TRADISI

keriangan dan keceriaan membuat dua insan serasa hidup sejahtera. mereka tidak menyadari bahwa di luar itu dharma sudah bangun dari pingsan panjangnya.

debur angin kencang seolah menyayat tubuh dharma, dalam keadaan terlelap sukmanya merasa terkelupas sehingga membuat dharma membuka kelopak matanya yang sudah terlalu lama tertutup.

samar-samar objek di depannya, Dharma langsung bangun dari tempat tidur beralaskan kayu yang panjang. ia tertegun Kembali seraya berkata "aku di mana?"

kalap yang menyiratkan bahwa dirinya sedang dikepung oleh orang-orang yang juga penasaran dari mana ia berasal. segelas air disodorkan kepadanya, kesopanan dharma sangat kelihatan tatkala dalam posisi bingung ia langsung mengucapkan terimakasih atas minuman yang telah disuguhkan.

kerongkongan sangat kering, dharma merasa sangat kelelahan padahal menurutnya ia tidak melakukan apapun. pertanyaan pertama diucapkan dharma, ia menyangka bahwa mungkin ini adalah kelompok kanibal yang berbeda.

"kalian mau makan saya?" ucap dharma melihat warga yang sedang mengelilinginya.

salah seorang warga yang dekat dengannya membalas pertanyaan dharma.

"apa yang kamu maksud? justru kami ingin bertanya, kamu dari mana!"

"seingat saya......" baru saja dharma ingin menjawab, salah seorang warga menyela dengan lantang!

"kamu kanibal HAHH!"

sontak dharma kebingungan, malah dirinya yang dituduh seorang kanibal. fakta yang berbalik tanpa arah menjurus tajam akhirnya.

sebatang kayu menyeringai dan langsung menghantam punggung dharma.

warga di sebelahnya cukup tercenung melihat kejadian dramatis tepat dihadapannya. di kala keresahan mulai membeludak ada seseorang yang masih jernih pemikirannya, sehingga dia langsung melerai perlakuan tersebut.

"Tunggu dulu! jangan langsung main hakim. kita tidak tahu latar belakang anak ini. alangkah baiknya, penuturan yang kita lakukan juga dilakukan dengan cara yang baik," dharma tertolong. walaupun dari mulutnya keluar sedikit darah karena hentakan itu.

"Aku tidak punya tempat tinggal. Aku hidup menjalang dan tak tahu arah. tadi kejadian menyeramkan terjadi, ketika aku baru saja diburu oleh para kanibal..... sehingga aku pikir kalian adalah kanibal juga namun beda kelompok," penjelasan singkat dharma sedikit membuat paham orang-orang.

"Ansel menemukanmu di hutan, lantas ia memberi tahu kamu dan langsung membawamu kesini dan juga anak kecil," jawab seorang warga.

perasaan dharma berguncang hebat, ketika menyadari bahwa tidak ada panca di samping tubuhnya.

"Adikku berada di mana?" ucap dharma yang masih terenyak duduk memegang dadanya.

"adikmu dirawat oleh tabib di desa ini.... jadi kamu jangan risau memikirkannya," jawab warga.

sorak-sorai warga diluar ruangan bergemuruh kencang. namun dharma kebingungan seketika. waktu menunjukkan masih siang, rotasi matahari tepat berada di atas tapi perkiraan dharma mengatakan bahwa diluar ada yang sedang arak-arakan membawa bekal makanan.

salah seorang warga mengisyaratkan untuk pergi keluar, melihat perayaan yang sedang terjadi. akhirnya warga yang tadi sedang mengintrogasi dharma semua keluar!

dharma memegang tangan salah seorang warga yang hendak pergi, dia langsung bertanya dengan nada pelan.

"ada apa ini?" tanya dharma.

"setiap setahun sekali, kami selaku warga desa selalu merayakan ritual syukur atas perolehan makanan yang kita dapatkan dari hasil bertani.... ritual ini diadakan setiap satu tahun sekali! kau sangat beruntung karena bisa menyaksikan momen berharga kami."

penjelasan ringkas warga itu membuat dharma sedikit menghela nafas, dia merasa sedikit bahagia karena masih ada orang yang melestarikan kearifan lokal di era kesengsaraan seperti sekarang.

"jika kamu ingin melihat, saya bawa kamu keluar," ajakan warga dengan langsung merangkul dharma keluar melihat arak arak itu sedang berlangsung.

benteng-benteng kokoh menjulang tinggi, membatasi tempat desa cantik ini. sinar matahari menyinari semua warga yang tengah melakukan tradisi, membuatnya tampak gagah dan terlihat perbawa. beberapa orang menompang batang kayu dengan digantungkannya hasil panen mereka.

berdiri berjajar seiras dengan musik yang menyusur perjalanan mereka. kegembiraan tergambar dari mimik muka setiap warga.

ada tiga pohon beringin tumbuh di dekat lapang, berdiri memanjang mengapit jalan masuk menuju ruang terbuka. sepertinya arak-arakan hendak menuju lapang dan mengumpulkan semua hasil panen sebelum ritual itu dilanjutkan malam hari.

satu garis dengan beringin tadi ada satu pura yang menghiasi desa, nama pura itu adalah pura watra. putra watra menghadap lapangan luas yang membujur dari Utara ke selatan.

ketika melihat ke arah mana arak-arakan itu berasal kita akan memandang ada beberapa rumah berjejer dengan hiasan-hiasan indah menempel di dindingnya.

"aku kagum, walaupun desa ini terpencil tapi menyimpan keindahan di dalamnya." keelokan wilayah desa itu membuat dharma takjub sampai-sampai tidak bisa berkata-kata lagi untuk memujinya.

setelah tradisi itu hampir usai, dharma meminta ke warga agar dirinya dapat bertemu dengan panca. warga itu langsung mengiyakan permintaan dharma.

langkah kaki berderap cepat menyusuri ruas jalan luas menuju rumah Ansel yang sedang merawat adiknya.

di depan rumah Ansel terdapat batu berukuran delapan puluh cm tingginya. dharma lantas bertanya untuk apakah ada batu berdiri di depan rumah. Sungguh pengalaman baru melihat kondisi desa ini.

"aku hanya bisa mengantarkanmu sampai sini." setelah mengucapkannya, orang itu langsung pergi meninggalkan dharma yang hanya tetap terpaku melihat batu bulat yang berada tepat di depan matanya.

"TOK....TOK.....TOK" Suara ketukan pintu.

ketika pintu terbuka sedikit demi sedikit, dalam pojok penglihatan dharma, ia melihat tangan bersih membuka pintu itu. Akhirnya pintunya terbuka lebar. dharma langsung bergeming tanpa suara.

hati dharma berguncang hebat, dia sampai lupa berkedip ketika memandang tabib cantik yang membuka pintunya. seperti lilitan tali yang mencengkram hatinya, dharma terkesima tanpa ujung.

"kamu kakaknya panca yah," tanya Ansel yang juga kebingungan melihat dharma seperti orang bisu yang hanya bisa tertegun melihatnya.

seleret pelangi hinggap dalam senyuman dharma, tiba-tiba mulutnya bergerak tanpa diperintah. sorot mata yang kagum Sangat tidak bisa dipisahkan. dan akhirnya dharma hanya bisa berucap "iyahhh." dengan mengulum senyum dalam wajahnya.

"silahkan masuk," jawab Ansel mempersilahkan dharma memasuki kawasan rumahnya.

panca langsung berteriak pada saat pertama melihat kakaknya yang selamat walau ada bercak darah dekat bibirnya.

"KAKAK!"

Letupan emosional berkecimpung dalam pertemuan sepasang kakak-beradik ini. mereka tidak bisa menahan air mata yang mengucur tanpa henti. pelukan hangat dharma sampai bisa meraba perasaan panca.

dari belakang dharma yang sedang memeluk adiknya, Ansel melipir mengambil makanan kembali. Ansel mengira bahwa dharma juga pasti merasakan hal yang sama dengan panca, yaitu belum menemukan makanan sama sekali.

mereka bertiga duduk melingkar, bertukar cerita indah, kadang berduka cita atas nasib yang menimpah mereka. gelak tawa mulai tercipta, keharmonisan juga kini sudah terbentuk hingga akhirnya dharma, panca, dan Ansel memutuskan untuk berjuang bersama menghadapi kerasnya kehidupan.

TUNGGU PART BERIKUTNYA<3

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!