Walaupun dalam hatinya Mayang jengkel pada Stella tetapi tidak mungkin baginya untuk menegur Stella langsung dan meninggalkan tamunya meskipun keinginan tersebut begitu dalam.
Mayang menemani Lily melihat produk andalan mereka sembari memberikan penjelasan lebih detail tentang kelebihan dan kekurangan tersebut bila di jual di showroom milik Lily. Dia harus menjelaskan karena sebagai produsen, Mayang tidak mau membuat costumernya kecewa. Sudah membeli dengan harga mahal ternyata tidak di minati.
“Kenapa kau bilang produk ini kurang diminati?” tanya Lily ingin tahu.
“Saya melihat lingkungan tempat showroom ibu berada memiliki ruangan yang besar dan produk seperti ini seperti telur di dalam lemari…begitu kecil hingga tidak terlihat. Saran saya, ibu bisa memesan 1 set saja, sebagai contoh dan ibu bisa memberikan pelayanan pada pembeli kalau model seperti ini bisa di pesan dengan ukuran khusus,” kata Mayang memberikan penjelasan.
“Jadi model ini bisa di pesan khusus?”
“Bisa Bu. Ibu tinggal berikan saja ukurannya pada kami,” jawab Mayang yakin.
“Saya suka dengan penjelasanmu. Boleh saya ke toilet dulu? Saya tadi tidak sempat ketika di bandara tadi.”
“Silahkan Bu, saya akan menunjukkan pada ibu.”
Mayang mengantar Lili ke toilet lalu dia menarik Stella yang sejak tadi mengikuti dan menyela setiap kalimatnya.
“Apa-apaan kau, apa kau tidak tahu apa resikonya kalau Bu Lily tersinggung dan menolak mengambil barang pada kita lagi!” tegur Mayang.
“Mayang, aku tahu apa yang terbaik untuk memasarkan produk perusahaan kita. Asal kau tahu aku lebih mempunyai wewenang pada perusahaan ini dibandingkan dirimu karena aku adalah keponakan Om Allen langsung sementara kamu hanyalah keponakan dari isterinya," balas Stella tajam.
Senyum sinis membayang di bibir Mayang, “Aku tidak mengira kamu memposisikan dirimu sebagai keponakan bukannya sebagai pegawai. Buktikan kalau dirimu mampu bekerja dan mencari costumer baru bilang kau lebih berhak," balas Mayang tajam.
Mayang sangat jengkel dengan sikap Stella, tetapi dia tidak bisa membiarkan Lily melihatnya saat dia kembali menemui tamunya.
“Bagaimana Bu, apakah sudah ada yang mengena di hati?” tanya Mayang sementara salah seorang karyawan mengingutinya dengan membawa minuman lalu Mayang memberikannya pada Lily.
“Terima kasih.”
“Ada beberapa barang yang saya sukai. Apakah ini 1 set dengan barang yang lainnya?”
“Benar Bu, sofa ini termasuk bagian dari tempat tidur bertiang, sofa santai, meja rias dan meja telepon dan kami menawarkan untuk kamar di hotel ibu. Saya yakin tamu yang akan datang menginap pasti menyukainya. Apalagi hotel ibu sudah terkenal dengan pelayanannya yang sangat memuaskan.”
“Kau memang selalu pintar membujuk Mayang.”
“Saya pasti semakin pintar kalau ibu menjadikan furniture Dorama sebagai furniture yang di pakai di resort yang sedang dibangun. Dengan furniture yang memiliki kesamaan dari ruang tamu, ruang makan sampai kamar tidur, bahkan ada mini bar nya. Jadi saya memberikan rekomendasi bahwa ini sangat cocok dan pas untuk resort mewah yang sedang ibu bangun."
Lily memandang Mayang tidak percaya. Bagaimana bisa wanita di depannya bisa memberikan keyakinan dengan informasi yang dimilikinya. Apakah ada yang tidak diketahui Mayang. Dia yakin sebelum bicara pada klien Mayang sudah mempersiapkan semuanya.
“Saya tidak mengira kau sudah mengetahui apa yang saya lakukan di daerah."
“Saya minta maaf sudah membuat ibu tidak nyaman, percayalah saya bukan petugas pajak,” jawab Mayang membuat Lily tertawa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments