Ada yang sedang berjuang untuk terikat.
...•••...
Datang lebih awal ke sekolah adalah rutinitas seorang Yandra. Selain itu, ada yang harus ia lakukan sebelum mengajak Ayi untuk mencari kado Ahsa yang akan berulang tahun nanti malam. Memang, saat kelas satu dulu Yandra dan Ahsa berada di kelas yang sama. Untuk itulah ia berinisiatif memberikan hadiah pada Ahsa.
Ia yang sebelumnya tidak ingin pergi, berubah pikiran saat Ayi mengajaknya untuk datang—dengan sedikit memaksa—beberapa hari yang lalu.
Yandra dan Ahsa dulu tidak terlalu akrab. Ahsa lebih sering bersama dengan Io, Ayi, dan juga Dena yang berasal dari kelas yang berbeda dengannya saat itu. Ia memiliki kepribadian yang sedikit tertutup, juga karena sering menghabiskan waktu di tempat yang jarang dikunjungi di sekolah atau di belakang sekolah. Untuk itulah, Yandra hanya memiliki sedikit teman.
“Yandra.” Sebuah suara memanggilnya dari kursi paling belakang. Ia sudah tiba di sekolah dan juga sudah meyiram tanaman miliknya. Hari ini, laki-laki itu juga mulai menanam tanaman baru yang bibitnya ia dapatkan dari si kakak. Untuk beberapa saat, ia melamun sambil menunggu kedatangan seseorang yang ingin ia beritahu perihal tanamannya.
“Kenapa?” sahut Yandra, menoleh pada seseorang yang memanggilnya. Lalu kemudian melongokkan lagi kepalanya ke arah jendela. Masih menunggu kedatangan Ayi.
“Loe mau bantuin gue, nggak?” tanya perempuan itu pada Yandra yang terlihat tidak tertarik dengan percakapan tersebut.
Yandra sedikit waspada. “Apa? Asal jangan yang aneh.” Ia sudah tahu bagaimana sifat perempuan itu dalam beberapa hari ini. Terlebih saat ketika bagaimana ia meminta kontak Io.
“Nggak aneh kok, loe cuma harus ngasih nih cokelat sama Io aja,” ujar perempuan yang ternyata adalah Saras. Ia menyodorkan sebuah cokelat pada Yandra dan memperhatikan sekitar agar tidak ada yang melihatnya. Suasana kelas pagi itu tidak terlalu ramai. Entah sejak kapan Saras menyukai Io, tidak ada yang tahu termasuk Yandra sendiri.
Karena permintaan Saras tidak aneh, Yandra menyetujuinya begitu saja. “Iya.” Lalu mengambil cokelat tersebut dan meletakkannya di dalam laci mejanya.
“Bukannya Io itu udah punya pacar, ya?” Yandra yang tidak tahu perkembangan dan update gosif di sekolah pun tahu tentang Io. Apa jangan-jangan wanita ini ….
Daripada memikirkan sesuatu yang bukan urusannya, ia memilih untuk melihat jendela. Sebab, seseorang yang ditunggunya sepertinya akan datang sebentar lagi.
“Ntar gue yang buat mereka putus!” Wanita itu berucap yakin. Yandra tidak hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya. Sama sekali tak berniat menanggapi lagi. Baginya, hubungan yang bukan sesungguhnya pasti akan memiliki ujung dan akhir. Ia tidak tertarik terlibat dengan urusan orang lain.
Tak lama kemudian, terdengar suara orang yang sedang tertawa keras dari arah luar. Mendengar dari ramainya tawa itu, sepertinya lebih dari dua orang. Dari suara yang semakin mendekat tersebut, muncullah Ayi dan Io, juga Ahsa dan Dena yang ada bersamanya.
Yandra sudah biasa dengan pemandangan seperti ini di minggu-minggu pertama selama ia berada di kelas dua. Karena empat orang itulah yang selalu meramaikan kelasnya.
“Pagi, Yan,” sapa Io pada Yandra yang terlihat berdiri dari duduknya. Gerakan yang hanya refleks karena orang yang ingin Yandra ajak bicara ada di salah satu dari mereka.
“Hai, Ndra.” Ayi juga ikut menyapa. Kali ini, panggilannya berubah dari kemarin dan sebelumnya, dan juga sebelum kemarin. Yang jelas, Yandra sangat peka dengan perubahan cara seorang Ayi memanggilnya. Ia tidak tahu bahwa namanya akan membuatnya merasa senang seperti sekarang.
Yandra menjawab, “Hai, iya.” Lalu membalas senyum mereka. Ia masih mengikuti Ayi dengan matanya hingga yang diperhatikan sudah duduk.
