Aku jatuh ... tapi tak cinta.
...•••...
Ada dua jenis perasaan emosional. Sedih dan bahagia. Dua perasaan yang saling berseberangan.
Artinya, ketika seseorang sedang sedang merasakan kesedihan, maka ia dapat dipastikan sedang tidak dalam keadaan bahagia. Menangis identik dengan sedih, sedangkan tertawa adalah hal sebaliknya. Selain itu, akan ada saatnya semua itu hanya kepalsuan.
Akan tetapi, ada satu keadaan sebagai pengecualian. Seseorang yang menangis, tetapi ia sedang dalam keadaan bahagia.
Bagaimanpun sesuatu terjadi, Ayi akan menyikapinya dengan caranya sendiri, termasuk mereka yang dekat dengannya juga akan begitu … begitu memakluminya.
Ahsa juga ingat saat dulu Io akan mentraktirnya makan pasca hari ulang tahunnya, hanya Io. Namun, bukan Helio namanya kalau tidak mengajak Ayi. Pasti, Ahsa sudah bisa menduganya. Sebelum hal itu terjadi, ia dengan bijak mempersiapkan perasaan dan mentalnya. Ia mengingatnya dengan baik.
Ahsa sudah tidak kaget lagi dengan kedekatan antara keduanya. Ayi dan Io itu sama-sama hiperaktif, banyak bicara dan sama-sama tidak pintar. Mereka juga sama-sama tidak memiliki kelebihan dalam pelajaran apa pun, selain olahraga.
Ketika olahraga, mereka berdualah yang paling berisik dan menonjol. Ayi juga kadang akan ikut bermain bola kaki dengan laki-laki lainnya—teman sekelas. Seperti biasa, ia akan selalu melawan Io dan mendapatkan kekalahan mutlak. Lagi, Ahsa masih mengingatnya dengan baik.
Di antara banyak obrolan yang pernah ia habiskan bersama Io, Ahsa juga akhirnya tahu alasan seorang Ayi dihukum saat mereka masih di kelas satu dulu.
Saat itu ....
Di sebuah lapangan sekolah, terlihat satu kelas yang sedang melalukan praktek pelajaran. Itu adalah kelas Ayi dan juga Io. Mereka berada di sekolah dan kelas yang sama semenjak melanjutkan sekolah di sana.
Di lapangan besar itu, Ayi terus menggiring bola melewati Io dengan lihainya. Ia menendang bola tersebut dengan sekuat tenaga saat ia sudah di depan gawang. Namun, bukannya mengarah ke gawang manual, bola tersebut justru masuk ke dalam salah satu kelas yang dekat dengan lapangan basket—tempat mereka bermain saat ini. Ayi dan teman sekelasnya sengaja memakai lapangan basket saat bermain bola, agar lebih hemat tenaga.
Setelah bola tersebut terbang dan menghilang dari pandangan beberapa siswa yang bermain, kesunyian menyapu di antara mereka yang saling memandang dan melongok. Sementara Ayi hanya terpana dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Suara jangkrik bahkan tak terdengar. Angin terlihat menyapu sampah kecil yang ada di sekeliling siswa yang tadinya bermain dengan gembira. Ayi merusak keseruan yang hanya bisa mereka nikmati selama sepuluh menit sisa jam pelajaran olahraga.
“Hahaha!”
Dalam keheningan yang terjadi hanya beberapa detik itu, suara tawa seseorang memenuhi indra pendengaran dari setiap orang yang ada di lapangan, termasuk Ayi yang tak jauh darinya. Itu adalah gelak tawa Io, ia sudah terbahak saat menyadari apa yang Ayi lakukan. Kelakuan ceroboh sang sahabat itu membuatnya tertawa nyaring.
Tawa itu masih berlanjut saat seorang guru yang paling ditakuti oleh murid sekolah itu keluar dari dalam kelas, tempat bola hasil tendangan Ayi mendarat.
Pak Sub.
Wajah garangnya menatap lurus ke arah lapangan basket. Ia juga terlihat membawa bola yang tadi Ayi tendang. Tatapannya langsung menuju ke arah Io yang masih tertawa dan membelakanginya. Semua terlihat pucat kecuali Io yang masih saja tertawa. Ayi segera menyikutnya hingga ia kembali diam.
“Ulah siapa?” Suara marahnya terdengar menggelegar. Guru yang mengajar olahraga di kelas Ayi saat ini sedang ke kantor karena ada urusan. Sangat terlalu kebetulan, bukan?
“Sa-saya, Pak,” sahut Ayi, seraya mengangkat sebelah tangannya. Ia dan Io terlihat bersebelahan. Pak sub kemudian beralih menyorot ke arah mereka. Para murid yang ada di sana bisa merasakan aura marah yang terpancar dari kehadiran seorang lelaki setengah baya yang kian mendekat. Ekspresi wajah laki-laki yang paling tua di antara mereka itu bisa terbaca dengan jelas.
Ayi dan Io sudah bisa sedikit menebak apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya. Apa pun yang akan terjadi, itu bukanlah hal yang baik. Ayi sedikit menyesali apa yang ia lakukan, tapi percuma saja.
“Kamu ....” Pak Sub menunjuk Ayi, lalu beralih menunjuk Io. “Dan kamu yang tadi ketawa, kemari!” panggilnya dengan suara yang seolah seperti ditunjuk untuk terjun ke jurang, ia memanggil Ayi dan juga Io.
Ahsa yang saat itu kebetulan lewat, melihat mereka berdua masuk ke dalam kelas, di mana Pak Sub mengajar tadi. Dua sahabat itu dihukum berdiri di dalam kelas tersebut, di depan kelas dua hingga waktu istirahat.
Saat itulah, seorang Sheila menyukai Io dan seorang laki-laki lain yang juga melirik Ayi.
Ahsa masih mengingatnya dengan baik.
“Ahsa,” panggil Io saat Ahsa memasuki kantin. Ternyata ia sudah melewati pintu masuk kantin. Waktu mengenangnya sudah habis.
Di sana, terlihat Io yang sudah menghadapi makanannya. Di sampingnya, ada Ayi seperti yang ia perkirakan. Juga ada ... ah, dia lupa nama laki-laki itu. Seseorang yang akhir-akhir ini dekat dengan Ayi, seseorang yang pernah satu kelas dengannya dulu. Ahsa tidak begitu dekat dengan laki-laki yang dikenalnya sedikit pendiam itu.
“Makasih, Sa,” ucap Ayi, saat laki-laki pendek itu sudah berdiri di samping mereka. Ayi dan Io terlihat nyengir. Bukannya menunggu, mereka malah memesan lebih dulu. Teman yang terlalu keterlaluan. Ahsa sudah memakluminya.
“Nama gue kayak cewek kalau loe manggil gitu, Yi,” gerutu Ahsa, ikut bergabung dengan mereka.
“Biasanya, kalau gue manggil gitu, loe juga nggak pernah protes,” sela Io, mengunyah makanannya. Secara tidak langsung, ia membela Ayi.
“Yee, dibelain. Nggak gue bayarin baru tau rasa loe,” pungkas Ahsa, menyeruput minuman yang disodorkan Io.
“Hmm.” Io menghentikan kunyahannya. “Padahal, gue udah nunjukin chat loe ke ibu kantin loh, jaminan buat bayarin makanan kita.” Io memasang ekspresi seolah menyesali perbuatannya.
“Gue juga kasih liat chat loe yang tipe cewek loe gimana,” tambah Io lagi, membuat Ahsa tersedak tiba-tiba. Io tahu saat yang tepat untuk membuat Ahsa tersedak.
Yandra yang sedari tadi diam, hanya menyimak saja pembicaraan ketiga orang tersebut. Sedangkan Dena masih sibuk dengan cemilannya.
“Ooh, berarti ibu kantin jadi yang kedua loe kasih tau, setelah gue, Yo,” ungkap Ayi yang membuat Ahsa makin masam. Dua sahabat itu benar-benar cocok dalam menjahili temannya. Ahsa akui kekompakan mereka.
“Kok loe jahat, sih, Yo? Tetep gue bayarin kok, lagian ‘kan gue udah janji,” lirih Ahsa, membuat wajah memelas. Ia tidak marah.
“Loe percaya?” Dena menyahut. Ahsa menatapnya tak mengerti. Sedetik kemudian, Ayi dan Io tertawa. Ia akhirnya mengerti apa yang sedang terjadi, Io menjahilinya lagi. Ahsa selalu saja menjadi pihak yang diledek dan dijahili oleh dua orang tersebut. Kali ini Ahsa berhak untuk marah.
Di sela aktifitas kantin, seseorang yang duduk tepat di sebelah meja mereka masih memperhatikan lewat lirikan matanya. Orang sama yang memerhatikan Ayi saat pertama kali melihatnya dulu. Tatapannya hanya menatap pada satu orang, Ayi. Gadis itu terlihat terkekeh-kekeh ketika temannya mengomel.
