Apa pun rencana Mayang saat dia melangkah pergi meninggalkan Erwin, semuanya berakhir sia-sia karena lengan Erwin yang panjang telah menarik tangannya sehingga dia yang baru melangkah dan tepat berada di samping Erwin harus merasakan empuknya duduk di pangkuan Erwin.
“Apa yang kau lakukan. Lepaskan dan biarkan aku pergi!”
Pertanyaan Mayang serta suaranya yang bernada perintah tidak bisa membuat Erwin melepaskan dan membiarkan Mayang bangun dari pangkuannya.
“Aku tidak akan membiarkanmu bangun apalagi pergi sebelum kau menyetujui permintaanku. Kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan, apakah semua itu tidak memiliki arti untukmu?” tanya Erwin tenang sementara dia sangat menyadari ada bagian di dalam tubuhnya yang mulai tidak bisa dia kendalikan.
“Kau gila. Kenapa harus aku dan bukan wanita lain yang dekat denganmu? Aku yakin mereka dengan senang hati akan menerima tawaranmu. Dan aku sangat yakin bahkan keyakinanku lebih dari seribu persen kau tidak perlu membuat janji bertemu dengan mereka lebih dulu.”
Mayang berusaha tidak peduli dengan pandangan pengunjung café karena posisinya yang duduk dipangkuan Erwin. Dia sudah terlalu lelah untuk berusaha bangun dari tempatnya sementara Erwin sama sekali tidak membiarkan dia bergerak.
Erwin menatap tajam Mayang. Sejak kapan wanita yang saat ini dia pangku memiliki sifat yang membuatnya harus menahan diri. Mayang sudah membuat pertahanan Erwin semakin menipis.
Bukan hanya karena setiap kalimat yang keluar dari mulut Mayang tetapi juga karena gerakan yang dilakukan oleh Mayang.
Namun, Erwin berusaha tetap focus pada tujuannya. Dia harus membuat Mayang setuju dengan tawarannya meskipun dia harus menjelaskan berulang-ulang. Baginya yang terpenting saat ini adalah Mayang mengatakan setuju pada setiap tawaran yang dia ajukan.
“Karena aku terlalu mengenal mereka sehingga aku yakin keluargaku tidak akan menyukainya. Kau pikir keluargaku akan menerima mereka yang selalu membuat aku membayar setiap tagihan belanja mereka. Kau salah kalau berpikir wanita seperti mereka dapat masuk ke keluargaku dengan mudah.”
Mayang terkesiap, tidak pernah ada dalam bayangannya kalau Erwin harus membayar setiap tagihan.para wanita yang menjadi teman kencannya. Apakah Erwin terlalu royal atau bodoh?
“Keuntungan apa yang kau dapatkan dengan membayarkan tagihan mereka? Apa cukup sesuai dengan kesenangan yang kau dapatkan setelah bersama dengan mereka? Aku adalah wanita yang sekian lama bekerja di bagian marketing dan juga cash pro jadi aku selalu melihat bahwa semua ada hitungan untung dan ruginya,” ujar Mayang menyuarakan pendapatnya.
Ya Tuhan…sudah begitu berubahkah Mayang hingga dia begitu mudah memberikan penilaian yang buruk padanya. Dia adalah lelaki yang tidak pernah melupakan kebaikan orang dan dia tahu kalau wanita yang bersamanya adalah wanita yang membuat dia melupakan sejenak wanita yang sudah membuatnya kecewa, wanita yang hanya padanya dia memberikan hatinya dan wanita yang tidak bisa mengerti bahwa dia adalah lelaki terbaik yang bisa dia temui tetapi dengan mudah dia lupakan.
“Aku minta maaf kalau sudah membuatmu tersinggung dan juga marah padaku. Namun, kau juga tidak bisa menyalahkan aku. Aku begitu terkejut dengan tawaranmu dan berpikir kalau kau tidak mempunyai teman wanita, tetapi mana mungkin kau tidak memiliki wanita cantik yang menjadi kekasihmu? Kau adalah lelaki paling popular dan paling diminati jadi kenapa kau tidak memintanya menjadi istrimu?”
“Aku memang mempunyai satu orang wanita yang pernah aku harapkan bahwa dia akan menerima lamaranku setelah 2 tahun berlalu, tapi semuanya menjadi sia-sia karena dia lebih memilih kariernya,” jawab Erwin.
“Karena itu kau mencari wanita lain dan secara kebetulan aku yang baru kau temui sebagai teman lama sehingga aku tidak dikenal oleh keluarga maupun teman-temanmu. Lalu apa yang akan kau katakan pada mereka?”
Dalam hati Erwin mulai bersorak gembira. Dengan kalimat yang baru diucapkan Mayang, Erwin merasa bahwa Mayang sudah mulai memahami tujuannya.
“Aku tidak bisa mengharapkan untuk terus menantinya setelah 2 tahun tanpa kepastian. Teman dan keluargaku pasti sangat mengerti,” jawabnya.
Erwin tidak perlu mengatakan pada Mayang bahwa keluarganya tidak pernah setuju dengan hubungannya dengan wanita yang sudah membuat hatinya terpenjara.
“Lalu…setelah dia kembali, apakah kau akan kembali padanya dan meninggalkan pernikahanmu?”
“Namanya Rachela dan dia adalah wanita yang pertama memberiku pelajaran bagaimana menjadi lelaki sesungguhnya.”
Ya Tuhan…apakah Erwin harus mengatakan pengalamannya dengan wanita tersebut? Mayang memejamkan matanya berusaha tidak peduli.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, apakah kau sangat mencintainya dan rela kembali padanya kalau dia memintamu hidup bersamanya?”
“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Bagian terpenting bagiku saat ini adalah mencari seorang istri yang bisa melancarkan jalanku,” jawab Erwin gambling.
“Mungkin kau tidak tahu bahwa aku adalah wanita yang egois dan aku tidak akan membiarkan orang lain mengatur hidupku dan juga membuatku bersedih. Jadi aku rasa pembicaraan tentang ini cukup sampai di sini saja. Aku harus kembali, sudah cukup lelah seharian aku keluar rumah.”
“Mayang…aku sangat mengharap bantuanmu.”
“Walaupun kau harus melepaskan wanita yang menjadi kekasihmu?”
“Ya…aku akan melakukannya asalkan kau bersedia menjadi istriku dan menerima lamaranku,” jawab Erwin yakin membuat Mayang mengerutkan kedua alisnya.
Bukan seperti jawaban yang diharapkan Mayang. Sebelumnya dia mengira Erwin akan menjawab akan membuat kontrak pernikahan tentang batas waktu yang harus mereka jalani, tetapi jawaban yang Erwin berikan membuatnya menggelengkan kepala. Semuanya terjadi secara mengejutkan.
Atau…salahkan kalau dia mengikuti permainan yang Erwin tawarkan. Bukankah dia sudah terlalu sering bertaruh perasaan pada lelaki yang semula dia pikir tertarik padanya ternyata mereka hanya berupaya menjadikan dirinya sebagai jalan menuju Meliana.
Dan kali ini dia juga harus bersedia menjadi pemberi jalan untuk melancarkan tujuan. Jadi…kenapa dia tidak melakukannya?
“Apa yang aku dapatkan seandainya aku menerima tawaranmu. Selain yang kau sebutkan tadi?”
“Apa yang akan kau usulkan?”
“Menjadi wanita nomor satu di dalam hidupmu dan kau harus mengatakan padaku lebih dulu kalau kau ingin mengakhirnya. Aku tidak akan menerima alasan apa pun bila aku mengetahui kau bermaksud meninggalkan aku melalui orang lain.”
“Kau tidak berpikir kalau pernikahan yang aku tawarkan adalah pernikahan seumur hidup?”
“Tidak. Kau dan aku memiliki banyak perbedaan yang sama-sama kita ketahui. Aku yakin kau pasti akan kembali pada wanita yang menjadi kekasihmu bila dia menginginkan, tetapi aku adalah wanita yang selalu berhitung untung dan rugi.”
“Kalau begitu, katakan padaku apa yang kau inginkan?”
Denga suara tenang, Mayang menyebut nominal yang harus Erwin penuhi. Bukan jumlah yang kecil karena Mayang berusaha agar Erwin menolaknya.
“Aku akan penuhi permintaanmu, tetapi kau juga harus mengikuti apa yang aku inginkan darimu sebelum kita sepakat mengenai tawaranku.”
. Lalu apa yang kau ingin aku lakukan, tentu saja selain menjadi istrimu.”
“Cukup menjadi wanita yang pantas dan berpenampilan menarik sesuai dengan statusnya."
“Jadi kau sadar akhirnya bahwa aku bukan wanita yang menarik dan bisa bersanding denganmu. Jadi aku tidak perlu mengatakan padamu bahwa perbedaan itu sudah terlihat bukan?”
“Kau menarik, tetapi kau terlihat tidak peduli dengan penampilan dirimu dan kau sama sekali tidak berusaha menunjukkan kecantikan yang kau miliki sebagai wanita.”
“Apakah menurutmu aku cantik?”
“Sangat, hingga aku tidak akan melepaskan dirimu dengan alasan apa pun,” jawab Erwin tertawa.
“Akan aku pikirkan lebih dulu mengenai tawaranmu,” jawab Mayang.
“Kau sudah menyebutkan permintaan dan syaratmu jadi aka yakin kau sudah berpikir untuk menerima tawaranku.”
“Kau terlalu percaya diri, Win.”
“Harus. Seorang lelaki harus yakin pada dirinya sendiri.”
“Bagaimana kalau aku katakan bahwa aku akan menjawabnya setelah bertemu dengan keluargamu. Aku perlu kepastian bahwa kau memang dalam keadaan terdesak dan bukan sekedar mengada-ada saja.”
“Kau tidak percaya padaku?”
“Apa kau percaya padaku kalau aku katakan bahwa aku pernah menikah?”
“Tidak. Aku tidak percaya padamu. Walaupun aku melihatmu sebagai wanita yang sombong, tetapi dapat aku pastikan bahwa kau belum pernah menikah.”
“Jadi kau akan mengijinkan aku bertemu dengan keluargamu sebelum aku memberikan jawaban tentang tawaranmu.”
“Baiklah. Aku akan membawamu bertemu keluargaku besok dan aku berharap jawaban terbaik yang aku terima karena lusa aku akan menemui kakek untuk mendengar keputusanku."
“Setuju. Jadi bagaimana kalau kita pulang sekarang?”
“Kenapa kita tidak berjalan-jalan lebih dulu. Menurutku hujan tidak akan turun jadi…beri aku kesempatan untuk memanjakamu dengan membelikan beberapa barang. Aku tidak mau dikatakan lelaki yang pelit.”
“Baiklah.”
Mayang langsung bergerak cepat dengan bangun dari pangkuan Erwin. Dia tidak tahu bahwa senyum di bibir Erwin sangat puas dan lega.
Satu peluang sudah dia dapatkan setelah Mayang menerima tawarannya dan peluang yang lain…dia akan bersabar karena Mayang pasti bersedia memenuhi tugasnya sebagai seorang istri.
Mereka kini sudah mulai meninggalkan café dan berjalan bersisian. Kali ini Erwin menggenggam tangan Mayang sementara tangannya yang lain membawa barang belanjaan Mayang.
“Mengapa kakekmu berharap kau menikah secepatnya? Beliau tidak khawatir membuatmu menyia-nyiakan masa mudanya dengan berumah tangga lebih cepat?” tanya Mayang setelah mereka keluar dari toko yang menyediakan pakaian dan Mayang terpaksa menerima pemberikan Erwin.
“Bagi kakekku, usia 23 adalah usia keemasan untuk mendapatkan keturunan yang pintar dan tenagaku juga masih penuh untuk mengelola perusahaan dengan lebih baik lagi. Di usia 23 tahun menurut kakek aku memerlukan seorang pendamping yang bisa menyalurkan gairahku daripada aku bermain di luar,” jawab Erwin tenang hingga Mayang harus menahan tawa mendengar penjelasan yang diberikan oleh Erwin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
lucu juga berdua, masing2 punya prinsip, keren thour
2023-09-19
0