Gemuruh suara alam bersendawa di dalam lapisan atmosfer. Kicauan Farhat menggeliat seperti cacing kepanasan, meringkas semua derap langkah kedua petarung ini.
sang babi bersimpah darah yang seolah menyelimuti seluruh badannya. Dharma berbalik dan menjauh ketika usai melancarkan serangan memutar.
"apa yang akan kau lakukan setelah ini! HAHAHAHA......." tawa dharma bersemayam dalam diam.
Babi itu meratapi tubuhnya yang sudah tersayat dalam. Ia mendengus kencang seiring dengan uap panas yang kembali keluar dari hidung peseknya.
Kedua kaki dibuka lebar setelah uap panas itu keluar, diikuti kedua tangan yang disimpan di bagian pinggang yang seolah tengah menggenggam sesuatu.
dharma lagi-lagi bergelek tawa melihat siluman di depannya sedang melakukan ritual penyembuhan. Kali ini dharma tidak ingin si babi kembali sembuh dan langsung bergerak cepat ingin menghajarnya.
Aura merah menggembung di sekujur tubuh sang babi, hal tersebut serupa dengan kejadian tadi ketika kakinya terpotong dan setelahnya aura merah datang meliputi area bawah.
serangkaian gerak diperagakan oleh dharma, ia tidak langsung melakukan serangan serentak melainkan bergerak zig-zag yang seolah-olah memotong gaya gravitasi. Hal itu membuat pertanyaan bagi si babi yang tengah melakukan regenerasi.
tubuhnya sedikit demi sedikit mulai pulih walau tidak semua secara langsung sembuh, dengan tertatih-tatih babi hutan itu kokoh dalam pertahanan karena ia menyadari bahwa dirinya tidak mampu lagi bertarung dalam jangka waktu lama.
maksud dharma melakukan gerakan zig-zag adalah untuk memecah konsentrasi lawan. ketika dharma menyerang langsung pada si babi yang sedang melakukan penyembuhan, hal itu akan memicu energi di dalam tubuhnya tertarik keluar.
karena pada dasarnya aura merah yang mengembung itu adalah energi alam yang sedang diserap. ketika dharma mendekat malah tubuh yang kaya akan energi akan langsung terkelupas dan menjadikannya lemah.
suatu pola yang bisa ia lakukan adalah hanya memecah konsentrasi sang babi agar ia tidak bisa melakukannya secara maksimal. melihat bahwa detak jantung babi itu sangat terdengar pelan seperti seekor kura-kura sedang berjalan.
waktu untuk lawan bisa berdiri tegap hanya tinggal dua puluh lima detik lagi! sedari tadi dharma menghitung jalannya waktu sambil mengeluarkan serangan serta melanjutkan pertarungan.
rangsangan otak mulai menurun kualitasnya. sayatan ditubuh lawan belum semuanya kembali seperti semula, kaki yang dibuka lebar mulai bergetar, aura merah kini kian menghilang.
tubuhnya terombang-ambing layaknya ombak tertiup angin. Penglihatan jadi buram, kesadaran sudah berada pada titik penghabisan. kondisi tubuhnya sekarang sudah berada pada tahap terlemah.
momen seperti ini yang ditunggu-tunggu oleh dharma sejak awal. waktunya sudah tiba untuk menghabisi nyawa hewan mutasi jahanam yang sudah memporak-porandakan alam bumi. Dan membuat ketakutan bagi umat manusia.
lima menit sudah waktu berlalu, detak jantung lawan hanya berdetak empat detik sekali. Dengan sigap dharma yang termasuki roh leluhur itu mengumpulkan energi dan memusatkannya di pusaka yang sedang dipegang.
gerakan zig-zag akhirnya berhenti. energi dharma berbeda dengan sang babi, jika babi hutan mempunyai energi merah yang identik dengan amarah maka dharma mempunyai energi putih layaknya susu sapi yang baru di peras.
Tubuh kekar babi itu sudah kehabisan tenaga, ia akan jatuh. Tapi dharma melesat maju memotong leher lawan yang akan jatuh ke tanah dengan gesit.
Kepala keji babi hutan melayang di udara. tubuhnya Sudah terbaring di bawah, tapi kepalanya mengapung di angkasa.
Dharma melihat ke atas, kemana perginya kepala itu. pada saat kepala itu terdeteksi dimana, baru ia lompat sangat tinggi dan menendang jauh kepala babi sampai pergi tidak tahu kemana.
Pertarungan sengit telah selesai. Hewan aneh mungkin sudah punah, tapi lakon dharma masih tetap bertahap. perselisihan kecil ini akan menjadi gambaran bagi dirinya untuk maju lebih unggul.
"tugasku masih belum selesai! anak akan terlantar atau mati jika aku pergi sekarang." roh itu mensiasati agar kedua anak malang ini dapat terselamatkan.
Dharma yang kesadarannya belum pulih mulai menghampiri panca. terbaring lemas, wajahnya sudah pucat, hampir menyisakan tulang saja. roh itu iba melihat kondisi adiknya dharma. Ia mulai sedikit mengisi tubuh panca dengan energi alam
walaupun tidak akan memberikan kebutuhan biologis, tapi setidaknya bisa menjadikan energi itu daya kekuatan untuk bertahan.
tangan kanan disodorkan, mengusap-usap kepala mungil panca, satu tarikan nafas diambil lalu dibuang perlahan. pusakanya disimpan ditaruh di samping dekat dengan raga panca.
Keindahan alam menghiasi kemenangan mereka. senandung lagu dikumandangkan oleh roh dharma, ia bernyanyi pelan sambil menyelipkan pepatah kuno.
"omat jang..... indit kudu bari cicing, lumampah ulah ngalengkah. sikepna titih caringcing, kudu jauh Dina Hiri Jeung dengki. omat hirup kudu nyekel tetekon nu luhung..... ahungggg....... ahungg.........cag!" nyanyian dengan ritme pelan dilantunkan oleh roh itu.
setelah tenaga diisi, Raga panca dibawa digendong oleh kedua tangannya. panca masih terpejam, dekap hangat tubuh kakaknya membuat rindu.
mereka bergegas pergi, menyusuri hutan dan melewati lembah untuk mencari kehidupan yang lebih terang. roh itu masih bersemayam dan menunggangi raga dharma.
di atas gunung yang tidak terlalu tinggi, akhirnya mereka berpijak. tepat di antara batu-batu besar yang terlihat dari bawah.
ada secercah harapan tatkala matahari sedang menjalani polanya. sinar kasih membuka sebuah semangat kehidupan.
lirikan itu membuahkan hasil, di sudut hutan dekat sungai dharma melihat ada pemukiman yang sepertinya aman untuk disinggahi. Lantas pergilah mereka berdua ke tempat itu dengan panca yang masih belum sadarkan diri.
Rimbun hutan tropis masih Ashri di sekitar sana, kicauan burung menghiasi setiap langkah kaki yang tercipta. kerikil dan pasir berhamburan di sudut jalan. bahkan pohon apel pun tertanam segar.
dari kejauhan terlihat seseorang sedang membungkukkan badan berupaya mengambil benda yang terhalang batang pohon tumbang. dharma dalam mode kesurupan tetap berjalan menuju desa tersebut.
makin kesini seseorang itu semakin tampak jelas. Rambut berkilau panjang dan diikat, dia menggendong ransel yang terbuat dari bambu, berisikan tanaman serta obat-obatan alami. kulitnya putih bersih serta hidung mancung, membuatnya jelita bahkan jika dilihat dari jauh.
sekitar sepuluh meter lagi jarak Dharma untuk sampai di hadapan wanita itu. sesuatu terjadi pada dharma, dia mendadak jatuh pingsan dan tubuhnya kembali seperti semula. panca yang tadinya digendong pun ikut jatuh bersamaan.
suara pingsannya dharma membuat wanita yang sedang memetik obat akhirnya menoleh ke arahnya. tak disangka wanita cantik di depannya langsung menghampiri kedua Kaka beradik ini.
"Heyy! bangun... bangun......" menepuk-nepuk pundak dharma.
karena panik lantas dia mengecek sirkulasi udara di hidung dharma. dengan cepat wanita itu mendiagnosis dharma dan panca hanya kelelahan dan pingsan saja.
disimpan lah dharma dan panca di pinggir jalan sambil menyandarkan tubuh mereka di pohon. wanita itu langsung berlari setelah menyimpan ransel bambunya di pinggir.
TUNGGU PART BERIKUTNYA<3
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments