DESA INDAH

Sorot mata tajam memandangi mereka, ketika panca baru saja membuka kesadarannya yang sudah terpejam rapat. orang-orang menengadah posisinya menghadap kakak-beradik yang sedang terkujur lemas.

panca memandangi sekeliling, ia tidak tahu sedang berada dimana. dan anehnya, banyak orang yang sudah mengerumuni mereka. pertanyaan spontan langsung terucap dari mulut yang kering.

"aku di mana? Dan siapa kalian!" Tanya panca, melihat senyuman wanita cantik di hadapannya.

"Kamu aman. kenapa kalian bisa ada di sini?" lontaran pertanyaan membuat panca sedikit kikuk dari wanita itu.

Sedikit mengecek memorinya, panca mulai meraba-raba kejadian yang baru saja menimpa mereka, kenapa dia dan kakaknya bisa tiba di tempat ini. "KRKKKKK" Gemuruh lambung panca yang tidak dapat suplai makanan.

"kamu lapar?" tanya kembali wanita itu.

hanya untuk satu kata yang bisa terucap saja panca sudah tidak kuasa mengatakannya, dia hanya bisa membisu serta tertegun melihat kondisi dharma yang masih terlelap dalam pingsannya.

Tak tega melihat panca yang sudah kurus kerempeng, salah seorang warga yang dari tadi memperhatikan di belakang mulai meng-inisiasi wanita tersebut agar keduanya dibawa ke desa.

panca pun dipangku dengan penuh hormat oleh wanita cantik yang tadi menanyainya.

pekarangan desa itu dipenuhi puluhan bunga yang sengaja ditanam. udara yang mengembung di sana sangat segar, ditambah kucing-kucing lucu berkeliaran serta gembira menyambut mereka.

Setelah sekian lama, akhirnya panca merasakan kebahagiaan walau kondisinya tidak prima. seleret pelangi melengkung di atas desa itu. ketika ia melihat ke arah kiri, ada air terjun cukup tinggi dengan anak-anak seusianya sedang berenang di tepian.

"anak ini biar aku saja yang urus, kalian silahkan periksa dia." menunjuk ke dharma.

warga desa mulai ramai mengunjungi kedatangan panca dan dharma, desa ini sangat hangat, dikelilingi wajah kegembiraan.

dharma digotong ke tempat yang berbeda dengan panca.

Sedangkan itu, panca masih terdampar di punggung wanita cantik. ia dibawa masuk ke rumahnya. dibaringkan lah panca di atas ranjang yang empuk, ruangan sempit tapi indah membuat panca terkagum-kagum dapat berpijak di surganya wanita cantik.

penciuman tajam panca mengendus aroma harum dari makanan, ia lantas celingak-celinguk mencari dari manakah asal bau tersebut. dari sudut kanan terdapat sebuah kotak yang menempel di dinding kayu. ia lantas bertanya pada wanita cantik di dekatnya.

"itu kotak makanan yah?" akhirnya panca dapat berucap kembali setelah merasa ada makanan.

"nanti saya ambilkan, dan kamu makan yah! dek..." ucap wanita itu sambil mengusap-usap kepala panca.

terkesima dalam sesaat, panca dibuat salting ketika senyuman indah menghadang penglihatannya. lantas ia membalas senyuman itu dengan berseri.

"makasih telah mengurusi ku. kak!" jawab panca.

kotak yang tidak terlalu besar menempel di tembok kayu berwarna coklat. dengan fitur dua pintu wanita itu membuka kotaknya. Di dalam kotak terdapat sayuran segar dan buah-buahan seperti jeruk, jagung, pisang, dan juga mangga.

seonggok buah-buahan itu disuguhkan dalam piring yang juga terbuat dari kayu yang sudah sedikit diukir.

panca memakannya dengan sangat lahap, tidak butuh waktu yang lama semua makanan yang diberikan oleh wanita cantik itu telah habis.

"nama kamu siapa?" tanya wanita cantik

"panca." jawabnya

"umur kamu berapa,"

"sepuluh tahun, kak,"

"ayo habiskan makanannya."

"ini udah habis kak!" menatap wajah wanita itu.

"hhhihi...... kakak bercanda," gelak tawa indah dipertontonkan.

panca juga tak luput tertawa, ia mengikuti ritme kejenakaan yang mengalir deras dalam pembicaraan mereka.

"Kaka siapa namanya?" dia lupa, belum menanyakan siapa nama wanita cantik yang telah menolongnya.

"nama Kaka, Ansel." ternyata namanya dan juga parasnya sama-sama cantik.

Ansel berusia sekitar dua puluh tahun, dia hanya seorang diri atau sebatang kara. nasib yang menimpanya hampir sama dengan nasib panca. kedua orang tua Ansel telah meninggal karena insiden rezim yang sudah berlalu.

rezim orde baru berlangsung selama dua tahun. selang tiga tahun dari perang dunia, orang tua Ansel mengidap penyakit langka, sehingga apa yang dilakukannya hari ini adalah untuk membalas dendam kepada diri sendiri karena tidak bisa mengobati orang tuanya.

Ansel sangat berperan di desa ini. Ia menjadi satu-satunya tabib yang sering mengobati orang-orang desa dari penyakit. pengobatan yang ia lakukan adalah dengan metode tradisional. yang dipelajari sewaktu remaja kepada neneknya yang juga seorang sesepuh pada waktu itu.

Dua buah anting bersemayam di telinganya. Ansel memakai kaos panjang berwarna merah polos serta celana hitam pendek, rambutnya sangat hitam berkilau, tinggi sekitar Seratus tujuh puluh cm, menjadikan Ansel sangat menawan perawakannya.

kakinya tergulung sendal berbahan dasar kulit. yang terlilit indah di kakinya yang putih.

keremangan ruang sepi menjadi tempat ternyaman untuk mengistirahatkan pikiran. rumah Ansel dibangun secara gotong royong sebagai bentuk kepedulian warga terhadap orang yang sangat berjasa.

"kakak ku mana? panca lupa bahwa dharma tidak ada di sampingnya.

"Dia sedang dirawat oleh warga lain, dan sepertinya kakakmu masih belum sadar. aku melihat ada lebam merah di tangannya." Ansel bergedik menyadari bahwa orang yang dibawa warga adalah kakak dari panca.

"kalian sebenernya dari mana?" pertanyaan yang sedari tadi belum terjawab, mulai kembali dilontarkan.

"kami tidak punya rumah, juga keluarga.(panca menunduk) kami pergi kesana-kemari hanya untuk mencari makan dan tempat istirahat." kesedihan tidak bisa disembunyikan oleh panca, raut wajah yang meremang menandakan bahwa nasib buruk menimpa mereka.

"sementara waktu, kalian boleh tinggal di sini," rasa iba menggeliat dalam sanubari Ansel. manusia yang satu ini sudah sangat sempurna. cantik juga baik.

"terimakasih kak Ansel," seleret pelangi terpancar di mata panca. kebahagiaan menerpanya sekarang. sampai tidak bisa lagi diutarakan.

mendung bergulung tipis di angkasa, semesta mengucuri air keberkahan. gerimis mengguyur di luar, Ansel dan panca masih tetap berbincang-bincang. kadang kala Ansel menyelipkan pepatah dan candaan agar panca dapat terhibur psikisnya.

tidak disangka panca yang masih kecil mengajukan pertanyaan yang membuat Ansel harus berpikir berapa kali tuk menjawab.

"kak Ansel cantik banget!" ujaran tersebut yang membuat Ansel tidak bisa menjawab, karena pujian itu membuatnya melayang seketika.

jika anak kecil memuji, ketahuilah bahwa apa yang diucapkannya adalah sebuah kebenaran. Ansel menyadari fakta yang melekat pada dirinya. dari sana ia hanya bisa tersipu malu dan pergi untuk membawakan makanan lagi untuk panca.

"ini makan lagi, kamu kayanya masih lapar," ada dua alasan Ansel mengambil makanan kedua kali, yang satu memang panca masih lapar, dan kedua dia tidak tahu harus menjawabnya.

tangan halus menyodorkan piring yang berisi makanan, raut wajah Ansel masih saja berwarna merah muda.

Dari tempat yang berbeda, dharma malah mendapatkan perlakuan yang berbeda dari warga.

TUNGGU PART BERIKUTNYA<3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!