Dewasa ini, rujukan kebahagiaan datang dari berbagai arus. Romantika kehidupan mulai dirasakan dharma dan panca, keterikatan hubungan emosional mereka menambah ketika Ansel datang dengan membawa penuh sukacita.
Berkumpulnya mereka bertiga adalah sebagai tonggak bahwa alam bumi kini memancarkan dukungan penuh atas perjuangan dan juga semangat dharma sebagai tokoh utama.
keceriaan terbangun, tapi keadaan aneh menerka kondisi panca. Tubuhnya menggeliat seperti cacing yang terkena garam, Ansel langsung merangkulnya untuk mencoba menenangkan panca yang bergerak seperti sedang kesurupan.
"Kenapa ini... dharma cepat tolong dia!" seruan Ansel pada kakaknya.
Sekali lagi dharma melontarkan keterlibatan atas kejadian yang menimpa adiknya itu. Sesuatu hal atau tragedi yang pernah dialami panca dahulu menjadi sebuah momok menakutkan. pasalnya panca sangat anti ketika melihat kursi yang bergoyang sendiri.
Ternyata panca memiliki fobia yang unik. Dia akan merasa takut secara berlebih dan merasa bahwa kursi yang bergoyang sendiri mempunyai daya gerak oleh roh-roh halus.
sehingga alam bawah sadarnya langsung merekam Fenomena tersebut menjadi magnet penarik roh itu untuk masuk ke dalam raganya.
Suatu hari disaat panca berusia lima tahun. ketika perang sedang gencar-gencarnya, panca dan dharma tengah diungsikan ke posko pengungsian warga sipil.
hari-hari mencekam membelah angin serta keheningan malam tergambar dari gerhana bulan yang mengepung keramaian pos. masyarakat sedang mengantri mengambil makanan dan juga dharma ikut mengantri pada waktu itu.
Rasa iba terhadap adiknya membuat dharma rela mengantri dua kali hanya karena tidak ingin adiknya yang berusia lima tahun mengantri sepertinya. sehingga dharma menyuruh panca untuk tetap diam dan menunggu di tenda sendirian.
di dalam sudut tenda, terdapat kursi goyang yang menghadap pintu. sehingga ketika angin menyapu dengan keras, kursi tersebut dapat bergoyang dengan sendirinya. panca hanya melongo ketika kedua sorot lampu seakan memperintahkan dirinya untuk mengamati kursi goyang itu sedang bergerak.
semilir atmosfer menggerakkan emosional panca, dia terkujur lemas dengan wajah yang memucat. Anak kecil yang belum tau apa-apa tidak akan menyadari bahwa kursi itu dapat tergoyang karena hembusan angin.
Merengek dengan air mata yang terus bercucuran sambil terpaku melihat kursi goyang itu terus bergerak dipojokan. Selimut hangat yang menjadi teman di kala tidak ada satupun orang di sisinya. panca menutupi semua badannya dengan selimut untuk menghindari penampakan yang mungkin akan terjadi.
suara aneh melengking datang dari arah pintu tenda, gemuruh tangis panca kian menjadi ketika mendengar suara itu datang. Lama kelamaan suaranya semakin dekat. panca semakin takut, sampai secara tidak sadar dia mengompol membasahi setengah selimut itu.
Mental panca setipis tisu. wajar karena ia anak berumur lima tahun.
Tiba-tiba serangan serentak menyentuh tubuhnya, yang tengah terselimuti kain hangat. Lantas ia berteriak sejadi-jadinya.
"AAAAAAAAA........." Teriak panca.
selimut itu ditarik cepat. Dan ternyata itu adalah kakaknya yang datang sembari memegang dua piring berisikan makanan.
"ini kakak! panca kamu kenapa?"
"panca kira hantu.…...," masih merengek.
dharma malah bergelek tawa sekencang-kencangnya, melihat perilaku adiknya yang ia anggap lucu. Akhirnya mereka pun makan dalam kondisi angin yang masih berkibar kencang.
"sebentar kakak tutupin dulu tendanya," dharma menutup tenda agar angin tidak masuk ke dalam.
"kamu tadi kenapa? tanya dharma.
"tadi kursi itu goyang terus, kak!" menunjuk posisi kursi.
Keisengan dharma malah dilakukan dalam hal tidak tepat. Atau memang pada saat itu dia tidak mengira bahwa panca akan mengalami fobia yang berkelanjutan.
"kursi itu digerakin sama hantu!"
"yang bener kak?" menatap wajah kakaknya dengan serius.
"Iyah bener. makanya kamu jangan nakal, kalo kamu nakal hantunya suka Dateng terus masuk ke tubuh kamu!" dharma mengatakannya sambil menahan tawa, ia tak kuasa menahan kegembiraan karena bisa mengibuli adiknya.
"Aku takut kak......" panca malah melanjutkan tangisnya, ia makan sambil berderai air mata.
"udah jangan takut. kan ada kakak....," dharma langsung mengusap-usap kepala panca.
Dari kejadian itu, panca sangat ketakutan ketika melihat kursi yang bergoyang sendiri, entah apapun jenis kursi itu, panca selalu merasa bahwa kursi tersebut mendapat daya gerak dari hal gaib atau setan!
Ansel mengalami degradasi mental yang sangat kelihatan. Ia keok dengan fenomena panca seperti ini. Sehingga tubuh cantiknya itu terus saja mendekap panca dengan erat.
Dharma yang sudah berapa kali mendapati panca seperti kesurupan mulai melakukan teknik untuk meredamnya, yaitu dengan menduduki kursi yang tadi bergoyang.
Dharma tergesa menduduki kursi itu. Lalu berkata "sudah tenang saja, nanti juga dia berhenti."
Benar saja beberapa detik kemudian panca berhenti seperti orang yang kesurupan.
lantas Ansel bertanya pada dharma dalam posisi tangannya masih mengapit dan menenangkan panca.
"ini dia kenapa!"
dharma menjawab dengan tenang.
"dia fobia kalo ada kursi yang bergoyang..... jadi dia merasa kalo kursi itu bergoyang sendiri tandanya ada hantu yang sedang mendudukinya."
Ansel melongo diikuti tatapan yang penuh pertanyaan. dirinya baru menemukan seseorang yang fobia dengan hal seperti itu. Tapi karena usia panca masih belia, Ansel memaklumi fobia itu.
Kobaran api menyeringai di udara. Semua orang menghaturkan sembah dalam perwujudan tradisinya. Malam itu menjadi hening ketika sang tertua desa memasuki area lapangan dengan membawa sesajen di tangannya.
Warga bergembira menyaksikan puncak perayaan hajat tahunan yang diadakan. Semuanya berkumpul di tempat terbuka. dengan hasil panen yang sudah dikumpulkan.
Panca, dharma, dan juga Ansel turut berpartisipasi dalam menyaksikan prosesi puncak perayaan itu. dharma masih tertegun kagum ketika melihat tertua desa sedang duduk bersila di depan hasil panen.
rajah buka dilantunkan oleh tertua desa dengan mengunakan bahasa Sunda.
Rajah sendiri sering digunakan dalam perayaan seperti ini. rajah meliputi doa, pantun, dan juga pepatah agar manusia hidup secara sejahtera. dengan diiringi alat musik yang membekingi ucap-serapah yang dikumandangkan tertua desa.
alat musiknya adalah tarawangsa dan kecapi. Tarawangsa hampir menyerupai biola, namun ritme yang disuguhkan tarawangsa lebih santai dan dalam pembawaannya.
kecapi dibawakan dengan cara dipetik. sedangkan itu tarawangsa digunakan mengunakan alat yang sama seperti digunakan oleh biola.
tepat pukul jam delapan malam tradisi Pucak mulai dimulai. Dengan simbol membakar kemenyan dan dupa. semua orang bertepuk tangan dalam letupan perasaan yang bersimpuh pasrah pada sang maha kuasa.
Ansel menepuk pundak panca seraya tersenyum memandangi wajahnya. seruan tari menyokong perayaan yang baru saja dimulai.
"indahnya kearifan lokal," ucap Ansel memandangi panca.
panca menyeringai lebar, dia bergerak langsung memeluk tubuh Ansel. Dekapannya begitu kencang, mengikuti ritme musik yang sedang menutur penari.
Keelokan desa itu membuat dharma teringat bahwa dirinya belum mengetahui nama desa ini. Dalam keadaan negara sedang hancur sedikit masyarakat bisa merasakan kedamaian yang sebenernya.
TUNGGU PART BERIKUTNYA<3
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments