Just 7

Jangan terpedaya kata-kata dan raut wajah, karena syarat bahagia tidak harus tertawa.

...•••...

Apa yang sedang seseorang rasakan bisa diungkapkan dengan perkataan, tindakan, dan raut wajah. Perihal hati, hanya mereka yang benar-benar mengertilah yang tahu.

Yandra tidak tahu kapan saat ia jatuh cinta, tapi laki-laki  itu tahu dengan siapa ia mulai mendamba. Dalam ruang benak yang hanya ada ia, Yandra mulai memuja dan meletakkan harapan pada seseorang itu. Apa akan seperti ini rasanya?

Jatuh cinta dulu, baru sangkal.

  “Ngomong-ngomong, tanaman apaan?” tanya Ayi, memberikan sebuah sapu tangan miliknya pada Yandra. “Ada tanah tuh, di bawah dagu loe.” Ayi memberitahunya dengan sedikit terkekeh.

Yandra merasa sedikit malu juga merasa senang saat dipedulikan oleh Ayi. “Belum keliatan, sih, apa yang tumbuh, aku minta bibit sama Kak Aydan dulu,” sahut Yandra, meraih sapu tangan Ayi dan membersihkan dagunya. Tidak ada yang tahu dengan apa yang laki-laki itu lakukan selama ini. Ia menanam beberapa tanaman di belakang sekolah sudah cukup lama. Tempat di mana ia bisa memerhatikan pertumbuhannya.

  “Nanti aku balikin,” ujar Yandra, menyimpan sapu tangan Ayi. Gadis itu hanya melibaskan tangannya, seolah mengatakan itu bukanlah sesuatu yang berharga baginya, apalagi harus dikembalikan.

Tiga kali seminggu, Yandra selalu menyiram tanamannya tersebut agar tumbuh. Selama libur sekolah kemarin pun, pernah beberapa kali ia ke sekolah hanya untuk memeriksa perkembangan tanamannya itu. Namun, sepertinya Yandra gagal, ia tak memiliki bakat seperti kakaknya dalam urusan tanaman. Maka dari itu, ia mulai menanam tanaman baru lagi setelah kenaikan kelas tahun ini.

  “Kalau gitu, lain kali ajakin gue ke sana, ya?” tutur Ayi, berjalan beriringan. Ia tidak tahu apakah Yandra akan memperbolehkannya atau tidak, tapi tidak salahnya jika bertanya lebih dulu, kan? Ayi bukanlah tipe orang terlalu memikirkan sesuatu apalagi bertele-tele. Jika ia merasakan sesuatu, maka gadis itu akan secara langsung mengatakannya. Pun jika ia tak menyukai suatu hal atau seseorang.

Dulu, ketika Io mengatakan bahwa seseorang sedang menyukai dan mengajaknya berpacaran, Ayi secara gamblang mengatakan, “Kok gue nggak suka, ya?” Langsung di hadapan orang tersebut. Namun, Ayi tak pernah melarang atau pun ikut campur dalam hubungan asmara sahabatnya. Baginya, itu adalah dunia yang hanya diatur oleh Io.

Akan tetapi, lain lagi jika sebaliknya. Ayi bahkan dengan sengaja datang pagi-pagi ke rumah Io demi sekedar meminta pendapat tentang seorang yang sedang menyukainya. Apakah orang itu baik atau tidak untuk Ayi, maka seorang Io lah yang menjadi penilainya. Io akan sangat pilih-pilih dan mencari tahu dari laki-laki yang sedang menyukai sahabatnya.

Dibanding itu, hanya satu persamaan dari mereka. Dua orang itu tak pernah berlarut ataupun menangis dalam percintaan. Mereka sudah memperjelas bahwa romantisisme itu sangat tidak cocok dengan mereka.

Sampai di mana mereka tadi?

Ah, Yandra terlihat terperangah, merasa senang dan tak menyangka dengan ucapan Ayi. Ia diam-diam tersenyum. Sepertinya ia harus rajin menyiram dan merawat tanaman yang ditanamnya itu. Sebuah ide untuk meminta bibit lain pada kakaknya pun terpikirkan setelah melihat reaksi antusias Ayi.

Kira-kira tanaman apa yang sesuai untuk seorang Ayi?

  “Loe melamun?” Karena Yandra tak kunjung menjawab, Ayi memilih bertanya dan melongokkan wajahnya di depan muka laki-laki yang terus meletakkan tangannya pada dagu.

