Tidak bisa memilih

Suara tawa Mayang yang lepas membuat Erwin menoleh dan menatapnya lama. Sudah begitu sering dia mendengar wanita tertawa. Mulai dari tawa pura-pura sekedar menghibur hingga suara tawa dengan maksud menggoda yang sangat jelas tujuannya.

Namun, suara tawa Mayang begitu berbeda tidak ada maksud lain kecuali geli karena seorang lelaki sepertinya harus menerima permintaan dari orang tua yang mendiktenya.

“Aku tidak tahu kalau kau jenis wanita yang suka tertawa di atas penderitaan. Seandainya kau tahu apa yang aku rasakan karena tindakan mereka padaku, aku jamin kau tidak akan tertawa seperti itu,” celutuk Erwin.

Erwin harus bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya di depan Mayang. Dia harus bersikap sama seperti Mayang yang tidak peduli karena dia sangat mengerti apa akibatnya apabila perasaannya diketahui oleh seorang wanita.

“Sangat menyenangkan,” jawab Mayang tanpa ada niat membantahnya.

“Kalau begitu, nikmatilah,” sahut Erwin ketus.

“Kau tidak menyukainya? Belum terlambat memberikan tawaran pada wanita lain. Bagaimana pun kau belum tahu seberapa buruk diriku menanggapi emosi seseorang,” kata Mayang.

“Apa kau bermaksud menolak tawaran yang sebelumnya sudah kau setujui? Jangan harap kau bisa melepaskan diri!” ancam Erwin membuat Mayang tersenyum tipis.

“Omong-omong aku belum mengucapkan kata setuju. Aku hanya bertanya apa yang bisa aku terima dan berikan apa bila menerima tawaranmu dan…kau mau membawaku kemana?” tanya Mayang melihat Erwin menjauh dari pintu yang menuju parkiran.

“Ke toko perhiasan.”

“Kalau kau bermaksud membelikan aku perhiasan…jangan khwatir aku pasti akan menerimanya dan bisa jadi aku akan membuatmu bangkrut dalam sekejap,” sahut Mayang tertawa.

Bukan jawaban yang semula diharapkan oleh Erwin. Semula dia berharap Mayang akan menolaknya, tetapi entah mengapa dia menyukai jawaban tersebut daripada Mayang berpura-pura menolak padahal di dalam hatinya dia kecewa dan ada maksud di belakangnya.

“Kalau kau bermaksud membuatku ilfeel dengan perkataanmu, kau salah. Walaupun aku belum tahu bagaimana dirimu, tetapi aku yakin kau tidak akan membuatku bangkrut dalam sekejap,” jawab Erwin melirik Mayang yang hanya tertawa menanggapi perkataannya.

“Benarkah? Tidak khawatir aku menerima tantanganmu. Tapi…terima kasih karena kau percaya padaku, meskipun kau tidak tahu siapa dan bagaimana diriku yang sebenarnya.”

“Aku yakin bisa mengetahui siapa dirimu cepat atau lambat meskipun kau berusaha mengaburkan semua penilaianku terhadapmu.”

Mayang tersenyum mendengar jawaban Erwin. Laki-laki yang berjalan di sampingnya terlihat sangat percaya diri dan tidak peduli dengan semua kalimat yang sudah dia sampaikan atau dia hanya berusaha menyembunyikan isi hati dan kemarahannya karena dia menginginkan balasan darinya?

“Terserah, yang jelas aku sudah mengingatkan dirimu jadi kau tidak akan menyesal bila aku memilih begitu banyak perhiasan yang aku sukai.”

“Tentu saja aku tidak akan menyesal karena begitu kau melakukannya kau sudah secara jelas menyetujui tawaranku,” sahut Erwin lugas.

“Barengsek. Ternyata kau sudah memikirkan segalanya,” umpat Mayang.

“Kau seorang marketing sementara aku seorang pimpinan yang tentu saja harus berhitung lebih pasti sebelum membuatku rugi secara besar-besaran,” jawab Erwin puas.

