.

“Sama-sama. Boleh aku bertanya, kenapa kau berada di sini sementara bagian kedatangan berada di sebelah sana?” tanya Daniel menunjuk arah yang berbeda.

Suara tawa Mayang terdengar sebelum menjawab pertanyaan Daniel. Tidak terpikir olehnya Daniel akan bertanya sesuatu yang menurut sebagian orang mungkin tidak ada bedanya.

"Aku pernah mengalami antri ketika masuk ke toilet kedatangan walaupun hanya sekali, tetapi itu sudah cukup bagiku untuk menjadi pengingat bahwa aku tidak boleh melakukan kesalahan yang sama lagi. Terutama kalau aku dalam keadaan terdesak."

"Menarik dan tidak terpikir olehku. Jadi kau berinisiatif untuk sesuatu yang sering diabaikan atau tidak begitu dianggap penting."

"Aku minta maaf tidak bisa menemanimu di sini karena aku harus menemui tamuku. Sekali lagi terima kasih sudah membawakan ini untukku.”

"Sama-sama, senang bisa membantumu."

Setelah mengucapkan salam perpisahan Mayang berjalan lebih cepat menuju bagian kedatangan karena ia tidak mau terlambat apalagi mengecewakan tamunya.

Mayang menarik nafas begitu ia sampai dan melihat jamnya untuk memastikan bahwa tamu yang akan datang belum tiba.

Mata Mayang menjelajah untuk memastikan apakah sopir perusahaan sudah tiba atau belum kemudian dari arah kanan ia melihat Ali berjalan menuju tempat dia sedang berdiri.

“Tamunya belum datang Bu?"

“Belum, makanya saya lagi perhatiin penumpang yang melewati pintu keluar itu," jawab Mayang mencoba mencari wajah tamunya. Dan senyumnya terlihat saat dia melihat sosok wanita yang tetap cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.

“Bu Lily…apa kabar,” sapa Mayang pada seorang wanita yang selalu baik dan perhatian padanya.

“Kabar aku baik dan kau sendiri makin terlihat cantik saja,” jawab Lily memuji Mayang.

“Ibu bisa saja. Tapi harus saya katakan Aamiin karena ucapan ibu adalah doa bagi saya,” jawab Mayang membuat Lily tertawa.

“Kau selalu bisa membalas kata-kataku. Hmm…Mayang, apa kita langsung ke work shop atau kau akan mengantarku ke pameran?” tanya Luly saat mereka berjalan menuju mobil yang sudah di parkir Ali tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri.

"Bagaimana kalau kita ke work shop lebih dulu. Seperti yang saya sampaikan pada ibu kalau kami mempunyai design baru dan sebagai klien special, baru ibu yang saya tawarkan karena ibu adalah costumer dengan omzet paling besar,” jawab Mayang.

“Kau selalu bisa merayuku Mayang. Tapi memang aku sudah jatuh hati pada design yang kau tawarkan hingga aku tidak sabar untuk melihatnya langsung.”

“Tentu saja saya sangat gembira karena ibu langsung meresponnya sehingga saya tidak perlu menawarkan pada pemilik showroom yang ada di daerah lain,” jawab Mayang tersenyum gembira.

Lilyana Hariyanto adalah salah seorang pemilik hotel dan juga Mall yang berasal dari salah satu kota yang berada di Indonesia bagian timur selain itu dia juga menjadi salah satu klien tetap produk furniture perusahaan Dorama Furniture tempat Mayang bekerja.

Hubungan Lily dengan Dorama berjalan dengan baik karena Lily selalu memenuhi kewajibannya dalam hal pembayaran sehingga Dorama selalu berusaha memberikan pelayanan yang baik dan semua itu dilakukan melalui kegesitan Mayang dalam bekerja.

Mayang tidak pernah mengecewakan kliennya dan ia selalu berusaha mencari solusi ketika menghadapi ekspedisi atau jasa pengiriman yang menggunakan container tiba-tiba terjadi kendala.

Mayang selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik meskipun om nya terkadang masih marah padanya. Apalagi setelah mendengar kalimat menghasut yang disampaikan Hana pada Om nya.

“Mayang, kemarin saya telepon kamu di kantor katanya sedang keluar. Aku berharap kau bisa menghubungi kembali karena aku sudah menitip pesan sama Hanna. Kau tahu, aku sampai malam masih menunggu kau menelepon balik.”