Yandra tersentak karena dikejutkan dengan gerakan tiba-tiba dari Ayi. Ia sadar karena belum memberikan jawaban. Sedikit mengingat pertanyaan apa yang sebelumnya gadis itu utarakan.

Ah, ingin mengunjungi tanamannya.

  “Boleh. Semoga ada lain kali,” sahut Yandra yang sudah menunjukkan ketidaksabarannya. Pagi ini, Ayi mendengar harapan dari dua orang yang berbeda.

Lain kali, ya?

***

Io sudah menyelesaikan tugas piketnya, lalu terlihat ogah-ogahan berbincang dengan Saras. Lebih tepatnya hanya menjawab pertanyaan dari perempuan yang selalu mengajaknya bicara akhir-akhir ini. Io sangat tidak menyukainya. Andai saja temannya selain Ayi sekolah hari ini, ia mungkin akan mengabaikan gadis itu.

Tak lama, Ayi masuk dan berjalan menuju kursinya, lalu mengambil headset Io dari dalam tas miliknya yang ia pinjam kemarin. Ia ingin mengembalikannya.

  “Yo, nih, headset loe. Gue balikin,” panggil Ayi pada Io yang masih mengobrol. Sepertinya ini kesempatan Io untuk menghindari lawan bicaranya itu.

  “Iya. Sini, sini,” sahut Io, hendak beranjak. Ayi dengan entengnya membuka tas milik Io.

Saat gadis itu ingin membuka tas sahabatnya, Io bergegas mendekatinya. Ia tiba-tiba teringat sesuatu. Ada hal yang harus ia lakukan sebelum ....

  “Ayi!” seru Io, terlihat mencegah.

Ayi tidak menoleh, ia memicingkan matanya saat melihat benda persegi panjang yang ada di dalam sana. Ketika Ayi ingin membuka lebih lebar tas itu, Io segera meraih tasnya dan menjauhkannya dari jangkauan Ayi. Io lupa jika ia belum menyimpan diary-nya. Kalau tidak salah, buku itu berada paling atas dari buku-buku pelajarannya.

Selama bersahabat dengan Ayi, inilah satu-satunya yang ia rahasiakan, bukan berarti ia tidak ingin melibatkan Ayi, tapi semua yang tertulis di sana hanyalah tentang kesehariannya. Jadi, Ayi juga mengetahui kejadian apa yang mereka lakukan.

Selain itu, Io yang tak begitu pandai dalam merangkai kata-kata, pasti akan ditertawakan oleh Ayi jika gadis itu sampai membacanya. Itu adalah salah satu alasannya merahasiakannya dari Ayi.

  “Apaan, tuh?” tanya Ayi, sedikit menyelidik. Io yang ditanya terlihat gugup, ia harus mencari alasan untuk menjelaskannya. Tidak bisa membiarkan Ayi membacanya, karena ia pasti akan meledeknya nanti. Pasti.

  “Buku gue,” sahut Io, cepat, dengan wajah mata yang tak bisa diam, melirik ke sana-kemari. Ia sudah menyangka jika Ayi pasti melihat diary-nya yang ternyata keluar sedikit tadi.

  “Hah? Buku?” Ayi bingung dan tidak percaya. Memangnya ada, buku yang dililit pita? Ayi yakin jika itu bukan buku. Io jelas membohonginya dan merahasiakan sesuatu darinya. “Sejak kapan buku loe pake pita, gitu?” ungkap Ayi, masih dengan tatapan intimidasinya. “Warna pink lagi,” tambahnya lagi. Kali ini, ia terlihat menahan tawa. Io tak bisa dalam hal berbohong.

Mendengar apa yang Ayi ungkapkan, Io bengong. Sama sekali tak mengerti maksud dari ucapan gadis itu. Ia mengira jika yang ditunjuk Ayi tadi adalah buku diary-nya. Namun, sepertinya ....

Ia bergegas membuka tasnya lagi dan memeriksanya. Matanya melotot ketika menemukan sebuah coklat dengan pita berwarna pink. Sama seperti yang Ayi katakan. Ia merasa lega.

Ayi sudah tertawa saat mendapati ekspresi Io yang begitu konyol.. “Buku apaan, tuh?” ledeknya, lalu tertawa nyaring. Yandra yang ada di sana juga ikut terkekeh.

  “Ngapain loe ngasih gue coklat?” tanya Io, tiba-tiba mengalihkan dan berusaha menyembunyikan sesuatu miliknya tadi. Ia mengira jika Ayi lah yang memberinya coklat tersebut. Sangat tumben sekali.

  “Apa? Gue? Ngasih loe coklat?” kelakar Ayi, menunjuk dirinya sendiri. Kali ini Ayi makin terbahak bahkan terpingkal. Yandra yang dari tadi duduk di dekat mereka itu masih memperhatikan. Merasa ingin terlibat dan dekat dengan mereka karena sepertinya menyenangkan. Lihat saja cara mereka berinteraksi yang seolah bebas, tanpa terikat hubungan.

  “Kalau bukan loe, terus siapa?” Io balik bertanya, ia juga tidak tahu coklat itu dari siapa. Apa jangan-jangan ….

  “Ada yang suka sama loe kali. Loe ‘kan sahabat gue yang ganteng. Ya kali gue ngasih beginian ama loe,” dengus Ayi, meletakkan lengannya di atas bahu Io yang masih terlihat bingung. Mereka sangat akrab, banyak orang yang iri dengan mereka yang tak pernah terlibat kisah asmara satu sama lain itu. Menyenangkan sepertinya menjadi mereka. Bukan begitu, Yandra?

  “Masa, sih?” Io terlihat masih bingung.

Dulu, saat di kelas satu, Io juga pernah mendapat surat cinta. Namun, perempuan yang menyukainya itu mundur saat tahu Ayi adalah pacar Io. Padahal, bukan begitu adanya.

Banyak orang mengira jika mereka pacaran, karena terlihat seperti sepasang kekasih, sangat cocok. Pulang-pergi selalu bersama. Bahkan, ada juga yang menjadi pendukung dan berharap mereka pacaran. Yah, setidaknya satu-dua orang termasuk dalam hitungan, bukan?

Walaupun Ayi dan Io tidak setenar itu, dua orang itu juga sudah mempertegas bahwa mereka hanya bersahabat, tidak lebih. Hingga kini, sepertinya masih ada beberapa orang yang seperti itu.

“Woii!! Ada yang liat gak, siapa yang masukin coklat ke dalam tas Io?” Ayi berteriak lantang di dalam kelas. Beberapa yang mendengarnya menoleh dan menggeleng. Tidak ada yang tahu.

  “Cie yang cemburu.” Suara salah satu temannya meledek. Beberapa dari mereka ada yang berasal dari kelas yang sama dengan Ayi dulu. Namun, Ayi memilih tidak meladeni. Ia hanya memasang poker face-nya. Tidak ada yang tahu apa yang Ayi pikirkan.

Sedangkan Yandra masih diam, ia memang tidak terlalu mengenal Ayi. Namun, ia pernah mendengar bahwa Ayi dan Io pacaran saat kelas satu dulu. Sejauh ini, ia yakin jika itu rumor saja.

Ada apa dengannya?

  “Yaudah, nih, buat loe aja.” Io memberikan coklat tadi pada Ayi yang langsung berbinar, gadis itu menerimanya dengan senang hati dan mulai memakannya. Tak ingin terlalu memikirkan siapa yang memberinya coklat tersebut.

Akan tetapi, tak jauh sudut kelas, terlihat perempuan yang menatap Ayi tak suka. Ia adalah Saras. Coklat yang ia berikan pada Io tadi malah dimakan orang lain.

  “Ndra. Nih, mau coklat nggak?” tawar Ayi pada Yandra yang terlihat menulis. Laki-laki itu sekilas menatap Ayi, kemudian menggeleng. Namun, Ayi memaksanya yang mau tak mau Yandra iyakan.

  “Yi,” panggil Io pada Ayi yang asik mengunyah coklatnya, ia juga ikut menikmati.

  “Apaan?” sahut Ayi singkat.

“Beneran ya, gue ganteng?” Io memperjelas ucapan sahabatnya beberapa saat lalu. Ayi mengerjap beberapa kali, kemudian menepuk punggung Yandra yang terlihat membelakanginya. Laki-laki yang masih menulis itu refleks menoleh dan langsung dirangkul oleh Ayi, erat.

  “Liat nih, perhatiin wajah dia,” suruh Ayi pada Io. Io mengernyitkan dahinya karena tak mengerti. Sedangkan Yandra sedikit memundurkan wajahnya yang terlalu dekat dengan wajah Ayi.

  “Maksudnya?” tanya Io, masih tak mengerti.

Ayi mengukir sebuah seringai. “Ini definisi ganteng yang sebenarnya,” seru Ayi, menunjuk wajah Yandra dengan senyum membanggakan.

Io bengong.

Yandra bengong.

To be Continued

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!