Just 10

Masih melangitkan namanya, meski bumi tempatku berpijak telah lama runtuh.

...•••...

   “Ayi.”

Sebuah suara terdengar memanggil. Ayi tersentak dan sadar dari lamunannya. Mobil yang membawanya ke tempat seseorang itu, sudah berhenti sejak tadi. Mereka sudah sampai. Ternyata Ayi melamun. Tidak, ia akan lebih cocok disebut mengenang.

Tak jauh dari tempatnya, sudah berdiri dua orang temannya, masing-masing dari mereka membawa sebuket bunga. Itu adalah Ahsa dan Dena yang tengah melambaikan tangan ke arah mobil Ayi.

  “Kamu melamun, Bee?” tanya sang suami. Ia kini sudah menggendong si kecil.

  “Mam mam.” Si kecil Jia juga ikut berseru  ke arah Dena yang terus memanggil dari tadi.

  “Apa kamu mau nangis dulu, baru kita keluar?” tawar Yandra, seraya mengelus rambut Ayi. Laki-laki itu hendak membuka pintu mobil di sebelahnya, tapi tangan Ayi meraih lengannya. Tak mengatakan apa pun saat sang suami menoleh. Tatapannya menyiratkan sesuatu yang sulit untuk ia katakan. Untuk itu, Ayi memilih diam.

Yandra sekali lagi merasakan bagaimana wanitanya itu saat pertama bertemu. Ceria adalah gambaran yang tepat untuk seorang Ayi muda. Lalu, apa sekarang? Saat di mana hari ini tiba, Yandra merasa sedikit sedih. Maka, ia pun berkata, “Nanti jangan buat aku cemburu, ya?”

Di luar dugaan, Ayi membalas cepat, “Apaan sih.” Ia mencoba tersenyum.

  “Ayi! Yandra! Buruan woy!” teriak Dena pada sepasang suami istri itu dari sebrang jalan. Sudah terlihat raut kesal pada wajahnya, kesal karena mereka sudah lama menunggu.

  “Iya. Iya.” Ayi juga berteriak, mulai beranjak dan membuka pintu mobil. Namun, Yandra tiba-tiba meraih tangannya, seperti tidak membiarkan sesuatu terjadi yang mungkin akan membuatnya sedikit menyesal jika ia tidak melakukannya.

Ayi seperti merasakan de javu yang berkebalikan.

  “Apa?” Ayi terlihat bingung dengan reaksi Yandra. Laki-laki itu tidak menjawab dan masih menatapnya lekat, seraya menggenggam erat tangan Ayi. Seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi selalu gagal. Mungkin inilah saat yang tepat. Yandra kemudian terlihat mengambil sesuatu dari saku celananya.

Perlahan, tatapan Yandra melembut, ia mendekatkan wajahnya pada Ayi. Ayi refleks memundurkan kepalanya saat Yandra mencoba medekatkan sesuatu itu tanpa sepengetahuan Ayi.

  “Kamu mau ngapain?” tanya Ayi, memalingkan sedikit wajahnya karena mata si kecil yang telihat bulat mungil itu tak berkedip di gendongan laki-laki itu.

Yandra merasa bersalah. “Maaf,” lirihnya pelan dan tertunduk.

  “Tapi nanti pas di depan Io, misal aku cemburu, aku ‘kan nggak bisa…,” gumamnya dalam bisikan yang masih bisa Ayi dengar. Lalu, kemudian menatap anak mereka yang terlihat memainkan kancing baju yang ia kenakan dengan tangan mungilnya. Ia tak bisa melanjutkan.

  “Hey,” panggil Ayi, kemudian menangkup kedua pipi Yandra. Ia tersenyum yang dalam artian benar-benar tersenyum. Yandra membalas senyumnya seraya memegang sebelah tangan istrinya. Ayi menyentuh lembut kedua pipi Yandra, lalu mengirim tatapan tenang padanya. Sebuah kepercayaan memantul di kedua bola matanya, saat perasaan yang hangat juga bisa ia rasakan.

Ayi memang mencintainya.

Ia mengurungkan niatnya dan memasukkan kembali sesuatu yang ia genggam tadi. Mungkin lain kali.

Setelah interaksi singkat itu, mereka mengakhirinya dengan Yandra yang merasa puas.

Ayi hanya terkekeh, kemudian meraih bunga yang ia beli tadi lalu keluar, begitu juga dengan Yandra. Mereka beranjak dari sana menghampiri Ahsa dan Dena yang jika mereka tidak segera beranjak. Maka dua orang itu segera menyusulnya.

  “Ngapain loe bawa itu, Sa,” tegur Ayi pada Ahsa yang membawa benda kesayangannya itu. Itu adalah apa yang pernah Io berikan semasa ia masih hidup.

  “Nggak pa-pa, hari ini gue pengen curhat sama Io,” tutur Ahsa, mengambil langkah lebih dulu. Yandra berjalan berdampingan dengan Ayi. Dena masih sibuk bermain dengan Jia yang sudah beralih ke gendongannya.

Mereka terus berjalan menyusuri jalan menuju tempat sahabat kecil Ayi berada. Ayi masih menatap lekat bunga yang ada di tangannya. Ia berusaha agar tidak terlalu larut dalam banyak pikiran kali ini. Hingga mereka sampai pada sebuah gerbang, memasukinya dan berjalan pada jalan setapak.

Pada pusara yang menjadi tujuannya, Ayi tersenyum nanar menatap sebuah nama yang tertulis di sana. Nama seorang yang pernah berharga dalam hidupnya. Sangat ia rindukan hingga sekarang. Rindu yang entah bagaimanapun, tak pernah berkesudahan.

Helio.

Terus mendekat. Di sana juga sudah ada beberapa karangan bunga yang masih terlihat segar. Mungkin itu dari orangtua Io yang juga berkunjung. Karena hari ini adalah hari ‘itu’.

  “Hai, Yo. Apa kabar? Gue datang.” Ayi menyapa lebih dulu, ia kemudian berjongkok lalu meletakkan bunga yang dibawanya tadi pada sisi batu nisan yang ada di depannya. Menatapnya dengan tatapan sendu. Tatapan yang penuh dengan segala  hal.

Yandra, Ahsa, dan Dena juga meletakkan bunga mereka masing-masing. Semua orang yang hadir di sana, merindukan sosok itu, seseorang yang telah pergi meninggalkan mereka.

  “Gue kangen loe, Yo,” lirih Ahsa saat meletakkan bunganya.

  “Gue Dena Yo, masih ingat, ‘kan sama gue?” tutur Dena, ikut berjongkok. Satu persatu dari mereka mulai berbicara. Ayi terus mencoba menahan agar air matanya tidak jatuh.

  “Aku nggak tau Yo, aku udah menuhin janjiku atau nggak. Tapi aku udah lakuin sesuai yang kamu minta buat jagain Ayi,” ujar Yandra, sembari mengingat sosok Io saat masih hidup.

  “Tapi ….” Yandra menjeda perkataannya dan menatap anaknya yang digendong oleh Dena. Ia  kemudian beralih menatap istrinya yang ada di sampingnya. “Cara aku bahagian Ayi itu beda sama kamu, Yo. Dan kamu tahu sendiri ‘kan, Ayi lebih suka dengan konsep bahagianya siapa,” lanjut Yandra tersenyum pias. Menyiratkan bahwa hanya seorang Iolah yang lebih pantas.

Bukan dalam hal cinta atau apa pun yang sejenisnya yang Yandra maksud. Namun, ada sesuatu hubungan tanpa ikatan yang dulu pernah ia kagumi dari seorang Io.

Ayi mencubit lengan Yandra yang ada di sampingnya itu. “Kan udah aku bilang, jangan bahas itu. Kita ke sini tuh, bukan bahas yang sedih sedih,” jelas Ayi, menatap dalam manik coklat tua milik Yandra.

“Iya, harus ngebahas hal yang menyenangkan,” timpal Dena. Jia yang ada dalam gendongannya terlihat memainkan rambut panjangnya. Dena memang sudah menikah, tapi ia belum memiliki anak.

Suasana pagi itu sedikit gerimis. Ada jejak air yang terlihat pada rambut mereka semua. Ayi melepaskan syal hitamnya kemudian menutupi tubuh putrinya yang mulai kedinginan karena suhu udara yang mulai dingin.

  “Gu–gue ...” Ahsa terlihat menunduk dan masih memegang bola basket. Ia membawa benda pemberian Io itu hari ini. “Gue bentar lagi mau nikah, Yo,” ungkap Ahsa akhirnya. Semua yang mendengar hal itu terkejut, terkecuali Ahsa dan si kecil Jia. Tentu saja.

  “Hah? Serius loe?” tanya Ayi, terperangah setelah kaget.

  “Iya,” balas Ahsa singkat.

  “Selamat, ya.” Yandra memberi ucapan selamat lebih dulu. Semua terlihat bahagia mendengar kabar menyenangkan itu.

  “Buset, akhirnya temen sekaligus sepupu gue nikah juga,” seru Dena, memukul bahu Ahsa. “Kenapa nggak ngasih tau kita, sih?” tambah Dena tak kalah bahagia. Walalupun mereka sering berhubungan, tapi Ahsa tidak mengatakan apa pun tentang berita yang baru saja didengarnya itu.

  “Gue mau ngasih tau Io dulu, baru kalian,” jelas Ahsa, tak mau disalahkan. Hal tersebut membuat Ayi seketika menunduk, air matanya tiba-tiba menetes. Ia sudah tak tahan lagi. Ia mengira dirinya akan bertahan lebih lama. Akan tetapi, pertahananya runtuh hanya karena perkataan Ahsa.

Ayi akhirnya menangis. Benar-benar menangis.

Mereka yang juga ada di dekatnya menangis dalam diam, hanya Ayi dan Ahsa saja yang terlihat sesegukan. Yandra mengelus sayang punggung istrinya, lalu memeluknya dari samping. Ayi menangis dengan suara yang terdengar menyakitkan bagi Yandra. Si kecil Jia yang tidak mengerti ikut mengelus kepala mamanya yang sudah berada dalam pelukan sang ayah, seolah mengert alih-alih mengikuti apa yang ayahnya lakukan.

  “Katanya nggak–hik cerita yang–hik sedih-sedih. Padahal gue udah cerita yang bahagia tadi. Kalian, kok nangis–hik sih?” Ahsa sesegukan, ia masih menangis dengan ingusnya yang sedikit keluar. Kadang, Dena berpikir bahwa sepupunya itu bertubuh dewasa dan berjiwa anak kecil.

  “Aku nggak nangis loh, ya,” ujar Dena, dengan matanya yang menghitam. Riasannya luntur. Ahsa terlihat menertawakannya, begitu pula Ayi dan Yandra karena wajah Dena sudah sangat berantakan.

Setelah menangis, mereka kemudian tertawa. Mengatakan apa yang ingin mereka katakan, dan menyampaikan apa yang ingin disampaikan.

  “Sekarang?” Mata yang nyaman dipandang itu membenturkan tatapannya pada Ayi saat ia bertanya.

Ayi mengangguk.

Dalam beberapa kali kunjungan mereka ke tempat itu. Ayilah yang akan menghabiskan banyak waktu daripada yang lain. Ia akan mengobrol dengan Io. Dengan air mata, kadang dengan tawa saat ia mengatakan segala yang terjadi padanya dalam setahun terakhir. Dalam hal itu, Yandra dan yang lainnya akan menepi sebentar, membiarkan Ayi melakukan apa yang ia suka.

Akan tetapi, obrolannya berbeda dalam kunjungan terakhir kalinya. Saat Ayi mulai mengirim surat, Io adalah orang yang juga ia beritahu selain Yandra.

  “Sampai nggak surat gue, Yo?” Kali ini rasa sedih mengambil alih perasaannya.

Ayi mulai membuka surat yang ia tulis dan selalu ia bawa saat mendatangi pusara Io. Surat yang tak akan pernah sampai pada sahabat yang sangat disayanginya itu. Sahabat setengah sejati, hampir segalanya. Karena ini adalah hari yang cukup memberikan sesuatu yang cukup tak terlupakan, maka meluangkan waktunya untuk menulis dua surat. Satu sudah ia kirim.

Sebelum membaca suratnya, Ayi menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan, ia sudah menghentikan tangisnya. Sedangkan Yandra, terus memperhatikannya dari kejauhan. Ia takut jika Ayi akan terpuruk lagi seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Ayi yang terlihat murung dan sedih. Untuk tahun-tahun awal pasca kepergian Io, Ayi benar-benar merasakan duka yang mendalam.

Hingga setelah beberapa tahun berlalu, Yandra bisa membuat gadis pujaan hatinya itu sedikit melunak dan mulai tersenyum ceria seperti Ayi yang biasanya. Seperti Ayi saat bersama Io, tapi tetap tidak akan pernah sepenuhnya sama.

Yandra harus menghabiskan dan merelakan banyak waktunya demi seorang Ayi. Hingga saat Ayi sudah pulih dari kesedihan yang berkepanjangan itulah, yang membuat Yandra memberanikan diri untuk membuat sebuah hubungan yang memiliki ikatan. Sebuah hubungan yang menjadi ikatan pertamanya dengan seorang yang juga cinta pertamanya.

Yandra menikahi Ayi saat mereka mennginjak umur dua puluh enam. Delapan tahun setelah Io tak ada lagi di dunia.

To be Continued

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!