Ada harap yang perlahan berubah menjadi kabul.
...•••...
Bel tanda berakhirnya pelajaran terakhir, akhirnya bergema ke segala penjuru sekolah berlantai dua. Sekolah di mana Ayi dan Io berada.
Yandra sudah membereskan semua buku miliknya saat memutar tubuh ke belakang. Ayi sedikit kaget dengan apa yang Yandra lakukan itu. Yandra benar-benar sangat antusias dan tidak sabar.
“Yo, gue pulangnya sama Yandra, loe bisa pulang duluan,” seru Ayi pada Io saat sudah berdiri. Io masih sibuk membereskan buku-bukunya saat Ayi dan Yandra melenggang lebih dulu.
Io menatap mereka dengan tatapan biasa dan bermakna. Ahsa dan Dena terlihat berdebat tentang siapa yang akan dibonceng. Tadi pagi, mereka berangkat bersama, bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai sepupu. Juga karena rumah mereka dekat dan di kompleks yang sama. Mereka baru masuk sekolah beberapa hari yang lalu karena pergi ke kota lain saat ada acara keluarga besar.
Tawa yang Io keluarkan sedikit nanar dan kecut. Ia harus menjemput Arta setelah ini. Adiknya itu masih ia antar dan jemput saat sekolah. Mungkin lusa atau beberapa hari ke depan ia baru bisa pergi sekolah bersama Ayi lagi.
Senyum Io berubah sinis saat seseorang mendekat.
“Io, aku—"
“Cokelat loe udah gue terima, makasih,” ketus Io, kemudian berlalu. Belum sempat melangkah ke luar, ia berhenti dan menoleh. “Oh iya, gue udah punya pacar, tapi terserah, kalau loe masih mau deketin gue,” ungkap Io datar. “Loe juga jangan pernah macem-macem sama orang terdekat gue.” Io berkata dingin, bukan seperti Io biasanya.
Seseorang yang ternyata Saras itu hanya bisa melongo dan menatap kepergian Io dengan tatapan hampa. Ahsa dan Dena juga berlalu setelah memutuskan bahwa Ahsalah yang dibonceng. Mereka tidak tahu apa yang dirasakan Saras saat ini.
Di tempat lain, di waktu yang lain pula, Ayi dan Yandra sudah memasuki pasar tradisional. Pasar yang menjual berbagai aksesoris dan pakaian serta barang lainnya. Cukup lama mereka berkeliling di sana hingga akhirnya Ayi mampir pada sebuah stan.
“Ini aja, gimana? Gue suka,” ujar Ayi, memberikan pendapatnya. Ia menunjuk pada sebuah gelang yang terlihat menggantung dalam bentuk lingkaran.
“Hmm, boleh nih,” sahut Yandra begitu saja. Ia tidak tahu apa yang disukai oleh Ahsa. Untuk itulah ia meminta Ayi menemaninya. Entah sejak kapan ia suka dibuat repot begini.
Akan tetapi, saat mata Ayi beralih, ia membatalkan pilihan pertamanya ketika mendapati sesuatu yang lebih besar. Sebuah dream catcher yang memilik lingkaran sempurna. “Ini juga bagus,” timpal Ayi lagi. Lalu, matanya menemukan barang lain dan ia juga melakukan hal yang sama.
Hampir semua yang dijual di stan itu ia rekomendasikan pada Yandra.
Yandra yang awalnya bingung, akhirnya hanya membelikan lampu tidur yang berbentuk tempurung yang diukir membentuk ikan lumba-lumba. Itu pun masihlah pilihan dari Ayi.
Telepon Ayi tiba-tiba berdering dengan I knew you where trouble sebagai nada panggilannya. Tentu masih lagu milik Taylor Swift kesukaannya.
“Iya, Ma. Ayi lagi nggak sama Io. Ayi juga pulangnya agak telat,” sahut Ayi, membelakangi Yandra. Laki-laki itu kemudian tersenyum saat melihat gelang yang mempunyai hiasan dengan motif merpati kecil. Sesuatu terpikirkan olehnya. Tanpa sepengetahuan Ayi, ia membeli gelang tersebut kemudian menyembunyikannya di saku celananya.
“Iya, iya Mama.” Ayi mengakhiri panggilan. Ia berbalik dan mendapati Yandra tengah melihat-lihat sekitar.
“Udah?” tanya Ayi, membuat Yandra menoleh. Ia tersenyum, senyum itu tak pernah absen dari wajahnya ketika bersama dengan Ayi.
“Udah,” jawab Yandra, mengangguk. Ia masih tersenyum.
“Yuk pulang,” ajak Ayi, dan refleks meraih tangan Yandra.
“Ki-kita makan dulu, yuk. Kamu katanya tadi mau ditraktir es krim, kan?” ucap Yandra, sedikit terbata. Ia merasa salah tingkah saat Ayi memegang pergelangan tangannya. Ayi terlihat berpikir. “Aku yang traktir,” timpal Yandra, sebelum Ayi menjawab dan berakhir menolak.
“Yaudah. Karena dipaksa, gue, sih nurut aja.” Cengiran Ayi berhasil membuat Yandra terkekeh. Rasanya manis.
Mereka akhirnya beranjak dan mencari tempat makan yang tidak jauh dari sana. Yandra tak bisa menahan senyumnya ketika menemukan sebuah kafe minimalis yang terlihat–
“Loe ngapain senyam-senyum gitu, gue ngeri liatnya.” Ayi yang baru saja menyadari raut wajah Yandra akhirnya menegur. Yandra lagi-lagi salah tingkah. Ia terlihat salah reaksi, tapi tidak pernah salah perasaan.
“Eng–enggak, kok,” sahutnya, kemudian mengusap tengkuk, menormalkan kembali air mukanya. Ayi sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Ia hanya menggoda Yandra saja. Rasanya menyenangkan.
“Ke sana aja, gimana?” Bukan Yandra yang mengajak, tapi justru Ayi. Ia menunjuk tempat yang sama seperti yang Yandra lihat tadi. Ia sempat berpikir dan ragu jika Ayi tidak mau ke sana karena tidak ada es krim.
“Boleh. Karena dipaksa, aku sih nurut aja,” tutur Yandra, membuat Ayi mengernyit. Yandra membalas perkataan Ayi beberapa saat yang lalu. Ingatan lelaki itu tajam juga.
“Loe tuh, ya. Gue gigit nih,” cerca Ayi, tertawa lucu. Yandra hanya terkekeh pelan.
Mereka akhirnya masuk ke sana dan mulai memesan.
“Kalian sahabatan udah lama?” tanya Yandra saat makan. Mereka duduk di tengah-tengah.
“Dari kecil sih, pas Mama Io meninggal, dia sering main di rumah gue,” jelas Ayi, lalu menyendok supnya. Ia sangat menyukai makanan jenis sup.
Yandra merasa bersalah “Oh, maaf, aku nggak tahu,” gumam Yandra. Ia juga baru tahu tentang hal itu.
“Yaudah, gue maafin,” sahut Ayi, mengibaskan tangannya. Ayi tahu, ini adalah pertama kalinya ia menceritakan tentang Io pada orang lain. Merasa Yandra itu menyenangkan saja untuk diajak bicara.
“Kalian pernah berantem, nggak?” Yandra bertanya mengalihkan pembicaraan. Ia juga menyuap pangsitnya.
“Sering malahan, waktu kecil dulu gue sering dimarahin mama pas lagi berantem sama Io.” Kali ini, Ayi menjelaskan lebih semangat.
“Kok bisa?” imbuh Yandra yang mendengarkan dengan antusias. Ia merasa tertarik untuk mengenal Ayi lebih.
“Io waktu kecil itu cengeng, apa-apa nangis, diejek ama temen-temennya juga nangis. Gue juga yang dijadiin tameng buat jagain dia,” tutur Ayi, menceritakan sisi buruk Io.
Di tempat lain, Io tersedak saat meminum jusnya. Mamanya terlihat memberikan tisu padanya. Namun ia abaikan. Tanpa peduli, ia langsung masuk ke kamarnya dan mencari teleponnya, kemudian menelpon ... Ayi.
Ayi yang masih gencar menceritakan tentang Io tiba-tiba berhenti saat teleponnya berdering. Sebuah panggilan dari ... Io.
Di dua sisi yang berlainan, terlihat Ayi dan Io yang sama-sama memegang teleponnya.
“Woy, Yi. Loe ngomongin gue, ya?” Io bertanya langsung.
Ayi tertawa lepas dan bertanya, “Keselek apaan emang tadi?”
“Keselek meja. Loe di mana?”
“Gue lagi pacaran nih, kenapa?” jawab Ayi dengan suara sok seriusnya. Yandra terlihat terperangah, menatap Ayi tak percaya. Ayi hanya tersenyum pada Yandra yang tiba-tiba berdegup.
Apa maksud perkataan Ayi? Yandra tak berani bertanya karena Ayi masih menelepon.
Di sisi lain, Io tak peduli. “Tiga jam lagi gue ke rumah Ahsa, loe gimana?” tanya Io. Ia tak mempedulikan perkataan Ayi tersebut. Sama sekali tak terpengaruh.
“Gue pulang dulu, terus ganti baju, mandi juga. Terus ganti baju lagi. Oh iya, nggak lupa gue ju—"
Tut.
Panggilan diputus secara sepihak oleh Io. Ayi mendengus menatap layar teleponnya. Yandra terkekeh pelan.
Oh, ada yang harus ia berikan.
