Beda kelas

Mayang lebih banyak memperhatikan ketika pegawai toko tersebut memandangi Erwin seakan dia adalah lelaki satu-satunya di muka bumi dan sehingga tidak ada pilihan lain selain menatapnya dengan niat memakannya hidup-hidup. Sementara dirinya, Mayang cukup dianggap sebagai patung manekin yang terpaksa dipajang sebelum disingkirkan dengan alasan merusak pemandangan.

Mayang melihat Erwin membalas senyum pegawai toho yang terus menatapnya hingga lupa berkedip membuat Mayang berusaha menahan tawanya karena melihat pertunjukan gratis yang sangat jarang dia lihat.

“Selamat datang di gallery kami dan silahkan Tuan lihat-lihat lebih dulu sebelum memutuskan jenis perhiasan yang akan Tuan pilih,” sapaan dari pegawai toko perhiasan akhirnya terdengar juga setelah cukup lama hanya diam memandangi wajah Erwin.

Senyum geli menghiasi wajah Mayang karena pegawai toko tersebut baru bersuara setelah salah seorang dari wanita yang sebelumnya melayani dia dan Lily menegurnya.

Pegawai toko mempersilahkan Erwin melihat-lihat koleksi perhiasan yang berada di etalase sementara Mayang berjalan di samping Erwin tanpa minat.

“Aku ingin melihat koleksi terbaik dari gallery ini. Terus terang aku berharap bisa menemukan perhiasan yang cocok dengan keinginanku tanpa harus pergi ke gallery yang lain,” kata Erwin pada saat mereka duduk di kursi khusus tamu VIP.

Dalam hati Mayang protes karena sambutan yang diterimanya sangat berbeda. Dia dan Lily hanya diberikan minuman juice tanpa cake dan duduk di kursi biasa sementara saat ini, mereka duduk di sofa khusus dengan minuman yang bisa dipesan dan cake yang sangat menggugah selera.

Pertanyaan apakah toko perhiasan tersebut memang memiliki pelaenggan vip dan regular? Membingungkan!

Mayang menggelengkan kepala secara perlahan, dia tidak yakin. Tetapi Erwin sama sekali tidak terpengaruh saat menyerahkan pilihan minuman padanya seperti mereka sedang berada di restoran dan bukan di toko atau gallery perhiasan.

Mayang kembali memperhatikan cara pegawai toko melayaeni mereka, khususnya Erwin karena dirinya sama sekali tidak mendapatkan perhatian. Mereka mungkin berpikir apa pun yang dia inginkan semua tergantung pada Erwin. Bukankah Erwin yang akan membayarnya?

Perintah atau permintaan Erwin agar dia bisa melihat koleksi gallery segera dilakukan dengan gerakan cepat dan cekatan hingga Mayang melirik Erwin apakah dia terkesan dengan sikap pegawai toko tersebut atau hanya mengganggapnya hal yang biasa saja?

Dan Erwin sama sekali tidak terpengaruh karena tatapannya kini tertuju pada Mayang dengan alis yang hampir menyatu seolah dia bertanya mengapa Mayang menatapnya secara terus menerus dan ada yang tidak disukai olehnya.

Sekali lagi, perhatian Erwin teralihkan ketika 2 orang pegawai datang dengan membawa 4 baki perhiasan yang membuat mata Mayang tidak berkedip?

“Apa ini koleksi terbaik kalian? Aku mau perhiasan yang memiliki batu permata yang cukup besar yang bisa menghiasi jari wanitaku ini,” kata Erwin sembari menunjukkan tangan Mayang yang masih berada dalam genggamannya.

“Wanitamu? Sejak kapan aku menjadi wanitamu,” tegur Mayang berbisik dengan memberi penakanan pada kaki Erwin dengan cara menginjaknya.

“Yang, tolong angkat kaki kamu, sakit tahu,” bisik Erwin sementara pegawai gallery menatapnya heran.

“Ini adalah koleksi terbaik kami dengan hiasan batu berlian yang cukup besar dan cocok dengan jari kekasih Tuan,” katanya sembari membuka baki yang berisi perhiasan yang terdiri dari kalung gelang dan cincin. Semuanya berkilau seolah melambaikan tangan pada pembeli agar mengambilnya.

“Terima kasih,” sahut Erwin masih meringis kesakitan. “Awas kamu, aku akan membalasmu,” ancam Erwin mengingatkan Mayang.

“Kau mau membalasku dengan cara apa?” bisik Mayang menggoda sementara mata dan tangannya sudah mulai sibuk melihat berbagai macam perhiasan yang semuanya memiliki model khusus yang sangat menarik. Sangat berbeda dengan yang dia lihat sebelumnya.

“Bagaimana dengan ini, aku rasa cocok di jarimu,” kata Erwin mengambil salah satu cincin yang memiliki batu besar hingga begitu menarik perhatian.

“Kau membelinya untuk siapa?"

“Untuk wanita yang berada di rumahku nanti," jawab Erwin dengan wajah cemberut.

Sudah jelas dia membawa Mayang ke toko perhiasan tapi wanita itu justru bertanya untuk siapa.

Senyum Mayang menguar melihat Erwin yang cemberut. Dia tidak menduga kalau lelaki yang berdiri di sampingnya adalah jenis lelaki yang mudah sekali ngambek. Sama sekali jauh dari kesan sebagai seorang pengusaha sukses bertangan dingin.

“Untuk aku sendiri tidak menyukainya. Tapi kalau menurutmu dia suka…terserah,” jawab Mayang. “Aku lebih suka dengan model yang seperti ini. Hiasannya kecil tetapi mampu membuat mata tertuju padanya,” kata Mayang menunjukkan pilihannya.

“Kalau begitu kau pilihkan 2 set untukku dan 1 set untukmu,” perintah Erwin setelah mengamati pilihan Mayang yang sangat cantik dan menarik walaupun dia sangat yakin harganya tidak sama dengan ukurannya yang kecil mungil.

Mayang tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Erwin tentang dirinya tetapi dia memberikan pilihannya pada Erwin yang keduanya disetujui tanpa ada penolakan sama sekali.

“Sekarang pilih untukmu!” perintah Erwin sementara pegawai yang melayani mereka sangat gembira. Jarang-jarang ada pengunjung yang datang dan langsung memilih perhiasan lebih dari 1 set.

Membayangkan berapa besar komisi yang akan dia terima membuat pegawai toko itu semakin bersemangat. Kali ini dia memberikan perhatian lebih pada Mayang.

Dari pengamatannya, Mayang adalah wanita yang semua keinginannya akan dipenuhi oleh lelaki yang bersamanya. Lelaki yang begitu memuja wanitanya walaupun wanitanya terlihat tidak peduli.

“Kau tidak perlu membelikannya untukku. Ingat aku belum ada niat memberikan jawaban padamu jadi aku belum berhak menguras isi rekeningmu,” jawab Mayang tertawa.

Sama seperti yang dilakukan oleh Mayang, Erwin-pun tertawa. Bagaimana tidak, sudah jelas Erwin serius dengan ucapannya dan Mayang juga sudah mengatakan kalau dia bersedia. Erwin mengira semua ucapan Mayang dilakukan karena dia terlalu cepat mengambil keputusan dan kini mulai berniat mengulur waktu.

Apa mungkin Mayang menyesal karena berpikir keputusannya yang begitu cepat bisa diartikan oleh Erwin sebagai wanita matre yang langsung tergiur setelah mendengar keuntungan yang dia peroleh?

Apa pun yang ada di dalam pikiran Mayang, saat ini Erwin tidak peduli.

“Aku serius dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ucapanku tadi.”

“Aku juga sama. Aku sama sekali tidak berniat melakukannya. Aku sudah memiliki ini,” kata Mayang kembali memperlihatkan pergelangan tangannya.

“Kau menerima pemberian dari wanita yang menjadi klienmu tapi kau menolak pemberianku yang akan menjadi suamimu. Kau harus bersikap adil dengan mengikuti keinginanku,” kata Erwin kembali.

“Baiklah, tapi aku tidak akan memilih 1 set lengkap karena saat ini kau bukan siapa-siapa aku. Aku akan memilih cincin ini saja,” jawab Mayang setelah cukup lama ia memilih perhiasan yang benar-benar pas dengan keinginannya.

“Hanya ini? Tidak kau harus memilih satu lagi,” kata Erwin setelah melihat pilihan Mayang yang jauh dari perkiraannya.

Dengan wajah kesal karena Erwin terus-terusan memaksanya, Akhirnya Mayang memilih kembali lalu menyerahkannya pada Erwin yang kini tersenyum puas.

“Itu baru calon istriku,” bisik Erwin di telingan Mayang. Begitu dekat hingga napas Erwin yang hangat menggelitik telinganya.

“Kami sudah memilihnya dan aku minta tagihannya segera di siapkan!” perintah Erwin.

Dua orang pegawai segera membuat nota pesanan dengan cepat seolah mereka khawatir Mayang dan Erwin akan berubah pikiran sementara pegawai yang sudah melayani mereka segera mengemas perhiasan yang sudah dipilih Mayang.

“Untuk apa kau memaksaku memilih perhiasan yang begitu berlebihan?” tanya Mayang kembali berbisik.

Erwin tidak langsung menjawab, dia justru meminta pegawai toko menyerahkan cincin yang sudah dipilih oleh Mayang.

“Cincin yang dua buah, berikan padaku!” perintah Erwin dan ia langsung mengambilnya untuk dipasangkan di jari Mayang.

“Eh apa yang kau lakukan?” tanya Mayang berusaha menarik tangannya dari pegangan Erwin.

“Cincin ini adalah pilihanmu dan aku ingin kau memakainya segera,” jawab Erwin dengan mata memohon.

“Apakah kau bermaksud melamarku dengan memakaikan cincin tersebut?” goda Mayang.

Dia sudah terlalu lelah menolak dan membantah setiap ucapan dan keinginan Erwin, jadi kenapa dia tidak menggodanya sekalian. Dia ingin tahu apakah Erwin berubah setelah mengetahui dirinya sebagai wanita yang labil dan tidak berpendirian.

Senyum Erwin dan matanya yang bersinar adalah jawaban atas ucapan Mayang. Dia sudah memasangkan cincin di jari Mayang dan langsung membawanya ke arah bibirnya.

Mayang belum sempat berpikir apa yang akan dilakukan oleh Erwin karena dia melihat ke arah lain saat Erwin memasang cincin tersebut.

Dia sangat terkejut tidak mengira Erwin mencium tangannya dan memberikan kecupan pada jari yang memakai cincin.

Suara tawa tertahan terdengar dari mulut pegawai yang melihatnya dan mereka tersenyum mendukung yang dilakukan oleh Erwin.

Seandainya saja mereka tahu yang sebenarnya.

Episodes
1 Sakit kepala
2 Mengikuti kemauan
3 Ketemu mantan
4 Penasaran
5 Sakit hati
6 Kemarahan
7 Kapan berakhir
8 Selalu ada yang lain
9 Pengalaman baru
10 Penilaian
11 Perbedaan yang besar
12 Ketemu lagi
13 Sulit untuk percaya
14 Lebih dari permintaan
15 Lebih dari menerima
16 Tidak bisa memilih
17 Beda kelas
18 Cukup sudah
19 Menguji kesabaran
20 Selalu ada pilihan
21 Sebuah permulaan
22 Arti kesetiaan
23 Menginap di tempat asing
24 Nama yang tersimpan
25 Selalu ada sebab akibat
26 Pemandangan langka
27 Menyusun rencana
28 Godaan besar
29 Penemuan baru
30 Berpikir lurus
31 Tidak bergantung
32 Lebih dari sekedar ingin tahu
33 Tidak ada yang kebetulan
34 Bukan yang aku inginkan
35 Tidak adil
36 Jangan asal tuduh
37 Aku di matamu
38 Perhatian lebih
39 Sempurna
40 Bikin lupa
41 Hasil Menguping
42 Pertemuan kedua
43 Tidak rela melepaskan
44 Yang berbeda
45 Penilaian
46 Keyakinan dan kepastian
47 Uji mental
48 Wawancara atau interogasi
49 Melindungi
50 Keinginan Danisa
51 Belajar mengenal
52 Kedatangan Rachel
53 Telepon tengah malam
54 Bukan yang biasa
55 Ingin tahu
56 Banyak pertanyaan
57 Apa maunya
58 Deal
59 Ikut merasakan
60 Tantangan baru
61 Nasihat dari keluarga
62 Sebuah permintaan
63 Sebuah permainan baru
64 Bertemu Indri
65 Bukan seperti ini
66 Pesan dari keluarga
67 Penyelesaian yang jitu
68 Tertipu
69 Dia lagi
70 Yang berbeda
71 Pintu yang terbuka
72 Hari yang berbeda
73 Semangat Mayang
74 Perhatian
75 Jangan membuatku lemah
76 Keputusan
77 Tidak ada kebimbangan
78 Salah sasaran
79 Yang lama tersimpan
80 Sebab akibat
81 Peraturan
82 Ember bocor
83 Setipis kulit bawang
84 Panik
85 Aku menunggu
86 Bahagialah
87 Gencatan senjata
88 Tidak tahu malu
89 Tidak sebanding
90 Jangan memaksa
91 Perhatian yang berbeda
92 Sabar lebih baik
93 Istriku yang cantik
94 Seperti berada di dunia lain
95 Jangan ragu
96 Bukan topeng biasa
97 Sesuai keinginan
98 Nilai sebuah kepercayaan
99 Bukan yang lain
100 Puas berdua
101 Semudah itu
102 Menagih janji
103 Karyawan istimewa
104 Jalan keluar
105 Di luar kemampuan
106 Masihkah ada
107 Niat jahat
108 Janji
109 Informasi atau jebakan
110 Salah atau kalah
111 Peringatan
112 Ada untukmu
113 Cari ide
114 Sebuah usul
115 Yang terhebat
116 Bukan benar dan salah
117 Bersamamu
118 Jangan membuatku gila
119 Terluka kembali
120 Mengapa
121 Bercerminlah
122 Tidak ada kompromi
123 Antara masalah dan musibah
124 Tuduhan keji
125 Diam bukan emas
126 Haruskah menerima
127 Bukan pasangan yang tepat
128 Rencana yang gagal
129 Tidak menemukanmu
130 Kabar buruk atau bahagia
131 Mayang oh Mayang
132 Sesak dan menyakitkan
133 Ketika semua orang menyalahkan
134 Cantik mana
135 Perlahan tapi pasti
136 Kejutan
137 Isyarat
138 Dekat
139 Tambah dekat
140 Main cantik
141 Cari pemenang
142 Pulang
143 Kemarahan Riezka
144 Aku ingin menebus kesalahan
145 Penyesalan Erwin
146 Seperti orang asing
147 Tetap berusaha walaupun sulit
148 Episode baru kehidupan
149 Ijinkan aku bahagia
150 Sakitnya masih terasa
151 Pelan tapi pasti
152 Wajah asing
153 Jangan membuatku kecewa lagi
154 Semua ingin bahagia
155 Salah paham
156 Semua sudah selesai
Episodes

Updated 156 Episodes

1
Sakit kepala
2
Mengikuti kemauan
3
Ketemu mantan
4
Penasaran
5
Sakit hati
6
Kemarahan
7
Kapan berakhir
8
Selalu ada yang lain
9
Pengalaman baru
10
Penilaian
11
Perbedaan yang besar
12
Ketemu lagi
13
Sulit untuk percaya
14
Lebih dari permintaan
15
Lebih dari menerima
16
Tidak bisa memilih
17
Beda kelas
18
Cukup sudah
19
Menguji kesabaran
20
Selalu ada pilihan
21
Sebuah permulaan
22
Arti kesetiaan
23
Menginap di tempat asing
24
Nama yang tersimpan
25
Selalu ada sebab akibat
26
Pemandangan langka
27
Menyusun rencana
28
Godaan besar
29
Penemuan baru
30
Berpikir lurus
31
Tidak bergantung
32
Lebih dari sekedar ingin tahu
33
Tidak ada yang kebetulan
34
Bukan yang aku inginkan
35
Tidak adil
36
Jangan asal tuduh
37
Aku di matamu
38
Perhatian lebih
39
Sempurna
40
Bikin lupa
41
Hasil Menguping
42
Pertemuan kedua
43
Tidak rela melepaskan
44
Yang berbeda
45
Penilaian
46
Keyakinan dan kepastian
47
Uji mental
48
Wawancara atau interogasi
49
Melindungi
50
Keinginan Danisa
51
Belajar mengenal
52
Kedatangan Rachel
53
Telepon tengah malam
54
Bukan yang biasa
55
Ingin tahu
56
Banyak pertanyaan
57
Apa maunya
58
Deal
59
Ikut merasakan
60
Tantangan baru
61
Nasihat dari keluarga
62
Sebuah permintaan
63
Sebuah permainan baru
64
Bertemu Indri
65
Bukan seperti ini
66
Pesan dari keluarga
67
Penyelesaian yang jitu
68
Tertipu
69
Dia lagi
70
Yang berbeda
71
Pintu yang terbuka
72
Hari yang berbeda
73
Semangat Mayang
74
Perhatian
75
Jangan membuatku lemah
76
Keputusan
77
Tidak ada kebimbangan
78
Salah sasaran
79
Yang lama tersimpan
80
Sebab akibat
81
Peraturan
82
Ember bocor
83
Setipis kulit bawang
84
Panik
85
Aku menunggu
86
Bahagialah
87
Gencatan senjata
88
Tidak tahu malu
89
Tidak sebanding
90
Jangan memaksa
91
Perhatian yang berbeda
92
Sabar lebih baik
93
Istriku yang cantik
94
Seperti berada di dunia lain
95
Jangan ragu
96
Bukan topeng biasa
97
Sesuai keinginan
98
Nilai sebuah kepercayaan
99
Bukan yang lain
100
Puas berdua
101
Semudah itu
102
Menagih janji
103
Karyawan istimewa
104
Jalan keluar
105
Di luar kemampuan
106
Masihkah ada
107
Niat jahat
108
Janji
109
Informasi atau jebakan
110
Salah atau kalah
111
Peringatan
112
Ada untukmu
113
Cari ide
114
Sebuah usul
115
Yang terhebat
116
Bukan benar dan salah
117
Bersamamu
118
Jangan membuatku gila
119
Terluka kembali
120
Mengapa
121
Bercerminlah
122
Tidak ada kompromi
123
Antara masalah dan musibah
124
Tuduhan keji
125
Diam bukan emas
126
Haruskah menerima
127
Bukan pasangan yang tepat
128
Rencana yang gagal
129
Tidak menemukanmu
130
Kabar buruk atau bahagia
131
Mayang oh Mayang
132
Sesak dan menyakitkan
133
Ketika semua orang menyalahkan
134
Cantik mana
135
Perlahan tapi pasti
136
Kejutan
137
Isyarat
138
Dekat
139
Tambah dekat
140
Main cantik
141
Cari pemenang
142
Pulang
143
Kemarahan Riezka
144
Aku ingin menebus kesalahan
145
Penyesalan Erwin
146
Seperti orang asing
147
Tetap berusaha walaupun sulit
148
Episode baru kehidupan
149
Ijinkan aku bahagia
150
Sakitnya masih terasa
151
Pelan tapi pasti
152
Wajah asing
153
Jangan membuatku kecewa lagi
154
Semua ingin bahagia
155
Salah paham
156
Semua sudah selesai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!