Jesa dan Ethel saling terdiam, mereka duduk di atas ranjang sambil memeluk lutut mereka masing-masing.
Mereka masih dalam keadaan tanpa busana, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.
"Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Jadi, terima saja keadaan kita yang seperti ini," ucap Jesa akhirnya. Dia tidak boleh memikirkan kejadian ini berlarut-larut. "Aku harus bekerja jadi aku akan pulang!"
Jesa pun turun dari ranjang dan memunguti bajunya.
"Namamu siapa?" tanya Ethel yang melihat Jesa memakai bajunya lagi. Setidaknya dia harus tahu nama wanita pertamanya.
"Jesa. Dan kau?" tanya Jesa balik. Kini dia sudah selesai memakai bajunya lagi.
"Ethel, kau tidak perlu tahu nama belakangku karena aku takut kau akan pingsan," jawab Ethel.
"Aku juga tidak mau tahu nama belakang laki-laki sombong sepertimu," ketus Jesa sambil berlalu keluar kamar.
Perempuan itu keluar dari apartemen Ethel dan bersiap-siap untuk pergi bekerja. Begitu juga dengan Ethel yang bergegas masuk kamar mandi. Dia harus segera memberitahu Gretel kalau dia sudah tidak perjaka lagi.
Tapi, saat dia turun dari ranjangnya, Ethel melihat bercak darah di seprai. Sejenak ada rasa bersalah pada diri Ethel karena sudah mengambil sesuatu berharga dari diri Jesa.
"Dia kan sudah mengambil keperjakaanku juga jadi kita impas," sergah Ethel kemudian.
...***...
"Ada beberapa proyek yang harus kita tinjau, Bos," lapor Pedro -- asisten Keenan.
"Aku akan membawa istriku dalam perjalanan bisnis nanti, kau juga bisa membawa istrimu," balas Keenan pada asistennya itu.
"Benarkah, Bos?" tanya Pedro memastikan.
"Hm. Anggap saja ini perjalanan bisnis terakhir kita, Ped. Aku sebentar lagi akan pensiun dan Ethel akan mengambil alih posisiku," ucap Keenan yang merasa waktunya untuk istirahat walaupun dia merasa jiwa mudanya kadang masih bergejolak.
"Saya juga memikirkan bisnis sendiri, Bos," sahut Pedro yang selama ini bertahan karena janji setianya pada Keenan. Dia akan berhenti bekerja kalau Keenan sudah pensiun.
Tak lama pintu ruangan Keenan terbuka, Ethel masuk tanpa permisi karena mencari saudaranya.
"Gree, di mana Dad?" tanya Ethel yang matanya menelisik di setiap sudut ruangan.
"Beginikah calon presdir selanjutnya? Gunakan sopan santun, anak muda," tegas Keenan.
"Ini urgent, Dad. Aku harus bertemu Gree!" Ethel sedari tadi mencari saudara perempuannya itu tapi tidak ketemu juga, nomor ponsel pun tidak aktif.
"Gree, hari ini izin karena dia mendaftarkan diri ke kelas masak. Katanya dia mau pandai memasak untuk suaminya," jelas Keenan.
"Kelas memasak? Aku harus menyusulnya." Ethel ingin keluar dari ruangan Keenan tapi ditahan oleh sang daddy.
"Siapa yang memperbolehkanmu pergi? Satu jam lagi akan ada rapat penting jadi kau harus menggantikan aku," perintah Keenan.
"Tapi, Dad..."
"Tidak ada kata tapi..."
Mau tidak mau Ethel harus menggantikan Keenan rapat. Dia harus membangun kepercayaan pada seluruh karyawan perusahaan.
Namun, selama rapat berjalan Ethel tidak bisa berkonsentrasi karena terus terbayang percintaannya tadi pagi bersama Jesa. Bagaimana Jesa yang bergerak di atas tubuhnya, rasanya sungguh luar biasa.
"Bos Ethel... Bos..." panggil kepala divisi pemasaran yang selesai melakukan presentasi bagaimana cara promosi dan menjual produk dari perusahaan.
Tidak ada sahutan karena Ethel masih melamun saja. Bahkan Ethel sesekali memejamkan matanya seperti menikmati sesuatu.
"Apa bos Ethel kerasukan?" para peserta rapat mulai cemas.
_
Bonus Visual
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Afika Fika Yesy
hehehe ternyata pedro masih setia
2023-12-29
1
mee
hahaha koplaaaks kelakuannyah
2023-08-09
0
gee
bagus nih visual cocok dgn nama .. sering baca novel nama bule,or indo banget ee muka korea 🤣🤣 auto skip
2023-06-15
1