Mata Mayang yang semula tenang tiba-tiba menjadi gelisah begitu dia melihat keadaan di dalam rumah yang sangat berantakan.
“Aku minta maaf. Aku tidak mengira mengapa begitu berantakan, karena waktu aku tinggal dalam keadaan rapi," kata Mayang mencoba mengatasi rasa malunya.
“Aku rasa kau harus membaca ini,” kata Erwin menunjukkan selembar kertas yang dia temukan ketika menutup pintu. “Aku menemukannya menempel di pintu bagian dalam,” beritahunya.
Wajah Mayang berubah pucat sekaligus marah. Dia tidak mengira Meli melakukan perbuatan yang sangat tidak terpuji. Dengan seenaknya tanpa memikirkan keadaannya dia sudah menyewakan rumah miliknya pada orang lain.
Apa hak yang dimiliki oleh Meli sehingga dia begitu mudah melakukan semua yang dia mau. Apakah dia memang tidak pernah dianggap sebagai bagian dari keluarga Winata?
“Kau yakin kalau Meli adalah saudara kembarmu?” tanya Erwin tajam setelah ia selesai membaca surat yang sudah dia ambil dari tangan Mayang.
“Aku tidak tahu, tetapi bagimu sendiri apa kau pernah melihat saudara kandung bertindak seperti yang dilakukan Meli padaku?”
“Tidak. Aku tidak pernah melihatnya. Aku sangat yakin kalau Mely mempunyai penyakit yang sulit disembuhkan. Sebenarnya rumah siapa yang kalian tempati ini?”
“Dulunya rumah ini adalah milik nenekku, tetapi nenekku kemudian menyuruhku untuk membelinya dengan cara mencicilnya. Hanya ibuku yang tidak menyaksikannya karena dia masih marah akibat Meli menjual rumah kami dan dia menyalahkan aku yang tidak bisa mengatasinya,” jawab Mayang emosi.
“Menurutku dia pasti akan melakukan hal sama padamu lagi. Dia akan memanfaatkan wajah kembar kalian untuk membuatmu menjadi tersangka. Sekarang aku ingin tanya apa kau akan berdiam diri saja sementara rumah ini adalah milikmu secara sah.”
Sinar mata yang sebelumnya terluka kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian dan kemarahan. Mayang sudah terlalu sering menerima sikap tidak adil yang diberikan orang tua dan juga Meli sebagai saudara kembarnya. Di dalam hati Mayang dia setuju dengan ucapan Erwin bahwa Meli bisa saja menjual rumahnya kalau dia hanya berdiam diri saja.
“Meli tidak akan bisa melakukannya dan tidak akan terjadi karena aku yang akan menjualnya lebih dulu,” jawan Mayang dengan keyakinan penuh.
“Bagaimana kalau kau menjualnya padaku? Aku yakin sangat sulit menemukan pembeli yang bisa membayar rumahmu yang cukup besar ini. Jangan khwatir aku akan memberikan harga yang pantas dan di atas harga pasaran,” kata Erwin membuat Mayang terdiam.
Pikiran bahwa Meli akan melakukan hal yang sama seperti pada rumah orang tuanya membuat Mayang berusaha mempertahankan haknya. Dia yakin bila dia menjual rumahnya, orang tuanya secara tidak adil akan menyalahkan dirinya tanpa melihat yang dilakukan Meli sudah sangat merugikan dirinya.
Bagimana bisa seorang kakak menyuruhnya pindah dari rumahnya sendiri karena dia sudah menyewakan pada orang lain. Sementara selama Meli tinggal bersamanya dia selalu menjadi beban dalam hidupnya.
“Kalau aku menjualnya padamu, apa yang akan kau lakukan pada orang yang telah menyewa rumah ini?”
“Selama mereka tidak menyewa padamu, aku yakin tidak masalah. Aku akan mengatakan bahwa mereka melakukan hal yang salah.” Jawab Erwin dengan keyakinan yang tinggi.
“Lalu bagaimana kalau dia menuntut Meli? Aku yakin orang tuaku pasti sangat marah.”
“Lalu kau akan membiarkan begitu saja? Kau selamanya akan menjadi seperti ini. Tidak memiliki harga diri dan selalu di remehkan karena kau tidak berani melawan. Saranku berikan pelajaran pada Meli agar dia sedikit saja menjadi manusia yang mempunyai harga diri kalau tidak mau dikatakan memiliki hati binatang,” jawab Erwin kejam.
”Kalau aku menerimanya, siapa yang menjadi saksi atas jual beli ini?” tanya Mayang lagi.
“Sekarang semuanya bisa dilakukan dengan cepat. Kita bisa melakukannya di depan notaris. Karena Meli sudah menyewakan pada orang lain, aku harap kau bisa membuat tanggal jual beli pada hari ini?” saran Erwin.
Mayang tidak langsung menjawab. Matanya melihat sekeliling dan hanya ada kemarahan yang dapat dia ingat sehingga Mayang tanpa ragu menyetujui rencana Erwin.
“Kalau begitu malam ini aku akan menghubungi notaris dan juga pengacaraku. Kau bisa meminta ketua Rt untuk menjadi saksi. Bagaimanapun rumah ini sudah disewakan oleh Meli sehingga kita memiliki saksi bahwa rumah ini sudah berpindah tangan.”
“Jadi kalau Pak Rt bertanya kapan rumah ini dijual, aku harus menjawab apa?” tanya Mayang yang tiba-tiba tidak bisa berpikir.
“Kau bisa mengatakan sudah sebulan dan kehadiran Pak Rt sebagai saksi atas penyerahan rumahmu ini,” jawab Erwin.
“Aku tidak mengira kau memiliki usul yang sangat cemerlang.”
“Aku akan menghubungi pengacaraku dan juga notaris,” kata Erwin yang langsung menghubungi pengacara pribadinya.
Erwin kemudian kembali ke mobil dan mengambil tas kerjanya.
“Berikan rekeningmu! Aku akan mentrasfer sejumlah uang yang bisa aku kirim sementara sisanya aku akan memberikanmu cek tunai,” kata Erwin.
Mayang masih ragu-ragu tetapi desakan Erwin membuatnya tidak mempunyai pilihan. Dia harus bisa bertindak tegas walaupun membuat saudara kembarnya sendiri menderita.
Mayang tidak mengira dengan kehadiran Erwin yang secara tidak sengaja berada diwaktu dan tempat yang tepat memberikan keuntungan yang sangat besar terhadapnya.
Usul Erwin untuk menghindari kelicikan Meli yang pasti akan dia lakukan lagi, membuat Mayang merasa sikapnya tidak jauh berbeda dengan Meli yang sudah berlaku kejam terhadapnya.
“Jadi, Mbak Meli sudah pindah lebih dulu sebelum Mbak Mayang?” tanya Pak Rt berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Benar Pak. Kalau bapak tidak percaya bapak bisa melihat isi lemarinya sudah kosong,” kata Mayang dengan menunjukkan isi lemari yang berada di kamar Meli. Tidak ada yang tersisa dari kamar tersebut.
“Baiklah kalau begitu. Bapak khawatir begitu Mbak Meli pulang dia sudah tidak mempunyai rumah lagi walaupun ini adalah rumah Mbak Mayang.”
“Benar Pak dan sebaiknya cukup pada kata rumah Mbak Mayang. Tidak perlu ada kalimat pembuka karena pada kenyataannya juga tidak ada yang peduli,” sahut Erwin.
Erwin tidak sabar menghadapi Pak Rt yang menurutnya tidak peka. Apakah dia tidak mendengar bagaimana sikap Meli pada Mayang?
Ingin rasanya Mayang memukul kepala Erwin yang seenaknya bicara. Apa dia tidak melihat dengan siapa dia bicara? Mayang sadar bagi Erwin seorang dengan jabatan yang diemban Pak Jamal sebagai Ketua Rt tidak berarti apa-apa. Tapi apakah dia tidak tahu kalau tanpa surat pengantar dari ketua Rt, urusan surat-surat penting tidak akan bisa terwujud? Bagi Erwin mungkin di dalam hidupnya tidak pernah di temuinya karena semua urusan dikerjakan oleh pegawainya.
“Kalau begitu kapan Mbak Mayang pindah?” tanya Pak Jamar kembali. Dia sepertinya tidak terpengaruh dengan ucapan Erwin sebagai pembeli.
“Kebetulan Pak Erwin mau rumah ini sudah kosong lusa, jadi saya mulai beberes besok Pak,” jawab Mayang sambil memandang sekelilingnya.
“Kalau begitu saya ucapkan semoga di tempat yang baru Mbak Mayang bisa betah seperti di sini ya Neng. Kebetulan besok, bapak dan keluarga mau ke rumah family dan baru kembali minggu depan.”
“Terima kasih Pak. Dan ini untuk bekal Bapak,” kata Mayang memberikan amplop berisi uang sebagai saksi jual beli.
“Terima kasih Mbak. Saya permisi dulu.”
Mayang dan Erwin mengantar kepergian Pak Jamal sampai pintu keluar sebelum berbalik menghadap Erwin dengan mata melotot, “Kenapa sih kamu ngomong seperti itu? Dia adalah Pak Rt dan kami semua menghormatinya!”
“Aku tahu dan aku minta maaf,” jawab Erwin.
Saat ini dia lebih memilih mengalah untuk menghindari perdebatan dengan Mayang yang menurutnya sedang lelah. Bukan saja lelah dengan semua pekerjaan yang dia lakukan tetapi juga karena tindakan Meli yang tidak bertanggung jawab.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
untung ada Erwin, jadi tdk ada hbatan biar tau rasa Meli, otak geser ngk jelas
2023-09-19
0