Just 11

Ketika sesuatu hilang darimu, bukan perihal bagaimana cara mendapatkannya kembali, tapi bagaimana cara merelakannya.

...•••...

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Io masih belum tidur. Hampir satu jam ia duduk di kursi belajarnya, menatap buku diary yang hanya bertuliskan beberapa kata saja. Ia tiba-tiba kehilangan kata-kata saat ingin mengisi buku tersebut. Selain karena hari ini kehilangan barang beharga miliknya dan pergi untuk mencarinya, Io juga dalam keadaan tidak ‘sehat’ untuk sekadar menulis.

Apa yang terjadi seharian ini, menguras perasaannya.

Barang yang sangat ia sayangi itu dihilangkan oleh orang yang sebenarnya tak ingin ia salahkan. Io hanya marah pada dirinya sendiri tanpa bisa menyalahkan. Selain kehilangan barang pemberian dari satu-satunya orang yang saat ini ia rindukan, Io juga merasa akan kehilangan sesuatu yang lainnya. Sepertinya, tidak lama lagi. Firasat itu menguat saat ingatan tadi siang kembali muncul.

Hari ini, banyak hal yang ia lakukan dengan dan tanpa Ayi. Jadi, Io ingin mengabadikan kejadian itu dengan menulisnya. Namun, apa yang harus ia tulis di sana? Dengan apa ia harus memulai ketika Ayi menyuruhnya untuk datang ke rumahnya, tapi ia tidak sempat. Ia hanya sedang mempersiapkan diri menghadapi omelan kecil dari sahabatnya itu esok pagi.

Berbagai macam hal memenuhi pikirannya. Io merasa takut dan lega di satu kesempatan dan waktu yang sama. Selain itu, ia kini sudah menduduki bangku kelas dua SMA, sudah seharusnya memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya untuk kehidupannya sendiri. Untuk hal-hal yang hanya main-main, Io tidak ingin memikirkannya dulu untuk saat ini.

Setengah jam berlalu begitu saja. Namun, ia masih belum menemukan kata tepat yang bisa menggambarkan perasaannya. Semua yang terjadi seharian ini masih Io ingat dengan baik. Bukan tidak ada hal yang ia lupakan, tapi perasaan mana yang harus ia prioritaskan terlebih dulu. Privasi atau keluarga.

Bagaimanapun, semua hanya tergantung dari suasana hatinya. Namun, jika sama-sama bukan hal yang terlalu baik, bagaimana? Setidaknya ia harus menata pikirannya untuk tenang.

Io beberapa kali menggumamkan kata yang menurutnya sesuai dengan apa yang terjadi. Sedikit puitis, mungkin? Memangnya ia bisa? Tidak semua harus terlalu serius apalagi romantis. Sepertinya ia memang harus mencoba hal baru. Perasaan yang berkecamuk, mari tinggalkan dulu.

‘Bukan coklat yang kuinginkan. Namun, dia masih saja asingku.’

Io hanya menulis kalimat tersebut kemudian pergi tidur. Tidak ada hal menarik yang terjadi hari ini untuk dirinya sendiri selain itu kehilangan.

Buku diary itu hanya teronggok begitu saja di atas meja belajar yang hanya menyisakan cahaya temaram. Mulai sekarang, Io harus memperingati dirinya sendiri untuk tidak membawa diary itu ke sekolah.

Diary yang nantinya akan dibuka dan baca ulang untuk ia tambahkan beberapa tulisan yang menjadi awal dari sebuah perjalanan seseorang yang masih asing untuknya dan juga Ayi.

Tentangnya, mengenai dua orang.

***

  “Io, kamu nggak ikut sarapan?” tegur ayahnya yang sudah duduk di meja makan. Ia menatap Io yang baru saja turun dari tangga. Wajah Io yang semula terlihat ceria, kini mulai berubah masam. Seminggu terakhir, Io tidak wajah laki-laki yang menjadi ayahnya tersebut. Itu berarti ayahnya baru pulang. Karena saat Io yang baru pulang dan cukup larut tadi malam, hanya ada ibu dan dua adik tirinya saja di  rumah. Namun, ia tetap tidak peduli.

  “Ta, cepet abisin makanan loe, gue nunggu di depan,” seru Io pada adik laki-lakinya. Hari ini, Io harus mengantar Arta sekolah lagi sebelum saudaranya diizinkan menggunakan kendaraan sendiri. Arta yang hanya berusia tiga belas tahun dan baru saja melanjutkan di SMP di kota tempatnya tinggal.