“Kalau begitu aku menolak masuk ke toko perhiasan karena aku belum bisa memberikan jawaban,” sahut Mayang langsung berbalik membuat Erwin bergegas mengejarnya.

“Kau seperti anak perawan yang ciuman pertamanya dicuri,” omel Erwin sembari tertawa.

Baru saja dia melepaskan tangan Mayang, tetapi dengan cepat gadis itu menghindar hingga tidak ada cara lain yang dilakukan oleh Erwin selain menarik tangan Mayang lalu merangkulnya.

Wajah mereka begitu dekat hingga Erwin dapat melihat tatapan terkejut dan juga rona kemerahan di pipi Mayang.

“Jangan macam-macam,” kata Mayang berpaling hingga dia tidak perlu melihat mata Erwin yang memiliki hasrat terhadapnya.

“Aku tahu saat ini aku tidak akan bisa berbuat macam-macam padamu, tetapi kau adalah wanita yang sangat menarik dan aku tidak bisa menjamin bahwa diriku bisa bertahan dari godaan yang sangat besar walaupun kau melakukannya tanpa sengaja.”

“Melakukan apa? Menggodamu? Kau terlalu besar kepala berpikir aku menggodamu,” kata Mayang ketus.

“Aku tidak besar kepala, hanya berharap kau tahu bahwa apa pun yang kau lakukan adalah tindakan yang sangat menarik, Sekarang ayo kita lanjutkan acara belanja kita!” ajak Erwin kembali melangkah sambil merangkul Mayang.

“Kalau aku boleh tahu apa yang kau lakukan selain bekerja sebagai tenaga marketing?” tanya Erwin melirik Mayang.

“Tidak ada. Aku sudah terlalu lelah dengan semua pekerjaan yang sangat menghabiskan waktu dan kesabaranku,” jawab Mayang.

“Tapi aku pernah melihatmu berada di salah satu mall terbesar dalam sebuah event pamerean furniture dan aku juga pernah melihatmu sebagai salah satu peserta yang mendaftar sebagai model di perusahaanku,” beritahu Erwin.

“Selama yang berhubungan dengan furniture aku bisa pastikan bahwa mungkin kau memang melihatku, tapi bila yang berhubungan sebagai model aku yakin kau salah orang. Bisa jadi yang kau lihat saat itu adalah Meliana, saudara kembarku,” jawab Mayang.

Mayang meliriknya secara sengaja. Ternyata pada saat mereka bertemu di busway bukan pertama kali Erwin melihatnya setelah sekian lama berpisah. Mayang tidak tahu apa alasannya mengapa Erwin tidak menyapanya.

Erwin yang tidak mengerti arti lirikan Mayang hanya tersenyum karena dirinya-pun sibuk berpikir. Jadi dugaan Erwin kalau Meliana adalah wanita yang dia lihat dulu. Wanita yang sangat mirip dengan Mayang asalkan tidak merias wajahnya secara berlebihan.

“Kau tadi mengatakan tidak ada yang kau kerjakan selain bekerja sebagai marketing tapi kenapa kau bisa berada di event pameran?”

“Apa pameran bukan bagian dari marketing? Seperti yang aku lakukan di sini pada hari ini. Aku berada di sini karena salah satu klien di perusahaanku datang berkunjung dan sebagai tuan rumah yang baik, aku harus membuatnya nyaman dan puas. Jadi kau bisa lihat bahwa pekerjaanku sudah cukup menyita waktu dan juga pikiranku.”

“Aku mengerti. Kau tidak berencana beralih profesi?”

“Pekerjaanku yang sekarang seperti sudah mendarah daging hingga aku pasti mengalami kesulitan bila aku melakukan pekerjaan yang sangat berbeda.”

“Di dalam otakku sudah melekat berapa meter bahan cover untuk pembungkus sofa dan berapa lembar busa dan batang kayu yang harus dipakai sebagai bahan untuk membuat 1 set kursi. Jadi berpikir untuk alih profesi sangat tidak mungkin kecuali aku menjadi pimpinan perusahaan yang bergerak di bidang furniture,” jawab Mayang tenang.

“Dan kau tidak berpikir untuk mewujudkannya?”

“Sangat berat. Memerlukan modal yang sangat besar dan kepercayaan dari toko yang sudah biasa mengambil dan memesan produk dari Dorama,” jawab Mayang.

Erwin tidak tahu mengapa dari jawaban Mayang tersirat bahwa dia sebenarnya sudah lelah dengan semua pekerjaannya. Mungkinkah Mayang memang tidak puas dan berusaha untuk menjadi seorang pemilik daripada seorang karyawan?

Tanpa terasa mereka sudah tiba di depan toko perhiasan yang menjadi tujuan Erwin dan toko tersebut adalah toko yang sebelumnya Mayang datangi bersama dengan Lily.

“Kurang dari dua jam yang lalu aku sudah masuk ke toko ini dan aku masuk lagi dengan orang yang berbeda, menurutmu apa yang akan dikatakan pegawai toko tersebut?” tanya Mayang.

“Untuk apa kau masuk kesini dan bersama siapa?”

“Bersama seorang ibu yang sangat menyayangi putranya. Dia bermaksud membelikan perhiasan untuk calon menantunya,” jawab Mayang.

“Kalau begitu sekarang kau masuk ke toko ini sebagai calon pengantin dan kali ini aku sebagai calon suamimu yang akan membelikan perhiasan,” jawab Erwin tidak peduli kalau Mayang belum menerima tawarannya.

“Aku tidak ingat bahwa aku menerimanya,” gumam Mayang.

Namun, sekali lagi dia hanya melakukan hal yang sia-sia karena Erwin tidak menggubris ucapannya. Dia tetap pada pendiriannya dan kemauannya sendiri.

“Kau lupa kalau kau sudah mengatakan akan bertemu dengan keluargaku dulu dan aku sudah setuju untuk membawamu menemui mereka. Jadi semuanya sudah deal sehingga tidak ada asalan bagimu untuk menolaknya.”

“Aku hanya mengatakan akan memberikan jawaban setelah bertemu dengan keluargamu, dan selalu ada kemungkinan bahwa aku akan menolaknya bukan? Jadi lupakan niatmu kalau kau bermaksud membelikan aku perhiasan karena aku belum pasti setuju padamu.”

“Niatku sudah bulat untuk menjadikanmu sebagai istriku dan kau tidak memiliki alasan untuk menolaknya. “

Sambil menggeret tangan Mayang, mereka memasuki toko perhiasan yang langsung disambut dengan ramah oleh karyawan toko tersebut.

Mayang merasakan sambutan yang berbeda saat dia datang bersama Lilu dengan kedatangannya yang sekarang bersama Erwin. Mungkinkah pegawai toko tersebut menganggap dirinya sebagai wanita mata duitan yang selama ini dibawa Erwin?

Mayang tidak menduga reaksi orang yang pernah melihat Erwin bersama teman wanitanya kini menimpa dirinya.

Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengikuti permintaan Erwin dan membiarkan pegawai toko tersebut menilainya seperti apa, tetapi kenyataan tersebut cukup membuatnya memutuskan bahwa dia tidak akan mengunjungi toko itu lagi, dengan alasan apa pun juga.

Episodes
1 Sakit kepala
2 Mengikuti kemauan
3 Ketemu mantan
4 Penasaran
5 Sakit hati
6 Kemarahan
7 Kapan berakhir
8 Selalu ada yang lain
9 Pengalaman baru
10 Penilaian
11 Perbedaan yang besar
12 Ketemu lagi
13 Sulit untuk percaya
14 Lebih dari permintaan
15 Lebih dari menerima
16 Tidak bisa memilih
17 Beda kelas
18 Cukup sudah
19 Menguji kesabaran
20 Selalu ada pilihan
21 Sebuah permulaan
22 Arti kesetiaan
23 Menginap di tempat asing
24 Nama yang tersimpan
25 Selalu ada sebab akibat
26 Pemandangan langka
27 Menyusun rencana
28 Godaan besar
29 Penemuan baru
30 Berpikir lurus
31 Tidak bergantung
32 Lebih dari sekedar ingin tahu
33 Tidak ada yang kebetulan
34 Bukan yang aku inginkan
35 Tidak adil
36 Jangan asal tuduh
37 Aku di matamu
38 Perhatian lebih
39 Sempurna
40 Bikin lupa
41 Hasil Menguping
42 Pertemuan kedua
43 Tidak rela melepaskan
44 Yang berbeda
45 Penilaian
46 Keyakinan dan kepastian
47 Uji mental
48 Wawancara atau interogasi
49 Melindungi
50 Keinginan Danisa
51 Belajar mengenal
52 Kedatangan Rachel
53 Telepon tengah malam
54 Bukan yang biasa
55 Ingin tahu
56 Banyak pertanyaan
57 Apa maunya
58 Deal
59 Ikut merasakan
60 Tantangan baru
61 Nasihat dari keluarga
62 Sebuah permintaan
63 Sebuah permainan baru
64 Bertemu Indri
65 Bukan seperti ini
66 Pesan dari keluarga
67 Penyelesaian yang jitu
68 Tertipu
69 Dia lagi
70 Yang berbeda
71 Pintu yang terbuka
72 Hari yang berbeda
73 Semangat Mayang
74 Perhatian
75 Jangan membuatku lemah
76 Keputusan
77 Tidak ada kebimbangan
78 Salah sasaran
79 Yang lama tersimpan
80 Sebab akibat
81 Peraturan
82 Ember bocor
83 Setipis kulit bawang
84 Panik
85 Aku menunggu
86 Bahagialah
87 Gencatan senjata
88 Tidak tahu malu
89 Tidak sebanding
90 Jangan memaksa
91 Perhatian yang berbeda
92 Sabar lebih baik
93 Istriku yang cantik
94 Seperti berada di dunia lain
95 Jangan ragu
96 Bukan topeng biasa
97 Sesuai keinginan
98 Nilai sebuah kepercayaan
99 Bukan yang lain
100 Puas berdua
101 Semudah itu
102 Menagih janji
103 Karyawan istimewa
104 Jalan keluar
105 Di luar kemampuan
106 Masihkah ada
107 Niat jahat
108 Janji
109 Informasi atau jebakan
110 Salah atau kalah
111 Peringatan
112 Ada untukmu
113 Cari ide
114 Sebuah usul
115 Yang terhebat
116 Bukan benar dan salah
117 Bersamamu
118 Jangan membuatku gila
119 Terluka kembali
120 Mengapa
121 Bercerminlah
122 Tidak ada kompromi
123 Antara masalah dan musibah
124 Tuduhan keji
125 Diam bukan emas
126 Haruskah menerima
127 Bukan pasangan yang tepat
128 Rencana yang gagal
129 Tidak menemukanmu
130 Kabar buruk atau bahagia
131 Mayang oh Mayang
132 Sesak dan menyakitkan
133 Ketika semua orang menyalahkan
134 Cantik mana
135 Perlahan tapi pasti
136 Kejutan
137 Isyarat
138 Dekat
139 Tambah dekat
140 Main cantik
141 Cari pemenang
142 Pulang
143 Kemarahan Riezka
144 Aku ingin menebus kesalahan
145 Penyesalan Erwin
146 Seperti orang asing
147 Tetap berusaha walaupun sulit
148 Episode baru kehidupan
149 Ijinkan aku bahagia
150 Sakitnya masih terasa
151 Pelan tapi pasti
152 Wajah asing
153 Jangan membuatku kecewa lagi
154 Semua ingin bahagia
155 Salah paham
156 Semua sudah selesai
Episodes

Updated 156 Episodes

1
Sakit kepala
2
Mengikuti kemauan
3
Ketemu mantan
4
Penasaran
5
Sakit hati
6
Kemarahan
7
Kapan berakhir
8
Selalu ada yang lain
9
Pengalaman baru
10
Penilaian
11
Perbedaan yang besar
12
Ketemu lagi
13
Sulit untuk percaya
14
Lebih dari permintaan
15
Lebih dari menerima
16
Tidak bisa memilih
17
Beda kelas
18
Cukup sudah
19
Menguji kesabaran
20
Selalu ada pilihan
21
Sebuah permulaan
22
Arti kesetiaan
23
Menginap di tempat asing
24
Nama yang tersimpan
25
Selalu ada sebab akibat
26
Pemandangan langka
27
Menyusun rencana
28
Godaan besar
29
Penemuan baru
30
Berpikir lurus
31
Tidak bergantung
32
Lebih dari sekedar ingin tahu
33
Tidak ada yang kebetulan
34
Bukan yang aku inginkan
35
Tidak adil
36
Jangan asal tuduh
37
Aku di matamu
38
Perhatian lebih
39
Sempurna
40
Bikin lupa
41
Hasil Menguping
42
Pertemuan kedua
43
Tidak rela melepaskan
44
Yang berbeda
45
Penilaian
46
Keyakinan dan kepastian
47
Uji mental
48
Wawancara atau interogasi
49
Melindungi
50
Keinginan Danisa
51
Belajar mengenal
52
Kedatangan Rachel
53
Telepon tengah malam
54
Bukan yang biasa
55
Ingin tahu
56
Banyak pertanyaan
57
Apa maunya
58
Deal
59
Ikut merasakan
60
Tantangan baru
61
Nasihat dari keluarga
62
Sebuah permintaan
63
Sebuah permainan baru
64
Bertemu Indri
65
Bukan seperti ini
66
Pesan dari keluarga
67
Penyelesaian yang jitu
68
Tertipu
69
Dia lagi
70
Yang berbeda
71
Pintu yang terbuka
72
Hari yang berbeda
73
Semangat Mayang
74
Perhatian
75
Jangan membuatku lemah
76
Keputusan
77
Tidak ada kebimbangan
78
Salah sasaran
79
Yang lama tersimpan
80
Sebab akibat
81
Peraturan
82
Ember bocor
83
Setipis kulit bawang
84
Panik
85
Aku menunggu
86
Bahagialah
87
Gencatan senjata
88
Tidak tahu malu
89
Tidak sebanding
90
Jangan memaksa
91
Perhatian yang berbeda
92
Sabar lebih baik
93
Istriku yang cantik
94
Seperti berada di dunia lain
95
Jangan ragu
96
Bukan topeng biasa
97
Sesuai keinginan
98
Nilai sebuah kepercayaan
99
Bukan yang lain
100
Puas berdua
101
Semudah itu
102
Menagih janji
103
Karyawan istimewa
104
Jalan keluar
105
Di luar kemampuan
106
Masihkah ada
107
Niat jahat
108
Janji
109
Informasi atau jebakan
110
Salah atau kalah
111
Peringatan
112
Ada untukmu
113
Cari ide
114
Sebuah usul
115
Yang terhebat
116
Bukan benar dan salah
117
Bersamamu
118
Jangan membuatku gila
119
Terluka kembali
120
Mengapa
121
Bercerminlah
122
Tidak ada kompromi
123
Antara masalah dan musibah
124
Tuduhan keji
125
Diam bukan emas
126
Haruskah menerima
127
Bukan pasangan yang tepat
128
Rencana yang gagal
129
Tidak menemukanmu
130
Kabar buruk atau bahagia
131
Mayang oh Mayang
132
Sesak dan menyakitkan
133
Ketika semua orang menyalahkan
134
Cantik mana
135
Perlahan tapi pasti
136
Kejutan
137
Isyarat
138
Dekat
139
Tambah dekat
140
Main cantik
141
Cari pemenang
142
Pulang
143
Kemarahan Riezka
144
Aku ingin menebus kesalahan
145
Penyesalan Erwin
146
Seperti orang asing
147
Tetap berusaha walaupun sulit
148
Episode baru kehidupan
149
Ijinkan aku bahagia
150
Sakitnya masih terasa
151
Pelan tapi pasti
152
Wajah asing
153
Jangan membuatku kecewa lagi
154
Semua ingin bahagia
155
Salah paham
156
Semua sudah selesai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!