Saat itulah ia memanggil dengan hati-hati, “Ayla.” Semua orang yang dekat dengan gadis itu sudah biasa memanggil dengan sebutan Ayi, tapi berbeda dengan Yandra. Ia merasa bahwa mereka mereka belum terlalu dekat. Namun, ia juga merasa bahwa mereka tidak sejauh itu.
“Ya?”
Yandra menghadap ke arah Ayi. “Aku mau minta tolong sama kamu.”
Seperti yang dikatakan Io, mereka berdua cepat akrab. Bagaimana tidak, Ayi sering mencontek tugas Yandra. Gadis itu punya seseorang untuk dimintai tolong untuk apa pun yang berhubungan seputar pelajaran. Ayi tidak berniat untuk memanfaatkannya. Sama sekali tidak. Itu adalah cara yang sedikit berbeda untuk menjalin sebuah pertemanan.
Lagi pula, Yandra tidak keberatan dengan itu.
“Boleh. Bantuan buat?” Ayi bertanya. Io dan Ahsa yang lumayan jauh dari mereka masih terlihat berbincang. Dena sibuk dengan banyak bungkusan yang ada di dalam tasnya, memikirkan apa yang ia ingin ia santap lagi pagi ini.
“Bantu beli kado buat Ahsa pulang sekolah nanti, aku nggak tahu harus ngasih apa,” gumam Yandra, melirik ke arah Ahsa dan Io agar tak terdengar. Ia sudah sedikit dekat dengan dua orang tersebut.
Mereka mulai berteman baik dengan Ahsa yang ia kenal lebih dulu. Yandra perlahan mulai masuk ke dalam keseharian mereka, ke dalam kehidupan mereka. Hingga pada akhirnya, ia juga akan masuk ke dalam hati seseorang. Namun, sedikit jauh sebelum itu, seseorang sepertinya sudah masuk ke dalam hati seorang Yandra
Perasaan telah mendahului keadaan.
Ia tercurangi oleh hatinya sendiri. Namun, satu yang pasti. Yandra masih belum menyadari apa yang hatinya inginkan.
“Boleh,” sahut Ayi, begitu saja dan membuat Yandra tersenyum senang. Tidak seburuk dugaannya sebelumnya. Mulai dari sini, ia sudah sibuk memikirkan dan menentukan ke mana dan di mana tempat yang akan ia datangi bersama dengan Ayi,l. Bersama Ayi. Entah kenapa, Yandra suka dengan dua kata itu.
Dengan senyum yang lebih lebar lagi, Yandra memberikan senyum beserta ucapan terima kasihnya.
“Makasihnya nanti aja kalau loe udah teraktir gue es krim.” Tanpa malu ataupun menyembunyikan keinginannya, Ayi membuat sebuah permintaan. Terdengar seperti meminta imbalan jika Yandra tidak salah mengartikan. Akan tetapi, laki-laki itu sudah mulai paham dan akan mulai terbiasa.
“Maaf. Iya nanti aku traktir.” Yandra pun menyetujuinya.
Ayi tertawa. Ia yang hanya berniat bercanda, tapi itu malah dianggap serius oleh Yandra. Dengan begitu, mereka sudah sepakat. Seseorang di sana sudah tidak sabar.
Sebuah janji sudah dibuat, yang berarti harus ditepati.
Selain itu, Io dan Ahsa yang tadi berbincang, kini menyudahi obrolan mereka. Io yang terlihat berjalan ke arah kursinya, membuat Yandra teringat sesuatu. Ia bergegas mengambil cokelat dari laci mejanya dan memberikannya pada Io. Laki-laki yang masih tidak menjemput Ayi tadi pagi itu terlihat bingung, begitu juga dengan Ayi.
“Kalian ...” Ayi menatap dua laki-laki yang ada dihadapannya dengan raut tak percaya.
“Bukan! Bukan begitu! Ini cokelat dari Saras buat Io.” Yandra menjelaskan sekaligus menyanggah apa yang ada di pikiran Ayi. Ia tidak akan pernah belok walaupun ada tikungan. Sekalipun itu banyak. Ia tahu di mana tempat perasaan seorang laki-laki berada.
Melihat ekspresi tak tenang Yandra, Ayi tertawa. Namun setelah itu, ia sedikit kaget.
“Saras?” ucap Ayi dan Io bersamaan. Mereka terlihat mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, mencari seseorang yang dimaksud. Namun, yang dicari tidak bisa mereka temukan. Apa dia sedang bersembunyi dengan perasaaan malu-malu dengan pipi yang memerah.
Apakah begitu?
Apa pun itu, Ayi akhirnya tahu dari mana cokelat yang ia dapatkan kemarin. Ternyata Saras. Akan tetapi, bagaimanapun seseorang di luar sana menyukai sahabatnya itu, Ayi tak pernah mengusik apa lagi menganggu mereka. Ia tidak peduli selama itu tidak mengusik hidupnya.
Selama Io masih ada seperti biasa, ia sudah merasa hidup tentram dengan caranya sendiri.
“Iya, dia suka sama Io,” beber Yandra polos. Mendengar itu, Io dan Ayi sontak tertawa. Mereka menertawakan bagaimana ekspresi Yandra saat menyampaikannya. Terlihat serius dan juga penuh rahasia. Namun, wajahnya terlihat tidak mendukung dengan apa yang ia katakan.
“Udah gue duga, pantesan dia sering chat gue.” Io berujar, masih dalam tawanya. Semenjak memberi nomor teleponnya, Saras sering mengiriminya pesan, tapi hanya Io respon seperlunya. Kadang juga tidak sama sekali.
“Nih ya, Yo. Dia, kalau liat gue kayak nggak suka gitu,” balas Ayi yang juga masih tertawa. Tentu saja. Saras jelas tak menyukai perempuan lain yang mendekati orang yang disukainya. Io yang tak peduli memilih untuk mendengarkan saja. Ada hal lain yang sedang ia pikirkan.
Yandra tak tahu harus merespon apa. Ia hanya meletakkan cokelat tersebut di atas meja Io. Ia memang sudah dekat dengan dua sahabat itu, tapi masih belum bisa menyesuaikan diri. Lagi pula, ia masihlah orang baru di antara mereka.
Ia yang bersikap begitu, kadang membuat Ayi tak segan mengajaknya bercanda.
Yandra hanya merasa nyaman saja ketika bersama mereka, mungkin lebih tepatnya bersama Ayi. Entah kenapa, Ayi selalu bisa membuatnya tertawa hanya dengan hal sepele. Ia ingin hal ini jangan terlalu cepat berlalu.
Io mengangguk sedikit pada Yandra.
“Iya.” Yandra tersenyum, sudah tidak sabar menunggu jam pulang.
***
Masih di sekolah yang sama, terlihat seorang laki-laki yang merapikan buku miliknya ke dalam tas. Laki-laki yang sudah menduduki kelas tiga itu keluar dari kelasnya bersama teman baiknya. Jam sekolah sudah berakhir. Saatnya pulang.
Namun, ketika ia berada di lantai satu, ia tak sengaja melihat ke arah gadis yang berjalan di depannya. Jika biasanya gadis itu bersama sang sahabat, kali ini tidak. Ada orang lain yang sedang bersamanya saat ini. itu adalah orang yang ia ingat dengan samar.
“Jadi … kapan?” Seorang teman yang tadi berjalan bersamanya, bertanya. Laki-laki tadi menoleh dan tersenyum miris. Senyum yang menyiratkan segala bentuk perasaan terbengkalai miliknya. Ia masih belum bisa.
“Secepatnya,” ucap laki-laki itu. Ia tahu betul ‘kapan’ yang dimaksud oleh sang teman itu adalah tentang perasaannya sendiri. Tentang perasaan yang belum ada kabarnya karena ia masih belum mengungkapkannya pada seseorang yang masih dalam jangkauan pandangan.
Sang teman yang memiliki sifat peduli itu menghela napas, seolah memberikan dukungan melalui sikapnya yang begitu.
“Mereka nggak pacaran. Loe udah mastiin sendiri, kan?”
Tawa yang masih sama kembali meluncur dari laki-laki yang juga masih sama. Sepertinya sudah tidak ada alasan lagi untuknya mengulur dan melipatgandakan alasan.
“Kadang aku heran. Kamu tahu aku suka gadis itu sudah lama sejak kapan?” Si laki-laki ingin membahas hal lain, tapi pertanyaan yang ia keluarkan masihlah menyeret mereka ke topik yang sama.
“Hahaha.” Si teman tertawa, lalu melanjutkan, “Gue kenal loe udah lama. Loe kira gue merem pas liat loe senyam-senyum kalau loe merhatiin tuh cewek?” Alasan yang didengar si laki-laki itu, sekaligus membuatnya malu. Apa yang ia ungkapkan pada ekspresi tanpa sadarnya itu ternyata diketahui oleh teman dekatnya.
“Iya, iya. Aku anggap itu pujian,” kekeh si lelaki. Ia sedikit murung saat seorang yang berjalan di depannya sudah menghilang. Seorang perempuan yang tanpa sadar, ia cintai diam-diam. Seorang Ayla Ink.
To be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
sora
Nabrak, Ndra. kalo ga belok ditikungan...
2022-10-23
0