BuGg..!! (pukulan yang cukup kuat dilayangkan tangan Karin kearah perut, pria itu meringis menahan sakit, dan disaat keadaan lengah Karin mencoba melarikan diri. Saat lari, pria itu tak mau melemah. Justru berbalik mengejar Karin dan menjabak rambut Karin sampai Karin bisa merasakan rambutnya tercabut dari akarnya.
"YA.!! PRIA PAB-BO, LEPASKAN!! Jangan hanya brani pada wanita yang pada dasarnya lemah." Teriak pria dari luar gang, dan menghampiri perlahan mendekati Karin dan pria penguntit itu.
"LEBIH BAIK KAU PERGI SAE-KI, ini bukan urusanmu.!" Ucap pria penguntit dibalik tubuh Karin, Karin hanya bisa menahan sakit dikepalanya akibat jambakan pria penguntit.
"Yang Sae-ki itu kau bukan aku, mari kita selesaikan secara jantan." Jawab pria yang berusaha menolong Karin yang tak lain adalah Park. Yap,, Park sedari tadi sudah mengikuti Karin karna khawatir. Awalnya ia enggan ingin menolong, karna sikap Karin yang acuh padanya. Tapi karna rasa manusiawi, akhirnya ia menolong Karin.
"Aishh!!! banyak b*cot." Ucap pria penguntit seraya melayangnya s*jam kearah Park, sebelum melayangkan s*jam, pria itu lebih dulu menghempas Karin kejalan. Karna geram diganggu oleh Park, emosi pria itu memuncak dan langsung berlari ke arah Park sembari melayangkan s*jam yang digenggamnya. Park yang melihatnya reflek menghindar, hingga pria itu hampir terjatuh karna tak berhasil menyerang Park. Lalu Park berbalik memutar tubuhnya dan langsung meluncurkan bogeman keras ke wajah pria penguntit Karin.
"Rasakan ini BUGG..!!" Pukulan Park tepat mengenai wajah pria itu, dan langsung membuatnya tersungkur kejalan, tak berhenti disitu, lagi lagi Park mengayunkan kakinya berkali kali ke arah perut pria itu dengan sekuat tenaga. Pria itu tak berhenti meringis keasakitan, dan memohon ampun. Namun Park tak menghiraukan ucapannya. Disisi lain Karin yang ketakutan berteriak agar Park berhenti memukuli pria yang sudah tersungkur lemah.
"Tu-an cukup.. Ku-mohon cu-kup.." Ucap Karin seraya memegang pergelangan tangan Park, isakkan tangis Karin yang akhirnya membuat Park berhenti memukuli pria itu.
"Kali ini kau slamat Pa-bbo, brani kau menyentuh wanitaku, aku akan pastikan fotomu akan terpajang dirumah makam.!" Ucapan Park yang penuh emosi, dengan suara berat yang bergetar, membuat Karin ikut merasakan emosi yang dirasakan Park saat ini.
Akhirnya Park dan Karin meninggalkan pria penguntit itu dengan kondisi tersungkur lemah dijalan yang berada digang buntu. Park menggandeng tangan Karin dengan erat, lalu membawanya kemobil Park dan membukakan pintu untuk Karin. Karin yang masih terisak karna kejadian tadi, hanya menurut dengan isyarat Park yang menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
...----------------...
...Disisi Lain, 2 Jam Lebih Lambat Dari Korea...
Choki menerima pesan dari Gadis dan langsung membukanya, pasalnya notif yang tertera dilayar ponsel Choki, bukan menunjukkan sebuah pesan, melainkan notif sebuah kirimin gambar atau file. Itu yang membuat Choki bergegas membukanya.
"Apa maksudnya ini.?" Gumam Choki seraya menatap lekat wajah yang ada didalam foto. "As-taga.. Ini Karin kan?." Ucap Choki yang terkejut dan langsung bangkit dari tidurnya lalu duduk ditepi ranjang. Kenapa Gadis mengirim foto ini, dan apa maksud dari perkataannya.
Pesan dari Gadis: Kak, maaf aku lancang. Tapi inilah kenyataannya, aku tau kk suka Karin sejak lama, tapi Karin seakan gak tau kk suka dia. Dia ninggalin kk nikah, terus setelah bercerai bukannya membuka hati untuk kk, dia malah ninggalin kk kekorea dan sekarang dia berkencan dengan oppa oppa disini. Ku harap kk sadar kalau Karin bukan wanita baik seperti yang kk kira.
Choki yang mencoba untuk mencerna maksud dari perkataan Gadis. "Apa maksudmu Ndis, apa mungkin Karin wanita liar yang kesana sini mau." Gumam Choki seraya memijat pelipisnya sembari mencerna semua yang memutar dikepalanya. Namun Choki langsung menepis semuanya, pasalnya dia tau Karin, dia tidak akan menerima sentuhan kalau tidak ada perasaan nyaman. Tapi pikiran negatifnya terlintas saat waktu malam dimana Karin akan berpamitan. Karin langsung menangkup wajahnya dan menci*m rakus bib*r Choki sampai mereka berdua larut dalam lum*tan yang memberi sensasi kenyamanan. Ya, Karinlah yang lebih agresif dan dia yang memulai semuanya.
......................
"Apa kau sudah merasa baikkan.?" Tanya Park pada Karin yang sudah diam dari isak tangisnya karna ketakutan akibat kejadian tadi.
Karin hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Park. "Baiklah, dimana alamat rumahmu, kita jalan sekarang." Tanya Park pada Karin seraya menancapkan pedal gas mobil.
Slama diperjalanan Karin hanya diam sembari menatap keluar jendela mobil. Park yang menyadari ketakutan yang masih dirasakan Karin, karna ia melihat tangan Karin terus menggenggam erat ujung bajunya sedari tadi. Park mencoba menenangkan Karin dengan memberi sentuhan lembut dipucuk kepala Karin. Awalnya Karin reflek mengelak karna kaget sekaligus takut akibat kejadian tadi. Dan akhirnya perlahan ia menerima sentuhan Park, karna Karin merasa Park orang baik yang tlah menolong dia dari pria penguntit mes*m tadi.
Sesampainya didepan gedung mes tempat Karin tinggal, Karin langsung turun dari mobil, membalikkan badan lalu menundukkan kepala dan mengucapkan Terimakasih pada Park. Park yang mengangguk dan melihat Karin berjalan menuju gedung mes.
"Karin-shi tunggu." Pinta Park yang sudah turun dari mobil lalu mendekati Park.
Karin yang baru mau membalikkan badan, langsung dikejutkan dengan pelukkan erat yang diberikan Park. "Jangan takut, aku disini.. Aku akan melindungimu." Ucap Park seraya mengeratkan pelukkannya, membuat Karin nyaman dan merasa aman.
Karin larut dalam kenyamanan dan menangis terisak karna masih ada rasa takut didalam dirinya akibat kejadian yang menimpanya tadi. "Go-mawo Tu-an Park, ma-af jika terus merepotkanmu hari ini." Ucap Karin yang masih terisak, dan sembari melepaskan pelukkan Park.
"Tak perlu sungkan Karin-shi, sudah kewajibanku melindungi sesama, apa lagi melindungi wanita lemah sepertimu." Ucap Park sembari mengusap air mata yang masih mengalir dipipi Karin.
"Sudah jangan menangis, nanti matamu bengkak karna air mata yang kau paksa keluar." Timpah Park yang bukan membuat Karin berhenti menangis, malah membuat tangisnya semakin menjadi.
"Uuwwaaaaa😭😭.." Jerit Karin dalam tangisnya, membuat Park kalang kabut, pasalnya dia malah ketakutan pada sekelilingnya, jika ada yang salam paham. Park lah yang disalahkan.
"Yaa, ke-napa kau makin menangis, ber-hentilah. Nan-ti ada yang salah paham jika melihatmu nangis begini." Ucap Park takut seraya menenangkan Karin.
Karin yang sadar dengan ucapan Park, akhirnya berusaha menghentikan tangisnya, walau masih dengan suara isakk tangis. "Go-mawo-oh tuan, su-dah mau menolong dan mem-bantuku." Ucap Karin seraya menundukkan kepalanya.
"Ye., aku senang bisa membantumu. Tapi apa kau mau menuruti permintaanku." Jawab Park seraya meminta sesuatu dalam situasi ini.
"A-apa itu tu-an." Jawab Karin ragu, karna ada rasa ketakutan dalam hatinya. Takut akan permintaan Park yang diluar nalar.
"Besok ikut aku kerumah sakit nee., kau harus diCek oleh Dokter." Ucap Park sembari memegang kedua tangan Karin, guna meyakinkannya untuk mau menuruti permintaan Park.
"Ta-tapi aku tidak apa² tuan, a-aku tidak terluka, jadi tidak perlu harus keDokter." Tolak Karin halus, karna memang ia tak merasakan fisiknya tidak terluka.
"Tubuhmu memang tidak terluka, tapi ini.. Disini perlu diobati." Tunjuk Park kekepala Karin, yang dimaksudnya Park adalah pikiran Karin yang masih kacau sehingga membuat rasa takut terus bermuncul didalam dirinya. "Sudah jangan menolaknya, besok pagi aku akan kembali lagi, aku menunggumu disini." Timpah Park yang membuat Karin tak bisa menolaknya.
"Baiklah tuan, aku menurut apa katamu saja." Jawab Karin sembari mengahapus jejak tangisnya.
"Emm bagus. Jangan takut lagi, masuklah dan istirahat. Aku akan melihatmu sampai masuk gedung." Angguk Park lalu memberi kode agar Karin pergi. Dan benar, Park benar² memerhatikan Karin sampai masuk gedung, memastikan Karin aman lalu melihat gerbang ditutup oleh penjaga gedung, barulah Park masuk kemobil dan pergi melajukan mobilnya.
......................
"Cih.. Benar-benar wanita murahan kau Karin-shi." Decak kasar Kim yang kesal melihat interaksi antara Park dan Karin.
......................
Duh.. Duh.. Babang Kim ngapain sih bang, ngikutin Karin sampe segitunya. Hahaha ada apa nih bang.? Cemburu kah?😄
.
.
BTW, ada yang punya temen kaya Gadis gak,? Yang cemburu dengan kehidupan kita, yang dimata dia slalu beruntung. Kalau ada, saran Author mending jauhin ya guys, gak sehat pertemanan model Gadis. Bikin Choki jadi salah paham dengan Karin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments