Perbedaan yang besar

Seperti kebanyakan para pemilik uang yang tidak berseri, Lily membawa Mayang mengunjungi salah satu mall terbesar di Jakarta.

Sebagai seorang tuan rumah yang melayani kliennya, Mayang memiliki kesenangan tersendiri yang mungkin tidak bisa dia temukan bila dia pergi sendirian. Mayang tidak pernah tahu dan menduga kalau tujuan Lily bukan hanya berbelanja tetapi dia juga memiliki rencana untuk menyewa salah satu toko yang ada di mall tersebut.

Lily membawa Mayang bertemu dengan manager mall yang sudah dikenal akrab oleh Lily untuk menandatangani sewa tempat. Mayang tidak perlu tahu apa yang akan dilakukan Lily dengan menyewa tempat tersebut karena dari ukurannya tidak mungkin untuk menjadikan tempat tersebut sebagai showroom furniture.

“Senang, ya, Bu, bisa memiliki tempat yang sangat bagus seperti ini,” kata Mayang untuk mengungkapkan kalau dia perhatian pada tempat yang disewa oleh Lily.

“Sebenarnya tempat ini sudah begitu lama aku inginkan. Hanya saja baru sekarang saya baru bisa melakukannya. Kau pasti bisa menebak berapa besar harga sewa di sini. Rencananya tempat ini akan aku serahkan pada menantuku. Aku ingin dia mempunyai kegiatan bukan hanya duduk menunggu suami di rumah,” jawab Lily pelan.

Mayang tidak tahu mengapa Lily bicara dengan nada seperti wanita yang membutuhkan tempat untuk curhat sementara dia sendiri merasa tidak layak mendapatkan kepercayaan yang begitu besar.

“Kau sendiri, sudah punya kekasih?” tanya Lily yang kini berusaha lebih dekat dengan Mayang.

“Aku terlalu sibuk bekerja hingga lupa mencari kekasih,” jawab Mayang tertawa.

“Berapa usiamu?”

“Usiaku sekarang sudah 22 tahun. Cukup tua bila aku belum mempunyai kekasih sementara yang usianya di bawahku sudah berkali-kali ganti pasangan,” katanya lagi tanpa melepaskan senyumnya.

“Jangan menjadikan usia sebagai alasan untuk bertindak gegabah. Kau masih cukup muda juga memiliki kecantikan yang menarik. Aku yakin kau akan menemukan lelaki yang tepat.”

“Aamiin, semoga doa ibu segera menjadi kenyataan dan berharap hari itu akan segera datang,” jawab Mayang.

“Kamu pasti akan mendapatkan jodoh yang terbaik, Mayang. Dia akan menyayangi kamu karena kamu adalah wanita yang baik,” kata Lily membuat Mayang sekali lagi hanya bisa tertawa.

Hari itu Mayang menemani Lily di mall. Bukan hanya menemui manager mall tetapi juga berburu barang-barang branded yang harganya cukup membuat Mayang tidak berani bermimpi.

“Berhubung acara belanja kita sudah selesai, bagaimana kalau sekarang kita makan?” tanya Lily.

Menikmati makan siang di salah satu restoran yang besar dan terkenal yang berada di dalam mall memberi kesempatan pada Lily untuk mengetahui siapa Mayang. Wanita yang menurutnya begitu tenang seolah-olah tidak memiliki emosi.

“Kalau aku boleh tahu, sudah berapa lama kau bekerja di Dorama?”

"Aku mulai bekerja di Dorama sejak masuk SMA, tepatnya sejak aku tinggal bersama keluarga Pak Allen. Sebenarnya beliau tidak memaksa saya untuk bekerja, tapi saya ingin mempunyai uang jajan sendiri, jadi setiap pulang sekolah saya langsung ke pabrik atau kami biasanya bilang workshop."

“Tinggal bersama keluarga Pak Allen, apakah kalian mempunyai hubungan kerabat?”

“Benar Bu. Saya adalah keponakan istrinya Pak Allen.”

“Tunggu. Kalau tidak salah, Stella dan juga Hanna juga keponakan dari Pak Allen bukan, tapi kenapa aku lihat ada rasa dengki pada mereka?”

“Kalau mereka adalah keponakan langsung dari Pak Allen. Dan aku rasa bukan dengki bu, tetapi tidak puas karena saya yang lebih dulu bekerja di sana sehingga sudah mempunyai jabatan dan juga dikenal oleh para pemilik toko. Sama seperti ibu mengenal saya,” jawab Mayang.

“Kalau saya sih, terus terang lebih suka kenal dan kerja sama dengan mu, Mayang. Mereka berdua membuat tidak nyaman dengan setiap kata-katanya.”

“Aku tidak tahu mengapa cara mereka membujuk pembeli dengan cara mendesak, sementara aku bukan orang yang mudah menerima desakan apalagi dipaksa.”

“Mengapa aku harus mengikuti desakan penjual sementara masih banyak produsen yang juga memiliki produk yang tidak jauh berbeda,” sahut Lily membuat Mayang terkesiap.

Apakah sikap Stella dan Hanna sudah membuat Dorama kehilangan pelanggan? Selama ini dia terlalu sibuk dengan tugasnya sendiri hingga dia tidak memperhatikan perusahaan. Namun, apakah semua itu kesalahannya sementara mereka berdua tidak ada yang pernah bersedia mendengar ucapannya.

Sepertinya menjanjikan untuk memberikan pengarahan adalah kesempatan yang sangat tepat. Tidak mungkin Dorama harus kehilangan pelanggan hanya karena tindakan 2 orang yang tidak bertanggung jawab.

Setelah istirahat dan makan siang, mereka melanjutkan acara belanja sesuai dengan keinginan Lily. Mayang tidak habis pikir apakah Lily akan memborong semua barang yang ada karena setiap kali mereka memasuki toko, begitu keluar pasti sudah membawa barang belanjaan.

Mereka sudah berbelanja cukup banyak saat Lily membawa Mayang memasuki sebuah toko perhiasan yang cukup terkenal.

Mayang tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pegawai toko perhiasan begitu melihat Lily perhatian padanya. Senyum Mayang membias di bibirnya saat pikiran ngelantur singgah di kepalanya. Apa mungkin pegawai toko tersebut berpikir kalau dia adalah anak perempuan wanita yang begitu sibuk memperhatian perhiasan dengan berbagai model tersebut.

“Mayang, menurutmu mana yang indah?” tanya Lily.

Mayang ikut memperhatikan perhiasan yang dipegang Lily untuk di nilai Mayang.

“Kalau saya lebih suka yang ini Bu. Coba ibu perhatikan model tersebut? Detailnya sangat unik seperti dikerjakan oleh seorang ahli design perhiasan yang sudah terkenal,” jawab Mayang.

“Wah…wah, saya tidak mengira kalau kakak ini sangat pandai menilai barang. Memang barang ini adalah hasil kerajinan tangan yang sangat indah dan halus,” jawab pemilik toko.

“Dia memang sangat pandai dan pintar,” beritahu Lily membuat wajah Mayang memerah.

“Saya hanya orang awam yang hanya mengerti sedikit tapi sudah menjadi sok pintar,” jawab Mayang malu.

Mayang memperhatikan Lily yang membeli perhiasan seolah-olah di daerahnya tidak ada toko perhiasan. Apa yang dilakukan atau apa yang diharapkan oleh Lily saat dia membawanya ikut serta memilih salah satu perhiasan.

Mayang tahu bahwa Lily adalah wanita yang sangat royal terutama pada dirinya. Sudah banyak dia mendapatkan hadiah dari wanita yang terkesan ketus dan sulit mendapatkan pujian darinya.

Pada awal Mayang mengenal Lily sebagai customer Dorama, Lily ditemani oleh Allen dan Stella dan dia hanya memesan sedikit barang saja bahkan kalau dia datang ke Jakarta dan tidak bertemu dengan Allen, maka tidak ada barang yang dipesan hingga Allen memutuskan agar Mayang yang melayani wanita yang selalu memiliki banyak pertanyaan pada setiap produk buatan Dorama.

“Mayang, bagaimana kalau kau juga memilih perhiasan yang kau inginkan. Kau tidak perlu khawatir, aku yang akan membayarnya,” terdengar suara Lily yang menawarkan Mayang agar memilih perhiasan yang dia sukai.

“Terima kasih Bu. Aku rasa tidak perlu,” kata Mayang menolak pemberian Lily.

“Perlu. Kau sudah menemaniku cukup lama hingga kau mungkin harus membatalkan beberapa janji. Jadi ijinkan aku untuk memberimu hadiah.”

“Tapi tidak perlu barang semewah ini Bu. Ibu memesan barang di tempat kami sudah cukup,” katanya.

“Cukup bagi Dorama tapi bukan buatmu. Aku akan tetap memberimu hadiah. Coba kau pakai gelang ini, sepertinya pas untuk pergelangan tanganmu,” perintah Lily tidak menerima penolakan.

Dengan berat hati akhirnya Mayang menerima hadiah tersebut karena begitu gelang tersebut melingkar di pergelangannya, Lily melarang Mayang untuk melepasnya.

“Aku sangat bahagia kalau kau memakainya setiap hari gelang yang aku berikan padamu, Mayang. Kau sudah memberikan keuntungan yang sangat besar padaku,” kata Lily tulus.

“Terima kasih Bu, walaupun aku harus bertanya apa yang sudah aku perbuat untuk ibu. Tidak ada satu pun yang sudah aku kerjakan apalagi memberi keuntungan seperti yang barusan ibu katakan.”

“Kau tidak perlu tahu, cukup aku saja yang berterima kasih padamu.”

Setelah mendapatkan semua yang diinginkan Lily, mereka keluar dari mall dan sudah berada di dalam mobil Ali ketika ponsel yang berada di dalam tas Lily berdering.

“Anakku menelepon,” kata Lily tanpa ditanya.

Mayang tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Lily di telepon karena mereka menggunakan bahasa daerah hingga Mayang dan Ali hanya berdiam diri saja.

“Anakku memberi kabar kalau dia juga berada di Jakarta. Tadi dia minta supaya menunggunya di sini,” beritahu Lily pada Mayang.

“Kalau begitu aku akan menemani ibu sampai putra itu datang. Ibu tidak keberatan bukan kalau aku temani?”

“Tentu saja tidak, tapi kau bisa kembali kalau memang ada pekerjaan lain.”

“Tidak ada Bu. Hari ini kebetulan tidak ada janji dengan siapa pun,” jawab Mayang.

“Terima kasih Mayang. Bagaimana kalau kita menunggu putraku di dalam saja.”

Mayang dan Lily akhirnya menunggu putra dari Lily yang akan datang menjemputnya hingga Mayang dan Ali tidak perlu mengantarnya ke tempat Lily menginap sedangkan jam di workshop sudah lama selesai. Tidak ada alasan bagi Mayang untuk kembali ke tempat kerja dan dia bisa langsung pulang.

Episodes
1 Sakit kepala
2 Mengikuti kemauan
3 Ketemu mantan
4 Penasaran
5 Sakit hati
6 Kemarahan
7 Kapan berakhir
8 Selalu ada yang lain
9 Pengalaman baru
10 Penilaian
11 Perbedaan yang besar
12 Ketemu lagi
13 Sulit untuk percaya
14 Lebih dari permintaan
15 Lebih dari menerima
16 Tidak bisa memilih
17 Beda kelas
18 Cukup sudah
19 Menguji kesabaran
20 Selalu ada pilihan
21 Sebuah permulaan
22 Arti kesetiaan
23 Menginap di tempat asing
24 Nama yang tersimpan
25 Selalu ada sebab akibat
26 Pemandangan langka
27 Menyusun rencana
28 Godaan besar
29 Penemuan baru
30 Berpikir lurus
31 Tidak bergantung
32 Lebih dari sekedar ingin tahu
33 Tidak ada yang kebetulan
34 Bukan yang aku inginkan
35 Tidak adil
36 Jangan asal tuduh
37 Aku di matamu
38 Perhatian lebih
39 Sempurna
40 Bikin lupa
41 Hasil Menguping
42 Pertemuan kedua
43 Tidak rela melepaskan
44 Yang berbeda
45 Penilaian
46 Keyakinan dan kepastian
47 Uji mental
48 Wawancara atau interogasi
49 Melindungi
50 Keinginan Danisa
51 Belajar mengenal
52 Kedatangan Rachel
53 Telepon tengah malam
54 Bukan yang biasa
55 Ingin tahu
56 Banyak pertanyaan
57 Apa maunya
58 Deal
59 Ikut merasakan
60 Tantangan baru
61 Nasihat dari keluarga
62 Sebuah permintaan
63 Sebuah permainan baru
64 Bertemu Indri
65 Bukan seperti ini
66 Pesan dari keluarga
67 Penyelesaian yang jitu
68 Tertipu
69 Dia lagi
70 Yang berbeda
71 Pintu yang terbuka
72 Hari yang berbeda
73 Semangat Mayang
74 Perhatian
75 Jangan membuatku lemah
76 Keputusan
77 Tidak ada kebimbangan
78 Salah sasaran
79 Yang lama tersimpan
80 Sebab akibat
81 Peraturan
82 Ember bocor
83 Setipis kulit bawang
84 Panik
85 Aku menunggu
86 Bahagialah
87 Gencatan senjata
88 Tidak tahu malu
89 Tidak sebanding
90 Jangan memaksa
91 Perhatian yang berbeda
92 Sabar lebih baik
93 Istriku yang cantik
94 Seperti berada di dunia lain
95 Jangan ragu
96 Bukan topeng biasa
97 Sesuai keinginan
98 Nilai sebuah kepercayaan
99 Bukan yang lain
100 Puas berdua
101 Semudah itu
102 Menagih janji
103 Karyawan istimewa
104 Jalan keluar
105 Di luar kemampuan
106 Masihkah ada
107 Niat jahat
108 Janji
109 Informasi atau jebakan
110 Salah atau kalah
111 Peringatan
112 Ada untukmu
113 Cari ide
114 Sebuah usul
115 Yang terhebat
116 Bukan benar dan salah
117 Bersamamu
118 Jangan membuatku gila
119 Terluka kembali
120 Mengapa
121 Bercerminlah
122 Tidak ada kompromi
123 Antara masalah dan musibah
124 Tuduhan keji
125 Diam bukan emas
126 Haruskah menerima
127 Bukan pasangan yang tepat
128 Rencana yang gagal
129 Tidak menemukanmu
130 Kabar buruk atau bahagia
131 Mayang oh Mayang
132 Sesak dan menyakitkan
133 Ketika semua orang menyalahkan
134 Cantik mana
135 Perlahan tapi pasti
136 Kejutan
137 Isyarat
138 Dekat
139 Tambah dekat
140 Main cantik
141 Cari pemenang
142 Pulang
143 Kemarahan Riezka
144 Aku ingin menebus kesalahan
145 Penyesalan Erwin
146 Seperti orang asing
147 Tetap berusaha walaupun sulit
148 Episode baru kehidupan
149 Ijinkan aku bahagia
150 Sakitnya masih terasa
151 Pelan tapi pasti
152 Wajah asing
153 Jangan membuatku kecewa lagi
154 Semua ingin bahagia
155 Salah paham
156 Semua sudah selesai
Episodes

Updated 156 Episodes

1
Sakit kepala
2
Mengikuti kemauan
3
Ketemu mantan
4
Penasaran
5
Sakit hati
6
Kemarahan
7
Kapan berakhir
8
Selalu ada yang lain
9
Pengalaman baru
10
Penilaian
11
Perbedaan yang besar
12
Ketemu lagi
13
Sulit untuk percaya
14
Lebih dari permintaan
15
Lebih dari menerima
16
Tidak bisa memilih
17
Beda kelas
18
Cukup sudah
19
Menguji kesabaran
20
Selalu ada pilihan
21
Sebuah permulaan
22
Arti kesetiaan
23
Menginap di tempat asing
24
Nama yang tersimpan
25
Selalu ada sebab akibat
26
Pemandangan langka
27
Menyusun rencana
28
Godaan besar
29
Penemuan baru
30
Berpikir lurus
31
Tidak bergantung
32
Lebih dari sekedar ingin tahu
33
Tidak ada yang kebetulan
34
Bukan yang aku inginkan
35
Tidak adil
36
Jangan asal tuduh
37
Aku di matamu
38
Perhatian lebih
39
Sempurna
40
Bikin lupa
41
Hasil Menguping
42
Pertemuan kedua
43
Tidak rela melepaskan
44
Yang berbeda
45
Penilaian
46
Keyakinan dan kepastian
47
Uji mental
48
Wawancara atau interogasi
49
Melindungi
50
Keinginan Danisa
51
Belajar mengenal
52
Kedatangan Rachel
53
Telepon tengah malam
54
Bukan yang biasa
55
Ingin tahu
56
Banyak pertanyaan
57
Apa maunya
58
Deal
59
Ikut merasakan
60
Tantangan baru
61
Nasihat dari keluarga
62
Sebuah permintaan
63
Sebuah permainan baru
64
Bertemu Indri
65
Bukan seperti ini
66
Pesan dari keluarga
67
Penyelesaian yang jitu
68
Tertipu
69
Dia lagi
70
Yang berbeda
71
Pintu yang terbuka
72
Hari yang berbeda
73
Semangat Mayang
74
Perhatian
75
Jangan membuatku lemah
76
Keputusan
77
Tidak ada kebimbangan
78
Salah sasaran
79
Yang lama tersimpan
80
Sebab akibat
81
Peraturan
82
Ember bocor
83
Setipis kulit bawang
84
Panik
85
Aku menunggu
86
Bahagialah
87
Gencatan senjata
88
Tidak tahu malu
89
Tidak sebanding
90
Jangan memaksa
91
Perhatian yang berbeda
92
Sabar lebih baik
93
Istriku yang cantik
94
Seperti berada di dunia lain
95
Jangan ragu
96
Bukan topeng biasa
97
Sesuai keinginan
98
Nilai sebuah kepercayaan
99
Bukan yang lain
100
Puas berdua
101
Semudah itu
102
Menagih janji
103
Karyawan istimewa
104
Jalan keluar
105
Di luar kemampuan
106
Masihkah ada
107
Niat jahat
108
Janji
109
Informasi atau jebakan
110
Salah atau kalah
111
Peringatan
112
Ada untukmu
113
Cari ide
114
Sebuah usul
115
Yang terhebat
116
Bukan benar dan salah
117
Bersamamu
118
Jangan membuatku gila
119
Terluka kembali
120
Mengapa
121
Bercerminlah
122
Tidak ada kompromi
123
Antara masalah dan musibah
124
Tuduhan keji
125
Diam bukan emas
126
Haruskah menerima
127
Bukan pasangan yang tepat
128
Rencana yang gagal
129
Tidak menemukanmu
130
Kabar buruk atau bahagia
131
Mayang oh Mayang
132
Sesak dan menyakitkan
133
Ketika semua orang menyalahkan
134
Cantik mana
135
Perlahan tapi pasti
136
Kejutan
137
Isyarat
138
Dekat
139
Tambah dekat
140
Main cantik
141
Cari pemenang
142
Pulang
143
Kemarahan Riezka
144
Aku ingin menebus kesalahan
145
Penyesalan Erwin
146
Seperti orang asing
147
Tetap berusaha walaupun sulit
148
Episode baru kehidupan
149
Ijinkan aku bahagia
150
Sakitnya masih terasa
151
Pelan tapi pasti
152
Wajah asing
153
Jangan membuatku kecewa lagi
154
Semua ingin bahagia
155
Salah paham
156
Semua sudah selesai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!