Kemarahan

Malam itu Mayang memilih merapikan rumahnya tanpa banyak bicara. Dia tidak bisa mengandalkan Meli mau melakukannya.

Hatinya begitu sakit karena mendengar ucapan ibunya. Mayang tidak pernah tahu alasan yang membuat ibunya selalu menyalahkan dirinya. Seolah mereka berasal dari rahim yang berbeda.

Seingat Mayang tidak pernah sekalipun ibunya memberikan perhatian pada dirinya, bahkan saat dia menerima perlakukan tidak adil yang disebabkan oleh pergaulan Meli.

“Sekarang kau tahu kalau kau sama sekali tidak berarti bagi mama. Aku adalah putrinya sementara kau adalan anak yang tidak pernah diinginkan oleh mama,” ejek Meli sambil berjalan di atas lantai yang baru saja dibersihkan dan masih basah.

“Kau benar. Aku adalah anak yang tidak diinginkan oleh mama tapi aku bahagia karena masih ada yang menyayangi diriku dan membentuk diriku menjadi wanita yang bertanggung jawab tdiak seperti dirimu yang sama sekali tidak tahu diri,” balas Mayang membuat Meli berbalik dan berkacak pinggang di depan Mayang.

“Apa kau bilang barusan, aku tidak tahu diri?” teriak Meli.

Wajah Meli seperti mau memakan Mayang saat dia melihat ember berisi air yang dipakai Mayang untuk mengepel.

“Coba saja dan aku jamin kau pasti tidak perlu menunggu waktu sampai Matahari terbit untuk berada di luar rumah,” ancam Mayang yang mulai meraba apa yang akan dilakukan oleh Meli.

“Dengar, Mel! Kalau kau tahu diri tidak mungkin kau minta uang padaku. Bukankah kau tidak pernah mengakui diriku sebagai adikmu? Aneh bukan…kau minta uang dan tinggal dirumah orang yang tidak kau akui sebagai saudaramu.”

“Kau pikir aku mau uangmu?” balas Meli kembali berteriak.

“Tentu. Kalau tidak darimana kau bisa mendapatkan uang untuk bayar sewa mobil dan makanmu? Aneh sekali pertanyaanmu,” cibir Mayang kembali.

“Aku kecewa sudah tinggal denganmu.”

“Jadi, pintu ada di sana dan aku yakin kau tahu jalan keluarnya. Atau kau mau aku bantu berkemas?”

Mayang tahu dirinya sudah bertindak berlebihan, tetapi apa yang bisa dia harapkan? Ibunya saja tidak pernah menyayanginya sementara seorang wanita yang memilih wajah sama dengannya bahkan menolak mengakui sebagai saudaranya.

Apakah hanya Meli yang pantas kecewa? Apakah ia tidak pantas kecewa dan mengungkap kesedihannya? Selama ini ia selalu mengalah dan membiarkan Meli dan orang tuanya marah dan mencercanya seakan-akan dia bukan anak mereka. Kalau saja ia tidak memiliki wajah yang sama, sangat mudah baginya menolak kalau ia dan Meli berasal dari rahim yang sama.

Malam itu Meli lebih banyak berada di dalam kamarnya seperti yang biasa dia lakukan sementara Mayang harus membereskan kekacauan yang akibat perbuatannya.

“Aku berharap setelah ini dia sadar dan tidak melakukannya lagi.”

Malam sudah melewati pergantian hari setelah Mayang masuk ke kamarnya untuk istirahat. Tubuhnya begitu lelah hingga ia langsung tertidur setelah membersihkan diri dan berganti pakaian.

Rasanya Mayang baru saja memejamkan mata dan terlelap saat telinganya mendengar suara berisik dari dapur. Kepalanya terasa sakit hingga sesaat dia hanya berbaring.

“Apa lagi yang dilakukan Meli. Apa dia hanya bisa membuat kotor rumah?” pikir Mayang saat dia duduk di pinggir ranjang.

Mayang memperhatikan kamarnya lalu bangun dan menyimpan tas ke dalam lemari kemudian menguncinya sebelum keluar dari kamar dengan kunci berada di dalam sakunya.

“Apa kau tidak bosan membuat kacau dan kotor rumah?” tegur Mayang sambil merekam kegiatan Meli di dapurnya melalui ponselnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Meli curiga dengan tindakan Mayang yang memegang ponsel.

“Aku sedang membalas pesan masuk. Kenapa?” sahut Mayang tidak peduli sementara tangannya sibuk mengetik.

“Aku bosan dengan masakanmu. Setiap hari hanya makanan seperti ini saja yang kau hidangkan,” omelnya berusaha membuang sayur yang berada di panci.

“Apa yang kau lakukan? Itu bukan makanan dan hasil masakanmu. Kalau sampai kau buang, kau harus menggantinya!” ancam Mayang terkejut dengan tindakan Meli.

Sebelum tidur, Mayang sudah memasak lauk, dia berencana pagi-pagi hanya perlu memanaskan saja, tetapi Meli sepertinya memiliki pemikiran yang berbeda.

“Masakan seperti ini aku harus menggantinya? Cuih…aku tidak level makan masakan seperti ini. Dan aku tidak mau melihatnya.”

“Kau sakit Mel. Aku yakin kau harus periksa ke dokter jiwa,” suara Mayang terdengar ragu-ragu menyadari semua yang dilakukan Meli selama ini tidak ada yang masuk akal.

“Kau pikir aku gila? Kalau saja kau memberi aku uang, aku sangat bahagia dan tidak perlu terikat di rumah ini. Kau dengar Mayang!”

Suara teriakan Meli begitu kencang membuat Mayang terkejut, apalagi dibarengi dengan panci yang sengaja di jatuhkan oleh Meli. Panci yang berisi sayur yang semalam dimasak oleh Mayang sebagai bekalnya pagi ini.

“Cukup Meli. Sekarang kau pergi dari rumahku!” suara teriakan Mayang kalah dengan suara teriakan Meli yang berbarengan dengan panci yang jatuh ke lantai.

Panci itu jatuh dan menimpa kaki Meli dengan sayur yang membasahi kaki dan sebagian pakaiannya.

“Meli….”

“Kau lihat! Kau harus bertanggung jawab. Semua ini karena sayur yang kau masak ini hingga aku tertimpa panci si4lan ini.”

Mayang menggelengkan kepalanya. Setelah semua yang dilakukan oleh Meli, dia masih saja menyalahkan dirinya.

“Semua adalah perbuatanmu sendiri, tapi kau masih menyalahkan orang lain. Kau sangat memalukan sebagai manusia yang harusnya memiliki akal sehat Mel,” omel Mayang sementara Meli meninggalkan dapur tanpa membersihkan kakinya lebih dulu hingga lantai menjadi kotor.

“Meli…kau bisa membersihkan kakimu dulu, kan!” tegur Mayang.

“Suka-suka aku. Kau pikir aku peduli,” jawab Meli tertawa mengejek di sela-sela suara kesakitannya.

“Aku malah berpikir kau sudah tidak punya otak lagi yang bisa kau pakai untuk berpikir,” balas Mayang sementara dia kembali membersihkan sayur yang sudah ditumpahkan Meli.

“Kalau saja Meli punya sedikit otak yang bisa dia pakai untuk berpikir, harusnya hari ini dia pergi dari rumahku,” kata Mayang dalam hati.

Dapur sudah dibersihkan dan ia baru saja membuka pintu dan menyapa tetangganya ketika mendengar suara makian yang berasal dari dalam kamarnya. Suara Meliana.

“Mba Mayang ada apa dengan kakaknya?” tanya tetangganya ingin tahu.

“Saya juga tidak tahu Bu,” jawab Mayang bergegas masuk diikuti oleh dua orang wanita yang berada di luar dan mendengar suara makian Meli.

“Apa yang kau lakukan di kamarku!”

Suara Mayang mengagetkan Meli yang tengah mengacak-acak laci meja rias di kamar Mayang.

“Jangan berisik. Mana tasmu. Aku perlu uang untuk berobat. Lagipula kenapa sih kau kunci lemari.” Perintah Meli tanpa berbalik untuk melihat Mayang.

Mayang sudah siap membalas ucapan Meli, tetapi suara tetangganya yang berbisik agar dia tenang mampu mengendalikan amarahnya.

“Kamar ini adalah kamarku dan rumah ini juga adalah rumahku. Semalam kau sudah tidak mengakui diriku sebagai adikmu dan kita sama sekali tidak memiliki hubungan. Kau tidak mau uangku tapi sampai saat ini masih berharap mendapatkan dariku. Apa kau berniat mencuri uangku karena tidak mau memintanya. Jangan lupa, aku sudah mengusirmu setelah kau menumpahkan sayur yang berada di panci.”

“Aku tidak sudi melihat masakanmu, jadi kenapa aku harus membiarkannya berada di panci? Sekarang berikan aku uang!”

“Tidak ada. Sekarang kau boleh pergi dari rumahku, kalau tidak aku akan mengatakan pada warga kalau kau berniat mencuri.”

“Mencuri? Aku mencuri barangku sendiri? Siapa yang bisa membuktikan kalau aku yang melakukannya? Dengan rekaman di ponselmu? Aku bisa saja mengatakan kalau kau yang melakukannya,” ejek Meli sinis.

“Sayangnya kami semua mendengar yang barusan Mbak Meli katakan. Dan saya juga merekam ucapan Mba Meli,” sahut salah seorang tetangga yang berada di samping Mayang.

Meli dengan cepat berbalik dan menatap bengis pada ketiga wanita yang berdiri di pintu.

“Dasar perempuan kurang kerjaan! Untuk apa kalian ada di sini? Pergi dan jangan campuri urusanku!”

“Kau salah kalau menyuruh kami pergi, padahal yang diusir Mayang adalah kau. Dan kami sudah melaporkanmu ke Pak Rt agar menindakmu. Kami tidak sudi melihat Mayang yang baik harus menderita karena ulah kakaknya yang tidak tahu diri,” sahut tetangga Mayang ketus.

“Kau sengaja melakukannya, kan?” tanya Meli ketus.

“Aku sama sekali tidak berniat melakukannya, tetapi kau sudah keterlaluan Meli. Mengapa tetangga ada bersamaku, itu terjadi karena mereka curiga mendengar suaramu yang sangat keras karena tidak berhasil membuka lemari. Kau mau aku berteriak maling, atau kau segera pergi dari rumahku.”

“Aku bosan mendengar kau mengusirku. Apa tidak ada kata lain yang lebih baik?”

“Ya kalau udah tahu di usir harusnya tahu diri, pergi dari rumah bukannya masih tinggal terus di rumahnya,” ucap tetangganya lagi.

“Udah, Mbak Mayang dilaporkan ke polisi aja. Kita siap jadi saksi kalau perempuan tidak tahu diri ini adalah pencuri yang memanfaatkan wajah miripnya,” saran salah satu tetangga Meli.

“Heh, jaga bacotmu, ya. Kau pikir mudah melaporkan diriku ke polisi?” tantang Mayang.

“Kenapa sulit. Kau mau bukti. Aku yakin begitu aku teriak maling semua orang berkumpul di sini, apalagi kau hanya tamu di daerah kami, tamu yang tidak tahu diri!”

“Sekarang kau boleh pergi, Mel. Jangan memancing kemarahan warga yang tidak pernah menyukai dirimu.”

Episodes
1 Sakit kepala
2 Mengikuti kemauan
3 Ketemu mantan
4 Penasaran
5 Sakit hati
6 Kemarahan
7 Kapan berakhir
8 Selalu ada yang lain
9 Pengalaman baru
10 Penilaian
11 Perbedaan yang besar
12 Ketemu lagi
13 Sulit untuk percaya
14 Lebih dari permintaan
15 Lebih dari menerima
16 Tidak bisa memilih
17 Beda kelas
18 Cukup sudah
19 Menguji kesabaran
20 Selalu ada pilihan
21 Sebuah permulaan
22 Arti kesetiaan
23 Menginap di tempat asing
24 Nama yang tersimpan
25 Selalu ada sebab akibat
26 Pemandangan langka
27 Menyusun rencana
28 Godaan besar
29 Penemuan baru
30 Berpikir lurus
31 Tidak bergantung
32 Lebih dari sekedar ingin tahu
33 Tidak ada yang kebetulan
34 Bukan yang aku inginkan
35 Tidak adil
36 Jangan asal tuduh
37 Aku di matamu
38 Perhatian lebih
39 Sempurna
40 Bikin lupa
41 Hasil Menguping
42 Pertemuan kedua
43 Tidak rela melepaskan
44 Yang berbeda
45 Penilaian
46 Keyakinan dan kepastian
47 Uji mental
48 Wawancara atau interogasi
49 Melindungi
50 Keinginan Danisa
51 Belajar mengenal
52 Kedatangan Rachel
53 Telepon tengah malam
54 Bukan yang biasa
55 Ingin tahu
56 Banyak pertanyaan
57 Apa maunya
58 Deal
59 Ikut merasakan
60 Tantangan baru
61 Nasihat dari keluarga
62 Sebuah permintaan
63 Sebuah permainan baru
64 Bertemu Indri
65 Bukan seperti ini
66 Pesan dari keluarga
67 Penyelesaian yang jitu
68 Tertipu
69 Dia lagi
70 Yang berbeda
71 Pintu yang terbuka
72 Hari yang berbeda
73 Semangat Mayang
74 Perhatian
75 Jangan membuatku lemah
76 Keputusan
77 Tidak ada kebimbangan
78 Salah sasaran
79 Yang lama tersimpan
80 Sebab akibat
81 Peraturan
82 Ember bocor
83 Setipis kulit bawang
84 Panik
85 Aku menunggu
86 Bahagialah
87 Gencatan senjata
88 Tidak tahu malu
89 Tidak sebanding
90 Jangan memaksa
91 Perhatian yang berbeda
92 Sabar lebih baik
93 Istriku yang cantik
94 Seperti berada di dunia lain
95 Jangan ragu
96 Bukan topeng biasa
97 Sesuai keinginan
98 Nilai sebuah kepercayaan
99 Bukan yang lain
100 Puas berdua
101 Semudah itu
102 Menagih janji
103 Karyawan istimewa
104 Jalan keluar
105 Di luar kemampuan
106 Masihkah ada
107 Niat jahat
108 Janji
109 Informasi atau jebakan
110 Salah atau kalah
111 Peringatan
112 Ada untukmu
113 Cari ide
114 Sebuah usul
115 Yang terhebat
116 Bukan benar dan salah
117 Bersamamu
118 Jangan membuatku gila
119 Terluka kembali
120 Mengapa
121 Bercerminlah
122 Tidak ada kompromi
123 Antara masalah dan musibah
124 Tuduhan keji
125 Diam bukan emas
126 Haruskah menerima
127 Bukan pasangan yang tepat
128 Rencana yang gagal
129 Tidak menemukanmu
130 Kabar buruk atau bahagia
131 Mayang oh Mayang
132 Sesak dan menyakitkan
133 Ketika semua orang menyalahkan
134 Cantik mana
135 Perlahan tapi pasti
136 Kejutan
137 Isyarat
138 Dekat
139 Tambah dekat
140 Main cantik
141 Cari pemenang
142 Pulang
143 Kemarahan Riezka
144 Aku ingin menebus kesalahan
145 Penyesalan Erwin
146 Seperti orang asing
147 Tetap berusaha walaupun sulit
148 Episode baru kehidupan
149 Ijinkan aku bahagia
150 Sakitnya masih terasa
151 Pelan tapi pasti
152 Wajah asing
153 Jangan membuatku kecewa lagi
154 Semua ingin bahagia
155 Salah paham
156 Semua sudah selesai
Episodes

Updated 156 Episodes

1
Sakit kepala
2
Mengikuti kemauan
3
Ketemu mantan
4
Penasaran
5
Sakit hati
6
Kemarahan
7
Kapan berakhir
8
Selalu ada yang lain
9
Pengalaman baru
10
Penilaian
11
Perbedaan yang besar
12
Ketemu lagi
13
Sulit untuk percaya
14
Lebih dari permintaan
15
Lebih dari menerima
16
Tidak bisa memilih
17
Beda kelas
18
Cukup sudah
19
Menguji kesabaran
20
Selalu ada pilihan
21
Sebuah permulaan
22
Arti kesetiaan
23
Menginap di tempat asing
24
Nama yang tersimpan
25
Selalu ada sebab akibat
26
Pemandangan langka
27
Menyusun rencana
28
Godaan besar
29
Penemuan baru
30
Berpikir lurus
31
Tidak bergantung
32
Lebih dari sekedar ingin tahu
33
Tidak ada yang kebetulan
34
Bukan yang aku inginkan
35
Tidak adil
36
Jangan asal tuduh
37
Aku di matamu
38
Perhatian lebih
39
Sempurna
40
Bikin lupa
41
Hasil Menguping
42
Pertemuan kedua
43
Tidak rela melepaskan
44
Yang berbeda
45
Penilaian
46
Keyakinan dan kepastian
47
Uji mental
48
Wawancara atau interogasi
49
Melindungi
50
Keinginan Danisa
51
Belajar mengenal
52
Kedatangan Rachel
53
Telepon tengah malam
54
Bukan yang biasa
55
Ingin tahu
56
Banyak pertanyaan
57
Apa maunya
58
Deal
59
Ikut merasakan
60
Tantangan baru
61
Nasihat dari keluarga
62
Sebuah permintaan
63
Sebuah permainan baru
64
Bertemu Indri
65
Bukan seperti ini
66
Pesan dari keluarga
67
Penyelesaian yang jitu
68
Tertipu
69
Dia lagi
70
Yang berbeda
71
Pintu yang terbuka
72
Hari yang berbeda
73
Semangat Mayang
74
Perhatian
75
Jangan membuatku lemah
76
Keputusan
77
Tidak ada kebimbangan
78
Salah sasaran
79
Yang lama tersimpan
80
Sebab akibat
81
Peraturan
82
Ember bocor
83
Setipis kulit bawang
84
Panik
85
Aku menunggu
86
Bahagialah
87
Gencatan senjata
88
Tidak tahu malu
89
Tidak sebanding
90
Jangan memaksa
91
Perhatian yang berbeda
92
Sabar lebih baik
93
Istriku yang cantik
94
Seperti berada di dunia lain
95
Jangan ragu
96
Bukan topeng biasa
97
Sesuai keinginan
98
Nilai sebuah kepercayaan
99
Bukan yang lain
100
Puas berdua
101
Semudah itu
102
Menagih janji
103
Karyawan istimewa
104
Jalan keluar
105
Di luar kemampuan
106
Masihkah ada
107
Niat jahat
108
Janji
109
Informasi atau jebakan
110
Salah atau kalah
111
Peringatan
112
Ada untukmu
113
Cari ide
114
Sebuah usul
115
Yang terhebat
116
Bukan benar dan salah
117
Bersamamu
118
Jangan membuatku gila
119
Terluka kembali
120
Mengapa
121
Bercerminlah
122
Tidak ada kompromi
123
Antara masalah dan musibah
124
Tuduhan keji
125
Diam bukan emas
126
Haruskah menerima
127
Bukan pasangan yang tepat
128
Rencana yang gagal
129
Tidak menemukanmu
130
Kabar buruk atau bahagia
131
Mayang oh Mayang
132
Sesak dan menyakitkan
133
Ketika semua orang menyalahkan
134
Cantik mana
135
Perlahan tapi pasti
136
Kejutan
137
Isyarat
138
Dekat
139
Tambah dekat
140
Main cantik
141
Cari pemenang
142
Pulang
143
Kemarahan Riezka
144
Aku ingin menebus kesalahan
145
Penyesalan Erwin
146
Seperti orang asing
147
Tetap berusaha walaupun sulit
148
Episode baru kehidupan
149
Ijinkan aku bahagia
150
Sakitnya masih terasa
151
Pelan tapi pasti
152
Wajah asing
153
Jangan membuatku kecewa lagi
154
Semua ingin bahagia
155
Salah paham
156
Semua sudah selesai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!