“Yaudah, gue pergi aja,” ambek Ahsa, akan beranjak alih-alih ingin memesan. Ayi dan Io terus menjahilinya sedari tadi. Io yang menahan tawa meraih tangan Ahsa, menyuruhnya untuk tetap duduk. Ia kemudian menyodorkan sepiring nasi goreng yang sudah khusus ia pesan untuk Ahsa yang ternyata ia sembunyikan di balik piring besar Ayi.
Dengan sedikit rasa kesal, Ahsa ikut makan bersama mereka. Io juga mengatakan bahwa ia hanya mengerjai Ahsa dan meminta maaf. Ahsa setengah mengabaikannya.
“Makasih lampunya,” ujar Ahsa pada Yandra. Ia sedikit terkejut dengan Yandra yang akhir-akhir ini dekat dengan Ayi. Betapa pun, Ahsa sedikit tahu dengan kepribadian laki-laki tersebut.
“Sama-sama,” sahut Yandra sedikit kaku. Ia merasa tidak enak karena Ahsa langsung menyapanya. Hadiah tersebut sebenarnya adalah pilihan Ayi. Namun, Yandra sudah mengungkapkan hal itu saat memberikannya agar tidak disalah pahami.
Mereka berempat mulai menyantap makanan masing-masing, kecuali Yandra. Ia tidak memesan dan tidak makan. Hanya menikmati jus lemonnya. Ayi tak bisa memaksanya karena Yandra benar-benar terlihat tidak ingin makan. Selain itu, ada hal lain yang ia pikirkan.
“Nggak tahan pedas, ya?” tanya Yandra pada Ayi yang sedang memunguti potongan cabai rawit yang ada di nasinya, kemudian memasukkannya ke dalam piring Io. Kebiasaan Ayi yang ini baru Yandra ketahui.
Ayi mengangguk. “Iya, padahal udah gue bilang satu nggak pake cabe tadi. Mungkin piring gue ketukar nasib sama yang lain,” ujar Ayi, mengaduk lagi nasi gorengnya, mencari cabai yang tersisa. Sedangkan Io makan dengan lahap tanpa memedulikan apa yang Ayi lakukan.
“Loe nggak makan?” Ahsa bertanya saat menyadari Yandra tidak memesan apa pun. “Pesen aja, gue yang traktir,” tawarnya tanpa menunggu respon.
Yandra awalnya menolak, tapi karena ikut campur tangan Ayi yang keras kepala dan memesankan makanan, terpaksa ia makan saja. Tidak bisa berbuat lebih jika Ayi yang bertindak.
Semua sudah menghabiskan makanannya, kecuali Ayi. Ia makan sedikit lebih lambat dari ketiga lelaki dan satu perempuan yang sedang bersamanya itu. Hal yang sudah menjadi kebiasaannya.
Akan tetapi, ketika Ayi seketika berhenti mengunyah dengan mata yang melotot. Ia mendesis, “Ssshh.”
“Ngak salah lagi, nih. Pasti.” kata Io yang menyadari perubahan mimik Ayi, wajah gadis yang duduk di sampingnya itu terlihat memerah dan sedikit tersiksa.
“Si lidah tipis,” gumam Dena. Ia yang menyadari bahwa air minumnya juga habis hanya bisa menyerahkannya pada orang yang bersangkutan.
Ayi kepedasan, ia tanpa sengaja mengunyah cabai yang ternyata masih terselip di antara nasinya. Seorang Ayla Ink tidak tahan dengan makanan pedas.
“Air, air!” pekik Ayi, mulai panik sendiri. Ia segera berlari menuju lemari pendingin yang ada di pojok kantin. Namun, terlihat banyak orang yang menghalangi jalannya. Yandra dan Io tidak bisa apa-apa, mereka juga kehabisan air minum. Ahsa hanya terkekeh.
Saat Ayi ingin menerobos, seseorang yang dari tadi memerhatikannya beranjak setelah mengambil sesuatu. Sebuah tepukan pelan pada bahu kanan Ayi membuatnya menoleh. Laki-laki yang tidak begitu Ayi kenal terlihat menyodorkan sebotol air padanya. Tanpa basa-basi, Ayi mengambilnya dan meminumnya hingga habis. Laki-laki itu tersenyum melihat tingkah Ayi yang seperti itu.
Ayi yang saat ini ada di depannya, juga hatinya.
To be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
sora
Dena juga cowo? 😭😭😭😭
2022-10-23
0
sora
Dari awal mikir Asha cewek... dibuat bingung pas mau boncengan sama Dena. terjawab disini kalo si Asha teh cowok...
2022-10-23
0