Pertanyaan tentang Erwin yang kehilangan akal dan penglihatan karena tidak bisa melihat siapa wanita yang ada di depannya membuat Mayang tersenyum sinis.
“Kau tahu perbedaan orang gila sama orang lupa ingatan?” tanya Mayang tanpa senyum.
“Apa hubungannya?”
“Hubungannya, kalau orang gila dia bertindak tidak tanpa ada pikiran apapun dan semua tindakannya tidak dapat dipertanggung jawabkan sementara orang lupa ingatan dia sudah lupa bahwa setiap tindakannya harus dipertanggung jawabkan. Entah mengapa saat ini aku berpikir kau mengidap keduanya,” jawab Mayang ketus.
“Menurutku tidak ada yang salah,” jawab Erwin keras kepala.
“Astaga Win…apa kamu tahu bahwa kamu lebih gila dan tidak punya perasaan dibandingkan diriku, kenapa? karena kamu memintaku menjadi isterimu sementara kita baru bertemu kemarin.”
“Dan jangan katakan kita sudah saling kenal sejak SMP karena kita hanya pernah pacaran akibat taruhanmu saja setelah itu tidak ada hubungan apa-apa lagi!”
Penjelasan Mayang yang diucapkan dengan ketus tidak memiliki pengaruh apa pun terhadap Erwin. Dia tetap degil apalagi dengan ucapannya yang membuat Mayang hanya bisa menarik nafas jengkel.
“Jadi apa jawabanmu? Kau tidak marahkan?”
Tidak pernah di dalam kehidupan Mayang dia menerima lamaran dari seorang lelaki lalu mendengar pertanyaan apakah dia marah.
Adakah wanita yang marah setelah dilamar oleh seorang lelaki yang menjadi pujaan para wanita? Hanya wanita bodoh dan Mayang berharap dia bukan salah satu di antara wanita bodoh tersebut.
“Aku tanya kamu, apakah ada wanita yang marah saat seorang pria seperti dirimu melamarnya? Mereka mungkin sama sepertiku menganggap dirimu gila, selebihnya ada yang gembira, menangis bahagia entah apa lagi tapi hanya sedikit saja yang marah."
"Lalu apa jawabanmu?"
Mayang harus menarik napas berkali-kali sebelum menjawab pertanyaan Erwin dan dia ragu apakah setelah mendengar jawabannya Erwin bisa diam dan tidak perlu bertanya lagi.
“Win, kita sudah tidak bertemu juga tidak pernah berhubungan lagi. Sudah sangat lama hingga aku tidak perlu menghitungnya lagi. Kemudian kita bertemu secara tidak sengaja di dalam busway. Apa yang harus aku katakan kalau pada pertemuan kedua kau langsung melamarku? Atau kau hanya bercanda untuk menggodaku? Kalau ya, sama sekali tidak lucu,” jawab Mayang.
Dia tidak perlu melihan reaksi Erwin setelahnya karena Mayang bukan wanita seperti yang dulu lagi. Dulu dia terbuai ketika seorang Erwin menyatakan cintanya, tapi tidak berapa lama kemudian dia mendengar kalau Erwin menjadikan dirinya sebagai taruhan karena sikapnya yang dingin dan tidak peduli pada lawan jenis. Apakah saat ini kejadiannya akan sama kembali?
Sudah cukup dia mendengar omong kosong dari seorang lelaki yang sudah terkenal sebagai playboy. Lelaki yang menurut Mayang tidak bisa mengingat sudah berapa banyak wanita yang pernah menjadi kekasihnya.
“Tidak Mayang. Aku tidak menggodamu dan aku sangat serius.”
“Aku tidak tahu bagian mana yang serius dari ucapanmu. Kau sudah membuatku kecewa dengan candaanmu yang receh.”
“Aku tidak bercanda dan aku serius dengan ucapanku.”
“Baiklah. Kalau kau tidak bercanda, apa keuntungannya buatku selain status janda yang akan aku terima ketika kau sudah mendapatkan semuanya."
Erwin menatap Mayang tidak percaya, matanya berapi-api menatap Mayang.
“Aku tidak mengira bicaramu sangat tajam tanpa peduli apakah teman bicaramu suka atau tidak."
“Maaf kalau kau tidak suka, tapi apa aku harus suka dengan tawaranmu? Aku seorang wanita yang bekerja di bagian marketing jadi aku bisa melihat dirimu sedang membutuhkan sesuatu dan tidak ingin kehilangan kesempatan emas yang menunggumu."
Erwin tertawa tanpa diduga membuat Mayang memalingkan wajahnya.
“Baik, aku suka bicaramu yang terus terang dan memang aku membutuhkan seorang wanita yang berani mengatakan apa yang ada dihatinya. Aku didesak oleh keluargaku untuk segera menikah dalam waktu dekat ini."
“Apa aku boleh tertawa? Aku tidak peduli apakah kau tersinggung atau marah sekalipun. Tapi ucapanmu menandakan dirimu belum berubah, Win.”
“Kenapa kau tidak bisa melakukan tanpa ada dorongan atau desakan? Kau seperti tidak pernah menginginkan sesuatu yang berasal dari dalam hatimu yang paling dalam dan layak kau perjuangkan.”
“Kau masih melakukannya karena kau takut kehilangan atau rugi bila kau tidak berhasil memenuhi tantangan. Dulu kau menjadi kekasihku karena tantangan dari teman-temanmu dan sekarang secara kebetulan kau bertemu denganku kembali pada saat kau dituntut untuk memenuhi kebutuhan mereka. Aku tidak bisa berada di tempat yang sama untuk kedua kalinya.”
“Aku rasa kau sia-sia sudah menyempatkan diri untuk bertemu denganku karena kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan dariku. Permisi.”
Mayang sudah terlalu muak dengan semua tingkah laku sebagian para pemilik harta kekayaan yang berlimpah ruah. Tidak pernahkah terpikir oleh mereka bahwa perkawinan dilakukan bukan karena mempertahankan kekayaan?
Mayang bukan kekasih Erwin dan dirinya pun tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi keinginan Erwin, tetapi mengapa pada saat Erwin menawarkan pernikahan tersebut hatinya terluka?
“Apakah kamu bisa diam dulu? Keluargaku tidak perduli walaupun usiaku baru 23 tahun, bagi mereka aku sudah cukup mapan dan bisa mengambil alih perusahaan, tapi syaratnya aku harus mempunyai isteri.”
“Aku bisa saja meminta salah seorang kekasihku untuk menjadi istriku tapi keluargaku tidak akan setuju karena mereka tahu seperti apa kekasihku. Jadi aku memerlukan bantuanmu karena kau adalah wanita yang sudah aku kenal, dan juga aku yakin keluargaku dapat melihat dirimu sebagai wanita pekerja keras."
“Kau benar bahwa aku adalah pekerja keras sehingga aku tidak mudah menerima apa pun secara instan,” sahut Mayang.
“Mayang. Aku tahu kalau diriku pernah melakukan kesalahan saat menjadikan dirimu sebagai bahan taruhan, tetapi saat ini situasinya berbeda. Aku memerlukan seorang istri yang mengerti diriku dan juga tidak melihat diriku sebagai ladang emas yang bisa dimanfaatkan,” kata Erwin mencoba menjelaskan.
“Apa resikonya kalau kamu tidak segera menikah?"
“Kakekku akan mengalihkan perusahaan dan keuangan keluarga agar diurus oleh sepupuku yang hanya tahu pesta dan pesta saja."
Mata Mayang berkilat tajam. "Apa keuntungan yang aku dapat bila aku menerimanya?"
Erwin tersenyum berpikir kalau dia sudah menang dan yakin kalau dia akan melihat Mayang setuju dengan tawaarannya, tetapi mengapa dia harus sinis melihat perubahan Mayang?
“Nama keluarga besar Harun Stepka Hadinata dan menjadikanmu sebagai Nyonya muda Erwin Bayu Hadinata yang memiliki saham 55 % dalam perusahaan keluarga dan saham 50% di perusahan kosmetik yang memiliki pasar Internasional. Kau akan menjadi satu-satunya wanita yang berhak memiliki semua fasilitas sebagai isteri dari Presdir Yestestvennaya Krasota (YN) Corporation. Mengenai detail lainnya, pengacaraku akan menjelaskan saat kamu setuju dan bersedia menikah denganku."
“Sangat menarik dan menggiurkan tapi sayang aku tidak bisa menerimanya.”
Tanpa menunggu reaksi dari Erwin, Mayang bangun dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Erwin yang menatapnya tidak percaya.
Apakah Mayang sudah gila menolak tawaran dan kesempatan emas sebagai istri pemilik perusahaan yang paling disegani? Erwin terlalu menilai Mayang sebagai wanita matrealistis hanya karena dia sempat bertemu dengan Meliana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
kejar donk Win, kalau mmg kamu mau
2023-09-19
0