"Saya minta maaf Bu, kemarin saya memang berada di pameran dan lupa mengaktifkan ponsel saya. Sekali lagi saya mohon maaf karena tidak buru-buru menjawabnya. Saya benar-benar menyesal.”

Dalam hatinya Mayang kembali menyalahkan Hanna maupun Stella yang tidak bersedia menyampaikan pesan dari Lily untuknya.

Ia tidak mengerti apa tujuan Stela dan Hanna yang sebenarnya. Bukankah semua itu bisa merugikan perusahaan, apalagi kalau ada pesanan khusus? Saat ini Mayang hanya bisa mengikuti karena waktunya lebih banyak di luar.

"Saya tidak mengira kalau kau juga ikut serta mengawasi pameran. Apakah tidak ada orang lain lagi? Maksud saya yang bisa membantu pekerjaanmu."

"Kami bekerja bersama dan mempunyai tugas masing-masing. Selama saya masih bisa mengatasi, tidak masalah buat saya Bu. Dan saya bersyukur saya masih bisa bekerja dengan baik."

"Yang penting kau selalu menjaga kesehatan jangan sampai tenagamu dimanfaatkan orang lain.”

“Tentu Bu, terima kasih sudah mengingatkan. Saya pasti akan menjaga kesehatan dengan baik. Work shopnya masih jauh tidak?”

“Sebentar lagi kita sampai,” jawab Mayang dengan senyuman yang tidak pernah meninggalkan bibirnya.

Mayang dan Lily segera keluar dari dalam mobil dan Stela datang untuk menyambut kedatangannya.

"Selamat datang di workshop kami Bu Lily, saya harap ibu tidak terlalu lama menunggu," sapa Stella ramah.

"Terima kasih Kak Mayang sudah bersedia menemui Bu Lily di bandara dan menemaninya kesini," kata Stella dengan senyum manisnya sementara Mayang mengerutkan kening.

Apa maksud Stela, apakah dirinya sama sekali tidak dianggap sementara tamu yang baru datang adalah kliennya.

“Mari Bu, saya akan mengenalkan produk baru kami. Saat ini workshop kami sudah mengeluarkan produk baru dan ibu beruntung karena mendapatkan kesempatan pertama untuk membelinya dan menjadikan barang andalan di showroom ibu," ucap Stella menyela posisi Mayang yang lebih tinggi darinya.

"Maaf Bu Stella, saya tidak mengerti masalah pengaturan disini, tapi saya sudah sekian lama menjadi customer Mayang. Jadi saya minta maaf kalau saya ingin Mayang yang memberi penjelasan pada saya. Bagaimana pun Mayang yang sudah mengundang saya ke sini," tegur Lily tajam.

Lily terlihat tidak menyukai sikap Stela yang menurutnya tidak pantas, apalagi ditujukan pada senior sekaligus atasannya sendiri.

“Sebenarnya antara saya maupun Kak Mayang memiliki tanggung jawab yang sama untuk memasarkan produk kami, saya yang bertugas di workshop sedangkan Kak Mayang bertugas di luar. Saya harap ibu tidak keberatan," kata Stella bersikap keras hati membuat Mayang tidak nyaman.

"Maaf Bu Lily, silahkan ibu lihat-lihat dulu mana produk baru kami yang bisa membuat ibu tertarik dan kami akan memberikan penjelasan dengan detail apa keistimewaan nya," saran Mayang dengan ramah.

“Mungkin saya termasuk costumer yang sulit Bu Stella apalagi kalau ada yang tidak saya sukai. Bagi saya tanggung jawab dan pelayanan adalah yang terpenting,” jawab Lily.

“Mari Bu….” Ajak Mayang pada tamunya.

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

ngk di rmh ngk di kantor ada aja, bikin naik kelas y May

2023-09-19

0

lihat semua
Episodes
1 Sakit kepala
2 Mengikuti kemauan
3 Ketemu mantan
4 Penasaran
5 Sakit hati
6 Kemarahan
7 Kapan berakhir
8 Selalu ada yang lain
9 Pengalaman baru
10 Penilaian
11 Perbedaan yang besar
12 Ketemu lagi
13 Sulit untuk percaya
14 Lebih dari permintaan
15 Lebih dari menerima
16 Tidak bisa memilih
17 Beda kelas
18 Cukup sudah
19 Menguji kesabaran
20 Selalu ada pilihan
21 Sebuah permulaan
22 Arti kesetiaan
23 Menginap di tempat asing
24 Nama yang tersimpan
25 Selalu ada sebab akibat
26 Pemandangan langka
27 Menyusun rencana
28 Godaan besar
29 Penemuan baru
30 Berpikir lurus
31 Tidak bergantung
32 Lebih dari sekedar ingin tahu
33 Tidak ada yang kebetulan
34 Bukan yang aku inginkan
35 Tidak adil
36 Jangan asal tuduh
37 Aku di matamu
38 Perhatian lebih
39 Sempurna
40 Bikin lupa
41 Hasil Menguping
42 Pertemuan kedua
43 Tidak rela melepaskan
44 Yang berbeda
45 Penilaian
46 Keyakinan dan kepastian
47 Uji mental
48 Wawancara atau interogasi
49 Melindungi
50 Keinginan Danisa
51 Belajar mengenal
52 Kedatangan Rachel
53 Telepon tengah malam
54 Bukan yang biasa
55 Ingin tahu
56 Banyak pertanyaan
57 Apa maunya
58 Deal
59 Ikut merasakan
60 Tantangan baru
61 Nasihat dari keluarga
62 Sebuah permintaan
63 Sebuah permainan baru
64 Bertemu Indri
65 Bukan seperti ini
66 Pesan dari keluarga
67 Penyelesaian yang jitu
68 Tertipu
69 Dia lagi
70 Yang berbeda
71 Pintu yang terbuka
72 Hari yang berbeda
73 Semangat Mayang
74 Perhatian
75 Jangan membuatku lemah
76 Keputusan
77 Tidak ada kebimbangan
78 Salah sasaran
79 Yang lama tersimpan
80 Sebab akibat
81 Peraturan
82 Ember bocor
83 Setipis kulit bawang
84 Panik
85 Aku menunggu
86 Bahagialah
87 Gencatan senjata
88 Tidak tahu malu
89 Tidak sebanding
90 Jangan memaksa
91 Perhatian yang berbeda
92 Sabar lebih baik
93 Istriku yang cantik
94 Seperti berada di dunia lain
95 Jangan ragu
96 Bukan topeng biasa
97 Sesuai keinginan
98 Nilai sebuah kepercayaan
99 Bukan yang lain
100 Puas berdua
101 Semudah itu
102 Menagih janji
103 Karyawan istimewa
104 Jalan keluar
105 Di luar kemampuan
106 Masihkah ada
107 Niat jahat
108 Janji
109 Informasi atau jebakan
110 Salah atau kalah
111 Peringatan
112 Ada untukmu
113 Cari ide
114 Sebuah usul
115 Yang terhebat
116 Bukan benar dan salah
117 Bersamamu
118 Jangan membuatku gila
119 Terluka kembali
120 Mengapa
121 Bercerminlah
122 Tidak ada kompromi
123 Antara masalah dan musibah
124 Tuduhan keji
125 Diam bukan emas
126 Haruskah menerima
127 Bukan pasangan yang tepat
128 Rencana yang gagal
129 Tidak menemukanmu
130 Kabar buruk atau bahagia
131 Mayang oh Mayang
132 Sesak dan menyakitkan
133 Ketika semua orang menyalahkan
134 Cantik mana
135 Perlahan tapi pasti
136 Kejutan
137 Isyarat
138 Dekat
139 Tambah dekat
140 Main cantik
141 Cari pemenang
142 Pulang
143 Kemarahan Riezka
144 Aku ingin menebus kesalahan
145 Penyesalan Erwin
146 Seperti orang asing
147 Tetap berusaha walaupun sulit
148 Episode baru kehidupan
149 Ijinkan aku bahagia
150 Sakitnya masih terasa
151 Pelan tapi pasti
152 Wajah asing
153 Jangan membuatku kecewa lagi
154 Semua ingin bahagia
155 Salah paham
156 Semua sudah selesai
Episodes

Updated 156 Episodes

1
Sakit kepala
2
Mengikuti kemauan
3
Ketemu mantan
4
Penasaran
5
Sakit hati
6
Kemarahan
7
Kapan berakhir
8
Selalu ada yang lain
9
Pengalaman baru
10
Penilaian
11
Perbedaan yang besar
12
Ketemu lagi
13
Sulit untuk percaya
14
Lebih dari permintaan
15
Lebih dari menerima
16
Tidak bisa memilih
17
Beda kelas
18
Cukup sudah
19
Menguji kesabaran
20
Selalu ada pilihan
21
Sebuah permulaan
22
Arti kesetiaan
23
Menginap di tempat asing
24
Nama yang tersimpan
25
Selalu ada sebab akibat
26
Pemandangan langka
27
Menyusun rencana
28
Godaan besar
29
Penemuan baru
30
Berpikir lurus
31
Tidak bergantung
32
Lebih dari sekedar ingin tahu
33
Tidak ada yang kebetulan
34
Bukan yang aku inginkan
35
Tidak adil
36
Jangan asal tuduh
37
Aku di matamu
38
Perhatian lebih
39
Sempurna
40
Bikin lupa
41
Hasil Menguping
42
Pertemuan kedua
43
Tidak rela melepaskan
44
Yang berbeda
45
Penilaian
46
Keyakinan dan kepastian
47
Uji mental
48
Wawancara atau interogasi
49
Melindungi
50
Keinginan Danisa
51
Belajar mengenal
52
Kedatangan Rachel
53
Telepon tengah malam
54
Bukan yang biasa
55
Ingin tahu
56
Banyak pertanyaan
57
Apa maunya
58
Deal
59
Ikut merasakan
60
Tantangan baru
61
Nasihat dari keluarga
62
Sebuah permintaan
63
Sebuah permainan baru
64
Bertemu Indri
65
Bukan seperti ini
66
Pesan dari keluarga
67
Penyelesaian yang jitu
68
Tertipu
69
Dia lagi
70
Yang berbeda
71
Pintu yang terbuka
72
Hari yang berbeda
73
Semangat Mayang
74
Perhatian
75
Jangan membuatku lemah
76
Keputusan
77
Tidak ada kebimbangan
78
Salah sasaran
79
Yang lama tersimpan
80
Sebab akibat
81
Peraturan
82
Ember bocor
83
Setipis kulit bawang
84
Panik
85
Aku menunggu
86
Bahagialah
87
Gencatan senjata
88
Tidak tahu malu
89
Tidak sebanding
90
Jangan memaksa
91
Perhatian yang berbeda
92
Sabar lebih baik
93
Istriku yang cantik
94
Seperti berada di dunia lain
95
Jangan ragu
96
Bukan topeng biasa
97
Sesuai keinginan
98
Nilai sebuah kepercayaan
99
Bukan yang lain
100
Puas berdua
101
Semudah itu
102
Menagih janji
103
Karyawan istimewa
104
Jalan keluar
105
Di luar kemampuan
106
Masihkah ada
107
Niat jahat
108
Janji
109
Informasi atau jebakan
110
Salah atau kalah
111
Peringatan
112
Ada untukmu
113
Cari ide
114
Sebuah usul
115
Yang terhebat
116
Bukan benar dan salah
117
Bersamamu
118
Jangan membuatku gila
119
Terluka kembali
120
Mengapa
121
Bercerminlah
122
Tidak ada kompromi
123
Antara masalah dan musibah
124
Tuduhan keji
125
Diam bukan emas
126
Haruskah menerima
127
Bukan pasangan yang tepat
128
Rencana yang gagal
129
Tidak menemukanmu
130
Kabar buruk atau bahagia
131
Mayang oh Mayang
132
Sesak dan menyakitkan
133
Ketika semua orang menyalahkan
134
Cantik mana
135
Perlahan tapi pasti
136
Kejutan
137
Isyarat
138
Dekat
139
Tambah dekat
140
Main cantik
141
Cari pemenang
142
Pulang
143
Kemarahan Riezka
144
Aku ingin menebus kesalahan
145
Penyesalan Erwin
146
Seperti orang asing
147
Tetap berusaha walaupun sulit
148
Episode baru kehidupan
149
Ijinkan aku bahagia
150
Sakitnya masih terasa
151
Pelan tapi pasti
152
Wajah asing
153
Jangan membuatku kecewa lagi
154
Semua ingin bahagia
155
Salah paham
156
Semua sudah selesai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!