Belum sempat melangkah, ayahnya kembali memanggil, “Ayah mau bicara, Io.” Suara ayahnya yang kali ini, terdengar lebih keras. Io masih menulikan telinganya, sama sekali tidak peduli.

   “Kamu dengar kalau orang tua bicara, Io!” geramnya saat Io sudah meraih gagang pintu. Wajahnya terlihat memerah karena menahan amarah. Sang ayah bahkan menjatuhkan sendok makannya di piring, menimbulkan bunyi denting yang cukup keras. Bagi Io, itu sama seperti genderang perang yang ditabuh. Suasana canggung dan tegang seketika menguar di sana.

Sang istri mulai merasa tidak nyaman dengan aura yang ada di ruang makan itu. Jadi, ia hanya menggendong anaknya yang masih kecil untuk menjauh dan ditidurkan. Tak lama, Ia kembali lagi. Ia melihat Io menjauhkan tangannya dari gagang pintu, terdengar anaknya itu mendecih. Ia masih diam dan berdiri di tempatnya.

  “Io!”

  “Sudah, Mas,” tegur perempuan yang dari tadi menyaksikan interaksi tak baik antar ayah dan anak itu. Ia mengelus lembut tangan sang suami, mencoba meredakan amarahnya.

Io akhirnya memilih berbalik dan berjalan menuju meja makan. Duduk di salah satu kursi di sana dengan wajahnya yang terlihat acuh. Seperti bukan Io yang biasanya. Suasana kembali hening karena belum ada yang memulai pembicaraan. Io mulai mengambil roti tawar dan mengolesinya dengan selai coklat, lalu memakannya. Ia tidak ingin sarapan, tapi memaksakannya.

  “Mama kamu nggak sengaja buang buku kamu,” ucap ayahnya, memulai pembicaraan agar tidak ada kesalahpahaman. Ia sendiri sudah mendengar sedikit banyak tentang apa yang terjadi pada si anak dari istrinya.

  “Mama kamu juga udah minta maaf, ‘kan? Sampai kapan kamu baru bisa menerimanya?” tambahnya lagi. Apa yang menjadi kalimat tambahannya itu bukanlah hal yang berhubungan dengan apa yang sedang terjadi.

Kali ini, wajah yang sudah menua itu sudah tidak ada amarah lagi setelah ditenangkan sedikit oleh wanita keduanya. Sang istri yang dimaksud dalam pembicaraan itu, terlihat sedikit menunduk, ia masih merasa bersalah karena tidak sengaja membuang buku kesayangan anak tirinya. Hubungannya dan anak dari suaminya itu memang tidak terlalu baik. Io memang jarang berbicara dengannya, tapi tidak ada kebencian yang ia rasakan selama tinggal di sana. Anak itu mungkin hanya belum bisa menerimanya saja. Ya, mungkin saja.

Akan tetapi, tetap saja ia melakukan kesalahan. Awalnya, ia berniat membuang sampah yang sudah menumpuk di dalam tempat sampah di kamar Io. Namun, ia tidak tahu jika buku yang Io maksud itu ternyata ada di sana, terjatuh ke dalam tempat sampah saat Io mengambil teleponnya sebelum berangkat sekolah. Itu sudah terjadi beberapa hari yang lalu. Io baru menyadarinya kemarin siang sepulang  sekolah.

Buku yang menjadi harta berharganya itu selalu ia letakkan bersama. Ingatan terakhirnya sebelum buku itu hilang adalah ketika buku tersebut berada di atas meja belajarnya.

Siang itu, ibu tiri Io mulanya merasa senang karena ia menanyakan sesuatu padanya. Bahkan terlihat seperti meminta bantuan. Namun ….

  “Apa ada orang yang masuk ke kamarku selama dua hari terakhir?” tanya Io kemarin  siang. Anaknya itu terlihat seperti mencari sesuatu.

  “Nggak ada. Cuman Mama yang masuk buat buang sampah kamu. Soalnya keranjang sampahnya udah penuh,” ungkap mama tirinya. Bagaimanapun, ia tahu bahwa Io akan melarangnya untuk masuk ke kamarnya, tapi saat itu ia melakkannya karena pintunya tidak tertutup.

Setelah itu, Io hendak berbalik untuk meyakinkan sesuatu. Dua hari yang lalu, buku tersebut masih ada di atas meja di kamarnya. Tong sampah yang dimaksud itu tepat berada di bawah meja belajarnya.

Jadi, Io yakin bahwa bukunya yang sudah hilang itu tanpa sengaja terjatuh. Ia sangat yakin. Menyadari hal itu, Io marah. Bukan marah pada wanita yang ada di depannya saat itu, tapi marah karena kelalaiannya sendiri.

  “Io,” panggil mamanya yang belum tahu apa yang sedang Io cari. “Maaf, Mama nggak izin dulu waktu itu.”

Saat itu, Io tidak menjawab. Ia hanya kembali ke kamarnya, sebelum pergi seharian tanpa kabar.

  “Ayah nanya sama kamu, Helio.” Seruan dari yang sang ayah mengembalikan pikirannya ke masa sekarang. Ia sendiri lupa kenapa membenci ayahnya itu.

Io menggertakan giginya. Seolah sedang membendung arus marah, ia menarik napas. “Aku nggak nyalahin dia,” tunjuk Io pada mama tirinya, lalu melanjutkan, “tapi itu buku kesayanganku, Pa. Satu-satunya pemberian Mama.” Bendungan amarahnya sudah retak dan nyaris longsor.

Io juga bisa marah.

Arta sudah menghabiskan makannya, ia dengan sedikit canggung berpamitan pada tiga orang dewasa yang ada di sana. Arta bukanlah tipe anak yang ingin ikut campur. Baginya, orang dewasa yang selalu memiliki masalah itu, pasti punya cara tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Bahkan jika itu ibunya sendiri.

Jadi, setelah ia mengucapkan, “Aku sudah siap, Kak Io." Arta keluar. Io juga sepertinya harus segera berangkat sebelum terlambat.

  “Mama minta maaf Io, secepatnya akan mama cari gantinya yang sama persis,” lirih wanita yang sudah menjadi mama tirinya selama tiga tahun terakhir ini. Ia tidak pernah diterima secara langsung maupun tidak langsung oleh Io. Namun, satu hal yang selalu ia pegang teguh adalah perkataan Io di hari pertama ia tiba di rumah itu.

  “Tidak ada yang bisa menggantikan mama dan juga kenangannya, berhentilah ber –“

  “Io!!” Ayahnya sudah naik pitam. Ia tak mengerti kenapa anaknya itu sangat membenci istrinya ini. Namun, dugaan sepihak itu salah diartikan oleh sang ayah. Yang Io maksud bukanlah mama tirinya, tapi ….

  “Aku pergi,” pamit Io, sebelum ayahnya bertambah emosi. Ia tak ingin berdebat. Setidaknya untuk pagi ini saja ingin merasa damai.

Pintu rumah tersebut kembali tertutup.

  “Sudah, Mas. Jangan terlalu keras, dia hanya tidak bisa melupakan Yana. Itu wajar, kita juga sama seperti dia,” tutur sang istri, menenangkan suaminya yang mulai mengatur napasnya, menghilangkan amarah yang masih tersisa.

Ia teringat lagi bagaimana senyum Yana—mama Io—saat membacakan dongeng sebelum tidur untuk Io. Rasanya ia tak percaya dengan kepergian orang yang sangat disayanginya sepuluh tahun yang lalu itu. Bukan hanya anaknya saja yang merindukannya, ia dan semua yang ditinggalkan pasti merindukannya.

Io akhirnya merasa lega setelah menutup pintu rumahnya.

Arta terlihat menunggunya di sana. Laki-laki itu bukanlah adik kandungnya. Ibunya menikah dengan ayah Io tiga tahun yang lalu. Istrinya terdahulu sudah meninggal saat Io masih berumur enam tahun. Kepergian seseorang yang pernah berharga dalam hidupnya. Hingga tujuh tahun kemudian, sang ayah akhirnya menikahi Diara, istrinya sekarang. Sebuah janji yang harus ia tepati.

Ayah Io juga sudah memberitahu Io sebelum ia menikah, tapi tidak direspon apa pun. Hingga sekarang, Io tidak pernah menganggap istri ayahnya itu sebagai pengganti ibunya. Ia Juga tak pernah memanggilnya dengan sebutan selayaknya. Hanya ‘kau’ saja. Namun, bukan berarti seorang Helio membencinya.

Tidak ada yang salah dengan ibu tirinya itu, Io memang tak dendam atau apa pun padanya. Sama sekali tidak. Ia hanya tidak ingin sosok mamanya tergantikan. Hanya itu saja. Ia bahkan sangat akrab dan dekat dengan Arta.

Karena Io tak pernah membenci siapa pun kecuali orang yang menyakiti keluarganya dan sahabatnya.

To be Continued

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!