“Ayla” panggil Yandra.
“Nggak kok, Ndra. Gue cuman ngerjain Io aja,” sahut Ayi yang mengerti apa maksud Yandra. “Jangan baper, ya,” timpalnya. Yandra hanya bergumam dan mengangguk, bukan itu yang ia maksud.
Jangan berharap, Yandra!
“Tapi ... kalau loe suka ama gue bilang ya, biar gue tahu,” pungkas Ayi percaya diri, membuat Yandra melongo. Wanita yang bernama Ayi ini sangat unik. Sepertinya ia ... entahlah. Ia lupa apa itu namanya.
“Iya, nanti aku bilang.” Yandra meneruskan kembali makannya begitu pula dengan Ayi yang merasa senang. Yandra tersenyum dalam hati.
Ada harap yang perlahan berubah menjadi kabul.
Setelah makan, Yandra mengantar Ayi ke rumahnya. Ini adalah pertama kalinya ia mampir, walau hanya sebentar.
“Pacar kamu?” tanya Mama Ayi saat Yandra sudah pulang.
“Ya ....” Ayi tersenyum geli. “Bukan lah,” jawab Ayi, kemudian tertawa karena berhasil mengerjai mamanya.
“Gimana mau dapet pacar, orang barengnya sama Io terus,” cibir mamanya. “Io aja udah punya pacar,” lanjutnya lagi.
“Doain anak itu yang baik-baik Ma, biar anaknya juga baik-baik,” tutur Ayi, menggurui.
Ayi duduk sebentar untuk menemani mamanya mengobrol.
Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, itu adalah Io. Ia datang ke rumah Ayi dengan jaketnya, terlihat lebih rapi dari biasanya. Io membawa bungkusan besar.
“Masih dua jam lagi, Yo,” tutur Ayi pada Io yang duduk di ruang tengah setelah menyapa Mama Ayi, lalu mengeluarkan barang-barangnya.
“Gue mau bungkus kado dulu,” jelas Io, membentang kertas kado berukuran besar.
“Yaudah, gue mandi dulu,” sahut Ayi, kemudian masuk ke kamarnya. Ia sudah membungkus kado miliknya tadi malam.
***
Acara tiup lilin dan potong kue sudah selesai. Lagu ulang tahun dinyanyikan beberapa teman Ahsa yang hadir termasuk Ayi dan Io. Ayi mendekati Ahsa setelah semua orang sudah memberikan kado masing-masing. Dengan senang Ahsa menerimanya.
“Makasih, Yi,” ucapnya sambil tersenyum.
“Buka sekarang aja Sa, karena ini kado spesial dari gue sama Io,” perintah Ayi, tak sabar.
“Loe nggak curiga, Sa?” selidik Dena pada sepupunya itu.
“Maksudnya?” Ahsa bertanya heran.
“Loe kayak nggak tahu Ayi sama Io aja,” sindir Dena lagi. Ahsa mulai terpengaruh dan segera membuka kadonya. Sedangkan Ayi dan Io menatapnya tak sabar.
Saat di buka, beberapa buku Ahsa dapati. Buku tugas Ayi dan Io. Ahsa menggeram kemudian berniat merobek buku tersebut.
“Eh! Eh! Eh! Tunggu dulu. Niat kita, ‘kan baik,” sergah Io, menahan pergerakan tangan Ahsa.
“Iya, Sa. Kita cuman minta bantuin ngerjain PR doang,” sahut Ayi, memelas.
“Nggak gitu juga, Helio! Ayla!” kesal Ahsa. Dena yang disampingnya sudah menduga. Sedangkan Io dan Ayi hanya membalasnya dengan cengiran menyebalkan mereka.
“Nih, kado dari gue.” Io akhirnya mengeluarkan sebuah bungkusan besar dari belakangnya.
“Nih, juga dari gue, sesuatu yang pasti loe butuhin.” Ayi juga memberikan kotak berukuran kecil.
Ahsa menatap mereka curiga. “Kok dari bungkusnya mencurigakan, ya,” gumam Ahsa, menyelidik. Ia terlihat waspada.
“Yang ini beneran nggak nipu, kok,” cerca Ayi yang diangguki Io.
Ahsa memilih mengambilnya. Kali ini, ia tidak berniat membukanya. Ia percaya setelah mendengar penjelasan dua sahabatnya itu.
Mereka kemudian pergi untuk menikmati hidangan. Ayi yang sudah mengambil piring paling besar, celingukan untuk mencari seseorang.
Setelah menemukan sesuatu yang lebih besar dari piringnya, ia berseru, “Yandra!” Seseorang yang terlihat duduk sendiri dan sedikit kesepian.
Ayi langsung muncul dan berdiri di depannya tanpa Io.
Yandra memanggil nama gadis ceria itu, “Ayi.”
To be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments