Kokok ayam belum jua bergelora di penghujung malam. Cengkerik tak pernah terpampang memperdengarkan musik akhir. Bahkan tetesan embun belum berubah menjadi mengental seperti susu segar yang keluar dari sapi yang sehat, ketika tiga ekor serigala menghampiri dharma dan yang lainnya.
Hutan yang rimbun dengan pohon menjulang diselimuti kelakar rasa takut tat kala para serigala bergerak serentak menghampiri para kanibal.
Robeknya keberanian manusia menjadi tolak ukur bahwa penurunan kualitas berpikir tidak mempengaruhi daya mental yang kuat.
Tapak Serigala menderap makin rapat menyatu dengan dengusan takut panca yang kelelahan. Jika diperhatikan dalam seksama, bukan hanya panca yang terpekik pasrah, namun para kanibal itu juga terlumuri ketakutan yang sama.
Si ketua serigala berjalan tergesa, Rampak kaki yang seiras menciptakan ritme alam yang seram. Senjata yang si ketua serigala pegang berjenis gobang. Yaitu senjata berdiameter tujuh puluh lima cm. Gobang atau golok panjang adalah senjata tradisional masyarakat Sunda yang digunakan untuk berperang. Mungkin senjata ini persis sama seperti katana namun versi kearifan lokal yang lebih kaya dengan nilai.
Pada akhirnya sang ketua serigala berhadapan dengan ketiga kanibal itu. Panca dan dharma dicampakkan, mereka terbengkalai dalam kelelahan. hingga si ketua serigala tidak melihat panca dan dharma. Yang serigala liat hanya ketiga orang penuh dendam yang ingin dia sergap.
ketiga kanibal itu maju, mencari lahan yang lebih luas, dilihat bahwa mereka juga membawa senjata masing-masing yang menandakan lawan setimpal jika bertarung.
Ketiga serigala yang bersama si ketua yang sudah bermutasi mengikuti alur jalan para kanibal. Dia meminta agar pertarungannya tidak diganggu oleh para bawahannya. Mungkin si ketua serigala yang bertubuh besar tidak memberikan isyarat dalam kalimat namun para bawahannya sudah paham ketika gerak tubuh si ketua menyuruh mereka untuk diam dan menyaksikan.
"Tiga lawan satu hewan aneh mungkin tidak terlalu buruk," ucap salah seorang kanibal.
"Makanan kita ada dua jenis sekarang. Ada manusia dan hewan!" jawab temannya sambil menyodorkan tubuhnya dekat dengan telinga.
"Kita habisi! lalu pulang membawa bekal." ujar kanibal yang berada di tengah.
Tidak dipungkiri bahwa percakapan mereka dipenuhi puluhan rasa takut dan juga penasaran. mau tidak mau mereka harus menghadapi demi selamat dan bisa menjalankan kehidupan.
Ruang kosong kini telah ditemukan. Getaran jiwa meringis besing ingin memulai pertikaian. Namun mereka manusia, mempertimbangkan semua kemungkinan yang terjadi. Jika salah seorang mati maka dengan berat hati temannya akan dimakan. Ini diupayakan sebagai bentuk penghormatan sebagai bukti memiliki jiwa korsa.
Hadapan kemarahan meretas dalam tatapan sang serigala. Matanya berubah memerah, urat-urat ditubuhnya menjalar keluar, taring kuning semakin membesar, menjulur ke bawah hampir mengenai bagian lehernya. Dia mengaung sebagai tanda pertarungan akan dimulai. "AAAUUUU" suara Auman serigala.
Ketika mendengar serigala yang akan mereka hadapi itu mengaung. Ketika kanibal mendadak menciut nyalinya. Tubuh yang tertahankan mendadak gemetar kencang. parit yang digenggam jatuh ke tanah.
sang serigala melihat bahwa lawannya sedang sangat ketakutan. Dia menyadari keringat membasahi semua pakainya. Keringat dingin bercampur sejuknya hawa pagi akan menjadi ajal yang tepat untuk mereka berpulang. Mungkin seperti itulah yang dipikirkan oleh si serigala.
Dari arah belakang melihat bahwa para kanibal itu tengah meratapi nasib yang sertai keluarnya asap dari tubuh mereka membuat para bawahannya ingin mengikuti apa yang dilakukan oleh si ketua, yaitu mengaung dalam waktu yang sedikit bersamaan hingga menimbulkan keseraman semakin bertambah.
si ketua serigala tak bisa menahan diri lagi untuk waktu yang lama. ini jelas ada sebuah kesempatan emas untuk menerka mereka secara bersamaan. Dalam satu serangan mungkin tiga orang lawannya akan mati.
Dengan sekali menginjak tanah, tubuh si serigala dapat melayang maju ke depan. persis di depan para kanibal yang sedang bergeming pasrah dengan parang yang sudah tidak digenggam. Si serigala menyerang, satu tangan yang memegang gobang maju serentak menyabit bagian kepala si kanibal. Kedua kanibal bisa mengelak dengan cara mundur ke belakang dengan cepat.
Tapi orang yang paling akhir malah terkejut yang membuat ia membisu dan juga senantiasa pasrah menerima serangan serigala. alhasil kepala salah seorang kanibal terpotong. darahnya bermuncratan ke segala arah. kepalanya menggelinding ke depan. Dan berdiam di tengah-tengah lahan yang mereka jadikan kawasan pertarungan.
nanti dilanjut yahh!!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments